แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Caca
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-05 20:19:36

Sinar matahari pagi kota Madrid menerobos masuk melalui dinding kaca gedung pencakar langit Castello Group. Tepat pukul 08.55, Aixa Morales Vega melangkah melewati pintu putar lobi utama. Lingkar hitam samar menggelayuti sepasang matanya yang jernih. Sepanjang malam, ia sama sekali tidak memejamkan mata. Ia melewatkan jadwal kuliah paginya, duduk membeku di koridor Rumah Sakit Pusat Madrid demi menantikan lampu ruang operasi padam.

Untunglah, Tuhan masih menyayangi malaikat kecilnya. Operasi jantung Leo berjalan dengan sangat lancar. Dokter mengatakan kondisi bocah sepuluh tahun itu sudah stabil, kini tinggal menunggu waktu sampai dia siuman dari efek anestesi. Kenangan akan helaan napas lega pascaoperasi itulah yang menjadi satu-satunya bahan bakar Aixa untuk menggerakkan kakinya ke tempat ini.

Aixa berdiri di dalam lift khusus eksekutif, meremas tali tas kainnya dengan jemari yang dingin. Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai paling atas, Sebastian sudah berdiri di sana, menyambutnya dengan senyuman formal tanpa cela.

"Anda tepat waktu, Nona Morales. Mari silakan ikut saya," ujar Sebastian, langsung mengarahkan Aixa menuju sebuah ruang rapat privat yang super mewah, bukan ke ruangan utama CEO.

Aixa mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sunyi itu. Kursi kebesaran di ujung meja panjang tampak kosong. "Di mana... Tuan Fernando?" tanya Aixa, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.

"Tuan Fernando sedang memimpin rapat darurat bersama dewan komisaris untuk menstabilkan pergerakan saham pasca-rumor kemarin," jawab Sebastian lugas sembari menarik selembar kursi kulit agar Aixa bisa duduk. Di atas meja marmer hitam itu, sebuah map dokumen tebal bersampul kulit buaya sudah menanti. "Beliau mendelegasikan proses ini sepenuhnya kepada saya. Silakan dibaca dengan teliti, Nona."

Aixa membuka map tersebut. Baris demi baris klausul hukum terpampang di depannya. Matanya membelalak ketika melihat angka nominal yang tertera pada lembar kompensasi. Nilainya sangat fantastis, jauh melampaui angka lima puluh ribu euro yang ia minta semalam. Jumlah itu cukup untuk membiayai seluruh masa pemulihan Leo, menyewa apartemen yang layak, bahkan membiayai kuliahnya hingga tingkat doktoral tanpa perlu memeras keringat lagi.

Namun, tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Ketika jemarinya membalik halaman berikutnya, napas Aixa seketika tercekat. Mata jernihnya terpaku pada poin syarat utama yang dicetak dengan huruf tebal.

Pihak Kedua berkewajiban melahirkan seorang pewaris sah untuk Pihak Kesatu dalam kurun waktu dua tahun kontrak berjalan.

Catatan Mutlak: Tidak akan ada hubungan intim atau kontak fisik seksual dalam bentuk apa pun antara Pihak Kesatu dan Pihak Kedua. Proses kehamilan wajib dilakukan melalui prosedur medis fertilisasi in vitro (bayi tabung).

Aixa mendongak dengan wajah yang mendadak pias, menatap Sebastian dengan pandangan tidak percaya. "Bayi tabung? Tanpa... hubungan intim?"

Sebastian berdeham pelan, melipat kedua tangannya di depan dada. "Tuan Fernando adalah pria yang sangat menjaga privasi dan higienitas hidupnya, Nona Morales. Beliau membutuhkan seorang anak untuk mengukuhkan posisinya di depan dewan direksi dan keluarga besar Castello, tetapi beliau tidak memiliki ketertarikan untuk membagi ranjangnya dengan wanita asing yang—maaf—membeli posisinya dengan uang."

Kata-kata Sebastian begitu halus, namun tajamnya menusuk tepat ke harga diri Aixa. Pria bermata elang itu benar-benar menganggapnya wanita kotor rendahan yang tidak sudi ia sentuh, bahkan sekadar untuk urusan menghasilkan keturunan. Fernando Castello hanya menganggap rahimnya sebagai inkubator sewaan yang bisa dibeli.

Ada rasa bergejolak di dalam dada Aixa. Ia ingin sekali melempar map jahanam ini ke wajah asisten di depannya dan berjalan keluar. Namun, bayangan wajah pucat Leo di ruang ICU kembali menghentikan egonya. Jika ia mundur sekarang, ia harus mengembalikan lima puluh ribu euro malam itu juga. Dan jika itu terjadi, pihak rumah sakit akan menghentikan perawatan intensif Leo.

Aixa memejamkan mata erat-earat, menghirup udara sebanyak-banyaknya hingga dadanya terasa sesak. Ketika matanya kembali terbuka, tidak ada lagi keraguan di sana. Hanya ada kepasrahan seorang kakak yang siap menukar masa depannya demi nyawa sang adik.

"Di mana saya harus menandatanganinya?" tanya Aixa.

Sebastian menyodorkan sebuah pena berlapis emas. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun pasti, Aixa menorehkan tanda tangannya di atas kertas putih itu. Lembar hitam-putih yang mengikat kebebasannya selama dua tahun ke depan.

"Selesai," ucap Aixa, meletakkan kembali pena tersebut.

"Luar biasa. Mulai detik ini, Anda resmi menjadi Nyonya Muda Castello di mata hukum kontrak kami," Sebastian mengambil map tersebut dengan senyum puas. "Jadwal Anda selanjutnya adalah pergi ke klinik fertilitas khusus Castello Group di distrik seberang. Anda harus menjalani tes fisik menyeluruh siang ini juga, untuk memastikan apakah rahim dan tubuh Anda mampu menjalani prosedur bayi tabung secepatnya."

Aixa hanya mengangguk kaku. Ia berdiri, melangkah keluar dari gedung megah itu dengan perasaan hampa, bersiap menyerahkan tubuhnya pada dinginnya peralatan medis rumah sakit.

Di belahan kota Madrid yang lain, atmosfer di koridor Universitas Complutense tampak ramai oleh hilir mudik mahasiswa. Namun, di salah satu sudut koridor fakultas ekonomi, Elio Santiago Alvarez berdiri dengan wajah yang ditekuk runyam.

Sudah tiga jam perkuliahan berjalan, dan kursi di sebelah kanannya tetap kosong melompong. Kursi yang biasanya selalu ditempati oleh gadis berkuncir kuda dengan buku catatan yang tebal.

"Hei, Elio! Kamu lihat Aixa tidak?" tanya salah satu teman sekelasnya yang baru saja keluar dari ruang dosen. "Tugas kelompok makroekonomi kita harus dikumpulkan sebelum jam dua siang ini. Biasanya dia yang paling sibuk mengingatkan kita."

Elio hanya mendengus kasar, pura-pura sibuk memainkan ponselnya. "Mana kutahu. Bukan urusanku."

Meskipun mulutnya berkata acuh tak acuh, batin Elio bergejolak hebat. Ini tidak masuk akal. Selama dua tahun mengenal Aixa, gadis itu tidak pernah sekalipun membolos kuliah, sekujur tubuhnya dipenuhi rasa tanggung jawab yang gila terhadap beasiswanya. Apakah ini karena kejadian di Bar Velvet semalam?

Elio meremas ponsel di genggamannya. Layar ponselnya masih bersih, tidak ada satu pun panggilan tidak terjawab atau pesan singkat dari Aixa. Biasanya, jika mereka bertengkar kecil, Aixa akan langsung mengirimkan pesan panjang berisi permintaan maaf dalam waktu kurang dari satu jam.

'Sialan. Dia benar-benar mencoba berlagak sombong di depanku?' batin Elio berang. Dada pria itu mendadak terasa sesak oleh ego yang terluka. Ia sangat yakin Aixa pasti sedang bersembunyi di kamar kos murahnya, menangis meraung-raung meratapi tamparannya semalam.

"Dia pasti sengaja membolos untuk memancing perhatianku," gumam Elio pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debaran aneh di dadanya. "Lihat saja, sore nanti dia pasti akan merangkak kembali padaku sambil membawa tugas kuliahku yang sudah selesai."

Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa tidak nyaman yang terus menggerogoti. Elio membenci perasaan ini. Perasaan seolah-olah kendali yang ia miliki atas diri Aixa selama dua tahun ini telah runtuh dalam satu malam.

"Sialan!" Elio mengepalkan kedua tangannya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 85

    **Cinta yang Menemukan Jalannya** Untuk pertama kalinya setelah sekian lama melewati masa-masa kelam yang penuh duri, Aixa tidak lagi memandang masa depannya sebagai sesuatu yang menyeramkan atau harus ia takuti secara berlebihan. Ada perubahan mendasar yang merayap perlahan namun pasti di dalam dasar hatinya yang paling dalam. Sebuah perasaan baru tumbuh mekar dengan sangat halus dan alami. Perasaan itu hadir tanpa tergesa-gesa, tidak memaksakan kehendak, dan tidak menuntut hal-hal yang tidak masuk akal. Namun, keberadaannya terasa begitu nyata, menghangatkan setiap sudut jiwanya yang dulu sempat membeku oleh rasa kesepian. Aixa mulai menyadari sebuah kenyataan manis: pernikahan yang dulu berawal dari selembar kertas kaku berisi poin-poin kontrak dingin kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti. Takdir tampaknya sedang merajut ulang benang-benang hubungan mereka dengan pola yang baru. Fernando mungkin memang belum mengutarakan perasaannya secara terbuka

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 84

    **Bayi Kita** Langkah kaki Fernando yang berwibawa sempat berayun menuju daun pintu kayu mahoni yang tinggi. Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu logam yang dingin, sebuah suara lembut menghentikan pergerakannya. "Fernando." Pria itu menghentikan langkahnya secara instan. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Aixa yang masih duduk di tepi ranjang. Sinar matahari pagi yang menembus celah jendela membiaskan pendar keemasan di sekeliling tubuh wanita itu, membuatnya tampak begitu bersahaja namun memikat. "Ya?" sahut Fernando pendek, menantikan apa yang hendak disampaikan oleh wanita di hadapannya. Aixa tampak ragu sejenak. Jemari tangannya meremas pelan pinggiran piyama sutra yang dikenakannya, berjuang mengumpulkan keberanian yang meluap dari dalam dadanya. Bibirnya terbuka, lalu tertutup kembali, sebelum akhirnya dengan suara pelan namun sarat akan kejujuran yang dalam, ia berbisik, "Terima kasih... karena sudah bahagia bersama aku." Fernando membeku seketika.

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 83

    **Harapan yang Berani** Malam semakin melarut, merengkuh Mansion Castello dalam kesunyian yang senyap dan pekat. Di dalam kamar tidur utama yang remang-remang, Aixa mendadak terbangun dari tidurnya. Gemericik angin malam yang menerpa kaca jendela seolah memanggil kesadarannya kembali ke alam nyata. Tanpa sadar, jemari lengannya yang halus kembali bergerak perlahan, meraba dan menyentuh lembut bagian perutnya yang masih terasa datar di balik piyama sutra. Sebuah senyum kecil terpancar di bibirnya, menghadirkan kehangatan instan yang menjalar ke seluruh dada. Rasanya sungguh luar biasa mengetahui bahwa di dalam tubuhnya, sebuah detak kehidupan baru sedang memperjuangkan jalannya menuju dunia. Pandangan mata Aixa yang lembut kemudian beralih, mengikis jarak menuju sisi lain ranjang berukuran besar itu. Di sana, Fernando terbaring lelap. Cahaya temaram dari lampu tidur memancarkan pendar keemasan yang menimpa separuh wajah pria itu. Aixa menatapnya dalam diam. Wajah Fernando ketika te

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 82

    **Anak Kita** Suasana kamar tidur utama di Mansion Castello tampak lebih hangat dari biasanya. Lampu meja memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menerangi sudut ruangan tempat Aixa duduk bersandar di sofa empuk. Di pangkuannya, terbentang sebuah buku tebal bersampul keras yang tadi siang diberikan oleh Dokter Elena. Buku panduan kehamilan itu tampak sangat baru, namun Aixa sudah membalik lusinan halamannya dengan penuh antusiasme. Matanya berbinar-binar saat membaca deskripsi mengenai perkembangan janin dari minggu ke minggu. Setiap kata, gambar ilustrasi, dan penjelasan ukuran janin yang disepadankan dengan buah-buahan kecil membuat dadanya bergetar hebat. Tanpa sadar, jemarinya tak henti-hentinya mengusap lembut perutnya yang masih rata, sementara senyum kecil terus menghiasi wajah cantiknya. Kehadiran nyawa kecil itu menghadirkan dunia yang sama sekali baru bagi Aixa—sebuah dunia yang kini dipenuhi harapan, bukan lagi rasa takut. "Apa yang kau baca?" Suara berat yang famil

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 81

    **Harapan Baru** Pagi di Mansion Castello terasa berbeda. Cahaya matahari yang menembus celah-celah tirai sutra kamar tidak lagi terasa dingin di mata Aixa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia terbangun bukan karena detak jantung yang berpacu akibat kecemasan, atau sisa-sisa mimpi buruk yang selalu melingkupinya. Secara refleks, jemarinya yang hangat bergerak lembut menelusuri perut ratanya. Masih terlalu dini—belum ada perubahan bentuk atau gerakan kecil yang bisa dirasakan secara fisik. Namun, kesadaran bahwa ada kehidupan baru yang tengah tumbuh di dalam dirinya mengalirkan kehangatan mendalam yang membuncah di dadanya. Aixa tersenyum kecil. Saat sudut bibirnya terangkat, matanya justru kembali berkaca-kaca. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan ditumpahkan oleh rasa sakit atau keterasingan. Itu adalah kebahagiaan—sebuah perasaan manis yang masih terasa begitu asing dan menggetarkan. Ketukan lembut di pintu kamar membuyarkan lamunan hangatnya.

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 80

    Dua Garis Merah Ponsel di tangan Aixa nyaris terlepas. Seluruh warna darah di wajahnya menyurut seketika saat membaca pesan ancaman yang menargetkan Elio. Dengan jantung yang berdegup kencang akibat ketakutan yang mematikan, Aixa tidak tinggal diam. Ia segera memberitahukan pesan tersebut kepada Fernando. Malam itu, penjagaan di Mansion Castello langsung diperketat secara masif oleh Fernando dan Marco untuk memastikan Elio tetap aman dari ancaman pihak Sovia. Tiga hari berlalu sejak insiden ancaman tersebut. Aixa berdiri di depan wastafel kamar mandi sambil memejamkan mata. Sudah tiga hari berturut-turut ia terbangun dengan rasa mual yang datang tanpa peringatan. Awalnya, ia mengira itu hanya efek kelelahan dan stres berat yang belum benar-benar hilang setelah tekanan panjang serta ancaman yang dialaminya. Namun pagi itu, saat aroma kopi dari dapur mencapai indera penciumannya, perutnya kembali bergejolak. Aixa buru-buru menutup mulutnya. Ia memegang tepi wastafel, menunggu hin

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status