Share

Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama
Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama
Penulis: Caca

Bab 1

Penulis: Caca
last update Tanggal publikasi: 2026-07-05 20:16:12

“Jadi, si gadis desa beasiswa itu benar-benar mengira kamu mencintainya, Elio?” Suara tawa melengking itu memotong alunan musik jazz di dalam ruangan privat Bar Velvet, salah satu bar paling eksklusif di pusat kota Madrid.

Aixa Morales Vega membeku di depan pintu kayu jati yang sedikit terbuka. Kotak kado beludru marun di genggamannya mendadak terasa seberat batu, meremukkan jemarinya yang mulai mati rasa karena dingin. Malam ini adalah perayaan hari jadi mereka yang kedua. Aixa sengaja menghemat uang sakunya demi membeli bahan rajutan, dan menghabiskan malam-malam tanpa tidur untuk membuatkan sebuah syal hangat untuk Elio Santiago Alvarez. Namun, justru dirinyalah yang mendapat kejutan yang menghancurkan hidupnya malam ini.

“Ya! Dia mengira aku mencintainya padahal aku sama sekali tidak mencintainya,” sahut sebuah suara yang sangat Aixa kenali. Suara Elio.

“Kalau dia tidak pintar dan tidak bisa menjamin nilai-nilai kuliahku tetap sempurna, aku tidak akan sudi bertahan dua tahun dengannya. Dia itu membosankan.”

Gelak tawa kembali pecah dari teman-teman jetset Elio.

Elio duduk di sofa kulit mewah. Tangannya dengan santai merangkul pinggang seorang wanita anggun bergaun satin hitam yang memancarkan aura kemewahan—Catalina Rios Mendoza. Cinta pertama Elio yang baru saja kembali dari studinya di Inggris.

“Tapi dia cukup tangguh untuk ukuran gadis miskin dari desa,” celetuk salah satu teman kuliah Elio sambil menenggak minumannya. “Lihat saja bagaimana dia bekerja paruh waktu di kafetaria kampus dan masih bisa mempertahankan indeks prestasi sempurna. Dia seperti mesin pengisi nilai gratisanmu, Elio.”

“Tangguh atau tidak, tempatnya bukan di lingkungan kita,” timpal Catalina dengan nada malas yang merendahkan. Jarinya yang dihiasi manikur mahal mengusap rahang Elio dengan manja. “Sekarang aku sudah pulang, Elio. Kamu tidak perlu lagi berpura-pura mencintainya.”

Braakk!

Pintu kayu berat itu terbuka kasar, menghantam dinding hingga menimbulkan suara dentuman yang menggema. Seluruh tawa di dalam ruangan seketika tercekik.

Aixa melangkah masuk. Pakaiannya sedikit lembap oleh rintik hujan, kontras dengan gaun-gaun malam desainer ternama yang dikenakan para wanita di dalam ruangan itu. Namun, tidak ada keraguan dalam langkahnya. Kepalanya tegak, punggungnya lurus. Matanya yang jernih menatap lurus pada pria yang selama dua tahun ini dia panggil dengan sebutan kekasih.

“Jadi, dua tahun ini aku hanya dijadikan alat demi nilai kuliah, Elio?” tanya Aixa.

Elio sempat terkejut, tubuhnya menegang di sofa. Namun, melihat teman-temannya dan terutama Catalina yang sedang memperhatikannya, ekspresi pria itu dengan cepat berubah menjadi dingin, angkuh, dan acuh tak acuh. Ia bahkan tidak beranjak dari posisinya yang sedang bersandar.

“Oh, lihat siapa yang datang. Si Genius Miskin,” ejek Catalina, berdiri dari sofa dan berjalan mendekati Aixa dengan langkah yang dibuat-buat anggun. “Aixa, sadarlah. Berkaca di cermin sebelum kamu datang ke tempat seperti ini. Gaun murah yang kamu pakai—yang sepertinya dibeli dari pasar loak desa—bahkan tidak lebih mahal dari harga segelas es batu di bar ini. Kamu tidak pantas berada di sini, apalagi berdiri di samping Elio.”

Catalina sengaja mengayunkan lengannya, menyenggol bahu Aixa dengan kasar saat melewati gadis itu. Sentuhan itu membuat kotak kado di tangan Aixa terlepas dan jatuh ke lantai. Penutupnya terbuka, menampilkan syal rajutan berwarna marun yang kini berguling di atas lantai yang kotor oleh tumpahan alkohol dan abu rokok.

“Jangan sentuh barangku,” desis Aixa, suaranya mendalam dan tajam seperti mata pisau. Tatapannya menghujam langsung ke manik mata Catalina tanpa ada rasa takut sedikit pun.

“Barang sampah seperti ini?” Catalina tertawa renyah, lalu dengan sengaja menginjak syal rajutan itu dengan tumit sepatu hak tingginya, memutarnya hingga kain rajutan yang dibuat Aixa dengan penuh cinta itu menjadi hitam dan koyak. “Oops, sengaja.”

Darah Aixa berdesir panas. Harga dirinya yang selama ini dia jaga di tengah kemiskinan diinjak-injak dengan begitu kejam. Tanpa peringatan, Aixa maju satu langkah, mencengkeram pergelangan tangan Catalina dengan sangat kuat hingga wanita manja itu memekik kesakitan.

“Aku mungkin miskin, dan aku mungkin berasal dari desa yang jauh dari kemewahan kotamu,” ucap Aixa, setiap kata ditekankan dengan emosi yang membakar. “Tapi aku tidak pernah mengemis harga diri. Aku tidak pernah merendahkan diriku untuk menjadi parasit yang memanfaatkan otak orang lain demi kelulusan, dan aku tidak sekotor wanita yang dengan bangga memamerkan diri sebagai perebut kekasih orang! Simpan uang dan kesombonganmu, Catalina. Karena di mataku, moralmu jauh lebih murah daripada kain lap di bar ini!”

“Kurang ajar! Lepaskan aku!” jerit Catalina panik karena cengkeraman Aixa yang tak tergoyahkan.

Plak!

Sebuah tangan kekar menyentak lengan Aixa, dan sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Aixa. Bukan dari Catalina, melainkan dari Elio. Tamparan itu begitu kuat hingga sudut bibir Aixa pecah, mengeluarkan setitik darah hangat.

“Cukup, Aixa!” bentak Elio, berdiri melindungi Catalina yang langsung berakting ketakutan di belakang punggungnya. Elio menatap Aixa dengan pandangan penuh kejijikan, seolah-olah Aixa adalah hama yang mengotori hidupnya. “Pergilah! Hubungan kita sudah selesai sejak malam ini. Nilai semester akhirku sudah keluar, indeks prestasiku aman, dan aku tidak lagi membutuhkan otakmu. Lagipula, sejak awal cintaku hanya untuk Catalina. Kamu itu tidak lebih dari sekadar alat, budak gratisan yang bodoh karena mau percaya pada bualan cinta pria dari kasta yang berbeda denganmu.”

Untuk membuktikan kata-katanya di depan teman-temannya sekaligus mematikan seluruh harapan yang tersisa di hati Aixa, Elio membalikkan badan. Ia menarik pinggang Catalina dengan posesif, menundukkan kepalanya, dan langsung mencium bibir wanita itu dengan panas di hadapan semua orang.

Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh langsung menggema di dalam ruangan privat itu. Mereka menertawakan Aixa, menikmati tontonan penghinaan yang begitu keji terhadap seorang gadis berumur 19 tahun.

Pipi Aixa terasa panas dan perih, namun hatinya jauh lebih kebas. Pria yang selama ini dia rawat saat sakit, pria yang selalu dia buatkan bekal, pria yang dia percayai sebagai tempat bersandar setelah orang tuanya tiada... ternyata hanyalah seekor monster berwajah tampan.

Aixa menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis di depan mereka. Dengan sisa-sisa martabat yang dia miliki, Aixa membalikkan badan, meninggalkan ruangan jahanam itu dengan langkah yang tegap, mengabaikan tawa mengejek yang terus mengiringi langkah kakinya.

Begitu melangkah keluar dari Bar Velvet, badai hujan yang dahsyat langsung menerpa tubuh Aixa. Angin malam yang menusuk tulang menyapu gaun tipisnya, membuat tubuhnya gemetar hebat. Di bawah guyuran air yang seolah ikut menangisi nasibnya, air mata Aixa akhirnya tumpah, berbaur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Di tengah gemerlap dan dinginnya kota Madrid, Aixa merasa benar-benar hancur dan sendirian.

Di tengah deru angin dan guntur, ponsel usang di dalam tas kainnya berdering nyaring. Dengan jari-jari yang bergetar hebat karena kedinginan dan syok, Aixa meraba tasnya dan mengangkat panggilan itu. “Ha-halo?”

“Apakah ini dengan Nona Aixa Morales Vega? Kami dari Rumah Sakit Pusat Madrid,” suara seorang perawat di seberang sana terdengar sangat mendesak dan panik. “Adik Anda, Leo, baru saja mengalami serangan gagal jantung akut akibat komplikasi penyakitnya. Kondisinya sangat kritis dan dia harus segera masuk ke ruang operasi malam ini juga!”

Jantung Aixa seolah berhenti berdetak. Dunianya yang baru saja retak, kini runtuh sepenuhnya menjadi kepingan tak berbentuk. “Operasi? Suster, saya mohon... lakukan operasinya sekarang. Selamatkan adik saya!”

“Nona Aixa, biaya deposit awal untuk operasi jantung darurat dan sewa alat pacu jantung khusus ini adalah lima puluh ribu euro. Manajemen rumah sakit membutuhkan konfirmasi pembayaran atau bukti transfer dalam waktu maksimal dua jam dari sekarang. Jika tidak ada jaminan finansial, kami tidak bisa melanjutkan tindakan operasi. Ini sudah regulasi mutlak.”

“Lima puluh ribu euro?!” Pekikan Aixa tertelan oleh suara petir. Uang dari mana? Tabungannya sebagai pekerja paruh waktu bahkan tidak sampai lima ratus euro. “Suster, saya tidak punya uang sebanyak itu sekarang... tolong saya, saya mohon demi Tuhan! Leo baru sepuluh tahun, dia satu-satunya keluarga yang saya miliki di dunia ini! Jangan biarkan dia mati, saya pasti akan mencari uangnya, saya akan mencicilnya seumur hidup saya!”

Aixa berlutut di atas trotoar yang dingin dan basah. Air matanya mengalir deras, menyatu dengan genangan air hujan. Ia memohon hingga suaranya serak, melupakan semua ketangguhan yang baru saja ia tunjukkan di dalam bar. Namun, dunia ini terlalu kejam untuk mendengar tangisan gadis miskin.

“Maaf, Nona. Waktu Anda hanya dua jam. Jika tidak ada pembayaran, kami hanya bisa memberikan perawatan paliatif seadanya.” Sambungan telepon itu terputus dengan suara *klik* yang dingin.

“Leo... Leo, jangan tinggalkan Kakak...” Aixa mendekap ponselnya di dada, tubuhnya meringkuk di atas trotoar, terguyur hujan deras. Pikirannya buntu. Elio baru saja mencampakkannya, adiknya sedang sekarat menantang maut, dan dia tidak memiliki siapa pun untuk dimintai tolong.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 93

    Kepuasan Semu Ketegangan antara Fernando dan Elio semakin membakar udara. Aixa menundukkan kepala. Ia terlalu lelah untuk menjadi alasan pertengkaran baru di antara mereka. Sementara itu, di sisi lain kota, Valeria tersenyum puas melihat kekacauan yang baru saja diciptakannya. "Aku ingin melihat berapa lama Fernando tetap mempertahankannya," ujarnya sambil menyeruput kopinya. Catalina terkekeh kecil. "Video itu sudah tersebar ke mana-mana. Wajah Aixa pasti sangat menyedihkan sekarang." Catalina menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Bagaimana kalau Fernando tetap percaya padanya?" Senyum Valeria perlahan memudar. "Itu tidak akan terjadi." "Terlalu yakin?" Valeria meletakkan cangkirnya. "Laki-laki bisa memaafkan banyak hal. Tapi penghinaan terhadap harga dirinya adalah pengecualian." Catalina tersenyum tipis. "Kalau begitu, kita lihat saja." Namun tak satu pun dari mekeka menyadari bahwa badai yang mereka ciptakan mulai berbalik arah. Lampu-lampu gantung kristal di dalam penthouse

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 92

    Pertanyaan Tanpa Jawaban Aura dingin Fernando langsung memenuhi ruangan. Tatapannya berpindah dari Elio menuju Aixa, lalu berhenti pada ponsel yang masih berada dalam genggaman istrinya. "Kalian sudah melihatnya?" tanyanya datar. Nada suaranya terlalu tenang. Justru itu yang membuat Aixa semakin takut. Fernando melangkah mendekat. "Siapa yang menyebarkannya?" Aixa membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Elio maju selangkah. "Kemungkinan besar Valeria dan Catalina." Tatapan Fernando berubah tajam. "Apa kau punya bukti?" "Belum." Fernando mengalihkan pandangan kepada Aixa. "Kau menontonnya?" Aixa menggigit bibir. "Hanya beberapa detik." "Dan?" "Itu video rekayasa." Keheningan memenuhi ruangan. Fernando tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Pria itu hanya berdiri tegak dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Apa kau meragukanku?" tanya Aixa pelan. Fernando tidak segera menjawab. Hening itu terasa begitu menyiksa, sampai akhirnya pria itu berkata, "Aku tidak mengambil

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 91

    Gelombang Fitnah Ponsel Aixa bergetar tanpa henti di atas meja dapur. Satu pesan masuk. Lalu dua. Kemudian puluhan notifikasi membanjiri layar. Dahinya berkerut. Ada sesuatu yang tidak biasa. Grup keluarga yang biasanya sunyi mendadak ramai. Bahkan beberapa nomor yang tidak dikenalnya ikut menghubunginya. Dengan jantung berdegup tidak menentu, Aixa membuka salah satu pesan. Sebuah video—disertai kalimat singkat: "Ternyata begini wajah asli menantu keluarga Castello." Tubuh Aixa membeku. Tangannya gemetar saat menekan tombol putar. Beberapa detik pertama membuat napasnya tercekat. Wajah perempuan dalam video itu adalah dirinya, sementara pria di sampingnya tampak seperti Elio. Aixa langsung menghentikan tayangan itu sebelum berlanjut lebih jauh. "Apa ini..." bisiknya pelan. Wajahnya memucat. "Itu bukan aku." Air matanya hampir jatuh. Ia mengenali tubuhnya sendiri sebagai hasil manipulasi. Gerakan bibir, sudut wajah, bahkan pencahayaan dalam video itu tampak janggal jika diperh

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 90

    Bab 90: Tawa Pertama Malam harinya, suasana mansion Castello tenggelam dalam kesunyian yang mendalam. Jarum jam dinding menunjuk ke angka dua pagi ketika Aixa perlahan terbangun karena rasa haus yang mengeringkan tenggorokannya. Kesadaran yang perlahan terkumpul membuatnya bergerak hendak turun dari tempat tidur. Namun saat meraba area di sebelahnya, ia menyadari sisi ranjang Fernando kosong dan sudah terasa dingin. Dengan rasa penasaran dan keheranan yang menyelimuti pikirannya, Aixa bangkit, membenahi gaun tidurnya, lalu melangkah keluar dari kamar utama dengan jejak kaki yang hampir tak terdengar. Koridor panjang lantai atas tampak remang-remang, hanya diterangi oleh lampu-lampu dinding yang redup. Namun di ujung lorong, garis cahaya kuning keemasan menerobos dari balik pintu yang sedikit terbuka. Lampu ruang kerja Fernando masih menyala terang. Aixa melangkah mendekat, berdiri sejenak di depan pintu kayu tebal itu sebelum memajukan tangannya untuk mengetuk pelan. "Masuk." Suara

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 89

    **Bab 89: Bayangan Masa Lalu** Tidak semua orang merasakan kegembiraan dan kehangatan yang sama. Sementara kehangatan dan harapan baru menyelimuti seluruh sudut mansion Castello, mendung tipis dan bayangan masa lalu justru menggelayut di kediaman lain yang berjarak tak jauh dari sana. Elio berdiri di balkon kamarnya sambil menatap lurus ke arah taman belakang. Angin sore yang berhembus lembut meniup pelan helai-helai rambutnya, namun tatapannya tetap kosong, menembus jauh ke hamparan rumput hijau yang tak lagi mampu menyegarkan matanya yang redup. "Jadi kau hanya akan menyerah begitu saja?" Suara Catalina memecah kesunyian yang hening, membuat Elio menoleh pelan dengan gerakan lambat. Perempuan itu berdiri anggun di ambang pintu balkon, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tatapan menuntut yang dipenuhi ketidakpuasan. "Apa maksudmu?" tanya Elio pendek, suaranya terdengar serak, berat, dan menyimpan keletihan jiwa yang teramat sangat. Catalina melangkah mendekat, menghentak

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 88

    **Bab 88: Pengakuan di Ruang Kerja** Sementara itu, di ruang kerja pribadinya yang didominasi warna kayu mahoni gelap dan pencahayaan temaram dari lampu meja bergaya klasik, Fernando duduk memandangi hasil pemeriksaan kehamilan Aixa. Foto cetakan USG berukuran kecil dengan latar hitam dan pola abu-abu itu terletak tepat di sebelah dokumen investasi bernilai miliaran rupiah yang baru saja selesai ia tinjau. Usia kandungan Aixa masih sangat muda, hanya berupa titik kecil yang belum berbentuk sempurna sebagai manusia. Namun fakta sederhana bahwa ada sebuah kehidupan baru yang tumbuh dan berkembang karena dirinya membuat sesuatu yang sangat mendasar dalam diri Fernando berubah secara perlahan. Pria yang selama ini menyandarkan seluruh hidupnya pada logika dingin, kalkulasi angka-angka finansial, dan kendali mutlak atas segala situasi, kini harus berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan kontrolnya: sebuah keajaiban alam bernyawa yang dipanggil keluarga. Fernando menyan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status