MasukBianca terhenyak. Seluruh darahnya seperti ditarik ke bumi.
“Pe–pendeta…? Sekarang?” suaranya tercekat, tubuhnya mundur setengah langkah. Pengawal itu menambahkan, “Beliau sudah menunggu instruksi Anda, Tuan. Pemberkatan akan dilaksanakan di ballroom utama sesuai permintaan." Hening, berat dan rasanya mencekik. Bianca sendiri tidak menduga jika pernikahan ini resmi, tercatat oleh sipil. Ia pikir hanya pernikahan sederhana di gereja lalu pulang ke rumah. Karena yang ia tahu, dirinya hanya dijadikan alat oleh ayahnya agar pria yang mau dinikahkan dengannya itu menjadi investor di perusahaan keluarganya yang sedang collaps. David perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Bianca. Sorot matanya yang sejak tadi tajam kini berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih mengancam. “Bagus,” gumamnya pelan, suara rendah itu mengguncang dada Bianca. “Semua berjalan sesuai rencana.” Bianca menggeleng panik. “Tunggu! Aku—aku belum siap! Aku bahkan belum bilang apa pun! Aku gak mau menikah! Aku gak setuju! Gimana bisa pemberkatan dilakukan begitu saja?!” David mendekat dengan langkah perlahan, namun aura tekanannya terasa menghantam. “Untuk menikahimu, Nona Bianca,” bisiknya sambil mengangkat wajah gadis itu dengan ujung jarinya, “aku tidak memerlukan persetujuan." Bianca menepis tangannya. “Aku tetap tidak mau! Sekalipun pendetanya sudah datang, aku tetap bisa menolak di depan dia! Aku masih bisa—” Tangannya ditangkap David. Pria itu menatapnya dengan tajam, seketika membuat nyali gadis barbar yang hobinya party dan foya-foya itu menciut. “Cobalah,” desis David, wajahnya mendekat hingga napasnya menyentuh telinga Bianca. “Cobalah menolak di depan pendeta. Kita lihat … apa yang terjadi pada perusahaan keluargamu setelah itu.” Bianca membeku. Tubuhnya gemetar. Darahnya seolah mendidih, ia mengepalkan kedua tangannya, bahunya nampak naik turun menahan geram. Pengawal pertama masih menunggu perintah. “Panggi perias itu lagi, suruh rapikan makeup wanita itu!” ucap David akhirnya. “Kita akan segera turun ke ballroom.” “Baik, Tuan.” Bianca menatap pintu yang kembali tertutup. Rasanya seperti pintu penjara yang terkunci. Ia mencoba mengambil napas, tapi dadanya terasa sesak. “Aku gak mau…,” bisiknya parau. “Tolong… jangan paksa aku…” David menatapnya lama, dalam, seperti menilai apakah Bianca akan kabur lagi. Lalu ia menurunkan genggamannya di tangan Bianca, tapi tidak melepaskan. Sebaliknya, ia menggenggam lebih kuat. “Kau milikku mulai malam ini,” ucapnya tegas. Bianca ingin menjerit. Namun suaranya hilang. Cairan bening mengalir dari sudut matanya, tapi tak sedikit pun membuat CEO berwajah datar itu iba. --- Satu jam kemudian. Lampu-lampu koridor menyilaukan. Gaun berlapis Swarovski menyeret lantai. Bianca seperti boneka yang dipaksa melangkah. Bianca berjalan diapit oleh dua pengawal. Ia seperti seorang tawanan. "Menyebalkan, kenapa sih aku harus dikawal seperti ini? Aku gak akan kabur! Gak usah berlebihan!" Pekik Bianca, namun dari pengawal itu hanya diam, memasang wajah datar. Saat mereka mendekati lift menuju ballroom, Bianca melihat pantulan dirinya di permukaan logam pintu. Penampilan sempurna bagai seorang ratu, namun sayangnya ia hanya seorang budak di mata CEO kejam itu. Lift tertutup dengan bunyi cling, membawa mereka turun menuju upacara yang tak bisa ia hindari. “Silahkan, Nona Bianca.” Bianca mematung saat dua pengawal membuka dua daun pintu ballroom yang tinggi dan berat. Cahaya kristal chandelier langsung menyilaukan matanya. Aroma bunga segar antara mawar putih dan lily terasa menyengat indra penciumannya. Ballroom hotel bintang lima itu telah disulap menyerupai gereja megah dalam semalam. Bianca hampir tak percaya dengan pemandangan di depannya. Meja-meja bundar penuh tamu undangan. Gaun-gaun glamor. Setelan jas mewah. Bisik-bisik penasaran. Ratusan pasang mata menoleh ke arah pintu saat ia muncul. Setiap langkahnya terasa seperti hukuman mati perlahan. Dan Bianca makin terkejut ketika menyadari bahwa ia tidak mengenal satu pun tamu undangan itu. Tidak ada teman. Tidak ada keluarga besar. Ini bukan pernikahan impiannya meski diadakan dengan sangat megah. Semua orang terlihat asing. Kecuali dua wajah. Tuan Damian dan Nyonya Laurent, kedua orang tuanya yang duduk di barisan depan. Mereka tersenyum bangga. Senyum yang begitu rapi, begitu palsu hingga Bianca ingin muntah. “Mereka benar-benar menjualku.” bibir Bianca bergetar. Make-up yang baru saja di-touch up oleh tim MUA terasa mencolok. Ia menjadi pusat perhatian banyak orang karena kecantikannya. Sementara di sisi panggung, David berdiri dengan setelan hitam elegan. Auranya tetap dingin dan mengintimidasi. Tatapannya terkunci padanya seperti perangkap besi. Namun bukan hanya David yang membuat Bianca tercekat. Di sudut kiri panggung, duduk seorang pria tua dengan tongkat ukiran emas. Sorot matanya tajam, seperti mata elang. Dialah laki-laki tua yang selama ini hanya muncul dalam rumor korporat. Tuan Agra Bagaskara. Kakek David Angkasa Bagaskara. Pemilik kerajaan bisnis Angkasa Metropolitan Corp. Orang yang paling berpengaruh dan disegani para pengusaha elite. "Bersikaplah yang sopan dan tersenyumlah, Nona. Beliau adalah Tuan Arga, kakek dari Tuan David," bisik salah satu pengawal. Bianca merinding. 'Oh Tuhan… ini bukan acara pernikahan, ini transaksi bisnis berskala negara.' Pendeta Mike berdiri di tengah altar yang didirikan di panggung ballroom, tersenyum ramah, senyum polos dari orang yang tidak tahu bahwa semua ini adalah paksaan. Musik lembut mulai terdengar dari grand piano. Pengiring mempersilakan Bianca melangkah. “Silakan, Nona. Semua orang menunggu.” Bianca mengangkat roknya. Tangannya gemetar. “Tersenyumlah,” salah satu pengawal menunduk di telinganya. “Jangan buat Tuan marah." Bianca memaksakan bibirnya membentuk senyum. Senyum yang terasa seperti retakan kaca pada wajahnya. Ia berjalan dengan langkah kecil, menyadari bahwa ratusan mata asing itu memperhatikan setiap geraknya. 'Apa kalian semua ikut menikmati pemaksaan ini?' batinnya. Ketika melewati barisan depan, Nyonya Laurent meliriknya penuh kebanggaan. “Tersenyumlah lebih cantik, sayang,” bisiknya lirih. “Jangan memalukan keluarga.” Ekor mata Bianca melirik ibunya dengan tajam. Ingin rasanya mengumpat, namun David menunggu di ujung altar dengan tatapan yang tidak bisa ditolak. Ketika Bianca naik ke panggung, Pendeta Mike tersenyum hangat. “Selamat malam, Tuan David, Nona Bianca. Kita berkumpul di tempat ini untuk sebuah pernikahan yang indah dan dirahmati Tuhan." 'Indah?' Bianca hampir tertawa sumbang. Rasanya ingin muntah. Sementara itu, Tuan Agra Bagaskara mengetuk lantai dengan tongkat emasnya. Tok. Tok. Suara itu bergema, membuat semua orang otomatis diam. Pria tua itu berbicara tanpa mikrofon, namun suaranya menggema. “Perhatikan baik-baik,” ucapnya, menatap semua tamu. “Ini adalah pernikahan penerus keluarga Bagaskara. Nona Bianca-putri dari Damian akan menjadi bagian dari Angkasa Metropolitan Corp," ucapnya dingin, penuh wibawa. Semua orang bertepuk tangan, tatapan mereka tertuju pada Damian yang kini berdiri lalu memberi salam hormat. Senyumnya nampak lebar, sepertinya puas karena telah menjual putrinya sendiri demi ambisinya. Dada Bianca bergemuruh, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti permainan ini. Pendeta Mike tertegun sejenak, lalu melanjutkan liturgi. "Baiklah… mari kita mulai.” Bianca menunduk. Tangannya dingin. Perutnya terasa mual. Dan saat pendeta baru saja akan memulai membaca kalimat pembuka pemberkatan, Bianca menelan ludah keras-keras ketika David berbisik di telinganya. "Lihatlah orang tuamu, mereka begitu bahagia. Mulai sekarang kau milikku. Apa yang keluar dari mulutku adalah perintah, dan kau harus patuh jika ingin hidupmu tenang!" *** Bersambung ...Pagi itu rumah terasa berbeda. Lebih ramai. Tapi tidak hangat. Mungkin karena para penghuni sementara yang sejujurnya membuat kedua belah pihak tak nyaman. Bianca yang tidak suka dengan kehadiran Veronica, pun dengan David yang tak suka dengan kehadiran Arjuna, sepupunya sendiri. Bianca sedang berada di taman belakang bersama Arjuna. Pria itu duduk santai di bangku kayu, lengan bersandar di sandaran, sementara Bianca berdiri memegang segelas jus jeruk. “Aku baru tahu,” ucap Arjuna sambil menatap langit, “kau suka tanaman bunga.” Bianca mengangkat bahu. “Lebih tepatnya… aku suka sesuatu yang bisa tumbuh kalau dirawat. Di rumahku, ada taman mawar. Mama selalu merawatnya," ucapnya sambil tersenyum. "Ah, jadi kangen rumah." Arjuna menoleh padanya, tersenyum tipis. "David tidak pernah mengajakmu pulang? Bukankah Nyonya Rachel sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Arjuna, sedikit banyak tahu tentang Bianca dari keluarganya. Termasuk tentang ibunya Bianca yang kini sudah semakin memb
David berdiri kaku beberapa detik setelah Tuan Agra menyampaikan keputusan final. Wajahnya datar, tapi Bianca yang kini sudah cukup mengenalnya, bisa melihat jelas rahang pria itu mengeras, urat di pelipisnya menegang. “Baik, Kek,” ucap David akhirnya, suaranya rendah dan tertahan. “Dia boleh tinggal disini selama proyek kita masih berjalan." “Bagus,” jawab Tuan Agra singkat. “Aku percaya kau cukup dewasa untuk menempatkan keluarga di atas ego.”Ego? Bianca mengerutkan keningnya, ego apa yang pria tua itu maksud? Apakah sebelumnya hubungan David dengan sepupunya itu memang kurang baik?Suasana cukup tegang, hingga akhirnya muncul Veronica yang sudah sangat rapi dengan setelan yang cukup formal namun tetap stylish."Hallo, Opa Agra. How are you?"Tuan Agra mengerutkan keningnya, cukup terkejut melihat wanita yang tak asing baginya itu. "Veronica? Oh ya ampun, kapan datang?"Bianca yang awalnya tersenyum miring dan punya kesempatan untuk mengadukan kelakuan David pada kakeknya, dibu
Bianca melangkah ke ruang makan dengan perasaan yang campur aduk. Satu sisi masih gengsi dan kesal dengan sikap David, namun sisi lain ia puas jika melihat yang menggatal itu kepanasan."Semoga aja si ulat bulu itu cepat pergi deh. Gue sih gak masalah juga CEO kulkas itu mau sama siapa, tapi gak dibawa ke rumah juga kelezz," batinnya. Ia duduk kemudian menatap sajian lezat disana. "Wah, enak nih! semoga saja bukan buatan model sok kece itu.""Ehmmm..." Suara dehaman itu datang dari arah tangga. Bianca refleks mendongak. David berdiri di sana, rapi dengan setelan abu-abu gelap. Rambutnya tersisir sempurna, wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang biasa. Tidak ada jejak pria semalam. "Eh, Mas. Mau sarapan?" tanyanya basa-basi. David menatapnya beberapa detik. Tatapan itu misterius, sedikit menyebalkan. “Aku langsung berangkat," jawabnya datar. Bianca mendelik sebal seraya menahan napas saat David melewatinya. Aroma parfumnya singgah sebentar, cukup untuk membuat jantungnya berd
David berdiri terlalu dekat. Jarak mereka hanya sehela napas, dan Bianca bisa merasakan ketegangan yang terpancar dari tubuh pria itu. Bukan amarah yang meledak, melainkan tekanan dingin yang justru lebih menakutkan.Pria itu menunggu Bianca mengatakan sesuatu. Ia ingin tahu apa reaksinya? Akankah menolak, membentak atau setidaknya marah?Namun Bianca tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri di sana, dengan dada naik turun, tatapannya bertabrakan dengan mata David yang gelap dan sulit dibaca. Ada sesuatu dalam diri pria itu yang malam ini terasa berbeda. Dan ia lelah untuk berdebat. Karena mau seperti apapun, ia tetap akan kalah.Dan ketika akhirnya David bergerak, Bianca tidak melawan. Bukan karena ia ingin. Bukan pula karena ia sepenuhnya pasrah. Tubuh dan otaknya saling bertabrakan. Logikanya membenci, namun tubuhnya merespon lain. Seolah sentuhan dan ciuman David telah menghipnotisnya.Untuk beberapa saat, Bianca hanya diam. Keheningan itulah yang membuat sudut bibir David terang
Langkah kaki David terdengar semakin jauh. Pintu rumah tertutup dengan bunyi pelan, namun bagi Bianca, suara itu terdengar seperti dentuman keras di dadanya."Ish, dasar aneh! udah capek-capek masak juga! Cicipi kek minimal," gumamnya. Bianca berdiri kaku di ruang makan, menatap kursi kosong yang baru saja ditinggalkan suaminya. Veronica mengambil tas kecilnya dengan santai, seolah kejadian barusan hanyalah rutinitas pagi yang biasa. “Jangan terlalu dipikirkan,” katanya ringan sambil tersenyum. “David memang begitu." Bianca menoleh tajam. “Kau sepertinya sangat mengenalnya.” Veronica mengangkat bahu. “Aku mengenalnya jauh sebelum kau ada di hidupnya.” Kalimat itu menancap tepat sasaran. Seharusnya tidak masalah bagi seseorang yang tidak memiliki rasa suka pada suaminya. Namun entah mengapa, Bianca merasa semakin jengkel. Bianca tersenyum miring. “Oh gitu. Kau mungkin saja tahu banyak tentang Mas Dav. Tapi sayangnya, kau hanya masa lalu, Nona." Veronica menatapnya bebe
Bianca mengunyah roti tawar itu tanpa benar-benar merasakan rasanya. Rahangnya bekerja cepat, seolah ingin melampiaskan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Suara dari ruang tamu samar terdengar, tawa ringan Veronica, rendah dan feminin, terlalu akrab untuk tamu yang baru datang. Ia meneguk air putih, lalu meletakkan gelas dengan sedikit lebih keras dari seharusnya. Menyebalkan. Bianca menarik napas panjang dan melangkah keluar dapur. Ia tidak akan bersembunyi di rumahnya sendiri, uups rumah suami maksudnya. Begitu kembali ke ruang tamu, pemandangan itu kembali menyambutnya. David duduk tegak, satu kaki menyilang, ekspresinya tetap dingin. Sementara Veronica… terlalu santai. Wanita itu kini bersandar di sofa, seolah sudah menghafal setiap sudut ruangan. “Kau masih menyimpan lukisan itu?” tanya Veronica, menunjuk sebuah lukisan abstrak di dinding. David melirik sekilas. “Belum sempat menggantinya.” Veronica tersenyum puas. “Aku hadiahkan itu. kau lupa berapa lama aku membuatnya?







