Masuk"Om, please jangan apa-apain aku!"
Begitulah teriakan Bianca ketika dua pengawal menyeretnya ke kamar megah yang akan menjadi saksi malam pahitnya, bukan malam indah selayaknya malam pengantin. "Om?" David mendengus. "Tak bisakah memanggilku Sayang seperti saat kau menyapa para tamuku?" sinisnya. Bianca memalingkan wajahnya. Jika saja ia tidak mendapatkan ancaman dari ibunya selepas pemberkatan tadi, mana mau ia bersandiwara dengan begitu manis di hadapan Tuan Arga dan para tamu asing itu. "Tutup dan tinggalkan kami berdua! Ini akan menjadi malam yang panjang dan pastinya ... tak akan bisa dia lupakan seumur hidup," titah David pada dua pengawalnya. "Baik, Tuan. Selamat menikmati," ucap salah satu pengawal itu yang membuat Bianca geram. 'Sialan, dia pikir aku makanan!' Pintu suite presiden di lantai teratas hotel itu menutup dengan bunyi klik yang terdengar seperti bunyi palu hakim menjatuhkan vonis. Bianca berdiri mematung di dekat pintu, jantungnya berdegup kencang seperti ingin melompat keluar. Kamar itu begitu luas, terlalu luas untuk hanya dua orang. Lampu-lampu kristal redup, menyorot marmer lantai yang mengilap. Balkon terbuka menyuguhkan pemandangan kota malam yang semestinya indah, namun bagi Bianca, semuanya tampak seperti kandang emas. Di tengah ruangan, sebuah tempat tidur king dengan kanopi putih berdiri seperti singgasana maut. David melepaskan jasnya tanpa menoleh. Gerakannya tenang namun membuat Bianca makin panik. Setiap gerakan pria itu membuatnya waspada. Bianca menelan ludah kuat-kuat. Ia benar-benar takut dan gugup. “A–aku butuh minum,” katanya gugup, melangkah menjauh. David tidak menjawab. Ia membuka kancing kemejanya satu per satu. “Aku… ehm, mau ke kamar mandi dulu. Bersihin make-up. Gaun ini juga pengap. A–ku—” “Stop!" Baru satu kata, namun tubuh Bianca langsung membeku. "Diam di tempatmu!" David akhirnya menoleh. Sorot matanya dingin, tenang, namun begitu misterius. Pria itu menatap Bianca seperti menilai seorang anak kecil yang sedang mencoba melarikan diri dari hukuman. “Kemarilah.” Bianca menggeleng spontan. Wajahnya panik. "Gak mau!" “Aku bilang kemari.” Nada itu tidak meninggi, tidak keras, tapi mengandung kekuatan yang menyeret. Bianca melangkah dengan kaki gemetar, layaknya seseorang yang mendekati tepi jurang. Ketika ia cukup dekat, David memegang dagunya, memaksanya mendongak. “Kau terlihat seperti kucing liar ketakutan,” ucapnya datar. “Padahal tadi sore kau masih bisa berani kabur.” Bianca menepis tangannya. “Berhenti bilang aku liar! Aku cuma, a–aku cuma belum siap dengan semua ini! Aku bahkan gak mau pernikahan ini!” David tidak tersinggung. Ia malah tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kuduk wanita itu merinding. “Siap tidak siap, kau tetap menikah denganku hari ini.” “Karena aku dipaksa!” “Kau tidak punya pilihan,” David menyahut tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bianca mengepalkan tangan. “Aku bukan barang. Kalian tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Pernikahan Ini tidak sah!" David mencondongkan tubuh, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Bianca. "Tidak sah? Hahha... Katakan itu di depan pendeta dan di depan orang tuamu. Mereka begitu bangga karena kau telah menyelamatkan perusahaan keluargamu. Kau tahu ... Tidak ada yang gratis di dunia ini!" Bianca membuang pandangannya, mendengus dengan mata berkaca. Sakit rasanya, ia harus menanggung beban atas masalah perusahaan keluarganya. Rasanya ini tak adil. “Malam ini,” katanya pelan namun menghantam, “kau adalah milikku. Dan aku tidak suka diulang-ulang soal apa yang tidak kau mau. Yang penting adalah apa yang kuinginkan.” Bianca mundur tapi David menangkap pergelangan tangannya. Pegangannya begitu kuat hingga Bianca meringis kesakitan. “Kau pikir aku akan berperilaku manis meski kau istriku, heum?” David menyeletuk sinis. “Buang ilusi itu. Aku bukan pria baik.” “Ya, aku tahu kau bukan pria baik!” Bianca membalas ketus dengan suara bergetar. “Itulah sebabnya aku tidak sudi dengan pernikahan ini. Kau bahkan bukan manusia, kau iblis!" David menariknya tiba-tiba hingga tubuh Bianca menabrak dadanya. Nafasnya terkesiap. Namun pria itu tidak memeluknya. Ia hanya menatapnya dari atas, seperti singa yang menundukkan mangsanya. “Kalau aku bukan manusia,” ujarnya dingin, “maka berhentilah berharap aku memperlakukanmu seperti manusia. Kelinci kecil, kau harus memuaskanku malam ini!" Bianca menahan napas. Dadanya naik turun cepat. Tangannya mengepal, amarah membuncah dalam dirinya. "Jangan pernah berpikir aku akan tunduk hanya karena kau telah menyelamatkan perusahaan keluargaku!" David tersenyum sinis lalu menarik dagunya lagi, lebih keras dari sebelumnya. "Oh ya? Berani juga kau rupanya! Aahh, aku suka dengan tantangan," ucapnya pelan, namun menakutkan. David kemudian melepaskannya, namun bukan karena iba. Melainkan karena ia berbalik menuju minibar, mengambil segelas wine. Pria itu meneguknya setengah tanpa ekspresi, lalu kembali menatap Bianca dengan sorot tajam. “Lepas gaunmu,” ucap David begitu tenang, seolah meminta seseorang mematikan lampu. Bianca tersentak. “Apa?! Tidak! Aku tidak mau!” “Aku tidak akan mengulang perintah.” “Tidak peduli kau ulang atau tidak, aku—” David meletakkan gelasnya dengan bunyi tak! yang keras. Bianca tersentak mundur dua langkah. Pria itu mendekat lagi, lambat namun mengancam. “Baik,” ucapnya lirih. “Kalau kau tidak mau melepasnya sendiri, aku bisa melakukannya untukmu.” Bianca membeku, wajahnya memucat, keringat mengalir di dahinya, ruangan itu dingin tapi Bianca merasa panas. Lututnya terasa lemas. “Kau tidak boleh menyentuhku!” pekik Bianca, memeluk tubuhnya sendiri. David berhenti tepat di depannya. "Kenapa tidak? Aku telah membelimu." Ia mengangkat tangan, dan Bianca refleks mundur sampai punggungnya menempel di dinding. Napasnya tersengal. "Aku tidak suka menunggu.” Bianca memalingkan wajah, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku benci kau…” bisiknya lirih. David menyeringai tipis. “Kebencianmu tidak mengubah apa pun." Ia meraih lengan Bianca dan menariknya dari dinding. "Aku tidak akan menyakitimu, selama kau tidak melawan,” suaranya datar, tanpa emosi. Ia menyentuh pipi Bianca perlahan, lembut namun tetap membuat Bianca merinding ketakutan. “Lepaskan gaunmu, atau aku yang melakukannya.” Bianca menggigit bibir keras-keras, tubuhnya bergetar hebat. Nafas David, sorot matanya, semuanya terasa seperti perangkap yang menutup. Ia masih berdiri menunggunya, tanpa kesabaran, tanpa belas kasihan. Bianca menggelengkan kepalanya. Ia memohon, memelas dengan air mata yang kini mengalir deras. Namun wanita itu tidak tahu jika David bukanlah pria yang bisa dinegosiasi. Apa yang dia inginkan harus dia dapatkan. Dan air mata itu, tak ada artinya apa-apa untuk CEO berhati dingin itu. "A–aku mohon, Tuan. Jangan lakukan. Jangan sentuh ak–" Sreeekkkkkk. Belum sempat Bianca melanjutkan, satu tarikan kuat dari bagian dada, gaun itu ditarik hingga robek. Gaun mahal seharga ratusan juta seolah tak ada artinya di mata David Angkasa Bagaskara. *** Bersambung…Pagi itu rumah terasa berbeda. Lebih ramai. Tapi tidak hangat. Mungkin karena para penghuni sementara yang sejujurnya membuat kedua belah pihak tak nyaman. Bianca yang tidak suka dengan kehadiran Veronica, pun dengan David yang tak suka dengan kehadiran Arjuna, sepupunya sendiri. Bianca sedang berada di taman belakang bersama Arjuna. Pria itu duduk santai di bangku kayu, lengan bersandar di sandaran, sementara Bianca berdiri memegang segelas jus jeruk. “Aku baru tahu,” ucap Arjuna sambil menatap langit, “kau suka tanaman bunga.” Bianca mengangkat bahu. “Lebih tepatnya… aku suka sesuatu yang bisa tumbuh kalau dirawat. Di rumahku, ada taman mawar. Mama selalu merawatnya," ucapnya sambil tersenyum. "Ah, jadi kangen rumah." Arjuna menoleh padanya, tersenyum tipis. "David tidak pernah mengajakmu pulang? Bukankah Nyonya Rachel sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Arjuna, sedikit banyak tahu tentang Bianca dari keluarganya. Termasuk tentang ibunya Bianca yang kini sudah semakin memb
David berdiri kaku beberapa detik setelah Tuan Agra menyampaikan keputusan final. Wajahnya datar, tapi Bianca yang kini sudah cukup mengenalnya, bisa melihat jelas rahang pria itu mengeras, urat di pelipisnya menegang. “Baik, Kek,” ucap David akhirnya, suaranya rendah dan tertahan. “Dia boleh tinggal disini selama proyek kita masih berjalan." “Bagus,” jawab Tuan Agra singkat. “Aku percaya kau cukup dewasa untuk menempatkan keluarga di atas ego.”Ego? Bianca mengerutkan keningnya, ego apa yang pria tua itu maksud? Apakah sebelumnya hubungan David dengan sepupunya itu memang kurang baik?Suasana cukup tegang, hingga akhirnya muncul Veronica yang sudah sangat rapi dengan setelan yang cukup formal namun tetap stylish."Hallo, Opa Agra. How are you?"Tuan Agra mengerutkan keningnya, cukup terkejut melihat wanita yang tak asing baginya itu. "Veronica? Oh ya ampun, kapan datang?"Bianca yang awalnya tersenyum miring dan punya kesempatan untuk mengadukan kelakuan David pada kakeknya, dibu
Bianca melangkah ke ruang makan dengan perasaan yang campur aduk. Satu sisi masih gengsi dan kesal dengan sikap David, namun sisi lain ia puas jika melihat yang menggatal itu kepanasan."Semoga aja si ulat bulu itu cepat pergi deh. Gue sih gak masalah juga CEO kulkas itu mau sama siapa, tapi gak dibawa ke rumah juga kelezz," batinnya. Ia duduk kemudian menatap sajian lezat disana. "Wah, enak nih! semoga saja bukan buatan model sok kece itu.""Ehmmm..." Suara dehaman itu datang dari arah tangga. Bianca refleks mendongak. David berdiri di sana, rapi dengan setelan abu-abu gelap. Rambutnya tersisir sempurna, wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang biasa. Tidak ada jejak pria semalam. "Eh, Mas. Mau sarapan?" tanyanya basa-basi. David menatapnya beberapa detik. Tatapan itu misterius, sedikit menyebalkan. “Aku langsung berangkat," jawabnya datar. Bianca mendelik sebal seraya menahan napas saat David melewatinya. Aroma parfumnya singgah sebentar, cukup untuk membuat jantungnya berd
David berdiri terlalu dekat. Jarak mereka hanya sehela napas, dan Bianca bisa merasakan ketegangan yang terpancar dari tubuh pria itu. Bukan amarah yang meledak, melainkan tekanan dingin yang justru lebih menakutkan.Pria itu menunggu Bianca mengatakan sesuatu. Ia ingin tahu apa reaksinya? Akankah menolak, membentak atau setidaknya marah?Namun Bianca tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri di sana, dengan dada naik turun, tatapannya bertabrakan dengan mata David yang gelap dan sulit dibaca. Ada sesuatu dalam diri pria itu yang malam ini terasa berbeda. Dan ia lelah untuk berdebat. Karena mau seperti apapun, ia tetap akan kalah.Dan ketika akhirnya David bergerak, Bianca tidak melawan. Bukan karena ia ingin. Bukan pula karena ia sepenuhnya pasrah. Tubuh dan otaknya saling bertabrakan. Logikanya membenci, namun tubuhnya merespon lain. Seolah sentuhan dan ciuman David telah menghipnotisnya.Untuk beberapa saat, Bianca hanya diam. Keheningan itulah yang membuat sudut bibir David terang
Langkah kaki David terdengar semakin jauh. Pintu rumah tertutup dengan bunyi pelan, namun bagi Bianca, suara itu terdengar seperti dentuman keras di dadanya."Ish, dasar aneh! udah capek-capek masak juga! Cicipi kek minimal," gumamnya. Bianca berdiri kaku di ruang makan, menatap kursi kosong yang baru saja ditinggalkan suaminya. Veronica mengambil tas kecilnya dengan santai, seolah kejadian barusan hanyalah rutinitas pagi yang biasa. “Jangan terlalu dipikirkan,” katanya ringan sambil tersenyum. “David memang begitu." Bianca menoleh tajam. “Kau sepertinya sangat mengenalnya.” Veronica mengangkat bahu. “Aku mengenalnya jauh sebelum kau ada di hidupnya.” Kalimat itu menancap tepat sasaran. Seharusnya tidak masalah bagi seseorang yang tidak memiliki rasa suka pada suaminya. Namun entah mengapa, Bianca merasa semakin jengkel. Bianca tersenyum miring. “Oh gitu. Kau mungkin saja tahu banyak tentang Mas Dav. Tapi sayangnya, kau hanya masa lalu, Nona." Veronica menatapnya bebe
Bianca mengunyah roti tawar itu tanpa benar-benar merasakan rasanya. Rahangnya bekerja cepat, seolah ingin melampiaskan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Suara dari ruang tamu samar terdengar, tawa ringan Veronica, rendah dan feminin, terlalu akrab untuk tamu yang baru datang. Ia meneguk air putih, lalu meletakkan gelas dengan sedikit lebih keras dari seharusnya. Menyebalkan. Bianca menarik napas panjang dan melangkah keluar dapur. Ia tidak akan bersembunyi di rumahnya sendiri, uups rumah suami maksudnya. Begitu kembali ke ruang tamu, pemandangan itu kembali menyambutnya. David duduk tegak, satu kaki menyilang, ekspresinya tetap dingin. Sementara Veronica… terlalu santai. Wanita itu kini bersandar di sofa, seolah sudah menghafal setiap sudut ruangan. “Kau masih menyimpan lukisan itu?” tanya Veronica, menunjuk sebuah lukisan abstrak di dinding. David melirik sekilas. “Belum sempat menggantinya.” Veronica tersenyum puas. “Aku hadiahkan itu. kau lupa berapa lama aku membuatnya?







