Share

Chapter 5

Author: Rara Radika
last update Last Updated: 2025-12-03 02:20:26

Kesabaranya harus seluas samudra maka ia akan tinggal dengan aman di samping pria itu.

Berdiri menatap luar dari balik jendela kamarnya. Nora melihat Isaac membawa pergi wanita yang ditemuinya tadi siang dalam ruang pribadi pria itu. Berjalan bersama dalam terang cahaya matahari.

Nora tahu, wanita itu pelayanya. Seseorang yang bisa leluasa menatap wajah Isaac tanpa halangan. Meskipun sedikit membuat Nora berkecil hati sebab ia tak pernah miliki kesempatan seperti itu.

"Kenapa, Abigail? Katakan dengan jelas." Nora berbalik. Gontai menuju tepi ranjang kemudian duduk. Sementara Abigail berdiri tegap di depanya, namun tertunduk wajah pria paruh baya itu.

"Tolong minum obatmu, Senora."

"Aku tidak sakit. Aku tidak ingin meminumnya." Nora menolak dengan lugas. Membuat Abigail tersentak sebab tak biasanya ia tak menurut.

"Señora ...."

"Ini melelahkan, Abigail. Aku tak ingin  lagi terus menurutinya," papar Nora.

"Aku juga tak ingin terus bersabar."

Abigail tak bisa memaksanya. Ia berlalu membawa obat yang seharusnya ia berikan pada Nora. Di luar ruangan pria paruh baya itu menghela napasnya, membuang obat pada pot bunga setelah melarutkanya ke dalam air.

Nora berbaring di atas peraduanya yang nyaman. Dapat ia hirup aroma khas maskulin Isaac yang tertinggal di atas sprei yang sengaja tak ia ijinkan pelayan untuk menggantinya.

Mengendus pelan wangi pria itu lantas pikiranya akan berputar pada malam pertama yang menyakitkan satu tahun lalu, serta malam-malam lainya yang selalu menyakitkan kala mereka sedang bersama.

Aku membencimu, Isaac Mallen Vargas.

******

"Apa ini cukup?" Nora mendongak pada Tadeo yang lebih tinggi darinya. Meminta saran pada pria itu sebab ia akan menambahkan biji wijen ke dalam makanan.

"Itu cukup."

Setelah mendengar jawaban dari Tadeo, Nora langsung menambahkan bahan masakan itu ke dalam makanan yang telah ia buat.

Santai dirinya kini pun telah terbiasa bersama Tadeo. Tidak lagi Nora rasa kegugupan serta rasa cemas yang mendalam seperti yang ia rasakan sebelumnya saat bersama pria itu. Kebersamaan mereka cukup sering, hingga membuat Nora tidak lagi gugup di depanya.

"Aku akan membuatkanmu iced oolong tea untukmu, duduklah di sini," ucapnya kemudian berlalu.

Senyum hangat nan ramah pada wajah Tadeo berakhir kala tak ada lagi Nora di hadapanya. Mengusap ujung bibirnya yang berminyak menggunakan ibu jari, lantas ia tatap tajam wanita cantik yang tengah menyiapkan minuman di depan sana.

Senang hati Nora meracik minuman favoritnya lalu ia berikan kepada Tadeo. Tersenyum simpul kala pria itu meneguknya hingga tandas.

"Aku bisa membuatkanmu lagi," ucap Nora.

"Tidak perlu, Nora. Aku ingin memperlihatkan menu baru kepadamu."

Nora mengangguk setuju. Kemudian, keduanya pergi menuju depan dan duduk pada kursi pelanggan. Tadeo mulai memperkenalkan beberapa menu baru kepada Nora serta menjelaskan rincinya.

Atensi Nora tetap fokus pada Tadeo yang sedang menjelaskan. Meskipun pikiranya kalut akan bayangan hukuman yang pastinya Isaac berikan nanti ketika mereka bertemu sebab telah menerima aduan dirinya yang tak lagi menurut. Entah apa yang akan pria itu lakukan.

Tangan Nora bergerak hendak membalikan halaman menu baru yang dipegang Tadeo. Namun, tiba-tiba tak sengaja ia menyenggol teh panas di atas meja hingga isinya tumpah mengenai t shirt pria itu.

"Maafkan aku, aku tidak bermaksud—”

Spontan Tadeo berdiri, mengibas pada bagian perutnya yang basah pun terasa panas. T shirt hitam ketat yang membalut tubuhnya semakin mencetak jelas bentuk perut pria itu pada bagian yang terkena tumpahan.

Benar-benar Nora tak sengaja. Dirinya melamun hingga bertingkah ceroboh seperti itu.

"Berikan bajumu padaku, aku akan mencucinya," pinta Nora seraya mengulurkan sebelah tanganya pada Tadeo yang tercengang.

Tidak Nora sadari jika permintaanya tadi berakhir membuat Tadeo bertelanjang dada. Keduanya berada di dalam dapur saat ini, menunggu t shirt Tadeo yang sedang Nora cuci kering di belakang.

Keduanya duduk bersebelahan. Diam pun tak bersuara salah satu dari mereka. Pun Nora yang tak berani menatap ke arah Tadeo sebab pria itu tak mengenakan pakaian.

"Aku benar-benar minta maaf." Pelan suara Nora hampir tak terdengar.

"Tidak masalah."

"Lukamu, biar kuambilkan obat."

Buru-buru Nora beranjak hingga tak melihat pijakan. Kaki jenjang yang terbalut sepatu hak tinggi itu seketika patah ke samping membuat serta merta tubuh Nora limbung dibuatnya.

Kontan terjatuh Nora tepat menindih dada Tadeo. Refleks juga Tadeo memeluk pinggang Nora untuk menahan. Mata bertemu mata, pandangan mereka saling bertemu untuk beberapa saat.

Jemari lentik Nora bergerak merasa keras di atas perut berlekuk Tadeo. Langsung tersadar dirinya lantas segera bangun dari tubuh pria itu.

"Kau baik-baik saja?" tanya Tadeo, ikut bangkit pria ini dari duduknya.

"Aku baik-baik saja."

Ia melirik Nora, lantas keningnya mengeryit samar. "Kakimu sakit? Wajahmu sampai memerah seperti itu."

Tidak. Itu bukan sakit, tapi Nora merasa malu karena sudah menyentuh perut berotot pria itu.

Alih-alih mengambil obat untuk mengobati luka bakar Tadeo, kini malah terjadi sebaliknya. Tadeo yang harus mengobati kaki Nora yang terkilir.

Tubuh tegap Tadeo yang besar berotot serta masih polos tanpa t shirt bersimpuh di hadapan Nora. Celama pria itu semakin mengetat kala ia menekuk dua kakinya.

Nora memijat kepalanya yang pening karena terlalu banyak memandang tubuh pria lain. Apa yang akan dilakukan Isaac jika pria itu mengetahuinya. Tentu pria itu akan tahu, pun segera memberi Nora pelajaran.

******

Malam berlalu. Waktu yang ditunggu Nora tak kunjung tiba, ialah waktu dirinya akan dipanggil ke dalam ruang pribadi Isaac untuk memberi penjelasan kepada pria itu apa yang telah terjadi hari ini.

Matanya semakin mengantuk tapi Nora enggan tertidur. Ia takut jika Isaac tiba-tiba memanggil kala dirinya tengah terlelap lalu pria itu akan semakin menuntut jawaban.

Apa yang telah kau lakukan hari ini, Nora? Melihat tubuh telanjang pria, dan juga memegang perutnya yang berotot.

Pening kepala Nora memikirkan itu semua.

Tiba-tiba, seluruh lampu di dalam kamarnya mati. Kegelapan melanda langsung membuat Nora memejam dan berpegangan erat pada ujung ranjang.

Itu Isaac datang. Tanda-tanda pria itu akan memasuki kamar ialah mematikan seluruh lampu.

Jantung Nora semakin berdegup kencang saat mendengar suara derap nan berat langkah kaki mendekati kamarnya. Napasnya pun tersenggal kala suara decitan pintu menggema pada seluruh isi ruangan.

Sosok besar nan tinggi itu memasuki kamarnya. Berjalan di dalam kegelapan amat mengerikan. Kabut hitam seolah menyelimuti setiap langkah kakinya. Mengubah atmosfir ruangan menjadi begitu kelam.

"Senor ...."

Suara Nora amat pelan mencicit bergetar. Tenaganya seperti terkuras habis oleh energi Isaac yang melangkah semakin mendekat padanya.

"Kau masih terjaga?"

"Sí, Senor."

Isaac seperti bayangan hitam dalam pandangan Nora. Bergerak mendekat lantas duduk pria itu di sampingnya. Memegang tangan Nora yang berkeringat lalu ia kecup penuh lembut.

Dapat Nora rasakan aroma maskulin yang khas dari suaminya, wangi segar yang hanya bisa ia temukan pada sosok Isaac. Meskipun tanganya yang ramping bergetar kecil, tak membuat Nora menariknya dari genggaman Isac.

Tanpa Nora duga Isaac bersimpuh di hadapanya, di bawah kakinya. Sang empu yang agung Isaac Mallen Vargas bersimpuh padanya.

"Senor ...."

"Sssttt ...." Isaac mendesis. "Akan kuobati kakimu yang terkilir."

Bergerak lembut telapak tangan Isaac mengoleskan obat pada kaki Nora. Amat hati-hati seolah yang sedang dipegangnya ialah benda rapuh.

Semakin membuat Nora tercengang kala Isaac tanpa peringatan mengecup kakinya lembut. Membuat seluruh tubuh Nora meremang hebat.

Kemudian Isaac berdiri. Mendongak Nora menatap sosoknya yang amat tinggi. Isaac bawa kaki Nora pada bahunya hingga bokong Nora ikut terangkat. Lalu perlahan Isaac bergerak merayap di atas tubuh Nora yang kini telah berbaring.

"Buka mulutmu," titah Isaac.

Menurut, lalu Nora buka mulutnya dua ruas jari. Isaac memasukan lidahnya lantas ia dorong dua pil ke dalam mulut Nora. Tanpa memberi jeda, ia langsung melumat habis bibir Nora seductive.

Lenguhan-lenguhan Nora mengisi suasana malam yang sunyi kala sentuhan Isaac mulai menelusuri setiap inci tubuhnya, mencumbu leher Nora tanpa sisa.

Cepat pun lihai Isaac membuat tubuh Nora menjadi polos. Lalu ia giring tangan Nora untuk menyentuh otot perutnya yang berlekuk, yang kini pun telah polos tubuh Isaac di atas tubuh Nora.

Kaki Nora menegang ketika kulit pahanya bersentuhan dengan benda panas milik Isaac yang telah mengeras. Tergesek pada pangkal pahanya pun siap untuk menerbos masuk.

Nora melingkarkan dua tanganya pada ceruk leher Isaac, memejam mata menerima setiap lumatan Isaac pada bibirnya pun ia coba membalas.

Entah kenapa, malam ini rasanya perlakuan Isaac lebih lembut dari biasanya. Hingga rasa takut Nora tergantikan dengan hasrat panas yang mulai timbul dari dalam dirinya.

Selurh tubuh Nora meremang. Darah yang mengalir pada seluruh nadinya seolah mendidih bergejolak. Sentuhan-sentuhan lembut Isaac membuainya membawa Nora pada kenikmatan yang lebih tinggi.

"Hm~ Senor ...."

"Panggil namaku, Nora. Namaku."

"Isaac ...."

Bibir Isaac bergerak turun pada bawah pusar Nora, semakin turun menuju pangkal paha. Satu kali lumatanya benar-benar membuat Nora tak tahan. Tubuhnya mengejang serta dada yang membusung.

"He—hentikan, kumohon ...."

Nora apit kepala Isaac dengan kakinya. Semakin gencar lumatan serta gerakan lidah pria itu pada pangkal pahanya. Semakin gila membuat Nora terbang ke atas awan merasa kenikmatan.

"Tolong hentikan!"

Nora tak kuasa menahanya lagi. Mengeluarkan cairan panas dari inti tubuhnya yang Nora sendiri tidak tahu apa itu sebab tak pernah terjadi hal seperti itu sebelumnya.

Tubuhnya yang mengejang kini melemah. Memejamkan mata serta mencoba mengatur kembali napasnya. Rasanya tak sanggup lagi matanya untuk terbuka. Lelah dan Nora ingin segera tertidur.

"Tetaplah terjaga. Permainan kita baru dimulai." Isaac berbisik tepat di depan telinga Nora. Menghembuskan angin serta menjilat cuping telinga Nora. Membuat seluruh tubuh istrinya kembali merenang panas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Manis Suami Misteriusku   EXTRA CHAPTER 4

    "Wanitaku ...."Javolla berbaring di tengah-tengah Isaac dan Nora. Menghalangi kedekatan dua orang tuanya yang ia sengajai. Tidak suka pria kecil itu ada orang lain yang dekat dengan mama Nora selain dirinya.Lengan kecilnya terus mengusak-ngusak wajah Nora dengan penuh sayang. Genit bibirnya berucap mengatakan Noraku, cintaku, wanitaku. Membuat Isaac menatap datar ke arahnya.Watak siapa yang Jav tiru? Isaac bukan pria genit dan juga Nora bukan wanita yang mudah berbicara terus terang seperti itu. Lantas, sifat siapa yang bocah kecil itu turuni? Heran ....Nora yang telah terbiasa menanggapi sifat Jav hanya tersenyum terkekeh-kekeh geli. Ia lucu kepada Jav, dan juga pada Isaac yang cemburu menatap Jav sekaligus heran. Nora tidak ingin mengatakan sifat siapa yang Jav turuni, karena tentunya itu hanya akan membuat Isaac semakin kesal.Sejak bayi hingga sebesar itu, Jav berada di dalam asuhan Damon dan Pablo Dolze. Seluruh pria di keluarga itu memiliki sifat genit yang terang-terangan

  • Obsesi Manis Suami Misteriusku   EXTRA CHAPTER 3

    "Javolla Enrique Vargas, katakan hallo pada Papa.""Hallo, Papa."Isaac Mallen Vargas bersimpuh di hadapan putra kecilnya. Memeluk erat serta mencium puncak kepalanya penuh sayang. Untuk kali pertama Isaac bertemu dengan buah hatinya, putra kandungnya tercinta yang tak pernah ia sangka dapat hadir di dunia.Javolla benar-benar diukir Tuhan sama persis seperti dirinya. Bentuk wajah, hidung, tatapannya yang tajam serta bibirnya. Vargas junior tentunya yang akan menguasai seluruh wilayah serta keuasaan papanya.Keluarga kecil itu berada pada sebuah restoran di Mexico. Pertemuan pertama antara Isaac dan putranya yang memanglah diatur atas persetujuan Nora.Nora juga tidak pernah berniat menyembunyikan sosok papa dari putranya, ia selalu menyimpan foto pria itu untuk kapanpun Javolla kenali. Meskipun hubungan rumitnya bersama Isaac, Nora juga tak pernah mencoba membuat putranya membenci Isaac.Javolla kembali ke sisi Mama nya ketika Isaac melepaskan pelukan. Memegang lengan Nora erat sera

  • Obsesi Manis Suami Misteriusku   EXTRA CHAPTER 2

    Nora POVHari itu, hari di mana aku mendapatkan secarik surat yang cukup mengejutkanku mengenai fakta yang sangat membuatku tidak pernah menyangkanya sedikitpun.Surat yang datang dari manusia-manusia berani yang mengkhianati senor mereka sendiri. Berbalik arah yang entah apa yang dijanjikan sehingga mereka mampu berbuat seperti itu.Secarik surat yang di dalamnya dituliskan sebuah permintaan untuk diriku agar mau datang pada sebuah tempat yang mereka pinta, yang ternyata itu adalah ruang bawah tanah. Sebuah tempat yang aku sendiripun tidak tahu jika tempat itu benar-benar ada.Aku sengaja melemparkan lampu tidurku untuk mengalihkan perhatian para penjaga. Setelah mereka berhambur untuk mendatangi kamarku, aku sudah pergi. Pergi ke ruang bawah tanah dibantu oleh dokter yang memberikanku secarik kertas tersebut."Senora ... Pergilah menuju sel paling ujung, maka akan Anda temukan seseorang di sana,” kata dokter itu seraya mendorong tubuhku masuk ke dalam dinding yang ternyata pintu.“S

  • Obsesi Manis Suami Misteriusku   EXTRA CHAPTER 1

    Satu tangkai mawar hitam itu tergeletak di atas meja yang mana ia tidak ada di sana sebelumnya. Netra sang pemilik ruangan segera beredar menilik pada setiap sudut. Menelisik mencari sesuatu yang mungkin saja datang tanpa diundang.Tangannya bergerak cepat membereskan berkas pekerjaan. Merapikan barang-barang lalu memasukannya ke datam tas. Namun seketika, gerak tangannya terhenti ketika ujung matanya menangkap siluet seseorang. Bayangan gelap yang datang mendekat.Nora tidak ingin melihatnya lebih jelas. Terus mengabaikan dan berpura-pura tidak tahu atau tidak melihat. Cepat-cepat kaki jenjangnya melangkah menggapai pintu hingga tiba-tiba kembali terhenti saat 'dia' memanggil namanya."Nora ...."Suara yang gelap nan kelam seperti alarm kematian bagi tubuh Nora. Membuat seluruh darahnya berdesir pun detak jantung yang berpacu dua kali lipat. Reaksi tubuh yang sudah lama tak ia rasakan. Ketakukan yang mutlak serta, rasa gugup pun rasa cemas yang spontan melingkup memeluk jiwanya.Perl

  • Obsesi Manis Suami Misteriusku   Chapter 32

    Mexico City"Buenos días, Nora."(Selamat pagi, Nora)Berdiri wanita cantik ini di depan cermin rias di dalam kamarnya. Menatap wajah tampan yang baru saja mengucapkan selmaat pagi padanya dari balik cermin, sembari tersenyum tipis dan menggeleng samar."Selamat pagi, sayangku," timpal Nora. Ia berbalik untuk menggapai ranjang, memberikan ciuman selamat pagi untuk lelaki tampan kesayangannya."Tolong buatkan aku sarapan pagi masakan terbaikmu, aku mencintaimu. Aku akan mandi," katanya seraya membalas ciuman Nora di pipi.Beringsut dia turun dari ranjang, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Meninggalkan Nora sendiri di dalam kamar yang tak lama ia juga beranjak keluar dari kamar.Rumah sederhana yang hanya terdapat dua kamar, dua kamar mandi, satu dapur serta satu ruang tamu. Kecil namun nyaman dan hangat. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan tinggal di kediaman besar namun kesepian.Nora pergi ke dapur untuk membuat sarapan favorit kekasih hatinya berupa Tostada.

  • Obsesi Manis Suami Misteriusku   Chapter 31

    Rembulan tidak muncul. Menyisakan awan gelap di langit yang sesekali memaparkan kilatan amarahnya. Suara gemuruh dari angin yang berhembus kencang disertai rintik air yang terbawa entah dari mana.Pria itu berada di balkon kamar. Menatapi rimbunnya pepohonan hutan nan gelap. Dada bidangnya yang dibiarkan terbuka basah oleh hujan tepat mengenai bekas luka jahitan yang ia tutupi dengan sebuah tato.Cerutu di sela jemarinya perlahan padam, lantas ia jatuhkan ke bawah begitu saja. Membuangnya sebab tak berguna lagi.Pria ini mengeker senapannya ke dalam hutan. Menembakan satu peluru panas yang tepa mengenai seekor burung gagak yang sedang bertengger di ranting pohon. Jatuh dan tewas seketika.Kawanan burung hitam yang tidak terima kelompok mereka dibunuh lantas terbang untuk menyuarakan ketidaksukaannya. Terbang berputar-putar pada atas pohon yang tinggi sembari terus berteriak memekik.Kembali ia tembaki kawanan burung gagak hitam yang sedang berputar-putar berisik. Terus ia tembak satu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status