Home / Mafia / Obsesi Sang Penguasa / 49. Langkah Byakta

Share

49. Langkah Byakta

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-03-21 19:56:35

“Kamu bisa menekan pelatuk ini nanti,” bisik Ivanka. Kedua tangannya yang hangat kini menyentuh pipi Byakta dengan jari lentiknya. “Beri aku waktu.”

Setelah selesai mengatakan itu, Ivanka langsung pergi tanpa berkata lagi. Dia juga tidak mengejar ataupun menahannya. Ucapan Ivanka terakhir kali membuat tubuh pria itu membeku seketika.

Tidak lama, Rival datang. Dia menatap Ivanka yang kini sudah berada di dalam lift. Pintu lift tertutup, barulah Riva
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Sang Penguasa   89. Masuk Ke Lubang musuh

    “Bagus,” sahut Davian. “Aku juga tidak suka basa-basi.” Hening kembali menyapa keduanya. Tatapan mereka saling bertaut. Tidak ada yang mau mengalah. “Apa tujuanmu?” tanya Ivanka akhirnya. “Kenapa kamu mendekatiku?” Davian tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan kepala, menatap langit-langit seolah pertanyaan itu terlalu sederhana untuk dijawab. “Karena kamu penting,” katanya. “Bukan hanya penting untukku, tapi untuk mereka semua.” Jawaban itu membuat Ivanka semakin curiga. “Penting bagaimana?” Davian menoleh pelan. “Kamu benar-benar tidak sadar?” “Berhenti memutar. Katakan yang sebenarnya.” Davian terkekeh pelan, seraya menggeleng samar. “Baiklah. Aku akan permudah.” Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Kamu adalah titik lemah dari beberapa orang paling berbahaya di kota ini.” Jantung I

  • Obsesi Sang Penguasa   88. Pertemuan

    Ivanka menatap Byakta yang masih terlelap. Dia tersenyum miris. Rupanya, pria keras di depannya memiliki begitu banyak masa lalu yang membuat orang menggigit bibir. Di tangannya sudah ada ponsel yang terus berdering. Sebelumnya, dia berhasil mendapatkan nomor ponsel Davian dari dari data tersembunyi yang akhirnya bisa dia buka. Wanita itu berencana untuk menemui Davian secara langsung. Dia ingin setidaknya bernegosiasi tentang segala hal. Karena dia berpikir kalau Davian sangat tertarik padanya. “Sabar, ya,” bisik Ivanka. Tangannya mengusap kening Byakta yang sudah berkerut. Pria itu seperti sadar kalau ada Ivanka di sampingnya. “Aku akan mencari cara untuk masuk ke sana.” Ivanka menegakkan tubuhnya, lalu bergegas pergi. Beruntungnya tidak ada siapapun termasuk Rival. Jadi dia tidak perlu mencari alasan kenapa harus pergi. Mobil merah maroon meluncur dengan kecepatan tinggi. I

  • Obsesi Sang Penguasa   87. Terus Dalam Pengawasan

    Sementara itu, di sisi lain kota, mesin mobil meraung pelan saat berhenti di sebuah gudang tua yang nyaris tidak terjamah. Catnya sudah mengelupas, dan sebagian atapnya terlihat rapuh. Davian keluar tanpa terburu-buru. Tangannya masih dimasukkan ke dalam saku jaket. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja bertemu dengan dua orang paling berbahaya di kota ini. Pintu gudang terbuka perlahan saat dia mendekat. Seorang pria menyambutnya dari dalam. “Semua sudah siap,” ucap pria itu. Davian tidak langsung menjawab. Dia melangkah masuk, matanya menyapu seluruh ruangan. Beberapa layar besar menyala. Data mengalir cepat di sana. Peta kota terpampang dengan titik-titik merah yang tersebar. Davian berhenti di depan salah satu layar. “Itu?” tanyanya singkat. “Pergerakan Bagaspati,” jawab pria itu. “Dan ini yang baru.” Dia menunjuk titik lain. Davian menyipitkan mata beberapa saat, sebelum akhirnya tersenyum puas. “Rumah utama,” gumamnya puas. “Dia sudah mula

  • Obsesi Sang Penguasa   86. Mama Ingin Aku Mati?

    Langit malam menggantung rendah di atas kota. Awan gelap menutup sebagian cahaya bulan, menciptakan bayangan panjang yang jatuh di setiap sudut jalan. Dunia terasa tenang di permukaan, namun dibalik itu, sesuatu sedang bergerak perlahan—dan berbahaya. Di dalam kamar Byakta, Ivanka masih belum beranjak. Tangannya masih menggenggam jemari pria itu, meskipun kini genggaman itu sudah jauh lebih lemah. Byakta masih terlelap. Napasnya stabil, tapi tubuhnya belum benar-benar pulih. Ivanka menatap wajah itu dalam diam. Ivanka menutup matanya perlahan. Kepalanya terasa berat. Dia membuka matanya kembali. Dan tatapannya sudah berubah lebih tajam. Perlahan, Ivanka melepaskan tangan Byakta—meski terasa berat. Dia berdiri, lalu melangkah keluar dari kamar itu. Begitu pintu tertutup, wajahnya langsung berubah. Tidak ada lagi air mata. Yang tersisa hanya tekad. Rival masih berdiri di lorong, tepat seperti sebelumnya. Seolah dia tidak pernah benar-benar pergi. Tatapan mereka bertemu untuk

  • Obsesi Sang Penguasa   85. Bukan Sekedar Peringatan

    “Aku tidak menyangka kalian akan datang langsung,” lanjut Davian. “Biasanya orang-orang seperti kalian lebih suka bersembunyi di balik orang lain.” “Langsung ke inti,” potong Bagaspati dingin. “Aku tidak punya waktu untuk basa-basi.” Davian terkekeh pelan. “Masih sama seperti dulu,” gumamnya. “Selalu merasa di atas segalanya.” Tatapan Bagaspati menajam, lalu senyum penuh siasat mulai terpancar. “Kenapa kamu disini?” Davian mengangkat bahu. “Bukankah kalian yang memanggilku?” Kaveri langsung menoleh cepat ke arah Bagaspati. “Dia—” “Diam,” potong Bagaspati tanpa melihatnya. Davian memperhatikan itu dengan senyum samar. Menarik. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku akan langsung saja.” Tanpa rasa gemetar sedikitpun, Davian maju satu langkah. “Eksperimen kalian sudah terlalu jauh.” Udara diantara mereka seolah menegang. Kaveri mengalihkan pandangan jauh ke samping. Sedangkan Bagaspati masih tetap diam. “Chip itu,” lanjut Davian. “Kalian tahu dampaknya. Kalian tahu resikonya. Tapi

  • Obsesi Sang Penguasa   84. Titik Benturan

    Ivanka masih duduk di sisi ranjang. Jemarinya tidak pernah lepas dari tangan Byakta, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri di tengah semua kekacauan ini. Ruangan itu sunyi. Hanya suara mesin monitor yang berdetak pelan, mengisi celah-celah kecemasan yang terus merayap di dalam dadanya. Tatapannya jatuh pada wajah Byakta yang kembali terlelap. Napasnya lebih stabil, walaupun masih tetap berat. Setiap tarikan napasnya seperti sebuah perjuangan. Ivanka menunduk. Kata-kata itu kembali terngiang. Tentang jangan dekat, bahaya, jangan percaya, dan tentang ayahmu bukan satu-satunya. Jemarinya mengerat. Kalau ayahnya bukan satu-satunya lalu siapa lagi? Arkanza? “Davian…” Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Pria asing dengan senyum santai itu. Cara bicaranya yang seolah tahu segalanya. Dan tatapannya yang tidak pernah benar-benar hangat. Ivanka memejamkan mata sejenak. Dia yakin kalau ini bukan sekedar peringatan. Itu terasa seperti ancaman yang dibungkus den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status