MasukAlina membuka pintu mobil dengan tangan gemetar, disusul oleh Nolan yang sigap membantu menutup pintu. Tak berselang lama, mobil pengantin yang mewah melambat dan berhenti. Dari dalamnya, Risma melangkah keluar dengan langkah berat, wajahnya suram tanpa senyum sedikit pun. Anehnya, ia turun lebih dulu sebelum Vino sempat membukakan pintu untuknya. Sorot matanya yang dingin seolah menembus udara, tapi ia tidak menatap ke arah Alina sama sekali. Jantung Alina berdetak kencang, napasnya tercekat dalam dada. Ketakutan menyelinap di balik setiap gerak Risma—bagaimana jika rahasia kehamilannya dengan Kaiden terbongkar di momen ini? Namun, Risma hanya berjalan melewati mereka tanpa sepatah kata, seolah ingin menghindari konfrontasi. Vino yang sudah keluar dari mobil melangkah mendekat kepada Nolan. Suaranya rendah, penuh basa-basi yang ringan tapi penuh arti tersirat. Alina mengawasi hanya menyimak, dada terasa sedikit lega karena Vino tak sekali pun menyentuh topik yang ia
Kevin masih berdiri di pinggir jalan, matanya menatap mobil Kaiden yang melaju menjauh dengan perlahan di bawah sinar matahari. Ekspresinya campur aduk—antara tidak percaya dan rasa cemburu yang mulai merayap di dada. Bibirnya bergetar, mengulang-ulang dalam hati, "Nggak... nggak mungkin Kaiden jadi selingkuhan Alina." Mengingat Kaiden adalah penguasa kota Utara, masih lajang dan sangat tampan. Namun, bayangan Alina yang cantik dan anggun tiba-tiba muncul dengan jelas, menimbulkan keraguan yang terus mengusik pikirannya.Tangannya terkepal erat di saku celana, napasnya memburu saat ia mulai membandingkan dirinya dengan Kaiden. "Apa bedanya aku dan dia? Sama-sama lajang, sama-sama anak konglomerat ... Juga sama-sama menyukai Alina." gumam Kevin, suaranya penuh amarah dan iri yang tersimpan rapat. Ia teringat saat Alina memintanya menjadi selingkuhan pura-pura, dengan senang hati ia menyetujuinya. Wajahnya memerah, matanya memancarkan kecemburuan yang sulit disembunyikan. Saat te
Wajah Alina memerah, rasa malu menggelayut di dalam dirinya. Jika Kaiden sampai tahu bahwa Kevin adalah selingkuhannya, astaga, bisa-bisa besok Kaiden akan mengungkap semuanya dan mengurungnya. Menurut Alina, kalau bukan atas permintaannya, Kaiden pasti sudah membongkar perselingkuhannya ke publik. Karena ia tahu, Kaiden itu konglomerat dengan harta ratusan triliun. Tidak ada orang di luaran sana yang berani menyinggung atau membicarakan keburukannya. Sungguh berbanding terbalik dengan dirinya. Ia nggak mau memiliki citra buruk, Tatapan Alina sempat beradu dengan Kaiden, tapi ia buru-buru mengalihkan pandangannya. Saat ia hendak menjelaskan sesuatu, Kevin menggenggam tangannya. "Surat-surat Nia sudah selesai aku urus. Sekarang Nia resmi menjadi anak adopsi kita," kata Kevin dengan nada santai, tapi kebahagiaan terlihat jelas dari wajahnya yang tampan. Alina termenung, lalu ia menatap Kevin dengan bingung, mulutnya kelu tak mampu berkata-kata. Bukan hanya Alina, tapi juga
Kevin menaikkan alis sebelahnya dengan santai saat Nolan melangkah keluar dari mobil, wajahnya merah padam oleh amarah yang sulit disembunyikan. Tatapan tajam Nolan seolah membakar udara di antara mereka. "Bukankah sejak dulu aku sudah peringatkan kau untuk menjauh dari Alina!!" suaranya menggelegar, penuh dendam dan frustrasi yang terpendam lama.Kevin hanya membalas dengan senyum kecut, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. "Kau sudah selingkuhi Alina, dan sekarang aku sudah jadi selingkuhan Alina," ucapnya pelan tapi menusuk, matanya menatap tajam seperti menantang. Ada nada sinis yang sulit disembunyikan di balik kalimat itu, seolah ia menikmati posisi yang sekarang dimilikinya.Nolan terpaku, tubuhnya membeku sejenak, sulit mempercayai kenyataan yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin Kevin, pria lajang dan terkaya di kota Selatan malah dengan santainya mengklaim sebagai selingkuhan istrinya? Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu, membuat dada Nolan sesak."Baga
Nolan langsung menceritakan semua yang terjadi semalam dengan rinci kepada istrinya. "Kamu setuju begitu saja, bagaimana pun juga, Risma itu adikmu satu-satunya ... " Ujar Alina dengan nada keberatan. Walaupun selama ini Risma sering menunjukkan secara terang-terangan, kalau dia tidak menyukai dirinya. Tapi ntah kenapa, Alina sama sekali tidak bisa membenci Risma? Apalagi, waktu kecil ia pernah tenggelam di danau waktu liburan keluarga. Ia merasa gadis kecil yang menyelamatkan dirinya adalah Risma, tapi sulit baginya untuk memastikan. Karena waktu itu, banyak air yang masuk ke dalam tubuhnya. Membuat pandangannya kabur, bahkan akhirnya ia pingsan. Setelah bangun, tidak ada siapapun yang menjaganya di rumah sakit. Saat bertanya pada keluarga suaminya, mereka semua dengan kompak menjawab, tidak ada yang tahu keberadaan penyelamatnya. Nolan bingung, saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Alina, walaupun di luar ia terlihat begitu menyayangi adiknya dan hubungan keduanya na
Alina tahu, suaminya akan memeluknya. Ia yang melihat, keraguan dari kedua bola mata suaminya, langsung paham. "Sayang, aku mandi dulu ya. Aku sedang menstruasi, nggak tahu kenapa, bau badanku akhir-akhir ini berbeda." Ujar Alina dengan nada lembut. Ia terpaksa berbohong. Alina tahu, bau apa gang yang sekarang tercium di hidung suaminya. Hati Nolan menghangat, melihat senyuman istrinya, kecurigaannya pun memudar. "Baiklah, kamu mandi dulu!!" Ujar Nolan seraya mengusap kepala Alina, cuman ia merasa aneh dengan rambut istrinya yang terasa sedikit kaku dan ... Ia merasa rambut istrinya seperti terkena cairan pria. Nolan sebenarnya ingin menanyakan tentang jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalaman, tapi ia mengurungkan niatnya. Di dunia ini, tidak ada seorang pun manusia yang terima kalau tuduh melakukan sesuatu hal yang tidak di lakukan. Takutnya, kalau sampai Alina tersinggung karena tuduhannya. Bagaimana pun juga, hubungannya dengan Alina baru saja membaik. Ia







