LOGINRendi perlahan menggeliat, berpura-pura baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Pria itu menoleh ke arah Bintang dengan senyuman yang sengaja dibuat selembut mungkin, meskipun binar matanya memancarkan kepuasan yang licik."Pagi, Sayang," suara Rendi terdengar serak yang dibuat-buat. Dia sengaja mengulurkan tangan, hendak mengusap pipi Bintang untuk memperkuat sandiwara bahwa dialah pria yang menjamahnya semalaman.Namun, sebelum tangan Rendi menyentuh kulitnya, Bintang dengan refleks menyentak tubuhnya ke belakang. Dia menatap Rendi dengan tatapan horor, nafasnya memburu, dan kedua tangannya mencengkeram erat selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga ke dagu."Kenapa kamu bisa ada di sini, Mas?! Bukankah semalam kamu dengan Mas Angkasa menemani klien?!" tuntut Bintang dengan suara bergetar. Kepalanya pening luar biasa, tetapi memori tentang sentuhan semalam terasa terlalu nyata dan aroma tubuh pria semalam sama sekali bukan aroma parfum maskulin yang biasa dipakai Rendi.Ren
Baru saja pria itu hendak melangkah masuk sebuah cengkeraman sekeras baja tiba-tiba jatuh di pundaknya, dan menariknya ke belakang. Pria itu hendak memberontak namun sebuah suara dingin berbisik di telinganya. "Bergerak sedikit saja, nyawamu habis." Itu Jerry, asisten kepercayaan Angkasa bergerak dengan sangat cepat dan senyap. Tadi Angkasa menghubungi Bintang, dia ingin memperingatkan adik iparnya agar ke kamarnya sebelum dia dan Rendi pulang tapi di sambungan telepon, terdengar suara Bintang yang bilang kalau tubuhnya panas. Ditambah lagi Rendi yang terlihat senyum-senyum sendiri di sepanjang jalan tadi membuat Angkasa curiga. Akhirnya pria itu dan Jerry pulang terlebih dahulu dan meminta Rendi menemani klien. Jerry langsung mengamankan pria suruhan itu, menyeretnya menjauh dari koridor paviliun tengah menuju ruang kerja Angkasa tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Sementara Jerry membereskan tikus kotor itu, Angkasa melangkah cepat menerobos masuk ke dalam kamar
Setelah beberapa waktu Angkasa dan Rendi berangkat, Sinta dan sang Mama menyusun rencana licik mereka.Saat lampu-lampu mulai padam, mereka berdua beraksi, berjalan pelan menuju dapur. “Nyonya ingin membuat apa? Biar kami buatkan.” Kata salah satu pelayan. “Kami akan buat sendiri kamu tidur saja.” Sahut Sang Mama. Pelayan itu mengangguk lalu keluar dapur. Dirasa aman, Sinta mengeluarkan obat perangsang dosis tinggi, dia sengaja menambah dosis agar Bintang seperti jalang yang terus minta disetubuhi. “Mampus kamu Bintang, teruslah memohon disetubuhi orang sewaan kak Rendi.” Sinta dan mamanya tertawa lepas, membayangkan Bintang dikoyak habis malam ini. Dendamnya di pesta ulang tahun masih menyala dan Sinta tak akan lupa hal itu. Segelas susu telah jadi, dan siap diantar ke kamar Bintang.Namun, tepat saat Shinta hendak melangkah membawa nampan itu, sang Mama tiba-tibamenahan lengan anak perempuannya. Wajah paruh bayanya menegang, otaknya yang penuh dengan taktik kelicikan mendada
Suasana ruang makan mansion Pratama malam itu terasa begitu berbeda.Rendi benar-benar menjalankan aktingnya dengan sangat luar biasa. Di depan Sang Mama, Shinta, dan terutama di bawah tatapan tajam Angkasa, pria itu bersikap teramat manis kepada Bintang."Ini, Bintang. Makan yang banyak ya. Kamu harus menjaga kesehatanmu," ucap Rendi dengan suara yang dibuat selembut mungkin.Dengan cekatan, Rendi melayani istrinya. Dia mengambilkan nasi, menyendokkan lauk-pauk, menuangkan air putih, bahkan tanpa canggung dia mengupas beberapa ekor udang besar lalu meletakkannya di atas piring Bintang. Sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi selama pernikahan mereka.Bintang hanya diam membeku, menatap udang di piringnya dengan rasa jijik yang bergejolak di dada. Dia tahu persis ada udang di balik batu dari sikap manis suaminya ini.Di kepala meja, Angkasa yang menyaksikan pemandangan itu mengepalkan tangannya di bawah meja. Rahangnya mengeras. Netra elangnya berkilat penuh kekesalan dan api
Jantung Bintang serasa melompat keluar. Dia di kamar dengan Angkasa dan di depan pintu Rendi memanggilnya.Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Bintang mendorong dada bidang Angkasa, mencoba menciptakan jarak."Mas... tolong aku, maksudku, sembunyi di kamar mandi," bisik Bintang teramat lirih, matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan yang hebat.Namun Angkasa bergeming seolah tak takut kalau Rendi masuk. "Aku mohon, Mas. Jangan sampai Mas Rendi melihatmu di sini."Angkasa sempat mengeras. Rahangnya mengetat, menatap pintu dengan kilat amarah yang siap meledak. Sebagai penguasa tunggal mansion ini, bersembunyi dari adiknya sendiri adalah penghinaan bagi egonya. Namun, begitu melihat mata Bintang dan bagaimana tubuh wanita itu bergetar hebat, pertahanan Angkasa runtuh.Dia tidak tega melihat wanitanya ketakutan setengah mati."Aku memberimu sedikit waktu Bintang, usir dia atau aku sendiri yang akan keluar dan mematahkan lehernya," desis Angkasa memberi peringatan mutlak.Pria itu
Mendengar sindiran menohok yang keluar dari mulut kakaknya, Rendi seketika naik pitam. Garpu di tangannya terhentak keras di atas piring porselen, menimbulkan denting tajam yang memutus keheningan ruang makan."Maksud kamu apa, Kak?!" tanya Rendi dengan nada yang sedikit murka, matanya menatap Angkasa penuh ketidaksukaan.Angkasa tidak sudi melayani kemarahan adiknya. Tak ingin ada debat kusir yang merusak paginya, ia mengakhiri pembicaraan begitu saja tanpa sepatah kata pun. Dengan santai, Angkasa menyelesaikan suapan terakhir sarapannya, mengelap bibir dengan serbet, lalu bangkit berdiri untuk berangkat ke kantor tanpa menoleh lagi pada Rendi maupun Ibu Rahayu yang wajahnya sudah sepucat kain kafan.Namun, ketenangan Angkasa runtuh begitu ia menginjakkan kaki di gedung pencakar langit Pratama Group.Di dalam ruang kerja eksekutifnya yang megah, fokus sang penguasa bisnis itu pecah total. Alih-alih memeriksa berkas-berkas saham yang menumpuk di atas meja, bayangan Angkasa terus s







