MasukSetelah menempuh penerbangan lintas benua yang memeras tenaga, roda-roda pesawat yang membawa Ellena dan Kenzo akhirnya menyentuh landasan Bandara Milan Malpensa, Italia.Begitu jet besar itu melambat di runway, Ellena menghembuskan napas lega yang panjang. Tubuhnya terasa kaku dan pegal akibat terperangkap belasan jam di dalam kabin. Ia menyandarkan punggungnya, lalu mengusap pelan perutnya.“Kita udah sampai, Bu,” bisik Kenzo lirih seraya mencuri pandang ke sisinya.Ellena menoleh, mengulas anggukan tipis.“Iya.”Denting tanda kenakan sabuk pengaman mati, dan para penumpang mulai memadati lorong. Kenzo berdiri sigap merengkuh bagasi kabin mereka dari kompartemen atas, sementara Ellena menunggu dengan sabar sampai kerumunan sedikit terurai.“Pelan-pelan aja, Bu,” wanti Kenzo begitu mereka melangkah menyusuri garbarata. “Nggak usah buru-buru, jalan santai aja.”Mereka mengekor alur petunjuk arah menuju konter imigrasi. Setelah berdiri dalam barisan antrean beberapa saat, Ellena dan K
Pesawat akhirnya lepas landas, pelan-pelan menanjak membelah hamparan awan.Di dalam kabin, suasana mendadak lengang. Beberapa penumpang mulai menyandarkan kepala untuk tidur, menyisakan deru mesin pesawat yang terdengar konstan mengisi keheningan.Ellena duduk bersandar di dekat jendela.Sejak roda pesawat meninggalkan landasan, bibirnya terkunci rapat. Matanya cuma tertuju ke luar, menatap gumpalan awan putih yang membentang luas di bawah sana.Sesekali, napas berat lolos dari celah bibirnya.Kepalanya masih bising oleh bayang-bayang Mahesa.Jemari Ellena saling meremas cemas di atas pangkuan. Ia mengalihkan pandangan lagi ke balik kaca jendela, mencoba mengurai sesak di dadanya.Di sebelahnya, Kenzo hanya bisa mengamati dalam diam.Ada beberapa kali dorongan untuk membuka suara, tapi niat itu selalu ia urungkan. Wajah murung Ellena benar-benar membuatnya serbasalah. Ia bingung harus mulai bertanya, mencoba menghibur, atau malah membiarkan perempuan itu tenggelam dalam pikirannya se
Tak butuh waktu lama, sedan milik Kenzo sudah terparkir mulus di pelataran gedung NTV.Begitu menginjakkan kaki di lantai marmer lobi, ia langsung menyambungkan panggilan telepon ke Ellena.“Bu, saya sudah sampai di lobi.”“Langsung naik ke atas, Ken. Saya tunggu di ruangan.”“Baik, Bu.”Kenzo mengantongi ponselnya kembali, lalu mengayunkan langkah lebar menuju jajaran lift executive.Denting halus menandai berhentinya lift di lantai teratas. Pintu stainless bergeser terbuka, dan Kenzo bergegas memangkas jarak menuju ruang kerja atasannya.Tok. Tok.“Masuk.”Kenzo mendorong pintu tebal itu. Ellena tampak sudah berdiri anggun di sisi meja kerjanya, menyandang sebuah handbag bermerek di lengan.“Barang-barang kamu sudah siap?”“Sudah, Bu.” Kenzo mengangguk patuh, meski guratan bingung masih terpatri di wajahnya. “Tapi jujur... saya masih bingung untuk apa kita ke Italia?"Ellena menatapnya sekilas, memilih mengabaikan raut penasaran itu.“Nanti saya beberkan semuanya di perjalanan. Yang
Saran Halim terus berputar-putar di kepala Ellena.Masih ada sisa empat hari sebelum suaminya pulang ke tanah air. Empat hari yang rasanya bakal menyiksa kalau hanya diisi dengan menerka-nerka tanpa kepastian.Setelah menimbang rapat-rapat, keputusan Ellena akhirnya bulat.Ia bakal terbang menyusul Mahesa ke Italia.Namun begitu niat itu terpatri, muncul benteng keraguan baru.“Tunggu dulu... aku kan lagi hamil kembar. Nggak mungkin nekat terbang sendirian ke Eropa. Kalau ada apa-apa di jalan gimana?”Ellena mematung, memutar otak mencari jalan keluar. Ia butuh sosok yang kuat, sigap, bisa diandalkan, dan siap membackup-nya selama perjalanan jauh itu.“Laura...?” bisiknya pelan.Tapi detik berikutnya, Ellena langsung menggeleng cepat.“Nggak, nggak. Dia cewek, rentan juga kalau ada situasi darurat.” Ellena menghela napas panjang, menatap menerawang ke balik jendela kaca kantornya. “Terus siapa lagi dong?”Ia mulai melangkah maju-mundur di dalam ruang kerjanya yang luas. Beberapa saat
Sepulang dari kelas yoga, barisan kalimat sang instruktur terus bergaung di kepala Ellena. Untuk kali pertama, keraguan itu benar-benar mengakar, memaksanya menatap ulang setiap inci gerak-gerik suaminya selama di luar rumah.Namun makin keras ia berpikir, makin buntu jalan yang ia temukan.“Gimana caranya, ya?” gumam Ellena lirih pada ruangan yang sepi.Ia mendaratkan tubuhnya di tepi peraduan, lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layar datar itu menyala, hanya menyorotkan rentetan email laporan dari kantor. Tak ada satu pun panggil atau pesan masuk dari Mahesa.Ellena menatap layar bisu itu beberapa detik sebelum melepas helaan napas berat. Pikirannya menari liar, mencari sosok yang bisa ia percayai untuk mengurai benang kusut ini.“Harus bicara sama Om Halim gitu?” bisiknya. “Selama ini cuma dia yang paling netral, selalu ada kalau aku butuh saran urusan kantor.”Ia terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan pada keputusannya sendiri.“Iya. Mending sama Om Halim.”Tanpa m
Malam penuh gejolak itu akhirnya luruh digantikan pagi hari yang hangat.Begitu matahari menyapa, ritme di kantor ALTV kembali berdenyut seperti biasa. Kesibukan memadati setiap sudut gedung, seolah tak terpengaruh meski sang direktur utama sedang berada di belahan bumi lain.Pemandangan serupa terlihat di gedung NTV. Para staf tenggelam dalam tumpukan rutinitas harian, sama sekali tak menduga badai emosi yang sedang mencengkeram kehidupan pribadi para pimpinan mereka.Sementara itu, Ellena memilih mengawali harinya di sebuah studio yoga.Biasanya, Mahesa selalu setia menyisihkan waktu untuk menemaninya di kelas couples yoga. Namun karena sang suami masih berada di Italia, Ellena terpaksa menjalani latihan itu sendirian.Ruangan serba kayu itu terasa begitu menenangkan. Musik instrumental bervolume rendah mengalun lembut, berpadu harmonis dengan helaan napas dan gestur tubuh para peserta yang bergerak lambat.Tiga puluh menit berlalu tanpa terasa.Sesi instruktur pun berakhir. Satu pe







