Share

SIAPA DOMINIC?

Author: Aphrodite
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-17 15:19:58

Isabella mengutuk dalam hati saat ia berbalik dan mendapati Dominic, sepenuhnya bangun dan kini berbaring menyamping. Lengan menopang kepala, sedang menatapnya.

“Hai!” ucapnya riang sambil melambaikan tangan.

Dominic mendengus. “Tiga kali usaha melarikan diri yang semuanya gagal tidak memberimu pelajaran ternyata. Kau tidak bisa melarikan diri, Isabel.”

Semua sikap pura-pura Isabella selama ini menghilang mendengar pernyataan Dominic.

“Apa itu tantangan?”

“Aku tidak tahu, kau yang tahu jawabannya.”

Isabella mendekat dengan wajah menantang. Dengan dagu terangkat ia membalas,

“Aku pernah melakukannya dan berhasil. Kenapa yang ini tidak?”

Wajah Dominic berubah. “Kau pernah melakukannya? Kenapa?”

Karena ini bukan pertama kalinya ia berusaha melarikan diri, tapi Isabella tidak akan mengatakannya. Menjawab pertanyaan itu seperti mengorek luka yang berusaha ia abaikan. Ia tidak akan mengatakan kalau ini bukan pertama kalinya ia akan dijual.

“Aku akan melarikan diri,” ulangnya, mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Kau tidak akan. Siapa pun yang membiarkanmu lolos aku akan memenggal kepalanya,” tukas Dominic tenang, hingga sesaat Isabella pikir pria itu hanya bercanda.

“Ini bukan abad ke-18, kau tidak bisa memenggal orang begitu saja.”

Dominic tersenyum, matanya bersinar seperti bintang malam, hanya saja yang ini tidak terlihat indah melainkan mengancam. “Coba saja dan kau akan lihat.”

“Kenapa kau melakukan ini?” tanyanya benar-benar bingung.

“Melakukan apa?”

“Menjebakku bersamamu. Aku tidak mengenalmu dan aku cukup yakin kau juga tidak mengenalku.”

“Benarkah?”

Isabella mengerang frustrasi. “’Siapa kau dan apa yang kau lakukan pada hidupku?”

Dominic berdiri, mendekati Isabella yang tiba-tiba mematung. Matanya membesar seperti rusa yang tersorot lampu mobil. Tangan besar dan kasar Dominic menyentuh dagu Isabella.

“Aku suamimu, mungkin aku harus mengingatkanmu lebih sering agar kau tidak lupa.”

Isabella menarik diri. “Pernikahan seharusnya terjadi atas persetujuan dua orang.”

“Kau menandatanganinya waktu itu.”

“Karena kau mengancamku.”

Dominic menyentuh rambut cokelat Isabel, menggenggam dengan jarinya yang besar, kemudian menciumnya.

“Aku masih bisa mengancammu.”

“Kau mungkin menyesal menikah denganku, Dom.”

“Benarkah?” ucap Dominic, sama sekali tidak terpengaruh.

Apa mungkin ada yang salah dengan otaknya? Sepertinya pria itu tidak mengerti satu pun ucapannya. Mengabaikan perasaan gemetar karena sentuhan Dominic, Isabella mengangguk menanggapi ucapannya.

“Aku bukan orang yang penurut Dom. Kau tidak bisa mengharapkanku menuruti semua ucapanmu, itu akan berdampak sebaliknya.”

Dominic menunduk, kali ini mendaratkan hidungnya pada rambut yang ada di pundak Isabel.

“Ada lagi yang harus kuketahui tentangmu?” lanjutnya tanpa menghentikan apa yang sedang dia lakukan. Dominic menyingkirkan rambut yang menutupi pundak Isabel, membuat bahunya terekspos.

Isabel menahan napas. Getaran tidak diinginkan memenuhi pembuluh darahnya saat Dominic mengendus pundaknya seperti seorang pecandu. Ia bersyukur dengan pilihan baju tidurnya, yang menyembunyikan pundaknya dengan baik.

“Aku sangat boros, aku tidak suka bekerja, aku menyukai hal-hal aneh. Bukan tipe yang akan disukai kebanyakan pria, aku jamin.”

“Aku bukan kebanyakan pria, Malyshka. Kupikir kau tahu itu. Aku tidak menyukai hal-hal yang biasa. Jika ya, aku tidak akan menikahimu.”

Isabella menggeleng-gelengkan kepala. Benar, Dominic pasti berusaha merayunya agar ia takluk. Pria itu tahu apa tepatnya yang harus dikatakan untuk membuatnya luluh. Itu tidak akan terjadi.

“Bi-bisakah kau menjauh?”

“Kenapa?” Dominic mendongak, menarik sudut mulutnya. “Apa aku membuatmu terganggu?”

“Lebih tepatnya tidak nyaman. Aku—“

Dominic menjauh dan saat itulah ia merasa udara kembali memenuhi paru-parunya. Ia bernapas dengan lega.

“Kau akan terbiasa. ”

Dominic berjalan menuju pintu dan menghilang dibaliknya, meninggalkan Isabella yang mematung.

Pembicaraan mereka sama sekali tidak membawa mereka ke mana pun.

***

Isabella mandi dengan cepat, memilih gaun yang ada di lemari kemudian memoles bibirnya dengan lipstick berwarna cokelat gelap sebelum menemui Dominic seperti yang dikatakan pria itu. Begitu keluar seorang pria sudah menunggu di depan pintu dengan sikap seperti robot.

“Ada apa?” tanyanya. “Di mana Dominic?”

“Ada di ruang makan.”

“Dan kenapa kau di sini?”

“Aku pengawal pribadimu.”

Isabella terdiam—kemudian tertawa keras seakan ucapan pria itu benar-benar lucu. “Maaf,” kekehnya setelah berhasil menguasai diri. “tapi lelucon ini benar-benar tidak menarik, tidak bermaksud menyinggung tentu saja.” Isabella berusaha keras mempertahankan wajah seriusnya, yang amat sulit dilakukan karena menurutnya ucapan pria itu benar-benar lucu.

Hanya saja setelah beberapa saat wajah tanpa ekspresi pria itu sama sekali tidak berubah.

“Kau… serius?” bisiknya ngeri.

Tidak ada jawaban kecuali anggukan singkat nyaris tak kentara. Dan itu cukup untuk membuat Isabella melompat seperti sedang menginjak sesuatu yang berbahaya.

Oh ya ampun, pengawal? Yang benar saja!

“Tapi aku tidak butuh pengawal!” pekiknya, suaranya melengking.

Pria itu masih membisu.

Isabella menghela napas. “Apa ini perintah Dominic?”

Isabella sudah tahu jawabannya sebelum laki-laki itu bahkan menjawab. Ini sudah kelewatan!

“Aku akan menemui Dominic.”

Sepertinya apa pun yang akan ia katakan tidak akan berpengaruh yang berarti jalan satu-satunya adalah menemui suaminya tercinta dan mengatakan isi pikirannya. Kali ini mereka benar-benar harus bicara.

Hanya saja, begitu berada di ruang makan, Isabella menemukan dirinya ternganga. Ia disuguhi pemandangan paling aneh atau paling menakjubkan yang pernah ia lihat. Meja makan panjang yang setidaknya bisa menampung puluhan orang kini dipenuhi dengan orang-orang yang sedang mengobrol. Makanan memenuhi meja, tapi tidak seorang pun yang terlihat mengunyah.

Isabella berkedip beberapa kali.

“Kau pasti Isabella.”

Tubuhnya ditarik dalam pelukan erat yang mengejutkan. Semua obrolan mendadak hilang. Setiap pasang mata sekarang menatapnya, tapi hanya sekejap sebelum mereka semua kembali fokus pada diri masing-masing.

Ini hal paling aneh yang pernah terjadi padanya. Pandangannya bertabrakan dengan Dominic, tapi suami tercintanya tidak mengatakan apa pun selain menunjuk kursi yang ada di samping kanannya. Satu-satunya kursi yang tersisa.

“Kita bisa berkenalan nanti, kau pasti kelaparan. Ayo.”

Wanita yang memeluknya mengatarnya ke kursi yang kosong.

“Apa ini?” bisiknya saat semua orang mulai makan.

“Apa maksudmu?”

Isabella menelan ludah. “Siapa merekan, Dom? Dan apa yang mereka lakukan di sini?”

Dominic mengunyah makanannya. “Mereka sedang makan seperti yang kau lihat.” Isabella melempar tatapan sengit untuk jawaban itu.

“Dan untuk menjawab pertanyaanmu yang lainnya mereka tinggal di sini.”

Isabella menatapnya. “Mereka semua saudaramu?” bisiknya syok. Setidaknya ada lebih dari 20 orang di dalam ruang makan ini, termasuk beberapa wanita yang juga sibuk makan sambil mengobrol seolah tidak ada hal aneh yang baru saja terjadi.

“Jangan ngaco. Tentu saja bukan. Mereka bagian dari perlindungan. Mereka bekerja untukku.”

“Dan mereka tinggal di sini?”

Dominic mengangguk.

“Apa tepatnya yang mereka lindungi?”

Sesuatu melintas di mata biru kobalt Dominic. Hanya sekilas sebelum ekspresinya kembali tertutup.

“Kau, aku dan semua yang ada di sini. Kami saling melindungi di sini.”

“Tepatnya dari apa?”

“Musuh.”

Isabellla mengedarkan pandangan. Tidak diragukan lagi mereka semua—khususnya para pria—bisa menggunakan senjata. Atau mungkin lebih dari itu. Isabella banyak mengalami kejadian aneh, tapi dikelilingi sekumpulan orang yang bisa bertarung dan tahu menggunakan senjata adalah hal lain.

Ini seperti berada di camp perang.

“Musuh seperti apa?” tanyanya penasaran. Isabella menatap makanannya. Ia tidak lapar. Lagipala sarapan di jam sepagi ini tidak pernah menarik minatnya. Ia menyerah, meletakkan sendoknya, kembali menatap Dominic dan mendapati pria itu melakukan hal sama padanya.

“Tidak lapar?”

“Aku jarang sarapan. Kau belum menjawab pertanyaanku, Domi,” ujarnya mengingatkan. “Memangnya apa yang kau lakukan sampai membutuhkan perlindungan sebanyak ini?”

Dominic meletakkan sendoknya.

“Kau akan tahu,” balasnya misterius.

“Tidak bisa sekarang?”

Dominic menggeleng. “Makan. Kau tidak bisa meninggalkan ruangan ini sebelum mengunyah sesuatu.”

Ini dia! Perintah lainnya. Dan ia sudah muak mendengarnya. Seumur hidup, orang-orang di sekitarnya memerintahnya. Lakukan ini, lakukan itu, jangan begini, jangan begitu, dan sekarang Dominic juga melakukan itu padanya?

Peduli apa?

Persetan!

“Aku tidak lapar.”

“Isabel…” Dominic memejamkan mata, seperti mengukur kesabarannya, tapi Isabella sama sekali tidak peduli. Ia menyilang tangan dengan sikap keras kepala.

“Tidak ada yang boleh meninggalkan ruangan ini sampai Isabella makan sesuatu,” tukas Dominic tegas. Dan anehnya, semua orang mengangguk tanpa kata. Sama sekali tidak ada yang mempertanyakan perintah bodoh itu, membuat Isabella meradang.

Apa-apaan!

Isabella berdiri, menatap Dominic marah. “Apa yang akan terjadi kalau mereka menolak? Kau membunuhnya?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    Masakan Pertama

    “Pagi!” sapa Isabella ceria begitu melihat Grace masuk ke dapur.“Pagi,” balas Grace. Senyumnya lebar saat melihat apa yang dilakukan Isabella.“Untuk Dominic?”Isabella mengangguk, kembali sibuk menyiapkan makanan untuk Dominic.“Menurutmu dia akan menyukainya?”Grace tersenyum misterius. “Percayalah, dia akan memakan apa pun yang kau siapkan bahkan peluru sekali pun.”Isabella tertawa, berusaha mengabaikan perasaan hangat yang mengaliri tubuhnya. Ia menyiapkan semuanya di atas nampan, bersiap membawanya ke kamar mereka.Dominic masih tidur saat ia masuk ke kamar mereka. Ia meletakkan makanannya di atas meja samping tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. Pandangannya jatuh pada wajah Dominic yang terlihat damai dalam tidurnya.Ia menatap bekas lukanya. Sekarang Dominic tidak merasa perlu menyembunyikan bekas luka itu darinya. Dan ia senang karena itu berarti Dominic tidak merasa perlu menyembunyikan diri darinya.Tangannya tanpa sadar menyentuh bekas luka di punggungnya.Pasti sakit.

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    SISI LAIN DOMINIC

    “Tidak! Tidak! Tidak! Berhenti!” Isabella berlari bertelanjang kaki di atas rumput sambil mengawasi kelincinya yang berlari, seolah ingin menantang Isabella untuk menangkapnya. Isabella membungkuk, menumpu kedua tangan di atas lutut dengan napas ngos-ngosan. “Pika! Jika aku menangkapmu... ini tidak akan berakhir baik,” ancam Isabella. Ia mencoba meniru bariton rendah dan nada dingin milik Dominic. Namun, alih-alih terdengar mengancam, suaranya justru terdengar seperti rengekan yang lucu. Isabella meringis, merasa malu pada dirinya sendiri. Sial. Bagaimana Dominic bisa membuat orang gemetar hanya dengan satu kata? Jika saja ia punya satu persen karisma suaminya, mungkin kelinci itu sudah bersimpuh meminta ampun sekarang. Isabella terkikik geli. Yah, lagipula ia memang tidak berbakat menjadi orang jahat. “Ada masalah, Ma’am?” Isabella tersentak kecil dan mengumpat dalam hati. Ia lupa ada Sin—bayangan setinggi dua meter yang selalu mengikutinya. “Semua baik-baik saja, Sin,” sahut

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    Ty Moi Mir

    Isabella harus menahan diri agar tidak mengumpat. Ia berusaha keras, sungguh. Tatapannya yang waspada berpindah antara Dominic dan pria bertubuh raksasa di depannya—tipe pria yang tampak sanggup merobohkan pohon ek hanya dengan tangan kosong.Puas setelah percintaan panas di dapur, Dominic membawanya ke ruang tamu hanya untuk disambut pemandangan itu. Isabella tidak punya petunjuk, kecuali satu dugaan masuk akal.“Dia pengawal baruku?” tebak Isabella.Dominic, yang kini sudah kembali rapi dengan setelan formal berkelasnya, mengangguk singkat. Isabella mengamati pria itu lebih lama. Postur tubuhnya kaku, tatapan matanya kosong tanpa emosi—aset sempurna untuk pekerjaannya—tapi hal itu justru membuat Isabella merinding. Pengawal barunya tidak tampak seperti manusia; dia seperti senjata berjalan.“Dia akan mengawalmu ke mana pun, melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan keamananmu. Kau tidak boleh menemui siapa pun sebelum Sin memastikan areanya steril,” ujar Dominic dingin.“S

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    RENCANA VITTORIO

    Vittorio tidak bergerak, hanya duduk dan menatap. Layar di depannya menunjukkan video rekaman saat gudangnya dibakar. Dominic tersenyum padanya. Puas dan penuh kemenangan. Ia terus memutar rekaman itu, menit demi menit, melihat senapan-senapan mahalnya menjadi rongsokan tak berguna, melihat gudangnya menjadi lautan merah yang melahap segalanya.Vittorio diam. Sejenak, hanya suara detak jam dinding yang mengisi ruangan itu. Lalu sebuah suara keluar dari tenggorokannya, tawa kecil yang kering—tawa yang lebih menakutkan dari ledakan granat.Gelas kristal di tangannya bergetar hebat. Cairan ambar di dalamnya berguncang, mencerminkan rona merah dari kobaran api yang tertangkap kamera sebelum semuanya berubah menjadi abu-abu.“Dominic….” desis Vittorio. Suaranya mengandung kebencian dari neraka terdalam.Vittorio tidak berteriak. Baginya, amarah adalah emosi murahan milik amatir. Ia lebih suka menghancurkan. Menyingkirkan masalah. Vittorio kembali menyesap minumannya. Rasa pahit meninggalka

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    LUKA DIBALIK TATO

    Isabella menatap suaminya dengan seulas senyum kecil yang tertahan. Jemarinya yang bebas mengusap perut Dominic yang rata dan keras—merasakan tekstur otot yang kuat di bawah kulitnya. Kehangatan sisa percintaan mereka masih menyelimuti ranjang, namun pikiran Isabella tertambat pada hal lain. “Mau menceritakan apa yang terjadi?” tanya Isabella lembut. Ia memperhatikan rahang Dominic yang mengeras sesaat. Isabella tahu dia sedang menekan tombol berbahaya. Pria ini adalah sebuah branias, luka-lukanya tersembunyi di balik jas mahal dan tato phoenix yang megah. Melihat bekas luka yang merusak kulit punggung Dominic tadi benar-benar membuatnya syok, seolah-olah dunia baru saja ditarik dari bawah kakinya. “Aku tidak ingin memaksamu. Kau tidak harus menjawabnya,” lanjutnya lagi, mencoba memberi ruang bagi Dominic untuk bernapas. Isabella membungkuk, mendaratkan ciuman penuh kasih di dada pria itu. Ia bisa merasakan jantung Dominic berdetak kuat di bawah bibirnya. Saat ia mendongak, ma

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    KEBUTUHAN MEMBARA

    Isabella menahan napas, jari-jarinya ragu di udara, hampir menyentuh kelopak mawar yang berduri itu, tapi Isabella menarik diri di saat terakhir. Bibir wanita itu bergetar tapi dia tidak mengatakan apa pun selain membuka kotak P3K dengan tangan yang sama gemetarnya. "Tidak apa-apa, ini hanya luka menyerempet." Isabella tidak mengatakan apa pun, hanya terus merawat luka Dominic. Selama semua itu tidak ada satu pun yang berbicara. Dominic terus menatap istrinya—terkejut saat melihat air mata membasahi wajahnya. "Malyshka...." Dominic berusaha menghapusnya tapi saat tangannya hendak menyentuh wajah cantik istrinya, Isabella menghindar. Dominic menghela napas. “Aku sudah selesai,” katanya pelan, suaranya lembut tapi tidak cukup untuk menyembunyikan ketakutan di dalamnya. Isabella bergerak mundur, berdiri perlahan dari lututnya di lantai, tangannya membersihkan noda darah di jari-jarinya dengan kain. Dominic bangkit juga, nyeri di bahu membuat gerakannya kaku. Dia berbalik

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    HUKUMAN ATAU BUKAN?

    Isabella menggigit bibir bawahnya, mencoba menyembunyikan getaran yang merayapi tulang punggungnya. "Apa ini lelucon?" Dominic mengangkat bahu, tatapannya seperti belati yang menguliti tubuh Isabella yang nyaris telanjang. "Tergantung pada definisimu tentang 'lucu'." "Aku tidak akan melakukan apa

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    ADU MEKANIK

    Isabella masih belum pulih dari keterkejutannya saat Dominic masuk dan membanting pintu di belakangnya, cukup untuk membuat siapa pun terkena serangan jantung. Dan sekarang apa? Dominic ingin menghukumnya?“Kau tidak bisa menghukumku, Dominic,” tukasnya, berusaha terdengar berani meski yang ia rasa

    last updateHuling Na-update : 2026-03-27
  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    JEBAKAN

    "Bukan bermaksud merendahkan, tapi... apa kau pernah menggunakan benda itu sebelumnya?" Isabella tertawa mendengarnya. Ia berbalik jadi bisa melihat Grace yang sedang berdiri memandangnya dengan wajah hati-hati sekaligus cemas, seolah ia berpotensi membuat kekacauan. Dan mungkin memang demikian. S

    last updateHuling Na-update : 2026-03-26
  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    KETIDAKPATUHAN ISABELLA

    Dominic sedang membahas informasi dari Jax ketika ponselnya bergetar. Melihat nama pengawal istrinya di layar, firasat buruk langsung menghantamnya.Mengabaikan alarm di kepalanya, Dominic menjawab panggilan itu. "Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi."Terjadi sesuatu."Dominic berdiri dengan tiba-ti

    last updateHuling Na-update : 2026-03-26
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status