LOGINKaveri menatap Byakta beberapa detik. Tatapan itu bukan sekadar dokter pada pasien—melainkan seorang ayah yang sedang menimbang seberapa banyak kebenaran yang harus dia sampaikan.“Kita butuh ruang operasi utama. Sekarang,” ujarnya tegas. “Dan donor darah yang kompatibel. Kehilangan darahnya terlalu banyak.”Ivanka langsung menegang. Dia menatap sang ayah lebih dalam. “Golongan darahnya apa?”“O negatif,” jawab Kaveri cepat. “Dan stok kita menipis. Apa kita bawa dia ke rumah sakit—”“Tidak mungkin!” potong Byakta. “Ini terlalu beresiko. Lagi pula, peralatan di ruang operasi kita juga sudah lengkap.”Byakta langsung berdiri lebih tegak, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. “Ambil punyaku. Darahku sama dengan Rival.”Kaveri langsung menggeleng tegas. “Tidak bisa. Kondisimu tidak stabil. Tekanan darahmu turun, dan—”“Aku bilang ambil,” potong Byakta dingin. “Jangan pernah membantah di situasi seperti ini.”Nada itu membuat beberapa orang di lorong langsung diam. Namun Kaveri tida
“Kamu ingat Rendra?” tanya Byakta. Ivanka tidak menjawab. Namun tatapannya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. “Dia bahkan mencari jawaban itu. Dia terus mencari obat penawar dari mereka. Tapi apa yang dia dapatkan? Dia hanya diperbudak untuk bisa mendekatiku. Mengambil semua sistem yang ada di kepalaku. Dan mati sia-sia.” Byakta melangkah mendekat. Dia memiringkan wajahnya dengan mata yang masih tetap tajam. “Kalau kamu tidak percaya, kenapa kamu tidak tanyakan saja pada Kaveri,” ujar Byakta. “Kamu bahkan tidak mempercayai ayahmu sendiri. Dan lebih percaya pada orang baru?” “Dan kalau tidak dilepas?” tanya Ivanka. Byakta menghela napas panjang. Dia lupa kalau wanita di depannya memang selalu saja penasaran. “Aku mati,” tukasnya. “Aku akan mati, Ivanka. Itu lebih baik daripada hidup menjadi orang bodoh dan cacat mental.” Jawabannya sederhana. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya rumit. Ivanka menunduk. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Jadi kamu memilih
“Sedang apa?” Ivanka tahu itu suara milik siapa. Namun dia enggan untuk menoleh. Byakta kini sudah berdiri di sampingnya. Menatap lurus ruang medis tempat Rival sedang ditangani. “Masih merasa bersalah?” tanya Byakta dingin. “Rasanya percuma kalau harus merasa bersalah sekarang.” “Aku sudah bilang, kamu tidak tahu medan apa yang kamu injak, dan siapa yang kamu hadapi,” lanjutnya. “Tapi lihat… kamu tetap egois dan merasa paling benar. Dengan alasan ingin menolongku?” Byakta terkekeh hambar. Dia menggelengkan kepala tak percaya. “Aku bingung, sampai kapan kamu akan terus egois seperti ini?” Ivanka menarik napas panjang. Dia tidak mau membantah. Karena semua yang dikatakan Byakta memang benar. Kalau saja dia Rival tidak datang dan mengorbankan dirinya, mungkin yang akan hancur adalah mereka berdua. Yang akan terparing atau bahkan mati, adalah mereka berdua. Dia memejamkan mata cukup lama. “Kalau memang aku egois, kamu apa?” tanya Ivanka membuat Byakta mengernyit samar.
“Jadi benar,” gumamnya pelan. Ivanka langsung menegang. “A-apa maksud—” “Kamu di sini karena anakku. Kamu di sini karena kamu mencintai Byakta? Kamu berbuat sejauh ini karena kamu mencintai Byakta?” Kalimat itu jatuh seperti vonis. Ivanka tidak bisa menyangkal. Tidak bisa juga mengiyakan. Karena bahkan dia sendiri belum sepenuhnya memahami perasaannya. Bagaspati menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya pelan. “Masalahnya,” lanjutnya, “anakku bukan orang yang bisa kamu selamatkan. Dan anakku sulit untuk kamu gapai. Kamu tidak akan sanggup.” Ivanka menatapnya lebih lama. Dia tahu kalau kasta mereka mungkin berbeda. Dan mungkin itu maksud dari ucapan Bagaspati. Entah kenapa, dia tidak peduli. “Aku tidak mencoba menyelamatkan dia,” balasnya cepat. “Aku—” “Jangan boho
Sentuhan di pundaknya terasa berat. Bukan hanya karena kekuatan tangan itu—tapi karena tekanan yang ikut datang bersamanya. Ivanka menegang. Perlahan, dia menoleh. Dan disanalah pria itu berdiri. Bagaspati dengan tubuh tegap dan rahang tegasnya. Wajahnya penuh amarah yang tertahan. Dan dia tahu untuk siapa kemarahan itu. Ivanka refleks menahan napas kala Bagaspati turun menatapnya. Tubuhnya yang besar, seolah mengukung pergerakan Ivanka, walau dia belum melakukan apa-apa. “Kamu yang menyebabkan semua ini, iya kan?” ujar Bagaspati pelan. Bukan pertanyaan. Bukan sapaan. Lebih seperti penilaian. Tatapan itu turun dari kepala hingga ujung kaki Ivanka, seolah menimban apakah semua kekacauan ini layak terjadi hanya karena dirinya. Ivanka menegakkan tubuhnya, meski jantungnya berdebar tidak karuan. Dia berusaha menahan gejolak asing di dadanya. Ini sudah masuk. Dia tidak bisa keluar lagi. “Iya,” jawabnya pelan. Sunyi merambat dalam sekejap. “Masih hidup juga ternyata,” lanjut
“Ayah,” suaranya rendah. “Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat masalah itu—” “Justru ini waktu yang tepat!” balas Bagaspati tanpa menahan diri. “Kamu pikir ini permainan? Kamu pikir semua orang bisa kamu korbankan hanya karena keputusan emosionalmu?!” Tatapan Byakta menggelap. Tangannya yang menekan luka Rival semakin kuat, seolah menyalurkan seluruh amarahnya ke sana. “Aku tidak mengorbankan siapa pun,” desisnya. “Aku menyelamatkan orangku.” “Dengan cara menghancurkan setengah pasukan kita?!” potong Bagaspati. “Kamu bahkan tidak menunggu instruksi. Kamu bergerak sendiri. Itu bukan strategi, Byakta. Itu kebodohan!” Ivanka menelan ludah. Tangannya masih mencengkeram setir, tapi kini pikirannya mulai terpecah. Kata-kata Bagaspati menusuk lebih dalam dari yang dia kira. Ini semua karena dia. Bukan semata-mata keteledoran Byakta. “Ayah,” Byakta kembali bersuara, kali ini jauh lebih dingin. “Kalau aku tidak bergerak sekarang, dia sudah mati di sana.” “Dan sekarang?” Bagaspati
Tembakan ketika datang dengan ritme yang sangat perlahan. Mata Ivanka membulat. Tubuhnya tidak bisa lagi di gerakkan. Tubuhnya terjengkang dengan Byakta di atasnya. Wajah keduanya kini sudah saling bertemu tatap. Byakta tersenyum samar dengan mulut yang mengeluarkan darah. Mata
Ivanka merasa bulu kuduknya meremang. Sedangkan Byakta, dia hanya membaca kalimat itu tanpa ekspresi. Walau matanya sudah berubah gelap, tapi eksprsi wajahnya tidak berubah. “Menarik,” gumam Byakta seraya tersenyum. “Menarik?” ulangnya tak percaya. “Seseorang baru saja mengatakan mereka tahu
Mata Byakta menggelap seketika. Beruntungnya, Rival sudah berhasil menguncinya. Tubuh Byakta yang masih lemas, langsung kalah ketika melawan tenaga Rival. “Tolong, Bos, berhenti dulu. Kita harus melihat apa yang akan dia lakukan—” “Kamu buta, Rival?” kata Byakta. “Kamu tidak bis
Byakta tidak langsung menjawab, dia masih berusaha bersikap adil dan menunggu pembelaan walau tak perlu. Hanya dengan diam saja sudah cukup untuk membuat keringat muncul di pelipis pria tersebut. Tatapan Byakta beralih pada dua pengawal. “Lepaskan dia.” Pengawal langsung mundur. Membuat Direk







