LOGINDi hari pertama bekerja, Letta sudah ditelepon pagi-pagi karena Nathan memintanya untuk segera datang ke rumahnya. Sudah lengkap dengan keinginannya dan juga pakaian yang harus ia pakai. Letta terburu-buru karena ini hari pertama ia bekerja.
Baru saja membuka pintu, Letta melihat Nathan yang duduk di ruang kerjanya, di depan meja komputer, melirik ke arah Letta yang baru saja sampai.
“Buatkan aku kopi,” pintanya.
“Apa?” Letta terdiam sejenak.
Ia ditelepon pagi-pagi buta, diminta buru-buru untuk segera datang ke rumahnya, dan sampai di sana, ia hanya diminta membuat kopi?
“Kenapa masih diam saja? Cepat buatkan aku kopi,” perintah Nathan.
Letta yang masih sempat terpaku itu terburu-buru menuju dapur. Ia yang mengenakan pakaian kemeja press body dan juga rok di atas lutut itu sempat termenung selama beberapa saat ketika tengah mengaduk kopi.
‘Ini serius?’ batinnya.
“Letta!” Nathan memanggilnya dengan suara yang pelan.
Letta terburu-buru meletakkan sendoknya dan juga membawa kopi beserta camilan seperti biasanya. Ia meletakkannya dengan baik di atas meja, dan melihat Nathan yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Ditegaknya sekali kopi tersebut, lalu pria itu mendongakkan kepala bersiap memberikan perintah kepada Letta yang masih menunggu pekerjaan apa yang bisa ia lakukan.
“Buatkan aku sarapan. Aku sarapan pukul 10. Lalu, dasiku yang warna navy dengan garis abu itu disiapkan. Sepatuku tolong dilap, dan jangan lupa buat siapkan tas kantorku dan beberapa berkas yang sudah ada di atas meja itu,” perintah Nathan.
Letta masih berusaha untuk bicara. Namun, mulutnya terasa berat meski hanya ingin membantah apa yang dikatakan oleh Nathan kepadanya.
Akhirnya dia memilih untuk menurut saja. Semua ia lakukan sesuai dengan permintaan Nathan. Nathan juga tak ada hentinya memberikan perintah kepada Letta berkali-kali di tengah dia melakukan tugas yang diberikan.
Sampai di jam sarapan Nathan, Nathan keluar dari ruang kerjanya dan kini tengah bersiap menyantap sarapannya. Letta sudah lelah. Ia tidak tahu bahwa menjadi asisten pribadi Nathan akan menjadi begitu berat.
Melirik ke arah Letta yang masih mengelap meja dapur, Nathan yang tengah mengunyah tersebut mulai membuka obrolan dengannya.
“Jadi, bagaimana rasanya hari pertamamu?” tanya Nathan,
Tangan Letta berhenti mengelap, kemudian ia menghela napas panjang dan melebarkan kesabaran yang ia miliki. Setelahnya, Letta berbalik badan melihat ke arah Nathan yang terlihat tak merasa bersalah setelah memberikan berbagai tugas tersebut.
“Aku tidak tahu kamu begini orangnya saat bekerja. Biasanya kamu santai saja, bahkan terkesan ramah,” Letta mengutarakan apa yang ia rasa.
“Aku ini profesional, Letta. Seriuslah saat bekerja, dan santai saat di luar jam kerja,” sahut Nathan,
Letta menyadari bahwa perbedaan cara bicara Nathan terdengar jelas. Di hari-hari sebelumnya, Nathan tak begitu caranya bicara kepadany. Tetapi, hari ini ia menunjukkan bagaimana dia bicara kepada Letta.
Ia mengepalkan tangannya dahulu. Masih ada satu keberatan yang ia simpan dari pagi dan dirasa seharusnya ia luapkan kepada Nathan.
“Seharusnya, kalau aku memang akan mengambil pekerjaan seperti ini, kamu tak perlu memintaku berpakaian seperti ini. Rasanya sesak sekali,” keluh Letta.
“Siapa bilang? Setelah ini kamu ikut ke perusahaanku. Aku ada meeting penting yang perlu aku ikuti, dan kamu harus ikut untuk belajar,” tegas Nathan.
Letta yang dari awal menduga tugasnya hanya di rumah saja itu seketika terpaku. Ia tak tahu kalau dia akan benar-benar bekerja sebagai asisten pribadi yang merangkap sekali.
Setelah Nathan selesai makan, Letta benar-benar diajak ke perusahaan Nathan. Pertama kalinya Letta datang sebagai pekerja ke sebuah perusahaan besar membuatnya merasa sangat gugup sekali. Ia tidak menyangka bahwa hari ini akan datang.
Dengan senyuman yang tak sirna, Letta terus memperhatikan sekitar saat mereka sedang berjalan ke dalam lift. Ia tak percaya, impiannya memiliki pekerjaan kini benar-benar terjadi.
“Jangan memasang senyum seperti itu. Profesional. Tunjukkan keramahanmu,” ujar Nathan.
“Ba- Baik, Nathan,” Letta tertegun.
Mereka sampai di sebuah ruangan meeting yang sangat besar. Letta terkejut melihat bahwa di sana ada banyak orang yang bahkan terlihat blasteran. Ia gemetar selama beberapa saat.
Nathan memberikannya secarik kertas dan juga pena, “Catat yang penting,” perintah Nathan.
Untuk pertama kalinya, Letta yang sudah mengenal sifat Nathan yang ramah dan sangat humble, kini melihat dia yang serius dan juga penuh wibawa. Bahkan, saat dia bicara bahasa inggris membuat Letta semakin kagum.
Tak lupa akan pekerjaannya, Letta mencatat bagaimana interaksi dari Nathan dan para klien yang perlu ia ingatkan dan juga beberapa hal yang sekiranya penting. Hingga akhirnya, meeting itu selesai dengan kesepakatan yang tercapai.
Di dalam ruangan yang kosong dan tinggal mereka berdua, Nathan mendekatinya dan kini mulai mengajaknya bicara dengan sedikit santai.
“Jadi, apa yang kamu dapat dari pertemuan barusan?” tanya Nathan.
“Ah, tadi, aku dengar beberapa ada yang komplain masalah desain untuk bagian dasar. Karena daerah yang mereka pilih rawan gempa, jadi mereka ingin struktur yang lebih kuat dan kalau bisa antigempa seperti buatan jepang,” sahut Letta.
“Lagi?”
“Mereka juga ingin desain yang lebih futuristik. Tidak norak, tapi juga tidak sederhana. Yang pasti bisa memikat orang-orang yang hanya sekedar melihatnya,” tambah Letta.
“Bagaimana dengan jangka waktu? Menurutmu, dalam jangka berapa lama itu akan selesai?” Nathan bertanya.
“Karena permintaannya besar dan rumit, untuk sekedar kerangka badan saja bisa memakan lebih dari 1 tahun untuk memastikan desain kembali untuk pertemuan selanjutnya,” sahut Letta.
Nathan yang mendengar jawaban Letta itu puas. Dia tersenyum dan bahkan memandangi Letta dengan bangga. Dia juga memberikan tepukan pelan di pundak Letta untuk menunjukkan kebanggaannya tersebut.
“Bagus, Letta! Kamu benar-benar di luar ekspetasiku!” seru Nathan.
Mendengar pujian itu membuat Letta senang, wajahnya semakin merona. Jantungnya bedebar semakin kencang karena pujian yang diberikan oleh Nathan kepadanya. Ini terasa menyenangkan.
“Ayo, kita jalan-jalan dan rayakan hari pertamamu dengan baik!” ajak Nathan.
“A- Apa?” Letta terkejut.
“Ayolah. Anggap saja sebagai bentuk hadiah pencapaianmu!” ajak Nathan.
Dengan perasaan yang masih menggebu, jelas Letta merasa bersemangat juga. Ia mengiyakan ajakan Nathan dan pergi bersamanya. Ini kali pertama ia memiliki pengalaman yang luar biasa sekali.
Saat keluar dari perusahaan, Letta diajak oleh Nathan ke sebuah mall yang ada di dekat sana. Letta cukup takjub. Biasanya ia hanya akan datang kalau diperintahkan Jenna untuk belanja saja. Ia tidak pernah jalan-jalan.
“Wow!” seru Letta.
Ia disajikan berbagai sushi di atas meja yang pertama kali ia lihat kala itu. Mulutnya tak berhenti menganga, dan matanya tak ada hentinya berbinar. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil gambar terhadap makanan yang ada.
“Kamu masih menggunakan ponsel jadul itu, Letta?” tanya Nathan.
“Iya,” Letta masih berseri menjawab.
“Bagaimana kalau aku belikan yang baru?”
Meski Letta tahu, hyper Nathan sangat kelewatan, dan bisa membuatnya begitu kewalahan, Letta tak masalah. Dari awal, Letta sudah menerimanya, dan tahu bagaimana Nathan bermain dengannya.Ada banyak hari di mana Nathan menjadi orang yang super agresif dan begitu protektif kepadanya. Ada juga hari Nathan menjadi sangat pendiam, dan begitu kesal bila sedikit diusik. Namun, Letta tak masalah. Ia sudah mempelajari sikap Nathan yang baru, agar dia tidak kaget.“Bagaimana pemandangan di sini?” tanya Nathan.“Bagus sekali! Aku suka!” seru Letta, menjawab.Nathan mengajak Letta mendaki. Kali ini memilih gunung yang memiliki pemandangan danau di bawahnya. Letta masih sibuk memotret karena merasa kagum dengan keindangan alam.Terkadang permintaan Nathan memang sedikit di luar batas seperti sekarang ini. Mendaki? Bukan keahlian Letta. Selama Nathan masih berada di sampingnya, Letta merasa ia bisa melalui apapun, serta melewati apapun yang ada di depan matanya.“Bagaimana kamu bisa tahu tempat sei
Letta terkikuk mendengar ucapan Nathan. Ia merasa bahwa Nathan seperti sedang bergurau mengatakan perihal barusan kepadanya.“Kamu tak serius, kan? Bukannya kita akan merayakan hari kita? Keberhasilan kita? Kenapa kita harus melakukan kegiatan ini dulu, Love?” tanya Letta, berusaha sedikit menghindar.Nathan malah tersenyum semakin lebar setelah mendengarkan ucapan Letta. Kode Nathan memang terpancar sangat jelas. Bahkan bila dihiraukan, Nathan terlalu memperlihatkan kodenya begitu jelas.“Darling, inilah perayaan kita,” ucap Nathan.“Bukannya…. Kita seharusnya bersenang-senang?” Letta memastikan.“Hei, Darling. We’re gonna having fun with this, right?” Nathan mengingatkan.Rasanya terhenyak diri Letta saat mendengarkan ucapan Nathan barusan. Ia lupa, bahwa segala hal Nathan rasakan selalu disangkutkan dengan masalah ranjang. Seperti apapun perasaannya, Nathan selalu mengaitkannya dengan itu tanpa pengecualian sedikitpun.“Tapi… kenapa tak melakukan hal lain, Love? Mana kuenya? Mana p
Letta sudah begitu bersemangat setelah mendengar ucapan Nathan. Kue? Perayaan? Letta belum pernah melakukannya sebelumnya setelah semuanya hilang dari tangannya.Perasaan yang menggebu itu membuat Letta jadi bersemangat. Ia bisa saja mengeluh karena melakukan BJ di dalam mobil demi memuaskan ego Nathan. Namun, karena Nathan menjanjikan sesuatu yang lain padanya, jadi rasanya berbeda.“Kamu tahu, Darling, sekarang, aku merasa apa yang aku inginkan sudah lengkap,” ujar Nathan, saat mereka sekarang mulai melaju pulang.“Kenapa?” tanya Letta.“Tentu saja karenamu, Darling. Aku jadi merasa bisa melewati hariku 10 tahun kedepan, atau bahkan sampai kapanpun aku mau asal bersamamu,” jawab Nathan dengan begitu bersemangat.Melihatnya, membuat Letta sedikit tergelitik. Ia tidak tahu kalau Nathan bisa berkata seperti itu lagi kepadanya. Ia merasa malu, tersipu, tertawa kecil, lalu memukul pelan lengannya.“Sungguh, Darling. Aku bisa membahas ini seribu tahun kalau kamu mau mendengarkanku,” seru
Kedua tangan Jenna berusaha ia tarik sekuat tenaga saat Jenna merasakan kakinya secara paksa, dan ada tiga benda keras yang berusaha masuk ke dalam tubuhnya.Kewanitaannya yang dipaksa dibuka lebar membuat Jenna langsung membelalakkan mata. Mustahil bagi Jenna bahwa tiga benda itu masuk ke dalam tubuhnya secara bersamaan. “T- Tunggu! Kalian gila!” Jenna berusaha melawan.Dihiraukannya Jenna yang meminta kepada mereka. Justru, mereka makin keras dan mendorong kuat ke dalam tubuh Letta, sampai Jenna mengerang kesakitan dan wajahnya kelihatan menahan tangis karena tubuhnya yang dikoyak barusan.“AKHHHHH!!!” Letta hanya bisa merinding melihat bagaimana para pria itu membuat Jenna tak bisa bergerak lagi. Dia bahkan gemetar. Jika biasanya hubungan badan terasa menyenangkan dan selalu membuat siapapun merasa nyaman.Kali ini, ia melihat bahwa ini sudah seperti penyiksaan yang tak berakhir sama sekali. Saat tubuh Jenna dipompa, Jenna sudah tak mampu berteriak. Hanya air mata yang mengalir,
Letta seketika gemetar melihat kedatangannya. Ia tidak menyangka akan bertemu Jenna di tengah keramaian ini. Meski sudah bersama dengan Nathan, Letta masih bisa merasa takut hanya dengan melihat ke arah Jenna yang begitu berantakan.Pakaiannya terlihat lusuh. Kulitnya pucat, bahkan ada kantong mata pada wajah Jenna yang terlihat dua kali lipat lebih banyak. Badannya yang semakin kurus, tak terlihat body goals seperti bagaimana Jenna dulu.Ini pernampilannya yang sangat berbeda dari terakhir kali Letta melihatnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Jenna sampai ia bisa berubah sejauh ini.Langkah Jenna menekat ke arah Letta yang mulutnya berhenti mengunyah. Nathan yang menjadi garda terdepat langsung melindungi, berdiri di depat Letta, menghalangi arah Jenna mendatanginya.“Apa maumu lagi, Jenna?” tanya Nathan.Jenna melihat sendiri sekarang di depan matanya, bagaimana Nathan berusaha melindungi Letta darinya. Senyumannya terbuka lebar dengan segala rasa sakit yang selama ini tidak perna
Letta selalu penuh dengan tanda tanya setiap kali bersama Nathan. Ada banyak pertanyaan yang lewat dalam pikirannya setiap kali dia sempat melamun. Seperti ada yang mengarahkannya untuk mempertanyakan kepada Nathan, sebelum semua berjalan lebih jauh.“Aku selalu penasaran, meski kamu sudah pernah menjawab pertanyaan ini,” celetuk Letta, yang masih tertelungkup di atas ranjang dengan badannya yang tertutup selimut.Nathan yang baru saja selesai mandi melihat ke arah Letta dengan senyumannya yang dermawan. Letta bahkan selalu luluh setiap kali melihat bagaimana Nathan menatapnya.“Kenapa, Darling? Kamu masih ragu denganku?” tanya Nathan, tanpa nada menghakimi.“Tidak, Love. Aku selalu bertanya, bagaimana kamu yang luar biasa, menyukai aku yang wanita biasa? Terlebih, kasus orang tuaku dan adikku sudah menjadi buah bibir publik tiada habisnya. Bukankah seharusnya kamu merasa malu, karena akhirnya bersamaku?” Letta bertanya.Nathan yang sudah melilitkan handuk terlebih dahulu di tubuhnya,







