Share

Bab 2

Penulis: Caca
last update Tanggal publikasi: 2026-07-05 20:18:05

Tiba-tiba, sorot lampu putih yang sangat terang dan menyilaukan membelah kegelapan malam, menyinari tubuh Aixa yang sedang berlutut. Suara deru mesin mobil yang berat, halus, namun sangat bertenaga memecah keheningan jalanan sepi di depan bar.

Bukan hanya satu, melainkan belasan mobil Rolls-Royce hitam mengkilap beriringan membentuk formasi barikade, menutup jalanan, dan berhenti tepat di depan tempat Aixa berada. Pintu-pintu mobil itu terbuka, dan belasan pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam pekat keluar, memegang payung besar, membentuk barisan penjagaan yang super ketat.

Dari mobil Rolls-Royce paling mewah di tengah, seorang pria melangkah keluar.

Begitu pria itu menapakkan kakinya di atas aspal yang basah, atmosfer di sekitar tempat itu mendadak berubah menjadi sangat berat dan mengintimidasi. Pria itu bertubuh sangat tegap, tinggi menjulang dengan proporsi tubuh yang sempurna dalam balutan setelan jas buatan penjahit terbaik Italia. Wajahnya pahatan simetris yang sangat tampan, namun rahangnya yang tegas terkunci rapat. Sepasang matanya yang sewarna elang memancarkan aura kekuasaan yang absolut, dingin, dan tak tersentuh.

Seorang asisten pribadi dengan ekspresi tegang buru-buru memayungi pria itu, berjalan setengah berlari di sampingnya sambil membawa beberapa dokumen penting.

“Tuan,” bisik sang asisten dengan suara setengah berteriak melawan suara hujan. “Bursa saham akan dibuka beberapa jam lagi, dan jika rumor tidak berdasar mengenai orientasi seksual Anda yang ditiupkan oleh rival bisnis itu tidak segera diredam, kerugian perusahaan akan mencapai miliaran euro. Ibu Anda memang tidak tahu, tapi dewan komisaris mendesak Anda untuk segera memperlihatkan status pernikahan.”

Langkah kaki pria berkuasa itu terhenti. Sepatu kulit mahalnya berhenti tepat beberapa senti di depan jemari Aixa yang masih bertumpu di atas trotoar yang basah.

“Lalu apa saranmu, Sebastian?” tanya pria itu. Suaranya rendah, berat, dan bergaung dengan nada bariton yang mampu membuat siapa pun bergidik ngeri.

“Saran saya, Tuan... kita tidak punya waktu untuk mencari wanita dari kalangan sosialita yang membutuhkan proses birokrasi dan negosiasi keluarga yang rumit. Carilah gadis mana saja malam ini. Gadis yang bersih dari skandal, polos, tidak memiliki latar belakang yang mencurigakan, dan yang paling penting: bersedia menandatangani kontrak pernikahan untuk membungkam media. Kita bisa membelinya dengan uang.”

Pria bermata elang itu menundukkan kepalanya, menatap ke bawah. Pandangannya yang tajam mendarat tepat pada tubuh Aixa yang berlutut basah kuyup di bawah kakinya, tampak menyedihkan, kotor oleh air hujan, dengan pakaian murah yang melekat ketat di tubuhnya yang kedinginan.

Di mata pria itu, seorang wanita yang berada di luar bar mewah, berlutut dalam keadaan basah kuyup di tengah malam buta seperti ini, pastilah bukan wanita baik-baik. Dia pasti salah satu dari sekian banyak gadis nakal yang sengaja menjual diri atau menjebak pria kaya demi mendapatkan limpahan materi.

Pria itu mendengus sinis, sebuah senyuman merendahkan terukir di sudut bibirnya yang dingin.

“Wanita seperti ini yang kamu maksud, Sebastian?” tanya pria itu dengan nada yang sangat meremehkan, mengabaikan fakta bahwa Aixa bisa mendengar setiap kata-katanya. “Gadis rendahan yang rela membasahi dirinya di tengah badai demi menunggu pria kaya keluar dari bar dan melemparkan beberapa lembar uang ratusan euro padanya? Menjijikkan.”

Kata 'rendahan' dan 'menjijikkan' itu menghantam telinga Aixa. Harga dirinya yang baru saja dihancurkan oleh Elio, kini kembali diinjak oleh pria asing yang bahkan tidak dikenalnya ini.

Namun, di dalam kepala Aixa, bayangan wajah Leo yang sedang terbaring lemah dengan kabel-kabel medis di tubuhnya mendadak berkelebat. Suara perawat yang memberikan waktu dua jam kembali terngiang. Waktu Leo sedang berjalan mundur. Setiap detiknya adalah taruhan nyawa.

Aixa tahu, ini adalah satu-satunya kesempatan yang dikirimkan takdir—meskipun takdir itu datang dalam bentuk iblis yang sangat angkuh. Persetan dengan harga diri. Persetan jika pria ini menganggapnya wanita matre yang menjual diri demi uang. Asalkan Leo bisa hidup, Aixa rela menukarkan jiwanya sekalipun.

Dengan sisa-sisa energi yang tersisa di tubuhnya yang mati rasa, Aixa bangkit berdiri. Pakaian murahnya yang basah kuyup menempel di tubuh, rambut panjangnya yang hitam pekat berantakan menyelimuti bahunya, dan pipinya masih merah akibat tamparan Elio. Namun, matanya berkilat dengan tekad yang begitu membara, memancarkan keberanian yang membuat asisten pria itu terperangah.

Aixa melangkah maju, menghadang tepat di depan dada bidang pria bermata elang itu, menentang langsung aura intimidasi yang mematikan.

“Aku tidak peduli sekotor dan serendah apa kau menilaiku dengan mata sialanmu itu, Tuan!” seru Aixa, suaranya bergetar hebat karena kedinginan namun terdengar sangat lantang menembus gemuruh badai hujan. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata sedingin es milik pria di hadapannya.

“Aku mendengar setiap kata yang diucapkan asistenmu. Kau butuh seorang istri yang bersih untuk pernikahan kontrak demi menyelamatkan sahammu, bukan?” Aixa menarik napas dalam-dalam, mengabaikan rasa perih di bibirnya yang pecah. Ia mempertaruhkan seluruh sisa hidupnya malam itu juga demi uang deposit rumah sakit adiknya.

“Aku memenuhi syaratmu, Tuan. Aku bukan wanita malam yang kau pikirkan. Aku masih suci! Aku belum pernah disentuh oleh pria mana pun di dunia ini! Aku siap menandatangani kontrak dan menjadi istri kontrakmu malam ini juga, asalkan kau membayar harga yang kuajukan sekarang juga secara tunai!”

Mendengar tantangan berani dari gadis yang tampak seperti tikus basah di depannya, pria itu tidak marah. Sepasang mata elangnya justru menyipit, mempelajari kilat keputusasaan yang bercampur dengan harga diri yang tinggi di mata jernih Aixa.

'Sangat menarik,' pikir pria itu. Seorang gadis desa matre yang sangat berani dan blak-blakan menjual kesuciannya demi seonggok uang tunai di tengah malam.

Pria itu tidak tahu siapa sebenarnya gadis tangguh di hadapannya ini, dan dia mengira gadis ini murni menjual diri karena uang.

Aixa yang tidak tahan dengan keheningan di antara mereka, akhirnya mendesak dengan sisa kekuatannya, "Jadi bagaimana, Tuan? Apakah aku lolos seleksi?"

Pria itu tersenyum tipis—sebuah senyuman misterius yang sarat akan bahaya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Caca
Terimakasih comentar positifnya sayang, tetap ikuti ceritanya hingga ending ya, dan beri dukungan sebagai penyemangat............
goodnovel comment avatar
Lidia Mangunsong
Kalimat² Lgs (dialog antar tokoh) & Tak Lgs (dr author) trangkai scara relevan. Kata² baku yg digunakan mmbuat crita ini mnyenangkan utk dibaca. Tokoh Aixa tdk digambarkan sbg gadis lugu penakut yg sring mmbuat pembaca bosan. Kberanian & kmatangan prinsip jauh lbih mmbuat pnasaran utk lanjut mmbaca.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 85

    **Cinta yang Menemukan Jalannya** Untuk pertama kalinya setelah sekian lama melewati masa-masa kelam yang penuh duri, Aixa tidak lagi memandang masa depannya sebagai sesuatu yang menyeramkan atau harus ia takuti secara berlebihan. Ada perubahan mendasar yang merayap perlahan namun pasti di dalam dasar hatinya yang paling dalam. Sebuah perasaan baru tumbuh mekar dengan sangat halus dan alami. Perasaan itu hadir tanpa tergesa-gesa, tidak memaksakan kehendak, dan tidak menuntut hal-hal yang tidak masuk akal. Namun, keberadaannya terasa begitu nyata, menghangatkan setiap sudut jiwanya yang dulu sempat membeku oleh rasa kesepian. Aixa mulai menyadari sebuah kenyataan manis: pernikahan yang dulu berawal dari selembar kertas kaku berisi poin-poin kontrak dingin kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti. Takdir tampaknya sedang merajut ulang benang-benang hubungan mereka dengan pola yang baru. Fernando mungkin memang belum mengutarakan perasaannya secara terbuka

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 84

    **Bayi Kita** Langkah kaki Fernando yang berwibawa sempat berayun menuju daun pintu kayu mahoni yang tinggi. Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu logam yang dingin, sebuah suara lembut menghentikan pergerakannya. "Fernando." Pria itu menghentikan langkahnya secara instan. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Aixa yang masih duduk di tepi ranjang. Sinar matahari pagi yang menembus celah jendela membiaskan pendar keemasan di sekeliling tubuh wanita itu, membuatnya tampak begitu bersahaja namun memikat. "Ya?" sahut Fernando pendek, menantikan apa yang hendak disampaikan oleh wanita di hadapannya. Aixa tampak ragu sejenak. Jemari tangannya meremas pelan pinggiran piyama sutra yang dikenakannya, berjuang mengumpulkan keberanian yang meluap dari dalam dadanya. Bibirnya terbuka, lalu tertutup kembali, sebelum akhirnya dengan suara pelan namun sarat akan kejujuran yang dalam, ia berbisik, "Terima kasih... karena sudah bahagia bersama aku." Fernando membeku seketika.

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 83

    **Harapan yang Berani** Malam semakin melarut, merengkuh Mansion Castello dalam kesunyian yang senyap dan pekat. Di dalam kamar tidur utama yang remang-remang, Aixa mendadak terbangun dari tidurnya. Gemericik angin malam yang menerpa kaca jendela seolah memanggil kesadarannya kembali ke alam nyata. Tanpa sadar, jemari lengannya yang halus kembali bergerak perlahan, meraba dan menyentuh lembut bagian perutnya yang masih terasa datar di balik piyama sutra. Sebuah senyum kecil terpancar di bibirnya, menghadirkan kehangatan instan yang menjalar ke seluruh dada. Rasanya sungguh luar biasa mengetahui bahwa di dalam tubuhnya, sebuah detak kehidupan baru sedang memperjuangkan jalannya menuju dunia. Pandangan mata Aixa yang lembut kemudian beralih, mengikis jarak menuju sisi lain ranjang berukuran besar itu. Di sana, Fernando terbaring lelap. Cahaya temaram dari lampu tidur memancarkan pendar keemasan yang menimpa separuh wajah pria itu. Aixa menatapnya dalam diam. Wajah Fernando ketika te

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 82

    **Anak Kita** Suasana kamar tidur utama di Mansion Castello tampak lebih hangat dari biasanya. Lampu meja memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menerangi sudut ruangan tempat Aixa duduk bersandar di sofa empuk. Di pangkuannya, terbentang sebuah buku tebal bersampul keras yang tadi siang diberikan oleh Dokter Elena. Buku panduan kehamilan itu tampak sangat baru, namun Aixa sudah membalik lusinan halamannya dengan penuh antusiasme. Matanya berbinar-binar saat membaca deskripsi mengenai perkembangan janin dari minggu ke minggu. Setiap kata, gambar ilustrasi, dan penjelasan ukuran janin yang disepadankan dengan buah-buahan kecil membuat dadanya bergetar hebat. Tanpa sadar, jemarinya tak henti-hentinya mengusap lembut perutnya yang masih rata, sementara senyum kecil terus menghiasi wajah cantiknya. Kehadiran nyawa kecil itu menghadirkan dunia yang sama sekali baru bagi Aixa—sebuah dunia yang kini dipenuhi harapan, bukan lagi rasa takut. "Apa yang kau baca?" Suara berat yang famil

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 81

    **Harapan Baru** Pagi di Mansion Castello terasa berbeda. Cahaya matahari yang menembus celah-celah tirai sutra kamar tidak lagi terasa dingin di mata Aixa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia terbangun bukan karena detak jantung yang berpacu akibat kecemasan, atau sisa-sisa mimpi buruk yang selalu melingkupinya. Secara refleks, jemarinya yang hangat bergerak lembut menelusuri perut ratanya. Masih terlalu dini—belum ada perubahan bentuk atau gerakan kecil yang bisa dirasakan secara fisik. Namun, kesadaran bahwa ada kehidupan baru yang tengah tumbuh di dalam dirinya mengalirkan kehangatan mendalam yang membuncah di dadanya. Aixa tersenyum kecil. Saat sudut bibirnya terangkat, matanya justru kembali berkaca-kaca. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan ditumpahkan oleh rasa sakit atau keterasingan. Itu adalah kebahagiaan—sebuah perasaan manis yang masih terasa begitu asing dan menggetarkan. Ketukan lembut di pintu kamar membuyarkan lamunan hangatnya.

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 80

    Dua Garis Merah Ponsel di tangan Aixa nyaris terlepas. Seluruh warna darah di wajahnya menyurut seketika saat membaca pesan ancaman yang menargetkan Elio. Dengan jantung yang berdegup kencang akibat ketakutan yang mematikan, Aixa tidak tinggal diam. Ia segera memberitahukan pesan tersebut kepada Fernando. Malam itu, penjagaan di Mansion Castello langsung diperketat secara masif oleh Fernando dan Marco untuk memastikan Elio tetap aman dari ancaman pihak Sovia. Tiga hari berlalu sejak insiden ancaman tersebut. Aixa berdiri di depan wastafel kamar mandi sambil memejamkan mata. Sudah tiga hari berturut-turut ia terbangun dengan rasa mual yang datang tanpa peringatan. Awalnya, ia mengira itu hanya efek kelelahan dan stres berat yang belum benar-benar hilang setelah tekanan panjang serta ancaman yang dialaminya. Namun pagi itu, saat aroma kopi dari dapur mencapai indera penciumannya, perutnya kembali bergejolak. Aixa buru-buru menutup mulutnya. Ia memegang tepi wastafel, menunggu hin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status