로그인**Bab 113: Sinyal yang Terputus** Di dalam gedung pencakar langit pusat kota Madrid yang dingin dan megah, waktu seolah berjalan merambat menyiksa. Keheningan di ruang kerja Fernando terasa makin pekat, menekan dada hingga tiap tarikan napas terasa membakar. Di luar, hujan deras mulai mereda menjadi gerimis tipis, meninggalkan kabut tipis yang menggantung di balik kaca-kaca jendela raksasa. Di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah getaran keras memecah udara. Ponsel pribadi Fernando yang tergeletak di atas meja kayu mahoni berdering nyaring. Pria itu tidak menunggu detik kedua. Dengan gerakan kilat, jemarinya yang tegang menyambar perangkat tersebut dan menempelkannya ke telinga. "Bicara," peritahnya dingin, suara seraknya memendam kecemasan yang teramat sangat. "Tuan Fernando," suara Mateo, sekretaris pribadinya, terdengar tegang di seberang saluran. Ada helaan napas berat sebelum sang sekretaris melanjutkan, "Kami menemukan rekaman CCTV apartemen tempat tinggal sementara N
Bandara Internasional Adolfo Suárez Madrid-Barajas dipenuhi hiruk-pikuk manusia sejak pagi hari. Suara pengumuman penerbangan bergema secara berkala melalui pengeras suara, bersahut-sahutan dengan langkah kaki ribuan penumpang yang berlarian membawa koper, derit roda bagasi di atas lantai marmer, serta keramaian percakapan dalam berbagai bahasa dunia. Di tengah hilir-mudik kerumunan yang sibuk dengan urusan masing-masing, atmosfer bandara terasa amat asing, dingin, dan impersonal. Aixa duduk di salah satu kursi besi ruang tunggu terminal keberangkatan internasional. Tubuhnya terbungkus mantel kain tebal berwarna krem yang sedikit kebesaran—sebuah pilihan busana sederhana untuk menyembunyikan siluet tubuhnya yang kian kurus serta tonjolan kecil di perutnya yang mulai terbentuk. Di genggaman tangannya yang dingin, ia memegang erat sebuah paspor baru bernuansa biru tua yang permukaannya masih terasa kaku dan licin. Izin dokumen itu diterbitkan secara resmi melalui jalur khusus dengan
Jejak Terakhir dan Harapan Kecil** Malam berlarut-larut dalam keheningan yang kian pekat di sudut kota Madrid. Di dalam apartemen sempit yang temaram, Aixa duduk bertelanjang kaki di atas lantai ubin yang dingin. Di sekelilingnya, koper-koper tua tergeletak terbuka dengan pakaian dan barang-barang pribadi yang sudah setengah terisi. Penerangan dari lampu gantung yang remang-remang membingkai sosoknya yang tampak semakin kurus, namun menyimpan kelembutan yang tak terhingga. Jemarinya yang gemetar memegang sebuah pakaian bayi berukuran sangat kecil yang baru saja dibelinya siang tadi dari sebuah toko kain di pinggiran kota. Warna putih. Sederhana. Tanpa hiasan berlebihan, tanpa renda-renda mewah yang biasa menghiasi perlengkapan bayi dari kelas atas. Bahan katunnya lembut di bawah sentuhan tangannya, membawa kehangatan nyata yang menyengat kalbunya. Aixa memeluk baju mungil itu ke dadanya. Air matanya kembali mengalir tanpa terbendung, menetes basah membentangi kain katun putih terse
Ketakutan Fernando** Di sisi lain kota Madrid, jauh dari pemukiman kumuh dan gang-gang sempit yang terisolasi, megah berdiri gedung pencakar langit yang menjadi markas besar kekuasaan keluarga Castello. Di dalam ruang kerja utamanya yang serba marmer dan berdinding kaca tebal, Fernando berdiri mematung di depan jendela ruang kerjanya. Dari ketinggian lantai tiga puluh, hamparan kota Madrid tampak begitu kecil, tergenang dalam balutan hujan deras yang tak kunjung reda sejak dini hari. Namun, pemandangan kota yang biasanya memberi rasa puas dan kendali atas kekuasaan itu kini tak lebih dari hamparan abu-abu yang hampa. Sudah tiga hari sejak Elio pergi meninggalkan Spanyol menuju Inggris setelah pertengkaran hebat yang membongkar kebenaran pahit di antara mereka. Dan tiga hari itu menjadi mimpi buruk yang tidak berkesudahan bagi seorang Fernando Castello. tiga hari di mana seluruh pondasi kesombongan, prasangka, dan rasa percaya dirinya runtuh tanpa sisa. *Dia sedang hamil.* Kalimat
**Bab 109: Tujuan Baru di Ujung Dunia** Isabel merapatkan jarak di antara mereka, menggeser kursi kayu tua itu hingga berderit nyaring di atas lantai ubin yang dingin. Dengan penuh kehangatan, Isabel menggenggam tangannya—kedua telapak tangan wanita tua itu terasa begitu hangat dan kasar, memberikan kontras yang sangat nyata pada jemari Aixa yang pucat dan sedingin es. Genggaman itu bukan sekadar gestur penenang, melainkan sebuah jangkar kasih sayang di tengah samudra penderitaan yang sedang menghempas jiwa keponakannya. "Lalu ke mana kau akan pergi?" tanya Isabel dengan suara lirih yang nyaris tertutup oleh gemericik hujan di luar jendela. Matanya menatap dalam, menelusuri kelelahan luar biasa yang terpancar dari manik mata Aixa. Aixa terdiam beberapa saat. Keheningan merayap cepat di antara mereka, terasa berat dan sarat akan pertimbangan mati-matian. Matanya menerawang jauh menembus dinding-dinding kayu apartemen sempit itu, melintasi cakrawala kota Madrid yang tertutup awan men
**Bab 108: Keputusan yang Bulat** Suara bel apartemen berbunyi mendadak, memecah keheningan mencekam yang menyelimuti kamar sempit itu. Aixa tersentak kaget. Tubuhnya seketika menegang, dan cangkir teh yang dipegangnya bergetar tipis. Jantungnya berdegup cepat, berpalu-palu menembus rongga dadanya dengan kepanikan yang tak terelakkan. Di tengah kondisi mentalnya yang terkoyak, setiap suara asing dari luar seolah menjadi ancaman mematikan—apakah wartawan telah melacak tempat persembunyiannya? Atau orang-orang utusan keluarga Castello yang datang untuk menuntut ketundukan lebih jauh? Dengan hati-hati dan langkah kaki tanpa suara, ia melangkah mendekati pintu kayu usang itu. Ia menahan napasnya, menempelkan wajahnya perlahan, lalu mengintip melalui lubang pintu yang agak kabur. Seorang perempuan paruh baya berdiri di luar di koridor yang remang-remang. Wanita itu mengenakan pakaian hangat yang sedikit basah oleh sisa rintik hujan, membawa beberapa kantong plastik belanjaan yang tampak







