Share

Bab 3

Author: Caca
last update publish date: 2026-07-05 20:18:59

Pria bermata elang itu melangkah satu blok lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Aixa bisa mencium aroma parfum mahal yang menguar dari tubuhnya. Payung hitam yang dipegang Sebastian kini ikut melindungi kepala Aixa dari hantaman air hujan, namun hawa dingin di sekitar mereka justru terasa semakin pekat.

"Berapa yang kamu butuhkan, Gadis Suci?" tanya pria itu, menekankan kata 'suci' dengan nada seringai yang begitu kental. Di matanya, ketegasan Aixa tak lebih dari sekadar akting kelas kakap seorang wanita oportunis.

Aixa mengepalkan tinjunya di sisi tubuh. Mengabaikan getaran hebat di lututnya, ia mendongak tajam. "Lima puluh ribu euro. Tunai, malam ini juga."

Sebastian di samping pria itu terperangah. Lima puluh ribu euro bukan jumlah yang kecil untuk dilemparkan begitu saja pada orang asing di pinggir jalan. Sang asisten bersiap untuk mengusir Aixa, namun sebuah isyarat tangan dari tuannya membuat Sebastian membeku.

Pria itu menatap Aixa seolah gadis itu hanyalah seonggok barang belanjaan yang sedang ditawar. "Hanya lima puluh ribu euro untuk sebuah kesucian yang kamu banggakan? Murah sekali."

Pipi Aixa rasanya kian membara, rasa perih di sudut bibirnya akibat tamparan Elio kembali berdenyut. Namun, bayangan Leo yang sedang sekarat di ruang UGD menghapus segala rasa malunya. "Ambil atau tidak, Tuan? Waktuku tidak banyak."

Pria itu mendengus, lalu melirik asistennya tanpa emosi. "Sebastian, berikan uangnya."

"Tapi, Tuan—"

"Berikan," potongnya tanpa bantahan, suaranya baritonnya mutlak.

Sebastian buru-buru membuka bagasi mobil Rolls-Royce, mengambil sebuah tas jinjing hitam kecil yang memang selalu disiapkan untuk keperluan bisnis mendesak, lalu menyerahkannya kepada Aixa dengan ragu. Aixa menerima tas itu. Bobotnya berat, dan ketika ia membuka ritsletingnya sedikit, tumpukan uang kertas euro berwarna senada berjejer rapi di sana. Napas Aixa tercekat. Adiknya bisa diselamatkan.

Sebelum Aixa sempat berbalik pergi, sebuah kartu tipis berujung emas disodorkan di depan wajahnya. Pria bermata elang itu yang memegangnya.

"Datang ke kantorku besok jam sembilan pagi untuk menandatangani kontrak pernikahan kita," ucap pria itu dingin. "Jika kamu terlambat satu menit saja, aku pastikan kamu akan membusuk di penjara Madrid karena tuduhan penipuan."

Tanpa menunggu jawaban Aixa, pria itu berbalik melangkah masuk ke dalam Bar Velvet bersama beberapa pengawal, meninggalkan Aixa yang masih terpaku di bawah guyuran hujan.

Dengan tangan gemetar karena kedinginan dan syok, Aixa mengangkat kartu nama itu di bawah temaram lampu jalanan. Begitu matanya membaca baris demi baris tulisan timbul di atasnya, jantung Aixa seakan melompat keluar dari dadanya.

Fernando Castello Ortega.

Chief Executive Officer, Castello Group.

Aixa membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya limbung hingga hampir terjatuh ke aspal basah. Fernando Castello Ortega? Miliarder terkaya di Spanyol yang gurita bisnisnya menguasai hampir seluruh daratan Eropa?

Aixa sering mendengar namanya di koran finansial kampus atau berita televisi. Pria itu dikenal sebagai raja bisnis yang kejam, dingin, dan tidak pernah memaafkan kesalahan sekecil apa pun. Wajahnya jarang sekali terekspos karena ia sangat menutup rapat kehidupan pribadinya dari media. Aixa tidak pernah menyangka, iblis berwajah tampan yang baru saja menawarnya seperti barang dagangan adalah orang yang sama.

"Taksi! Taksi!"

Aixa tersadar dari syoknya ketika sebuah taksi kuning melintas. Dengan sisa tenaganya, ia melambaikan tangan, melompat ke dalam mobil, dan memeluk tas berisi uang itu erat-erat di dadanya. "Rumah Sakit Pusat Madrid! Cepat, Pak!"

Sementara itu, di dalam area VIP Bar Velvet yang mulai menjauh dari pintu masuk, Sebastian berjalan tergesa di belakang langkah lebar Fernando. Wajah sang asisten dipenuhi ganjalan yang sejak tadi ditahannya.

"Tuan Fernando, maaf jika saya keliru," ujar Sebastian dengan nada sangat hati-hati. "Apakah tidak terlalu berisiko memberikan uang tunai sebanyak itu pada gadis asing di pinggir jalan? Bagaimana jika dia menipu kita? Dia bahkan belum menandatangani dokumen apa pun."

Fernando menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift khusus. Ia menoleh sedikit, menampilkan sudut rahangnya yang kokoh dan matanya yang berkilat berbahaya.

"Menipuku?" Fernando tersenyum sinis, sebuah tawa rendah yang terdengar meremehkan mengudara. "Gadis kecil yang ketakutan seperti itu tidak akan punya nyali untuk membawa lari uangku, Sebastian. Jika dia berani melakukannya, itu artinya dia sudah bosan hidup dan siap masuk ke dalam neraka yang kuciptakan sendiri."

Fernando masuk ke dalam lift, meninggalkan Sebastian yang hanya bisa menelan ludah. Sang asisten tahu betul, kata-kata bosnya bukanlah gertakan semata. siapa pun yang berani mengusik Fernando Castello, tamatlah riwayatnya.

Aroma obat-obatan dan karbol langsung menyengat indra penciuman Aixa begitu ia berlari menembus pintu kaca Rumah Sakit Pusat Madrid. Seluruh pakaiannya yang basah kuyup meninggalkan jejak air di lantai koridor, menarik perhatian beberapa perawat, namun Aixa tidak peduli.

"Suster! Ini uang depositnya! Lima puluh ribu euro!" Aixa menghantamkan tas hitam itu ke atas meja administrasi UGD dengan napas terengah-engah.

Petugas administrasi terkejut melihat seorang gadis remaja yang basah kuyup membawa uang tunai sebanyak itu. Setelah memeriksa dan menghitung cepat menggunakan mesin, petugas itu mengangguk. "Uangnya pas, Nona Aixa. Dokter spesialis jantung sudah bersiap. Operasi adik Anda, Leo, akan segera dimulai malam ini."

Mendengar kalimat itu, kekuatan di kaki Aixa benar-benar habis. Ia merosot duduk di kursi tunggu koridor yang dingin. Melalui kaca kecil ruang steril, ia bisa melihat ranjang adiknya yang berusia sepuluh tahun mulai didorong masuk ke dalam ruang operasi.

Aixa menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Air matanya kembali mengalir, namun kali ini adalah air mata kelegaan. Leo memiliki kesempatan untuk hidup. Meskipun untuk membelinya, Aixa harus menukar harga diri dan seluruh sisa hidupnya kepada seorang pria asing yang menganggapnya sebagai wanita rendahan.

"Maafkan Kakak, Leo," bisik Aixa lirih, menatap jari-jarinya yang masih menyisakan aroma parfum kayu cedar milik Fernando Ortega. "Kakak akan melakukan apa saja, asal kamu tetap bersama Kakak."

Kembali ke dalam kehangatan ruangan privat Bar Velvet, atmosfer pesta masih terasa meriah bagi sebagian orang. Namun tidak bagi Elio Santiago Alvarez.

Pria itu sedang meneguk gelas wiskinya yang ketiga dengan kasar. Di sampingnya, Catalina terus mengoceh tentang liburannya di London, tetapi pikiran Elio entah mengapa tidak berada di sana. Tatapannya terus tertuju pada pintu jati yang beberapa waktu lalu didobrak oleh Aixa.

"Ada apa, Elio? Kamu kelihatan tidak bersemangat," tanya Catalina sambil bersandar di bahunya, bermanja-manja.

"Tidak ada apa-apa," sahut Elio pendek.

Elio memutar-mutar gelas di tangannya. Di dalam benaknya, bayangan Aixa yang menatapnya dengan mata jernih dan penuh perlawanan tadi tidak mau hilang. Selama dua tahun ini, Aixa selalu menurut. Gadis desa itu selalu tersenyum manis, memaafkan segala kebiasaan buruknya, dan membuatkannya makanan seolah Elio adalah pusat dari dunianya.

Elio sangat yakin, tindakan Aixa malam ini hanyalah gertakan sambal karena emosi sesaat.

'Paling besok pagi dia juga akan meneleponku sambil menangis,' pikir Elio dengan rasa percaya diri yang tinggi. 'Gadis miskin seperti dia tidak akan bisa bertahan hidup di Madrid tanpaku. Dia cinta mati padaku. Besok dia pasti akan memohon-mohon untuk balikan.'

Namun, entah mengapa, ada secercah rasa tidak nyaman yang mengganjal di sudut hati Elio. Ada bagian dari dirinya yang menolak menerima kenyataan bahwa Aixa benar-benar berbalik arah dan meninggalkannya begitu saja. Cengkeraman tangan Aixa pada Catalina tadi, tatapan matanya yang tajam dan dingin... itu bukan Aixa yang ia kenal.

Elio mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tidak akan membiarkan gadis desa itu lepas begitu saja sebelum ia bosan sepenuhnya. 'Jika Aixa tidak datang memohon besok, maka aku sendiri yang akan menyeret gadis itu kembali ke pelukanku. Tapi, tunggu? Di mana harga diriku? Kenapa denganku? Bukankah aku tidak mencintainya?'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 90

    Bab 90: Tawa Pertama Malam harinya, suasana mansion Castello tenggelam dalam kesunyian yang mendalam. Jarum jam dinding menunjuk ke angka dua pagi ketika Aixa perlahan terbangun karena rasa haus yang mengeringkan tenggorokannya. Kesadaran yang perlahan terkumpul membuatnya bergerak hendak turun dari tempat tidur. Namun saat meraba area di sebelahnya, ia menyadari sisi ranjang Fernando kosong dan sudah terasa dingin. Dengan rasa penasaran dan keheranan yang menyelimuti pikirannya, Aixa bangkit, membenahi gaun tidurnya, lalu melangkah keluar dari kamar utama dengan jejak kaki yang hampir tak terdengar. Koridor panjang lantai atas tampak remang-remang, hanya diterangi oleh lampu-lampu dinding yang redup. Namun di ujung lorong, garis cahaya kuning keemasan menerobos dari balik pintu yang sedikit terbuka. Lampu ruang kerja Fernando masih menyala terang. Aixa melangkah mendekat, berdiri sejenak di depan pintu kayu tebal itu sebelum memajukan tangannya untuk mengetuk pelan. "Masuk." Suara

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 89

    **Bab 89: Bayangan Masa Lalu** Tidak semua orang merasakan kegembiraan dan kehangatan yang sama. Sementara kehangatan dan harapan baru menyelimuti seluruh sudut mansion Castello, mendung tipis dan bayangan masa lalu justru menggelayut di kediaman lain yang berjarak tak jauh dari sana. Elio berdiri di balkon kamarnya sambil menatap lurus ke arah taman belakang. Angin sore yang berhembus lembut meniup pelan helai-helai rambutnya, namun tatapannya tetap kosong, menembus jauh ke hamparan rumput hijau yang tak lagi mampu menyegarkan matanya yang redup. "Jadi kau hanya akan menyerah begitu saja?" Suara Catalina memecah kesunyian yang hening, membuat Elio menoleh pelan dengan gerakan lambat. Perempuan itu berdiri anggun di ambang pintu balkon, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tatapan menuntut yang dipenuhi ketidakpuasan. "Apa maksudmu?" tanya Elio pendek, suaranya terdengar serak, berat, dan menyimpan keletihan jiwa yang teramat sangat. Catalina melangkah mendekat, menghentak

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 88

    **Bab 88: Pengakuan di Ruang Kerja** Sementara itu, di ruang kerja pribadinya yang didominasi warna kayu mahoni gelap dan pencahayaan temaram dari lampu meja bergaya klasik, Fernando duduk memandangi hasil pemeriksaan kehamilan Aixa. Foto cetakan USG berukuran kecil dengan latar hitam dan pola abu-abu itu terletak tepat di sebelah dokumen investasi bernilai miliaran rupiah yang baru saja selesai ia tinjau. Usia kandungan Aixa masih sangat muda, hanya berupa titik kecil yang belum berbentuk sempurna sebagai manusia. Namun fakta sederhana bahwa ada sebuah kehidupan baru yang tumbuh dan berkembang karena dirinya membuat sesuatu yang sangat mendasar dalam diri Fernando berubah secara perlahan. Pria yang selama ini menyandarkan seluruh hidupnya pada logika dingin, kalkulasi angka-angka finansial, dan kendali mutlak atas segala situasi, kini harus berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan kontrolnya: sebuah keajaiban alam bernyawa yang dipanggil keluarga. Fernando menyan

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 87

    **Bab 87: Perhatian yang Terselubung** Hari-hari berikutnya berlalu dengan tenang, membawa ritme baru yang pelan namun pasti di dalam kehidupan mereka. Setiap pagi, Fernando akan memastikan Aixa menyantap sarapannya hingga tuntas. Setiap malam, tanpa pernah alpa satu kali pun, pria itu akan berdiri tegak di hadapannya dan bertanya apakah Aixa sudah meminum seluruh vitamin yang dianjurkan oleh dokter kandungan. Ruang makan di mansion Castello yang biasanya terasa begitu formal, luas, dan dingin, perlahan-lahan mulai diselimuti suasana hangat yang lembut. Suara dentingan sendok dan piring porselen tidak lagi diiringi oleh keheningan kaku yang mencekam seperti bulan-bulan sebelumnya. Di balik meja kayu mahoni yang panjang dan dipoles mengilap, Fernando duduk membaca koran bisnis harian serta memeriksa laporan pasar modal melalui tabletnya. Namun, perhatian pria itu sama sekali tidak sepenuhnya tertumpu pada kolom saham atau grafik keuangan. Di balik lembaran kertas yang ia pegang, mata

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 86

    Bab 86: Lima Buku Kehamilan Fernando tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan berdiri selama hampir lima menit di depan rak buku tentang kehamilan. Di toko buku yang tenang dan beraroma kertas baru itu, sosok Fernando berdiri mencolok di antara lorong yang mendadak terasa begitu asing baginya. Pria yang selama ini dikenal dingin, tegas, dan selalu memegang kendali penuh atas korporasi raksasa itu berdiri dengan ekspresi datar, sementara Marco yang berada beberapa langkah di belakangnya mulai mempertanyakan kewarasannya sendiri. Tangan Fernando meraba pinggiran jilid buku-buku bersampul warna pastel lembut yang tampak sangat bertolak belakang dengan jas gelap terstruktur yang ia kenakan. "Tuan..." panggil Marco hati-hati, memastikan bahwa atasan serta sahabat lamanya itu tidak sedang berada di bawah pengaruh stres berat atau efek kelelahan kerja. Fernando mengambil satu buku berukuran cukup tebal dengan judul bergaris besar warna emas, membaca ringkasan singkat di sampul belaka

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 85

    **Cinta yang Menemukan Jalannya** Untuk pertama kalinya setelah sekian lama melewati masa-masa kelam yang penuh duri, Aixa tidak lagi memandang masa depannya sebagai sesuatu yang menyeramkan atau harus ia takuti secara berlebihan. Ada perubahan mendasar yang merayap perlahan namun pasti di dalam dasar hatinya yang paling dalam. Sebuah perasaan baru tumbuh mekar dengan sangat halus dan alami. Perasaan itu hadir tanpa tergesa-gesa, tidak memaksakan kehendak, dan tidak menuntut hal-hal yang tidak masuk akal. Namun, keberadaannya terasa begitu nyata, menghangatkan setiap sudut jiwanya yang dulu sempat membeku oleh rasa kesepian. Aixa mulai menyadari sebuah kenyataan manis: pernikahan yang dulu berawal dari selembar kertas kaku berisi poin-poin kontrak dingin kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti. Takdir tampaknya sedang merajut ulang benang-benang hubungan mereka dengan pola yang baru. Fernando mungkin memang belum mengutarakan perasaannya secara terbuka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status