Share

5.

last update Last Updated: 2025-11-20 18:24:21

Setelah pernikahan Anaya selesai, Ridho terus menatap Anaya seolah tak percaya dirinya telah menikahi Anaya, wanita yang selama ini dia idamkan sekaligus mantan pacarnya.

"Sampai kapan kau terus menatapku?" Ucap Anaya yang mulai menahan malu terus di tatap dari dekat oleh suaminya.

"Aku hanya tidak percaya, apa ini mimpi?" Ucap Ridho sambil menepuk pipi Anaya dengan lembut.

Mereka berdua pun saling menatap satu sama lain, Anaya sekilas melihat manik mata yang selama ini dia rindukan. Manik mata Ridho yang selalu perhatian padanya meski Anaya cuek dan acuh tak acuh karena sibuk memikirkan Bram.

"Tapi Anaya, sejak kapan kamu mulai menyukaiku?" Tanya Ridho yang penasaran sambil memegang erat tangan Anaya seolah tak ingin melepasnya.

"Sejak kamu menghilang!"

"Apa? Kapan aku menghilang?" Ridho tampak bingung, Namun Anaya hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Sebenarnya di kehidupan sebelumnya, setelah acara pernikahan sederhana Anaya dan Bram selesai, sejak saat itu Ridho menghilang dari hidup Anaya. Ridho yang setiap hari membawakan buah-buahan ke rumah Anaya, Ridho yang selalu memperhatikan Anaya dari jauh, Ridho yang selalu membantu Anaya ketika terjatuh dan kesusahan membuat Anaya sadar dirinya dulu pernah memiliki seorang yang diam-diam peduli padanya.

Sejak saat itu, Anaya benar-benar sendiri. Suaminya Bram selalu berpihak pada Fanny dan terang-terangan berselingkuh di depan matanya bahkan berniat menjadikan Fanny sebagai istri membuat Anaya tak terima. Tetapi ketika meminta bantuan Neneknya, sang Nenek malah menyalahkan Anaya yang egois sampai menuduh Anaya lah penyebab kematian Mama Anindita. Saham yang seharusnya milik Mama Anindita di rebut paksa oleh keluarga Bram hingga mereka hidup enak, membiarkan Anaya hidup menderita.

Setelah sampai di rumah orang tua Anaya, Mama Anindita menyambut Anaya dan Ridho dengan ramah. Mama Anindita malah tampak senang karena yang menikahi Anaya adalah Ridho, bukan Bram.

Namun ketika Anaya dan Ridho berjalan masuk ke ruang tamu, anggota keluarga yang lain sudah menunggunya disana. Wajah Mama Anindita pun tampak tak nyaman ketika melihat tatapan Ridho yang begitu bingung melihat semua orang menatapnya sebelah mata.

"Ridho, Dia ini adalah Nenek Anaya. Dan ini sepupunya Elis. Yang lain adalah Paman dan Bibi Anaya." Ucap Mama Anindita berusaha membuat Ridho tidak berpikir negatif, namun tanggapan keluarga begitu terang-terangan.

"Hanya seorang kurir, Anaya memang pandai memilih pasangan!"

"Aku pikir dia menikah dengan Bram, sang pujaan hatinya yang selama ini dia banggakan,"

"Masih untung bersama Bram daripada ini yang asal usulnya tidak jelas."

Ejekan satu per satu terngiang di telinga Anaya, tetapi anak itu masih santai seolah ejekan ini sebelumnya sudah pernah dia dengar di kehidupan lalu.

"Sebaiknya kita perjelas sekarang!" Kata Nenek Anaya membuat semua orang terdiam, Anaya dan Ridho pun di suruh duduk berhadapan dengan Neneknya.

"Aku tidak akan memberimu saham meski sepeser, tetapi kamu bisa mendapatkan saham dari saham Ibumu!" Ujar Nenek Anaya dengan dingin.

Mama Anindita ingin merespon, tetapi dia terdiam ketika melihat anaknya sendiri tersenyum tipis.

"Aku tidak butuh saham dari Nenek. Tetapi aku hanya ingin minta yang sudah menjadi hakku. Lokasi tanah yang pernah di beli ayahku atas nama perusahaan Nenek, tolong berikan padaku. Karena tanah itu di beli dari uang pribadi ayahku sendiri!" Ujar Anaya dengan jelas.

Semua orang langsung tertawa, termasuk Elis yang semakin merendahkan Anaya. Tak menyangka Anaya akan meminta hadiah pernikahannya adalah tanah kosong yang tidak berharga.

"Aku pikir kau bodoh awalnya, rupanya memang sangat bodoh, yaa!" Ucap Elis seketika.

Mama Anindita pun menegur Anaya karena tahu tanah itu tidak ada apa-apanya di bandingkan saham perusahaan. Tetapi Anaya keras kepala dan terus meminta tanah kosong itu membuat Mama Andinta hanya bisa pasrah.

Nenek Pun dengan cepat menyetujui karena dirinya merasa tidak rugi sedikit pun. Awalnya dia khawatir jika Anaya tetap teguh meminta saham, rupanya ke khawatirannya terlalu berlebihan.

Sementara di dalam hati, Anaya begitu senang setelah diberikan tanah kosong itu. Dia ingat jelas di kehidupan sebelumnya, tanah itu akan sangat berharga karena rupanya tanah itu sangat subur dan akan tumbuh apa saja yang di tanam disana. Terlebih Anaya memilih Ridho sebagai suami bukan karena tanpa rencana.

"Baiklah, besok aku akan datang ke perusahaan Nenek dan meminta sertifikat tanah itu. Aku dan suamiku berencana mengelolah tanah itu menjadi sebuah kebun kecil!" Jelas Anaya memberitahu sedikit rencananya. Namun lagi-lagi yang dia dapatkan hanyalah ejekan.

"Aduh, Anaya. Jika dipikir-pikir, kamu memang pantas hidup miskin deh. Otakmu sangat bodoh!" Ucap Elis.

"Karena itu aku lebih memilih Elis daripada dirinya, bahkan aku menganggap dia cucu yang memalukan!" Tambah Nenek Anaya sebelum bangkit lalu pergi.

Mereka tidak tahu saja, beberapa hari ke depan perkataan itu pantas di ajukan pada diri mereka sendiri. .

"Bodoh? Kita lihat saja siapa yang bodoh disini?!" Ucap Anaya dengan santai.

Setelah acara kumpul bersama keluarga telah selesai, Anaya mengantar Ridho ke kamarnya. Memperlihatkan barang-barangnya pada Ridho.

"Ini kan..."

"Aku masih menyimpang nya. Aku tidak mungkin membuangnya karena tahu kamu membuatnya dengan segenap hati!" Ucap Anaya mulai merayu.

"Aku pikir kau membuangnya waktu itu.." Ridho tampak tak percaya melihat lukisan yang di buatnya bersama Anaya sewaktu kecil masih ada di dalam kamar Anaya.

Setelah memastikan suasana hati Ridho senang, Anaya pun mulai membahas masa lalu Ridho yang menyimpan rahasia. Di kehidupan sebelumnya, Anaya heran karena tidak pernah melihat Ridho lagi. Dan ketika Anaya mencarinya, dia mendengar kebar jika Ridho ada di luar negeri saat itu. Padahal jelas Anaya tahu, Ridho selama ini hidup susah dan dianggap miskin serta yatim. Tidak mungkin dia keluar negeri sendiri.

Tetapi penemuan Anaya membuat dirinya tercengang, rupanya Ridho di jemput oleh beberapa orang yang berpakaian lengkap dan jet pribadi atas nama Ridho sendiri.

Mengingat itu membuat Anaya sampai sekarang masih heran, apa Ridho punya identitas rahasia atau masih memiliki keluarga namun mengapa sampai di sembunyikan?

"Kau sama sekali tidak punya orang tua?" Tanya Anaya baik-baik, mencoba memperhatikan wajah Ridho yang seketika berubah.

"Aku anak yatim piatu, sejak kecil ditinggal orang tua. Kenapa kamu bertanya, bukannya kamu sudah tahu?" Tanya Ridho balik. Anaya langsung mencari alasan yang pas.

"Tentu saja, tetapi aku hanya ingin memastikan. Bagaimana pun, suami istri tidak boleh menyimpan rahasia kan?"

"Iya, aku tahu kok. Aku janji padamu istriku paling aku sayangi, tidak akan ada rahasia diantara kita!" Ujar Ridho sambil memberi kecupan pada Anaya.

"Tetapi ngomong-ngomong malam pertama kita sudah berlalu, bolehkan menambah malam pertama untuk kedua kalinya?"

Seketika wajah menggoda Ridho tampak jelas membuat Anaya jadi panik. Tetapi Ridho perlahan mulai bergerak dan langsung memeluk tubuh Anaya.

Seketika sentuhan demi sentuhan membuat Anaya terlena ke dalam kenikmatan surga. Sementara Ridho tidak membiarkan Anaya beristirahat, terus melancarkan aksinya hingga beberapa ronde.

Saat tubuh mereka berdua ambruk, setengah sadar Anaya mulai berbisik tepat di telinga Ridho. "Maaf karena membuatmu masuk ke dalam jebakanku. Sejujurnya aku ingin mengubah takdirku sendiri. Satu-satunya yang bisa membantuku adalah dirimu. Tolong jangan menghilang lagi, Ridho." Kata yang pelan namun menyimpan sejuta makna. Samar-samar Ridho mendengarnya, tetapi dia tidak bisa merespon dan langsung tertidur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Daun Singkong
Ridho adalah anak CEO dan pewaris tunggal perusahaan besar, nenek aja yang belom tau ya
goodnovel comment avatar
Shi Shan Noorah
gak papa tiap hari malam pertama ya, Ridho.... bebas buat paksu, mah!
goodnovel comment avatar
Imamah Nur
Enak ya kalau bisa mengubah takdir begini?... Enggak apa-apa Anaya, yang penting kamu setia sama Ridho.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   15.

    “Kamu yakin mau pasang CCTV di sini?” tanya Ridho sambil mengangkat satu kamera kecil.Anaya mengangguk mantap. “Aku tidak mau menebak-nebak lagi. Bibit stroberi itu mati bukan karena cuaca.”Ridho terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Aku juga merasa aneh. Tanahnya bagus, pupuknya tepat. Tidak masuk akal semuanya busuk sekaligus.”Mereka memasang kamera di beberapa sudut kebun, dekat sumber air, di balik pohon kecil, dan menghadap langsung ke bedengan stroberi. Anaya berdiri memperhatikan layar kecil di ponselnya saat Ridho mengatur sudut pandang.“Kalau memang ada yang sengaja merusak,” kata Anaya pelan, “aku ingin melihat wajahnya.”Ridho menoleh. “Apa kamu siap?”Anaya menatap kebun itu lama. “Aku sudah terlalu lama tidak siap. Sekarang aku hanya ingin kebenaran.”Setelah semuanya terpasang, mereka mulai menanam bibit stroberi yang baru. Ridho menggali lubang kecil, Anaya menata akar dengan hati-hati, jemarinya kotor tanah namun gerakannya lembut.“Kamu selalu telaten,” ujar Ridh

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   14.

    “Sekarang,” ucap Anaya datar.Layar kembali menyala, bukan menampilkan Ridho.Bram mengerutkan kening. “Apa ini?” gumamnya.Foto-foto lama bermunculan. Seorang gadis muda dengan pakaian balet sederhana. Rambut diikat seadanya. Keringat membasahi pelipis. Di sudut foto tertera tanggal bertahun-tahun lalu.“Itu… Anaya?” bisik seorang tamu.Video berganti. Rekaman latihan balet di studio kecil. Gerakan yang rapi, kuat, dan penuh disiplin.Bram terdiam. “Tidak… itu bukan—”“Lanjutkan,” suara Anaya terdengar, tetap tenang.Dokumentasi lain muncul: sketsa tangan, lukisan setengah jadi, lalu lukisan balet yang sama—yang tadi dijadikan kado.Bram menoleh ke Fenny. “Kamu bilang… kamu yang melukis itu.”Fenny menelan ludah. “Bram, aku bisa jelaskan—”“Kapan?” potong Bram, suaranya meninggi. “Kapan kamu belajar melukis seperti itu?”Fenny gemetar. “Aku—aku terinspirasi—”“Terinspirasi?” Bram tertawa pendek, pahit. “Atau mencuri?”Ruangan sunyi. Kamera-kamera ponsel mulai terangkat.Anaya melangk

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   13.

    Langkah Anaya berhenti seketika ketika suara kecil terdengar dari belakangnya.“A–Apa?”Anaya menoleh cepat. Di belakangnya berdiri Fenny, mengenakan gaun putih berpayet yang berkilauan memantulkan cahaya lampu gedung. Wajahnya jelas menegang antara kaget, gugup, dan gengsi yang dipaksa tampil anggun.“Anaya? Kamu… datang ke sini?” Fenny bertanya sambil memegang pinggir gaunnya, seolah ragu apakah pandangan matanya benar.Anaya menegakkan bahunya. “Tentu saja. Bukankah kalian mengundangku?”Fenny menggigit bibir, tersenyum tipis namun penuh kemenangan. “Kupikir kamu… datang karena ingin bicara dengan Bram. Atau memohon supaya pernikahan ini tidak terjadi.” Nada suaranya tajam, seolah sedang menikmati dugaan itu.Anaya justru tersenyum kecil, senyum yang justru membuat Fenny tampak terintimidasi.“Tidak, Fen.” Anaya melangkah mendekat dua langkah. “Aku hanya ingin mengucapkan selamat.”Fenny tersentak. “S–Selamat?”“Ya.” Anaya mengangguk dalam. “Selamat karena akhirnya kamu mendapatkan

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   12.

    Anaya berjalan kecil di lorong rumahnya bersama Ridho sebelum matahari terbit, namun tanpa sengaja berpapasan dengan Bram dan Fenny yang melakukan hal sama. Awalnya Anaya tak peduli, terus berlari kecil sambil menggandeng tangan Ridho, namun Bram malah menariknya terlebih dulu."Anaya, kamu harus tahu jika aku masih mencintaimu. Soal kemarin, maaf aku tidak bisa memuaskan mu karena rupanya diriku langsung tertidur setelah melakukannya dengan Fenny!" Ujar Bram terang-terangan. Fenny pun langsung tersenyum sinis penuh bangga, menganggap dirinya di puji. Sementara Anaya malah merasa jijik, menarik tangannya agar tidak di sentuh erat oleh Bram."Menjijikkan!" Umpat Anaya yang sengaja memperbesar suaranya."Apa? Kau mengejek diriku?" Tanya Bram yang sedikit emosi. Matanya melotot tak percaya ke arah Anaya."Aku sudah memuaskannya kemarin, kau tidak perlu mengkhawatirkan istri orang!" Kata Ridho dengan suara di tekan."Istri? Aku tahu kalian hanya menikah tanpa dasar cinta. Anaya masih men

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   11. 21+

    "Kau sengaja merayu Bram karena tidak puas dengan suami mu kan? Siapa suruh memilih suami miskin?" Ujar Fenny yang dengan sengaja mengikuti Anaya ke kamar mandi.Anaya hanya tersenyum tipis, lalu merapikan rambutnya seolah tidak terpancing omongan Fenny. Jelas Anaya ingat apa yang terjadi sebentar lagi."Jika aku tidak salah, kamu akan memberiku obat tidur agar tubuhku bisa di nikmati lelaki brengsek kan?" Tanya Anaya dengan tenang.Wajah Fenny langsung berubah, dia menjadi bingung bagaimana Anaya bisa tahu rencananya."Kau pikir aku takut denganmu? Mungkin dulu pangkat mu lebih tinggi dariku karena kamu punya seorang nenek yang kaya raya. Tetapi akhir-akhir ini aku dengar Nenek Rani bangkrut total. Sekarang kau tidak ada apa-apanya di bandingkan diriku, Anaya!" Tegas Fenny penuh percaya diri.Anaya berbalik, langsung mendekati Fenny sambil berbisik tepat di samping telinga Fenny."Jangan sampai salah sasaran, Fenny. Aku tahu semua gerakan dirimu," Ungkap Anaya sebelum berjalan pergi

  • Obsesi Terpendam Sang Mantan   10. 21+

    "Sedikit demi sedikit, tidak ada yang akan sadar," Senyum tipis penuh kelicikan terpancar.Nenek Rani berdiri di dapur, sendirian. Wajahnya tampak letih namun matanya memancarkan sesuatu yang dingin dan gelap. Tangannya lincah mengaduk semangkuk sup hangat, lalu dari saku kecil apron kumalnya, ia mengeluarkan sebuah botol mungil berwarna cokelat keruh. Cairannya bening, hampir tak terdeteksi. Ia lalu meneteskan dua tetes saja. Kemudian tersenyum tipis.Anaya masuk ke kamar mamanya sambil membawa air hangat.“Mama… ayo makan dulu, ya,” ucapnya lembut.Mama Anindita tersenyum samar. “Mama… capek, Nay. Badan mama rasanya ringan… tapi sakit.”“Mama minum obat dulu. Dokter bilang Mama sehat kok, cuma kecapekan.”Mama Anindita menatap putrinya lemah. “Kalau hanya capek… kenapa Mama makin kurus begini?”Anaya tidak menjawab karena dia sendiri tidak mengerti. Tubuh Mama Anindita terus melemah, padahal hasil pemeriksaan selalu normal. Tidak ada penyakit serius. Tidak ada gangguan organ. Tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status