เข้าสู่ระบบSemua orang menahan napas.Abimana menatap lurus ke arah layar proyektor, di mana Dayana masih belum sadar kalau dia sedang ditonton satu gedung."Pernikahan ini, batal." Satu kalimat itu seperti bom.Brak!Pintu ruang rias didobrak.Dayana dan Kevin terlonjak kaget. Lipstik Dayana berantakan, dasi Kevin miring.Di depan pintu, sudah berdiri Dona, Nabila, dan puluhan wartawan dengan kamera menyala.Wajah Dayana pucat seputih gaunnya. Kakinya lemas. Dia baru sadar ada lampu merah berkedip di sudut vas bunga.Kamera.Dayana seperti jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar."DAYANA!!!" pekik Dona.Teriakan Dona menyadarkannya, Dayana pun langsung mendorong Kevin. Dayana yang tidak tahu diri berlari ke arah Dona, berharap wanita itu masih akan mempercayainya."Ii-buu ... " panggil Dayana. Suaranya bergetar, air matanya sudah menggenang. Dayana tampak seperti seekor kelinci yang lemah. Jika Dona tidak melihat perilaku tercela Dayana dengan matanya sendiri, dia pasti akan luluh dan membela
Saat Dayana melihat sosok yang ada di pantulan cermin, dia langsung menutup mulutnya. Matanya menegang saat orang yang memeluknya adalah Kevin. Gadis itu mendorong Kevin dan lari ke arah pintu. Tapi bukan untuk keluar, tapi mengunci pintu. Kalau ada orang yang lihat bisa gawat. Kevin merasa kecewa, dia pun berpura-pura marah, "Kenapa? Nggak suka aku lagi?" Suara Kevin terdengar rendah dan serak."Ihhh! Kak kevin," ujar Dayana dengan manja.Gadis itu berjalan mendekat dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan Kevin.Dayana bahkan mengecup bibir Kevin dengan alami seperti pasangan suami istri. Darah dalam diri Kevin mendidih. Dia ingin lebih, bukan sekedar kecupan. Tapi Kevin harus menahan diri. Ini adalah pernikahan Dayana, Kevin tidak boleh mengacaukannya. Karena dengan pernikahan ini lah, anak yang ada di dalam kandungan Dayana akan menjadi ahli waris keluarga Mahendra.Kevin mengusap bibir ranum Dayana, dia pun menelan ludah.Dayana menyandarkan kepalanya pada dada pria itu dan j
"Jangan marah Ren. Setelah Abimana menikahi ular itu, dia tidak akan mengganggumu lagi," ujar Angela.Renata tersenyum pahit, Angela memang polos. Angela tidak tahu, Abimana orang seperti apa. Bagi Renata, Abimana bukan pria yang murah hati hingga dia akan melepaskan Renata begitu saja. Buktinya, di hari pernikahannya saja, Abimana masih sempat memberikan gaun dan perhiasan pada mantan istrinya. Huh! Yang namanya penghianat tetap saja penghianat. Sudah mau menikah tapi masih tidak rela melepaskan mantan istrinya.Setelah memungut kembali perhiasan yang berserakan itu, Angela menaruhnya di atas ranjang. Dia berjalan mendekati Renata dan meraih tangannya."Ayo, pergi." Renata menghela nafas lalu mengambil tasnya di atas meja rias, "Ayo." Acara ijab kabul dilaksanakan siang hari. Jadi mereka harus berangkat dan jangan sampai terlambat.Renata dan Angela pergi ke gedung pernikahan Abimana dan Dayana. Setelah memarkir mobil, mereka berdua masuk.Saat Renata dan Angela datang semua oran
Dapat feel-nya. Ini adegan karangan bunganya kuat banget buat bikin pembaca emosi — apalagi kalau Renata lagi difitnah di sosmed.Aku rapikan dikit ya, biar tegangnya naik tapi tetap pakai gaya kamu. Aku benerin typo dan alurnya biar lebih ngalir:---Untuk membuang penat, kedua wanita itu pergi ke kantor Mikaila. Saat Renata dan Angela memasuki lobi, semua mata menatap dan berbisik-bisik. Renata dan Angela pura-pura tidak peduli.Mereka masuk lift dan berhenti di lantai ruangan Mikaila. Angela mendekati meja sekretaris."Kak! Bu Mikaila sibuk nggak?"Sekretaris itu mengedipkan mata dan tersenyum ramah lalu menjawab, "Bu Mikaila sedang keluar."Binar mata Renata meredup. Dia menatap daun pintu ruangan Mikaila dengan rumit. Jelas-jelas mobil Mikaila masih terparkir di basement. Ini pasti karena Mikaila menghindarinya karena skandal di media sosial.Angela menghela napas berat, "Yah! Sayang sekali!"Kedatangan mereka sia-sia. Mereka memutuskan pergi.Setelah lift tertutup, sekretaris it
Saat berjalan menuruni tangga, Renata melihat Angela yang sedang senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Dia pun mengernyit dan merasakan firasat buruk."Ngapain senyum-senyum sendiri?" Angel tersenyum licik sambil menunjukkan ponselnya. "Kemari deh! Bagaimana kalau foto ini aku sebar?" tanyanya dengan mata berbinar.Renata menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Dia melirik ke arah layar ponsel sahabatnya. Pupil matanya menyusut, "Jangan macem-macem deh!" Angela menyibak rambutnya. Dia yang seperti kerasukan tidak perduli dengan resikonya. Dari awal, dia ingin sekali memberi pelajaran pada Dayana saat dia mendapatkan foto itu. Hanya saja, Renata selalu mencegahnya, tapi sekarang dia tidak akan menundanya lagi sekalipun Renata menghalanginya.Tekadnya sudah bulat."Cih! Aku ngga takut!"Renata mengulurkan tangan lalu merebut ponselnya dengan cepat. Wanita itu menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar Angela berhenti. Jangan sampai Angela menyinggung Abimana yang kejam itu!Angela
Melihat reaksi Reino, suasana hati Abimana semakin buruk. Dia melirik asistennya dengan tajam lalu mengusirnya."Pulang sana! Nggak usah menginap."Reino tidak tahu kesalahannya, tapi dari pada kena pukul dan bahkan di pecat. Dia langsung berdiri tanpa mengeluh."Baiklah, Tuan."Abimana memijit pelipisnya yang sakit.*** Paginya di rumah Angel. Renata sedang duduk di meja makan sambil menyesap kopi hitam. Dia masih memakai piyama, rambut panjangnya di cepol, wajahnya terlihat kuyu lengkap dengan lingkar hitam di bawah matanya. Dia sudah seperti zombi."Pagi ... " sapa Angel dengan penuh ceria.Keceriaannya seperti cahaya matahari yang menyinari setiap sudut gelap. Wanita itu sudah rapi, cantik dan wangi. Dia memakai gaun panjang berwarna navi dan tas slempang edisi terbatasnya. Rambutnya di curly dengan riasan douyin andalannya. Renata melirik sekilas dan menjawab dengan malas, "Pagi ... "An







