LOGINIrfan tidak langsung menjawab. Ia hanya menerima gelas itu, meneguknya agak tergesa demi membendung gugup yang mendadak berjejal di tenggorokannya. Gelas kaca di tangannya terasa dingin, tetapi hawa di dalam ruangan itu perlahan justru memanas.Di sebelahnya, Manora duduk cukup dekat. Gaun terusan pendek yang ia kenakan tersingkap sebagian saat ia mengubah posisi, memamerkan pahanya yang mulus. Irfan mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk memutar-mutar gelas di genggamannya.Belum sempat rasa canggung itu terurai, sebuah sentuhan mendarat di paha luar Irfan. Lembut, tapi cukup untuk membuat seluruh otot tubuhnya menegang seketika.Irfan menoleh patah-patah.“Mano.” Suara Irfan tertahan, tajam dan menuntut. “Apa-apaan ini?”Manora tidak menarik tangannya. Ia justru terkekeh pelan—kekeh manja yang rasanya terlalu tenang di tengah ketegangan itu.“Masa harus dijelaskan sih, Mas?”Dahi Irfan berkerut dalam.“Kita ini bukan anak kecil, lho.” Manora mengikis jarak yang tersisa di antara
Malam kian larut usai siaran berita memungkas penayangannya. Tanpa membuang waktu, Irfan langsung mengemas barang-barangnya, bersiap menuju alamat yang dikirimkan Manora.Entah mengapa, pijakan kakinya malam ini terasa jauh lebih ringan. Binar di matanya tampak begitu berseri—sebuah kejanggalan yang tak luput dari pengamatan Halim saat melintas di koridor redaksi."Sumringah amat, Fan. Ada angin segar dari mana, nih?" celetuk Halim, menaikkan alisnya.Irfan hanya menyunggingkan senyum hangat, menutupi desiran halus di dadanya. "Nggak ada apa-apa, Lim. Cuma lagi pengin cepat sampai rumah saja."Halim sama sekali tak menaruh curiga. Ia mengangguk-angguk maklum sembari merapikan tumpukan berkas di mejanya. "Ya sudah kalau begitu. Hari makin malam, hati-hati di jalan.""Sip, berangkat dulu."Irfan bergegas melangkah menuju area parkir.Tak berselang lama, sedannya bergulir perlahan meninggalkan pelataran gedung NTV, menyusup membelah kemacetan jalanan ibu kota yang masih berdenyut.Sepanj
Sejak pertemuan di restoran hari itu, ada selip pergeseran halus dalam diri Irfan.Bukan perombakan drastis yang gampang dibaca orang-orang di sekitarnya. Ia masih pria presisi yang datang tepat waktu, masih mengubur diri dalam tumpukan tenggat, dan tetap menjalankan peran krusialnya sebagai produser sekaligus kamerawan senior di ruang siaran NTV.Namun, di sela riuh kesibukannya, fokusnya kerap terlempar pada satu nama yang mestinya tak perlu menyita ruang di kepalanya.Manora.Entah mengapa, rekaman percakapan singkat saat makan siang itu terus berputar ulang tanpa izin. Terutama saat kalimat sanjungan itu terlontar—tentang betapa kelihatannya ia sebagai figur pria pekerja keras.Lengkung senyum tipis bahkan sempat mencuri bibirnya tanpa sadar."Pak Irfan itu kalau di kantor bawaannya selalu fokus, serius..."Kalimat membuai itu mendadak terngiang kembali sewaktu ia berdiri mematung di balik kamera utama, mengawasi gladi siaran malam."Pak?"Teguran salah seorang kru lapangan seketi
Sejak menerima tenggat tugas dari Dito, Manora tak lantas bergerak ugal-ugalan.Ia memilih memantau Irfan dari kejauhan, membaca pola dan kebiasaannya terlebih dahulu.Hingga siang itu, celah yang ia tunggu akhirnya terbuka lebar.Irfan tampak sedang menikmati makan siang seorang diri di sebuah restoran tenang, tak jauh dari kompulsi gedung NTV. Pria itu duduk santai di sudut meja, sesekali mengusap layar ponselnya sembari menanti pesanan tiba.Manora yang baru saja melangkah melewati pintu utama langsung memaku pandangannya.Ia menahan pijakan sejenak, mengolah raut wajahnya agar tampak terkejut yang alami."Pak Irfan?"Irfan mendongak, matanya memicing tipis. "Oh... Manora?"Manora melepaskan tawa renyah, begitu natural. "Pak Irfan makan siang di sini juga?"Irfan mengaggukan kepala singkat. "Iya, Kenzo bilang di sini ada makanan yang lagi viral dan wajib dicobain."Manora spontan terkekeh halus. "Ouh, jadi Pak Irfan makan di sini karena rekomedasi dari Kezo."Jemarinya lalu menyapu
"Kalau begitu... skema seperti apa yang bakal Anda mainkan?" Dito memiringkan kepalanya, menuntut perincian.Damar menyandarkan punggung ke kursi besi yang dingin. Rautnya terpoles tenang, tetapi kilat matanya memancarkan kalkulasi yang pekat."Irfan," cetus Damar rendah. "Kita harus seret dia masuk. Tapi buat yang satu ini, butuh pergerakan ekstra.""Katakan saja," desak Dito, memaku pandangannya."Citra orang itu terlalu bersih. Sama seperti Halim, dia salah satu senior yang posisinya teramat sakral dan dipercaya di NTV." Damar memberi jeda sejenak, mengumbar senyum miring. "Tapi saya hafal betul... sebersih apa pun rekam jejak seseorang, pasti ada celah busuknya.""Apa celahnya?""Wanita."Dito bungkam seketika."Jebak dia pakai umpan wanita," lanjut Damar berbisik. "Begitu kita pegang kartu matinya buat menekan, dia nggak bakal punya banyak opsi selain bertekuk lutut mengikuti semua kemauan kita."Lapis demi lapis taktik itu mulai benderang di benak Dito. "Setelah Irfan dalam geng
Dua hari berselang.Dito akhirnya melangkah mendatangi Damar.Sedannya berhenti mulus di pelataran area tahanan markas kepolisian. Usai melangkah keluar, Dito tak langsung memburu pintu masuk. Pria itu sempat mematung sejenak di sisi kendaraan, memaku pandangannya pada gedung beton dingin di hadapannya.Raut wajahnya tampak tenang tanpa riak, tetapi binar matanya sarat kalkulasi.Rangkaian percakapan ini telah ia matangkan berkali-kali di dalam kepala.Damar sedang berada di titik nadir yang paling pas untuk disudutkan—hancur, terbuang, dan pasti memelihara dendam pekat pada NTV.Kini tugas Dito cuma satu: membuat pria terbuang itu yakin bahwa uluran tangannya malam ini murni sebuah penyelemat, bukan sekadar pemanfaatan situasi.Usai mengembuskan napas pendek, Dito mengayunkan langkah masuk.Ia melewati prosedur pemeriksaan presisi, mengurus izin besuk, hingga akhirnya diarahkan petugas menuju ruang konsultasi yang lengang.Beberapa menit bergulir, engsel pintu di hadapannya berderit







