LOGIN"Apa yang kau inginkan untuk hadiah ulang tahunmu, Nora?"
Nora berdiri di depan meja di dalam ruangan pribadi Isaac. Bersama pria itu yang duduk seraya membelakanginya. Menghisap cerutunya berulang kali, sebab bisa Nora lihat asap putih yang mengepul dari balik tubuh besarnya. Ia mengalihkan pandanganya dari Isaac, memandang ke arah lain pun dirinya terdiam. Apa yang Nora inginkan sebagai hadiah ulang tahunya, ia sendiri tidak tahu. Harta, kekayaan serta nama besar dan suami yang disegani, dirinya telah memiliki semua hal sempurnan itu. Meskipun, dengan suami yang tak pernah ia lihat sosoknya sekalipun. Bagaimana jika permintaan sebagai hadiah ulang tahun ialah melihat wajah Isaac secara langsung? Permintaan gila yang tentunya tak akan berani Nora pinta sebab, yang akan ia dapatkan ialah cekikan dari pria itu. Nora masih ingat kejadian tragis yang menimpa dirinya saat awal-awal pernikahannya bersama Isaac. Saat itu, selalu dengan brutal Isaac menjamah tubuhnya tanpa memperlihatkan sosoknya sedikit saja. Lantas, Nora yang naif menolak untuk melayani pria itu. Mengatakan jika dirinya akan menurut jika ia bisa melihat wajah Isaac yang sebenarnya. Namun, alih-alih mendapatkan apa yang dirinya inginkan, Nora malah berakhir di ranjang rumah sakit akibat cekikan Isaac yang mencederai tulang lehernya. "Sebuah kalung berlian yang baru dikeluarkan oleh Makenna," jawab Nora. Telah ia siapkan jawaban seperti ini karena tahu Isaac akan memintanya. "Lagi?" Isaac memberinya pertanyaan, lagi. "Aku ingin berlibur ke pantai." "Kau akan pergi minggu depan, Nora," balas Isaac. "Gracias, Senor." "De nada, esposa mía." (Sama-sama, Istriku) Nora mengangkat wajahnya memandang sosok Isaac. Menatap pada pantulan cermin yang menampilkan wajah tak jelas Isaac di sana. Menatap intens pun dalam sosok suaminya yang tengah menghisap cerutu, mengakitbatkan pantulan wajah Isaac di cermin hilang terhalang oleh asapnya yang tebal. "Senor ...." Seorang pengawal masuk ke dalam ruangan bersama seorang Wanita cantik yang berdiri di ambang pintu, mengenakan topi besar yang hampir menutupi sebagian wajahnya. "Sarai telah tiba, Senor." Pengawal menyampaikan. "Bawa dia masuk, lalu antarkan Senora keluar," titah Isaac. "Sí. Senor." "Por favor, Señora." (Silahkan, Nyonya) Nora menatap Isaac dengan intens sebelum dirinya berbalik pergi. Menilik wanita yang berdiri di ambang pintu yang langsung menunduk memberi hormat padanya kala Nora berjalan melewati dirinya. "Senora," salam Sarai bernada rendah. Pintu ruangan pribadi itu ditutup bersamaan dengan terhentinya langkah Nora. Terdiam Nora memandangi pintu besar yang seolah sedang tertawa mengejek sebab sang suami membawa terang-terangan wanita lain ke dalam ruang pribadinya. "Siapa wanita itu?" tanya Nora pada pengawal. "Sarai, pelayan pribadi senor, Señora." "Pelayan pribadi?" Nora bergumam. Sosoknya yang cantik dan seksi, berada di dalam ruangan pribadi bersama seorang pria lalu menamai dirinya sebagai pelayan pribadi. Apa yang wanita itu layani? Nora berbalik pergi. Menghentakan kakinya yang terbalut higheels tinggi hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Melangkah cepat menuruni tangga menuju lantai utama. "Senora ...." Pelayan serta pengawal menunduk memberi hormat mengiri langkah Nora yang semakin cepat keluar dari area mansion. Masuk ke dalam mobil yang telah siap dengan supir yang sigap membukakan pintu untuknya. "Bawa aku pulang," pinta Nora pada sang supir. "Sí, Señora." ******** " La Senorita ...." "Di mana ayah?" "Di dalam ruang pribadi, Senorita." Nora berjalan cepat menuju ruang pribadi sang ayah—Rayan Lenero. Membuka pintu lalu masuk ke dalam, mendapati pria paruh baya dengan raut sangar tengah duduk di balik meja pada kursi kebesaranya. "Di mana sopan santunmu, Nora Vargas." Menunduk dalam wajah cantik Nora. "Maafkan aku Ayah, aku tergesa karena mendengar kabar mengenai ibuku." Rayan Lenero menggeram mendapati tingkah laku putrinya. Kerutan pada keningnya semakin dalam kala Nora mengatakan alasan datang menemuinya. "Bagaimana kabar tentang ibuku?" Nora bertanya. Raut wajahnya penuh akan harap. Pria paruh baya itu melemparkan map coklat yang cukup tebal ke atas meja. Map yang berisikan bayaran kepada putrinya sebab telah sudi Rayan gunakan sebagai alat tukar untuk wilayah yang diberikan Isaac kepadanya. Segera Nora ambil map tersebut ke dalam pelukanya. Map yang berisikan sebuah informasi berharga sang ibu yang telah menghilang belasan tahun lamanya, yang entah di mana wanita itu kini berada. "Gracias." Wajah Nora tertunduk disertai mata yang berbinar. Telah ia tunggu cukup lama informasi sang ibu, yang rela ia tukarkan dengan hidup dan matinya. Beruntung Rayan tak mengingkari janjinya. Ketika satu tahun yang lalu pria tua itu berjanji akan mencari keberadaan sang ibu jika Nora mau dinikahkan dengan Isaac Mallen Vargas. Demi wilayah kekuasaan yang telah Rayan inginkan sejak lama, bisa begitu dengan mudahnya ia dapatkan hanya dengan memberikan putrinya sebagai alat penukaran. "Nora, sebaiknya kau tidak berpikir untuk kabur dari sisi pria itu setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan." Rayan memperingatkan. Nora memeluk erat map coklat di dalam pelukanya. Setelah apa yang telah ia korbankan demi isi di dalam map tersebut. Lantas selanjutnya, demi apa dirinya bertahan. "Bertahanlah untuk nyawa Ayahmu ini, Nora," pungkas Rayan seolah tahu isi pikiran putrinya. Seorang ayah yang tega menukarkan putrinya untuk sebuah wilayah kekuasaan. Kini, dirinya meminta untuk sebuah pertahanan nyawa. "Sí." Berbalik pergi Nora setelah menunduk hormat kepada sang ayah. Tak alih pandangan Rayan dari sosok putrinya yang telah hilang di balik pintu besar. Mengambil serta menyulut cerutu pada selah bibirnya, menghisap pelan lalu menghembuskan asap tebal. Melihat Nora membuat Rayan kembali teringat akan sosok wanita Tionghoa yang ia nikahi. Wanita cantik berwajah lembut dan memiliki senyuman yang indah nan manis. Satu-satunya wanita yang sampai saat ini bersarang di dalam hatinya yang telah membeku. Wanita yang memilih pergi meninggalkan suami serta putrinya demi memilih keluarga yang menentang pernikahan mereka. Seandainya saat itu Rayan lebih tegas dan mengekang kepergianya, mungkin mereka masih bersama-sama sampai saat ini. Sementara itu, Nora berada di dalam kamarnya. Mengeluarkan setiap lembar kertas yang berisikan informasi mengenai ibunya. Dipeluk erat foto wanita Tionghoa cantik yang wajahnya hampir Nora lupakan. Tak sadar jika air matanya mulai menetes membasahi permukaan pipinya yang halus. Wanita bernama Wu Xiu asal China. Kehidupanya bahagia pun makmur selama bertahun-tahun. Menjalani bisnis besar keluarga yang bergelut diindustri pangan. Nora amat sangat merasa bahagia bisa mengetahui kondisi ibunya yang baik-baik saja. Meskipun fakta jika wanita itu telah memiliki keluarga baru tidak menghilangkan rasa haru Nora setelah berhasil menemukan kabar dari sang ibu. Tidak banyak yang Nora ingat dari sosok ibunya selain, jika wanita asli Tionghoa itu menyukai berbagai jenis teh. Itulah sebabnya Nora menginjaki bisnis kedai teh. Dirinya selalu berharap jika ibunya bisa datang untuk berkunjung. Nora menghapus air matanya setelah mendengar bunyi ponsel yang berdering. Mengembalikan kondisi pita suaranya yang serak sebelum ia menerima panggilan suara. "Sí, aku akan segera datang." Segera kembali ia mengemas informasi mengenai ibunya. Membawa map coklat tersebut pergi bersamanya. "Nora." Langkah Nora terhenti saat suara nyaring memanggil namanya dari belakang. Gontai Laventa mendekatinya, menilik Nora dari atas hingga bawah. "Apa yang kau bawa itu, Nora?" tanya Laventa, istri seorang pejabat sekaligus adik kandung Nora. "Kau tidak mencuri berkas milik ayah, bukan?" Nora menatap adiknya intens. Entah di mana pun dan kapan pun jika keduanya bertemu, maka Laventa selalu habis-habisan mencercanya. "Jaga bicaramu. Tidakah cukup kau mempermalukanku di acara pembukaan kedai teh kemarin?" "Cih. Siapa yang mempermalukanmu? Bukankah aku mengatakan hal yang sebenarnya?" Nora menghela napasnya dalam. Jangan sampai habis kesabaranya menanggapi adiknya itu. "Kapan kau akan mengajakku berbelanja? Tidak mungkin kau mampu menghabiskan harta suamimu yang banyak itu seorang diri, right?" "Aku tidak pernah menyentuh uangnya," lugas Nora. "Pembohong." Laventa melirk Nora dari atas sampai bawah. "Lalu barang mewah dari mana yang kau kenakan ini? Apakah kau menjadi wanita simpanan pria lain untuk mendapatkannya?" Rahang Nora mengeras menahan rasa kesal. Tak ingin meladeni Laventa lagi, ia segera berbalik meninggalkan wanita itu. Laventa mendengus kesal. Sebab Nora tak pernah terpancing oleh ejekannya. Selalu bertingkah angkuh dan menahan dirinya seperti itu. "Aku membenci sikapnya yang seperti itu. Wanita angkuh." ****** Duduk pada sofa tunggal pada ruang utama. Nora ditemani oleh Salma yang membantu memasangkan plester pada tangannya yang terluka sebab tak sengaja terkena cipratan minyak panas saat dirinya belajar memasak tadi siang bersama Tadeo. Teringat ketika tadi siang pria itu bersimpuh di hadapanya untuk menolong Nora mengoleskan obat luka. Nora terus menatap Salma yang juga tengah bersimpuh dengan posisi sama seolah ia sedang melihat sosok pria itu. "Senora, Anda melamun." Nora tersenyum tipis. "Terimakasih telah membantuku, Salma." "Sí, Senora. Ini memanglah tugasku." Salma tetap bersimpuh di hadapan Nora meskipun telah siap mengobati luka pada tangan Nora. "Berapa usiamu saat ini, Salma?" "Dua puluh empat tahun, Senora." "Sejak kapan kau bekerja di sini?" tanya Nora lagi. Dirinya tak pernah tahu apapun tentang pelayannya, sebab biasanya Salma selalu datang bersama Abigail yang kaku dan tak memperbolehkan mereka mengobrol terlalu lama. "Saat usiaku delapan tahun, aku sudah menjadi pelayan di kediaman senor. Kemudian, karena usiaku paling muda di sini, senor meminta Abigail untuk mengajariku cara pengobatan yang umum dilakukan." "Senor yang memintanya?" tanya Nora penasaran. "Sí, Señora.” "Apa kau pernah mengobati senor, atau melihat wajahnya?" "Señora ...." Salma menciut, seolah pertanyaan Nora ialah hal tabu tak tak bisa ia jawab. Nora mengerti akan hal tersebut. "Tidak masalah, tidak perlu menjawabku." Nora mengambil ponselnya yang berdering di atas nakas. Sebuah pesan masuk dari nomor Tadeo yang mengirikan jadwal perjanjian mereka akan bertemu. Tanpa menjawab, Nora hanya membacanya. "Señora, apa Anda bahagia?" Nora terdiam. Pandanganya langsung kosong mendengar pertanyaan seperti itu. Apakah dirinya bahagia? Dia bahkan tidak tahu arti dari kebahagiaan itu. ********"Wanitaku ...."Javolla berbaring di tengah-tengah Isaac dan Nora. Menghalangi kedekatan dua orang tuanya yang ia sengajai. Tidak suka pria kecil itu ada orang lain yang dekat dengan mama Nora selain dirinya.Lengan kecilnya terus mengusak-ngusak wajah Nora dengan penuh sayang. Genit bibirnya berucap mengatakan Noraku, cintaku, wanitaku. Membuat Isaac menatap datar ke arahnya.Watak siapa yang Jav tiru? Isaac bukan pria genit dan juga Nora bukan wanita yang mudah berbicara terus terang seperti itu. Lantas, sifat siapa yang bocah kecil itu turuni? Heran ....Nora yang telah terbiasa menanggapi sifat Jav hanya tersenyum terkekeh-kekeh geli. Ia lucu kepada Jav, dan juga pada Isaac yang cemburu menatap Jav sekaligus heran. Nora tidak ingin mengatakan sifat siapa yang Jav turuni, karena tentunya itu hanya akan membuat Isaac semakin kesal.Sejak bayi hingga sebesar itu, Jav berada di dalam asuhan Damon dan Pablo Dolze. Seluruh pria di keluarga itu memiliki sifat genit yang terang-terangan
"Javolla Enrique Vargas, katakan hallo pada Papa.""Hallo, Papa."Isaac Mallen Vargas bersimpuh di hadapan putra kecilnya. Memeluk erat serta mencium puncak kepalanya penuh sayang. Untuk kali pertama Isaac bertemu dengan buah hatinya, putra kandungnya tercinta yang tak pernah ia sangka dapat hadir di dunia.Javolla benar-benar diukir Tuhan sama persis seperti dirinya. Bentuk wajah, hidung, tatapannya yang tajam serta bibirnya. Vargas junior tentunya yang akan menguasai seluruh wilayah serta keuasaan papanya.Keluarga kecil itu berada pada sebuah restoran di Mexico. Pertemuan pertama antara Isaac dan putranya yang memanglah diatur atas persetujuan Nora.Nora juga tidak pernah berniat menyembunyikan sosok papa dari putranya, ia selalu menyimpan foto pria itu untuk kapanpun Javolla kenali. Meskipun hubungan rumitnya bersama Isaac, Nora juga tak pernah mencoba membuat putranya membenci Isaac.Javolla kembali ke sisi Mama nya ketika Isaac melepaskan pelukan. Memegang lengan Nora erat sera
Nora POVHari itu, hari di mana aku mendapatkan secarik surat yang cukup mengejutkanku mengenai fakta yang sangat membuatku tidak pernah menyangkanya sedikitpun.Surat yang datang dari manusia-manusia berani yang mengkhianati senor mereka sendiri. Berbalik arah yang entah apa yang dijanjikan sehingga mereka mampu berbuat seperti itu.Secarik surat yang di dalamnya dituliskan sebuah permintaan untuk diriku agar mau datang pada sebuah tempat yang mereka pinta, yang ternyata itu adalah ruang bawah tanah. Sebuah tempat yang aku sendiripun tidak tahu jika tempat itu benar-benar ada.Aku sengaja melemparkan lampu tidurku untuk mengalihkan perhatian para penjaga. Setelah mereka berhambur untuk mendatangi kamarku, aku sudah pergi. Pergi ke ruang bawah tanah dibantu oleh dokter yang memberikanku secarik kertas tersebut."Senora ... Pergilah menuju sel paling ujung, maka akan Anda temukan seseorang di sana,” kata dokter itu seraya mendorong tubuhku masuk ke dalam dinding yang ternyata pintu.“S
Satu tangkai mawar hitam itu tergeletak di atas meja yang mana ia tidak ada di sana sebelumnya. Netra sang pemilik ruangan segera beredar menilik pada setiap sudut. Menelisik mencari sesuatu yang mungkin saja datang tanpa diundang.Tangannya bergerak cepat membereskan berkas pekerjaan. Merapikan barang-barang lalu memasukannya ke datam tas. Namun seketika, gerak tangannya terhenti ketika ujung matanya menangkap siluet seseorang. Bayangan gelap yang datang mendekat.Nora tidak ingin melihatnya lebih jelas. Terus mengabaikan dan berpura-pura tidak tahu atau tidak melihat. Cepat-cepat kaki jenjangnya melangkah menggapai pintu hingga tiba-tiba kembali terhenti saat 'dia' memanggil namanya."Nora ...."Suara yang gelap nan kelam seperti alarm kematian bagi tubuh Nora. Membuat seluruh darahnya berdesir pun detak jantung yang berpacu dua kali lipat. Reaksi tubuh yang sudah lama tak ia rasakan. Ketakukan yang mutlak serta, rasa gugup pun rasa cemas yang spontan melingkup memeluk jiwanya.Perl
Mexico City"Buenos días, Nora."(Selamat pagi, Nora)Berdiri wanita cantik ini di depan cermin rias di dalam kamarnya. Menatap wajah tampan yang baru saja mengucapkan selmaat pagi padanya dari balik cermin, sembari tersenyum tipis dan menggeleng samar."Selamat pagi, sayangku," timpal Nora. Ia berbalik untuk menggapai ranjang, memberikan ciuman selamat pagi untuk lelaki tampan kesayangannya."Tolong buatkan aku sarapan pagi masakan terbaikmu, aku mencintaimu. Aku akan mandi," katanya seraya membalas ciuman Nora di pipi.Beringsut dia turun dari ranjang, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Meninggalkan Nora sendiri di dalam kamar yang tak lama ia juga beranjak keluar dari kamar.Rumah sederhana yang hanya terdapat dua kamar, dua kamar mandi, satu dapur serta satu ruang tamu. Kecil namun nyaman dan hangat. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan tinggal di kediaman besar namun kesepian.Nora pergi ke dapur untuk membuat sarapan favorit kekasih hatinya berupa Tostada.
Rembulan tidak muncul. Menyisakan awan gelap di langit yang sesekali memaparkan kilatan amarahnya. Suara gemuruh dari angin yang berhembus kencang disertai rintik air yang terbawa entah dari mana.Pria itu berada di balkon kamar. Menatapi rimbunnya pepohonan hutan nan gelap. Dada bidangnya yang dibiarkan terbuka basah oleh hujan tepat mengenai bekas luka jahitan yang ia tutupi dengan sebuah tato.Cerutu di sela jemarinya perlahan padam, lantas ia jatuhkan ke bawah begitu saja. Membuangnya sebab tak berguna lagi.Pria ini mengeker senapannya ke dalam hutan. Menembakan satu peluru panas yang tepa mengenai seekor burung gagak yang sedang bertengger di ranting pohon. Jatuh dan tewas seketika.Kawanan burung hitam yang tidak terima kelompok mereka dibunuh lantas terbang untuk menyuarakan ketidaksukaannya. Terbang berputar-putar pada atas pohon yang tinggi sembari terus berteriak memekik.Kembali ia tembaki kawanan burung gagak hitam yang sedang berputar-putar berisik. Terus ia tembak satu







