共有

Nona yang mendengar

作者: PwanChaa
last update 公開日: 2026-07-30 20:46:20

Suara decit kasur menderu di tengah malam itu, dua orang yang bukan pasangan saling menghentakkan badannya berlawanan arah menciptakan sensasi kenikmatan di masing-masing diri mereka.

Mereka menggumamkan nama masing-masing, desahan-desahan yang saling beradu membuat malam itu bertambah panas dan bergairah.

“Mas Bambang…. Ahh.. lebih dalam lagi,” minta Diana.

Bambang dengan keperkasaannya, ia menggerakkan badannya lebih menghentak lagi. Bahkan seluruh badan dia tersentak. Mereka lupa ingatan
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Pasrah!

    Bambang menoleh ke sumber suara yang ia kenali, Herman. Dia berdiri di sana tegak dengan wajahnya sebelum kecelakaan.“Tuan Herman?” gumam Bambang, Herman hanya tersenyum dan menghampiri Bambang dengan berlari-lari kecil.“Sudah berapa lama kamu di sini?” tanya Herman yang langsung merangkul Bambang dan menepuk pundaknya. Bambang hanya menatap Herman seolah tak percaya ia bisa melihat Herman bisa berjalan.“Kenapa? ada yang salah denganku?” Bambang menggeleng mendengar pertanyaan Herman, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan sekarang kecuali mengikuti kata-kata Herman.“Kamu ternyata sudah sedewasa ini Bambang, aku benar-benar kira kamu tidak akan bisa bertahan hidup selama ini,” ucap Herman.Wajah Bambang dingin, rambutnya mengibas karena terkena angin, tetapi hatinya gelisah, matanya yang masih melihat penampakan Herman ditambah perkataannya barusan membuat Bambang makin bingung.“Kenapa? Kenapa? Kenapa

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Sakit!

    Suara tekukuran burung perkutut yang bertengker di balkon kamar Bambang. Mata Bambang terbuka dengan beratnya. Kepalanya terasa sangat berat, sangat berat sekali. Tangannya memegang kepalanya, dahinya terasa panas. Ia ternyata terkena demam.Kepala Bambang semakin berat, bahkan terasa melayang-layang, “Aku harus minum obat,” ujarnya.Bambang berjalan dengan tangan yang dijulurkan, menyeleksi tembok-tembok di depannya. “Arghhh… Mana sih kotak obatnya!” erang Bambang. Tanpa sengaja kakinya tersandung oleh kabel yang berada di lantai kamarnya.Braaaakkk!Bambang terjatuh, suara hantamannya terdengar hingga ke dapur di mana Bianca sedang memasak untuk sarapan. Ia yang tengah terlamun disadarkan oleh suara hantaman di kamar Bambang.“Mas! Mas!” teriak Bianca, ia mendobrak kamar Bambang dan melihat Bambang sudah tersungkur kesakitan di bawah sana.“Kamu gak papa, Mas?” tanya Bianca panik, ia memapah tubuh Bambang, menidurkannya di atas

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Dokter Tuan

    Bambang berjalan ke ruang perawatan Herman seperti biasa karena ada dokter yang hendak mengecek kesehatan Herman.“Bagaimana dokter Gilang, kondisi Tuan Herman?” tanya Bambang sembari memakaikan baju ke tubuh Herman yang tadinya dibuka setelah diperiksa.Dokter yang berperawakan seusia dengan Herman, mengecek datanya. Ia menaikkan kacamatanya, membenarkan posisinya yang sudah melorot. “Aku tidak menjamin kondisinya akan semakin baik, aku akan bicara sebagai manusia saja sekarang. Melihat kondisinya yang seperti ini. Masih bisa bernafas dengan alat bantu saja sudah mukjizat,” jawab Gilang. Matanya bergerak dari ujung kepala hingga ujung kaki Herman.Bambang mengiyakan pernyataan Gilang, tapi bukan itu masalahnya Bambang menanyakan kondisi Herman. Bambang hanya ingin memastikan kondisi Herman yang seperti ini pasti sangat menyiksa untuknya. Jiwanya pasti terjebak selama itu dalam keadaan koma membuatnya benar-benar tersiksa.“Memang pantas,” gumam Bambang dengan menangggalkan senyuman

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Tangis Nona

    Mobil Bianca melaju dengan kecepatan yang tinggi. Ia menekan keras pedal gasnya dengan dalam dengan seluruh emosi yang bertumpuk di kepala dan hatinya. Ia menyetir dengan setengah ugal-ugalan membuat mobil-mobil lain mengklakson mobil Bianca.Bianca yang sudah frustasi, ia memukul-mukul setir mobilnya berkali-kali, “Diana sialan! Diana sialan!” Matanya menatap tajam jalan yang gelap. Hanya disinari oleh lampu jalan yang kekuning-kuningan.Cittttt….Mobil Bianca mengerem sempurna di parkiran rumahnya. Ia lalu melangkah dengan langkah cepat dan berat masuk ke dalam rumah, langsung berjalan masuk dan naik ke lantai dua. Bianca tidak melihat siapapun di sana karena sepertinya sedang sibuk di kamar masing-masing.Brak!Pintu kamar Diana ditendang paksa oleh Bianca, Diana yang sedang menyisir rambutnya di meja riasnya berdiri dan menoleh ke arah Bianca yang sedang tersengal-sengal menahan rasa marah dan kesalnya kepada Diana.“Sayang… kamu kenapa?” tanya Diana dengan senyuman khasnya, Bianc

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Menjebol milik Noma (2) 🔥

    “Abis ini enak dong, sakitnya bentar doang kok,” jawab Bambang, ia bahkan membalikkan tubuh Celine, membuatnya merasakan jepitan Celine yang semakin menjepitnya. Memijat keperkasaannya.Celine yang awalnya tersiksa mulai bisa menikmati permainan Bambang, “Ah… Ah.. Om, disitu Om enak…”Bambang menarik dagu Celine, mencumbunya panas, menikmati setiap sudut bibirnya. Tangannya pun bergerak bebas memijat seluruh badan Celine yang menurutnya menarik.“Enak kan… Udah Om bilangin, sekarang kamu siap-siap ya..”Celine kebingungan dengan kata-kata Bambang sebeluma akhirnya ia menyadari gerakan Bambang sebelumnya belum ada apa-apanya, ia mendapat dorongan yang jauh lebih dalam dan nikmat membuat dia serasa melayang ke angka.“Om Bambang.. Om Bambang…”Ia meremas apapun yang ia pegang hingga akhirnya, ia merasakan kedutan tanda ia akan mencapai klimaks. Tidak hanya milik Celine, tetapi Bambang pun mulai bersiap mengeluarkan cairannya.“Ahhhh..”Mereka berdua mengerang bersamaan, melepaskan gaira

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Menjebol milik Nona 🔥

    Diana duduk di ruang perawatan Herman sembari menatap wajah suaminya, ia hanya mematung dengan senyumannya yang aneh. Tidak ada perasaan lagi antara dia dan Herman.Tap…Tap…Suara langkah kaki yang mulai menaiki lantai dua dan decitan pintu ruangan yang terbuka membuat Diana menoleh ke arah sumber suara, Celine berdiri di sana dengan wajah yang tampak masih memerah dan berkeringat.‘Pasti Mas Bambang sudah menghukum bocah ini,’ pikir Diana, ia menatap Celine dengan memberikan senyuman terbaik, menunggu ucapan dan kata-kata yang sangat ingin dia dengar dari Celine, seseorang yang selalu ia takuti di rumah ini.Celine melangkahkan kakinya dengan langkah pelan-pelan, ia bahkan menyangga perut dan pinggangnya, “Tante Diana, a-aku minta maaf.” Celine mengucapkannya dengan menunduk, keringat menetes deras dari dahinya.Diana hanya tersenyum seperti seorang malaikat, “Tentu saja aku akan memaafkan anakku, tapi dengan satu syarat…” Diana menyentuh dagu Celine yang terasa panas, membuat Celin

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status