LOGIN“Astaga, ada aja masalahnya.” Ivanka meremas kepalanya dengan mata yang masih menatap layar pipih di depannya. Sudah hampir empat kali dia membuat dokumen untuk meeting nanti sore, tapi semuanya selalu gagal. Raut wajah Byakta tadi malam, terus terbayang di kepalanya. Ivanka meletakkan wajahnya di atas meja, seraya mendengus kasar. Dia tidak tahu kalau semua pergerakannya di ruang kerja, selalu terpantau oleh Byakta. Ivanka meremas ujung roknya pelan. Dadanya kembali terasa sesak saat mengingat tatapan dingin pria itu tadi. Tatapan yang untuk pertama kalinya tidak lagi menahannya. Ivanka terkekeh hambar. “Padahal aku yang mulai,” bisiknya. “Tapi aku nggak nyangka, bakal sesakit ini rasanya.” Ivanka memejamkan mata sejenak. “Kamu memang harus menjauh dariku, Byakta.” Baru beberapa detik dia memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba kembali bergetar. Ivanka tidak langsung membukanya. Dia tidak yakin kalau pesan itu datang untuk menghiburnya. Dengan gerakan ragu, Ivanka akhirn
“Ivanka,” bisik Byakta, tepat ketika Rival pergi. “Kamu pasti Ivanka.” Dia terkekeh sambil meringis memegangi kepalanya. Ivanka tidak menjawab, dia membantu Byakta untuk melepas kemeja yang sudah bau alkohol. Pria itu tidak menolak. Dia justru berubah menjadi anjing penurut ketika mabuk. Ivanka berkedip ketika melihat Byakta yang sudah telanjang dada. Dia melenguh ludahnya dengan susah payah. Otot besar yang membentuk, bekas-bekas cambuk yang tidak sepenuhnya hilang, dan bekas luka operasi yang masih ada disana, membuat pria itu terlihat lebih gagah sepuluh tingkat dari sebelumnya. “Eh!” Ivanka kembali menegang ketika Byakta menarik pinggangnya, hingga duduk di pangkuannya. “Kamu melupakan ciuman itu, Ivanka?” bisik Byakta tepat di telinga Ivanka. “Apa kamu melupakan semuanya? Bukankah kamu yang sangat bergairah malam itu?” Ivanka tercekat. Dia kembali mengingat momen memalukan itu. Wajahnya beruba
Pagi menyingsing dengan begitu lambat. Byakta sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. Entah sudah berapa botol bir yang ia tenggak selama semalam suntuk, tapi kesadarannya tetap bertahan. Dia tidak mabuk ataupun mengantuk. Pikirannya masih tertuju pada Ivanka yang entah sedang melakukan apa sekarang. Pintu terketuk pelan. Byakta menoleh tanpa minat. “Masuk,” katanya, sembari memainkan bara rokok di dalam asbak. Wajahnya terangkat ketika Rival masuk. Pria itu juga sepertinya tidak tidur. Terlihat jelas dari wajahnya yang layu dan mata panda yang lumayan mencolok. “Bos,” gumamnya pelan. Rival duduk tepat di depan Byakta. Menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium bau alkohol yang sangat menyengat beserta aroma nikotin yang cukup menggelitik. Dengan mata sayu, Byakta menatap Rival. “Ada perkembangan?” tanya Byakta pelan. “Ak
“Kamu bisa menekan pelatuk ini nanti,” bisik Ivanka. Kedua tangannya yang hangat kini menyentuh pipi Byakta dengan jari lentiknya. “Beri aku waktu.” Setelah selesai mengatakan itu, Ivanka langsung pergi tanpa berkata lagi. Dia juga tidak mengejar ataupun menahannya. Ucapan Ivanka terakhir kali membuat tubuh pria itu membeku seketika. Tidak lama, Rival datang. Dia menatap Ivanka yang kini sudah berada di dalam lift. Pintu lift tertutup, barulah Rival sadar kalau Byakta masih berdiri dengan kedua tangan menjuntai dan pistol yang sudah tergeletak di atas lantai. Di sana, para pegawai masih menjadikan Byakta sebagai bahan tontonan. “Bubar!” Suara tegas Rival membuat mereka semua berhamburan. Byakta hanya melirik tanpa minat. Dia menendang pistolnya, lalu berjalan menuju lift dengan langkah tertatih. “Bos.” Rival yang semula hendak membanu, langsung didorong kasar oleh Byakta.
Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa nyeri yang menyiksa. Ini adalah cinta pertamanya. Dan kegagalan pertamanya juga. Pintu lift terbuka. Tepat ketika kakinya hendak melangkah, Byakta langsung bertemu tatap dengan Ivanka yang memang sudah menunggu pintu lift terbuka. Mereka saling tatap beberapa saat, sampai pintu hampir tertutup. Namun Byakta segera menghalangi dengan ujung sepatunya. Tatapan dingin pria itu membuat Ivanka mundur satu langkah. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Ivanka. Wanita itu masih berusaha menyembunyika rasa gugupnya. Matanya turun menatap pistol yang ada di tangan Byakta. “Kenapa kamu bawa benda itu?” Byakta tidak menjawab. Dia sedikit memiringkan wajahnya, seolah sedang mencari seseorang yang mungkin datang bersama Ivanka di belakang. Merasa tidak menemukan apapun, Byakta kembali memusatkan pandangannya pada Ivanka.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Byakta menatap langit yang sudah mulai gelap dengan mata yang sedikit sayu. Langit mulai gelapp saat lampu-lampu Avernal City menyala satu persatu. Dari lantai tertinggi Obsidian Central, pemandangan itu memang tidak ada yang bisa mengalahkan keindahannya. Hamparan cahaya indah dan menenangkan, tapi tidak banyak orang tahu kalau di dalam gedung megah yang menjulang paling tinggi di pusat kota itu, justru menyimpan paling banyak tipuan. Kini, Byakta sudah berdiri di depan meja kerjanya. Jasnya sudah ia lepas dan hanya menyisakan kemeja putih dengan kancing atas yang sengaja dibuka. Tangannya bertumpu pada meja, sesekali matanya menatap sofa panjang yang selalu ditempati Ivanka ketika berkunjung ke kamarnya. Ada senyum kecewa di raut wajah tegas itu. “Dia benar-benar berubah,” bisiknya. Byakta sedikit menunduk ketika nyeri itu datang lagi. Dengan ge