LOGIN"Victor?" Ujar Risma dengan nada terkejut. Victor Lutfi mengangguk, tapi wajahnya nampak murung dan begitu kecewa. Keluarga Lutfi adalah salah satu dari empat keluarga penguasa kota Utara. Bahkan fondasi keluarga Lutfi lebih kuat di bandingkan keluarga Vernandes. Keluarga Lutfi berasal dari keluarga tentara yang sekarang menjadi pemasok tetap, senjata untuk pemerintah. Victor sudah lama menyukai Risma, awalnya hanya rasa kagum deengan keberanian dan tekad gadis yang memiliki fisik kuat itu. Tapi setelah dekat, Risma adalah orang berhati lembut, tidak seperti dengan ekspresinya yang selalu dingin. Victor tiba-tiba menggenggam tangan Risma dengan lembut, matanya menatap penuh kekhawatiran. "Apakah kamu dipaksa keluargamu? Saat melihat ritual pernikahan tadi, wajahmu nampak sedih dan murung. Kalau kamu ingin kabur sekarang, aku akan membantumu," bisiknya hampir tak terdengar di antara riuh tamu yang hadir. Risma menatapnya, hatinya bergejolak, seolah ada secercah harapan yang men
Pintu kamar mandi di ketuk, Nolan terus saja memanggil nama istrinya. Tapi masih tidak ada jawaban. "Apa jangan-jangan tadi Alina mendengar percakapan ku dengan Kaiden? Makanya sekarang dia mengurung diri," gumam Nolan dalam hatinya. Sekarang ini perasannya sangat rumit, otaknya sulit sekali fokus. Semua karena pekerjaannya, pertumbuhan NG grup sangat pesat, di tambah sewaktu Alina menghilang, Nolan sering tidak bisa tidur. Ditambah lagi, waktunya juga di habiskan untuk menemani Ghea, jadi sekarang ia memang kesulitan untuk berpikir jernih. Nolan mencoba memutar knop pintu, tapi di kunci dari dalam. "Apakah ada kunci cadangan kamar mandi?" Tanya Nolan pada pelayan dengan panik. Pelayan rumahnya menyahut, "ada.""Cepat kamu ambil!" Titah Nolan. Pelayan itu bergegas mengambil kunci, sementara di dalam kamar mandi, Kaiden masih terus memaju mundurkan miliknya dengan tempo yang tepat. Alina yang terlanjur keenakan dan akan sampai klimaks, sudah tidak mempedulikan suaminya. Akhir
"Apanya?" Alina malah balik tanya. "Kamu ngatain aku gila dan baru saja keluar dari rumah sakit jiwa, begitu kah?" tanya Kaiden dengan tatapan tajam. Alina memalingkan pandangannya. Walaupun jantungnya berdegup kencang, dan sekarang ini ia sedikit takut. Tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya, dengan nada datar ia menyahut. "Mana ada aku bilang begitu? Kamu pasti salah dengar."Kaiden tersenyum sinis, tatapannya masih terfokus pada Alina, bahkan ia terus memperhatikan dengan teliti tubuh Alina dari atas sampai bawah. "Jadi sekarang kamu pintar berbohong, ya?" Kaiden melontarkan kata-kata itu dengan senyum sinis yang menusuk. Alina menelan ludah kering, tubuhnya terasa kelu. Ia ingin melarikan diri, tapi tak mampu. Membayangkan kemarahan Kaiden membuatnya takut, tak tahu kegilaan apa yang akan pria itu lepaskan padanya.Tiba-tiba Kaiden mendekat tanpa diduga, menarik sedikit kerah baju Alina yang menutupi lehernya. "Kenapa kamu tutupi? Harusnya kamu tunjukkan bekas di leherm
Rita menyahut dengan nada dingin dan tegas, "Kalau kamu masih ingin melihat ayahmu dalam keadaan hidup, aku harap kamu tetap tutup mulut. Jangan sampai membuat kacau keluarga Anjasmara dengan pengaruh keluarga Durant milik Vino." Kedua tangan Risma terkepal. Meski sedikit bingung, ia bertanya-tanya dari mana ibunya tahu bahwa dirinya sudah mengetahui rahasia tersebut. "Kamu pasti bohong, kan? Ayahku sudah mati? Dia sudah tenang di alam baka," kata Risma dengan suara bergetar, walau hatinya berharap ayahnya memang masih hidup. Namun, ia tidak mau dibohongi. Bahkan di kendalikan ibunya dengan alasan kehidupan ayahnya. Rita, sang ibu, tak lagi berpura-pura. Ia lalu menunjukkan foto di ponselnya, memperlihatkan suaminya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, lengkap dengan tanggal dan waktu. "Ini foto tadi pagi dari perawat," ujarnya.Risma yang mengikuti pelatihan agen mata-mata tentu saja tahu, bukti yang di tunjukkan oleh ibunya itu nyata. Risma memejamkan matanya, ai
Alina membuka pintu mobil dengan tangan gemetar, disusul oleh Nolan yang sigap membantu menutup pintu. Tak berselang lama, mobil pengantin yang mewah melambat dan berhenti. Dari dalamnya, Risma melangkah keluar dengan langkah berat, wajahnya suram tanpa senyum sedikit pun. Anehnya, ia turun lebih dulu sebelum Vino sempat membukakan pintu untuknya. Sorot matanya yang dingin seolah menembus udara, tapi ia tidak menatap ke arah Alina sama sekali. Jantung Alina berdetak kencang, napasnya tercekat dalam dada. Ketakutan menyelinap di balik setiap gerak Risma—bagaimana jika rahasia kehamilannya dengan Kaiden terbongkar di momen ini? Namun, Risma hanya berjalan melewati mereka tanpa sepatah kata, seolah ingin menghindari konfrontasi. Vino yang sudah keluar dari mobil melangkah mendekat kepada Nolan. Suaranya rendah, penuh basa-basi yang ringan tapi penuh arti tersirat. Alina mengawasi hanya menyimak, dada terasa sedikit lega karena Vino tak sekali pun menyentuh topik yang ia
Kevin masih berdiri di pinggir jalan, matanya menatap mobil Kaiden yang melaju menjauh dengan perlahan di bawah sinar matahari. Ekspresinya campur aduk—antara tidak percaya dan rasa cemburu yang mulai merayap di dada. Bibirnya bergetar, mengulang-ulang dalam hati, "Nggak... nggak mungkin Kaiden jadi selingkuhan Alina." Mengingat Kaiden adalah penguasa kota Utara, masih lajang dan sangat tampan. Namun, bayangan Alina yang cantik dan anggun tiba-tiba muncul dengan jelas, menimbulkan keraguan yang terus mengusik pikirannya.Tangannya terkepal erat di saku celana, napasnya memburu saat ia mulai membandingkan dirinya dengan Kaiden. "Apa bedanya aku dan dia? Sama-sama lajang, sama-sama anak konglomerat ... Juga sama-sama menyukai Alina." gumam Kevin, suaranya penuh amarah dan iri yang tersimpan rapat. Ia teringat saat Alina memintanya menjadi selingkuhan pura-pura, dengan senang hati ia menyetujuinya. Wajahnya memerah, matanya memancarkan kecemburuan yang sulit disembunyikan. Saat te







