LOGINLangit siang itu masih kelabu saat prosesi pemakaman Damian Mahendra mencapai puncaknya. Keluarga besar Bianca pun hadir disana, namun bagi Bianca, semua itu terasa asing. Ia menyadari jika kedatangan mereka bukan benar-benar karena belasungkawa, namun karena bisnis keluarga yang sedang berada di ambang kehancuran. Dan hanya Bianca lah yang bisa menyelamatkan itu semua.
Wanita itu tahu, keluarga besarnya bermuka dua. Dan sialnya, ia yang harus menanggung beban ini. Apalagi setelah ini, Ia lah yang akan menjadi penerus perusahaan itu. Proses pemakaman berjalan dengan lancar meskipun diiringi dengan tangisan buaya dari saudara-saudara dari ayahnya itu. "Seharusnya ini tidak terjadi padamu, Damian. Oh Tuhan... sungguh malang nasib adikku," ucap seorang wanita tua berambut kemerahan dengan tangisan histeris. Dia adalah Nyonya Ester, Kakak dari Damian. David Angkasa Bagaskara berdiri tak jauh dari liang lahat, mengenakan setelan hitam tanpa satu pun aksesori berlebihan. Kacamata hitam bertengger kokoh di wajahnya, menyembunyikan sorot mata elang yang selalu sulit ditebak. Sejak awal hingga akhir prosesi, tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia hanya berdiri diam dan tegak. Seolah kematian ayah mertuanya hanyalah satu agenda lain dalam hidup yang penuh jadwal dan kalkulasi. Bianca berdiri di sampingnya, tubuhnya terasa kosong. Tangannya dingin, jantungnya berdetak tanpa irama. Bahkan saat tanah terakhir ditaburkan, ia tak mampu menangis. Air matanya seakan sudah mengering bersama harapan-harapan yang terkubur hari itu. David tetap di sana sampai semua selesai. Tidak menenangkan. Tidak pula menggenggam tangannya. Hari itu juga, seusai pemakaman, Bianca langsung menuju rumah sakit. Ia bahkan tak pamit pada pria yang telah menjadi suaminya itu. Wanita itu bahkan ke rumah sakit diantar oleh temannya. Keluarganya...? Entahlah, ia tak peduli? Yang Bianca pikirkan saat ini hanyalah ibunya. Sungguh miris, tak ada satupun dari saudara ayahnya yang bertanya keadaan ibunya itu? Hal itulah yang membuat Bianca tidak pernah merasa respect pada mereka. Sesampainya di rumah sakit, Bianca langsung memeluk ibunya yang belum sadarkan diri. Ia menangis lirih, meluapkan perasaan sedih dan terpuruk atas hidupnya yang malang ini. Bianca Cassandra, wanita yang bahkan dijuluki Queen of party itu, kini benar-benar sendiri, ia merasa sedang berada di dalam titik terendah dalam hidupnya. Ia menghabiskan waktu di sana. Duduk di sisi ranjang ibunya. Menggenggam tangan yang dingin dan rapuh itu seharian penuh. Menatap wajah pucat yang masih terhubung dengan berbagai alat medis. "Ma, bangunlah! Aku mohon," lirihnya seraya mencium punggung tangan ibunya itu. --- Dua hari kemudian, keajaiban kecil itu terjadi. Kelopak mata Nyonya Cintya Laurent bergerak pelan. Bianca yang tengah tertidur di kursi langsung terbangun saat jemari ibunya bergerak lemah. Napasnya tercekat, air mata mengalir begitu saja ketika mata itu akhirnya terbuka. “Mama…” suaranya gemetar. “Mama dengar aku?” Nyonya Cintya tersenyum tipis. Wajahnya tampak sangat rapuh, pucat pasi. Sangat jauh dari kesehariannya yang glamor itu. Dokter memastikan kondisi vitalnya stabil. Siang itu, Cintya dipindahkan ke ruang rawat inap VIP—semua fasilitas terbaik, semua biaya ditanggung penuh oleh keluarga Bagaskara. Keesokan sore, saat ruangan mulai sepi, Cintya menggenggam tangan Bianca dengan sisa tenaga yang ia miliki. “Kamu harus bisa mengambil hati suamimu, Bi,” ucapnya lirih. “Hanya kamu harapan mama satu-satunya. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluarga kita.” Bianca terdiam. Dadanya sesak. Kata-kata itu terasa seperti pisau yang kembali menusuk luka yang bahkan belum sempat mengering. “Kenapa harus peduli pada keluarga besar yang bahkan tidak peduli pada mama? Aku masih bimbang untuk melanjutkan ini semua. Dia kejam, Ma,” sahutnya pelan. “Aku tidak mencintainya.” Cintya menghela napas panjang. "Terkadang kita memang harus berkorban, Nak. Bagaimanapun sifat keluarga papamu, tapi kita harus membuat nama Papa harum dengan menyelamatkan perusahaan ini." "Soal David, Kalian baru saja kenal. Masih butuh waktu. Cobalah… mungkin dia tidak sekejam yang orang bilang. Bagaimanapun, dia suami kamu sekarang.” Ia menatap Bianca penuh harap. “Pulanglah, Bi. Kamu sudah berhari-hari meninggalkannya. Kalian pengantin baru.” Air mata Bianca kembali jatuh. “Aku takut, Mah.” “Kamu pasti bisa, Sayang,” balas ibunya lemah. “Tolong… demi mama.” Bianca terdiam lama. Bibirnya bergetar. “Tapi aku bahkan tidak tahu di mana rumahnya. A–aku…” Kalimatnya terpotong saat pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka. Dua pria berjas hitam masuk dengan langkah terukur. Salah satunya langsung dikenali Bianca, wajah yang sama dari malam ia mencoba melarikan diri dari pernikahan itu. “Mohon maaf mengganggu,” ucap pria itu datar. “Saya kemari untuk menjemput Nona Bianca.” Tak ada empati. Tak ada basa-basi. Seolah Bianca hanyalah objek yang harus diambil dan dibawa. Wajah Bianca memucat. Namun ibunya menatapnya lembut. “Pergilah, Bi. Mama akan baik-baik saja.” "Ta–tapi, Ma..." Bianca ragu, namun ibunya terus membujuk. Dengan langkah berat, Bianca akhirnya menurut. Ia mencium kening sang ibu sebelum akhirnya mengikuti dua pengawal menyebalkan yang salah satunya pernah Bianca lempar menggunakan high heelsnya yang ujungnya lancip itu. Mobil melaju membelah kota. Bianca menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya kacau. Namun demi ibunya, apapun akan ia lakukan. Meskipun itu harus bersikap manis, jika harus berpura-pura dan jika harus menelan muak dan rasa takutnya sendiri pada laki-laki kejam dan bengis bernama David itu. Meski hatinya masih tertinggal pada Rendi. Meski setiap detik terasa seperti pengkhianatan pada dirinya sendiri. Namun ia akan berusaha untuk menyenangkan pria itu demi uang. Walaupun ia harus menyingkirkan rasa bencinya pada laki-laki arogan itu. Mobil akhirnya berhenti di sebuah kawasan elit. Gerbang besi besar terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah rumah megah bernuansa putih yang lebih pantas disebut istana. Pilar-pilar tinggi menjulang anggun. Air mancur besar di halaman depan memercikkan air jernih yang berkilau di bawah cahaya sore. Semuanya tampak dingin. Bianca dibawa masuk. Beberapa pengawal wanita menyambutnya, langsung mengarahkannya ke lantai atas. “Silahkan menuju kamar utama, Nona," ucap salah satu dari mereka singkat. Pintu besar terbuka. Bianca terpana. Kamar itu luas, didominasi warna putih dan abu-abu. Jendela kaca besar menghadap taman belakang. Aura maskulin dan dingin terasa begitu kuat. Pintu ditutup kembali oleh dua pelayan itu. Di depan kaca besar, seorang pria berdiri membelakangi. Jantung Bianca berdegup kencang. Ingatan tentang malam sebelum kecelakaan itu kembali menghantam. Tatapan tajam, nada memerintah, paksaan dan sikapnya yang kasar, membuat tubuhnya gemetar hingga kini. Bianca berdeham, mencoba mengumpulkan keberanian. “Om… eh, maksudnya—” Belum selesai. David berbalik, menatapnya tanpa ekspresi. Suasana hening, menegangkan. Hingga Bianca dibuat terheran saat pria itu tiba-tiba melemparkan selembar kertas ke arah Bianca. Kertas itu jatuh di lantai, tepat di depan kakinya. “A–apa ini?” Bianca memungutnya dengan gugup. Matanya membaca cepat. Surat pernyataan pembatalan perjanjian. Tentang investasi. Tentang pernikahan. Dan tentang rencana gugatan perceraian. “Itu pembatalan kesepakatan antara aku dan ayahmu,” ucap David dingin. “Ayahmu sudah mati. Dan kau… belum sempat aku apa-apakan. Jadi aku berhak membatalkannya.” Ia melangkah mendekat. “Aku akan menggugat cerai.” Degh. Bianca terhenyak. "A–apa?” *** Bersambung ...Pagi itu rumah terasa berbeda. Lebih ramai. Tapi tidak hangat. Mungkin karena para penghuni sementara yang sejujurnya membuat kedua belah pihak tak nyaman. Bianca yang tidak suka dengan kehadiran Veronica, pun dengan David yang tak suka dengan kehadiran Arjuna, sepupunya sendiri. Bianca sedang berada di taman belakang bersama Arjuna. Pria itu duduk santai di bangku kayu, lengan bersandar di sandaran, sementara Bianca berdiri memegang segelas jus jeruk. “Aku baru tahu,” ucap Arjuna sambil menatap langit, “kau suka tanaman bunga.” Bianca mengangkat bahu. “Lebih tepatnya… aku suka sesuatu yang bisa tumbuh kalau dirawat. Di rumahku, ada taman mawar. Mama selalu merawatnya," ucapnya sambil tersenyum. "Ah, jadi kangen rumah." Arjuna menoleh padanya, tersenyum tipis. "David tidak pernah mengajakmu pulang? Bukankah Nyonya Rachel sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Arjuna, sedikit banyak tahu tentang Bianca dari keluarganya. Termasuk tentang ibunya Bianca yang kini sudah semakin memb
David berdiri kaku beberapa detik setelah Tuan Agra menyampaikan keputusan final. Wajahnya datar, tapi Bianca yang kini sudah cukup mengenalnya, bisa melihat jelas rahang pria itu mengeras, urat di pelipisnya menegang. “Baik, Kek,” ucap David akhirnya, suaranya rendah dan tertahan. “Dia boleh tinggal disini selama proyek kita masih berjalan." “Bagus,” jawab Tuan Agra singkat. “Aku percaya kau cukup dewasa untuk menempatkan keluarga di atas ego.”Ego? Bianca mengerutkan keningnya, ego apa yang pria tua itu maksud? Apakah sebelumnya hubungan David dengan sepupunya itu memang kurang baik?Suasana cukup tegang, hingga akhirnya muncul Veronica yang sudah sangat rapi dengan setelan yang cukup formal namun tetap stylish."Hallo, Opa Agra. How are you?"Tuan Agra mengerutkan keningnya, cukup terkejut melihat wanita yang tak asing baginya itu. "Veronica? Oh ya ampun, kapan datang?"Bianca yang awalnya tersenyum miring dan punya kesempatan untuk mengadukan kelakuan David pada kakeknya, dibu
Bianca melangkah ke ruang makan dengan perasaan yang campur aduk. Satu sisi masih gengsi dan kesal dengan sikap David, namun sisi lain ia puas jika melihat yang menggatal itu kepanasan."Semoga aja si ulat bulu itu cepat pergi deh. Gue sih gak masalah juga CEO kulkas itu mau sama siapa, tapi gak dibawa ke rumah juga kelezz," batinnya. Ia duduk kemudian menatap sajian lezat disana. "Wah, enak nih! semoga saja bukan buatan model sok kece itu.""Ehmmm..." Suara dehaman itu datang dari arah tangga. Bianca refleks mendongak. David berdiri di sana, rapi dengan setelan abu-abu gelap. Rambutnya tersisir sempurna, wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang biasa. Tidak ada jejak pria semalam. "Eh, Mas. Mau sarapan?" tanyanya basa-basi. David menatapnya beberapa detik. Tatapan itu misterius, sedikit menyebalkan. “Aku langsung berangkat," jawabnya datar. Bianca mendelik sebal seraya menahan napas saat David melewatinya. Aroma parfumnya singgah sebentar, cukup untuk membuat jantungnya berd
David berdiri terlalu dekat. Jarak mereka hanya sehela napas, dan Bianca bisa merasakan ketegangan yang terpancar dari tubuh pria itu. Bukan amarah yang meledak, melainkan tekanan dingin yang justru lebih menakutkan.Pria itu menunggu Bianca mengatakan sesuatu. Ia ingin tahu apa reaksinya? Akankah menolak, membentak atau setidaknya marah?Namun Bianca tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri di sana, dengan dada naik turun, tatapannya bertabrakan dengan mata David yang gelap dan sulit dibaca. Ada sesuatu dalam diri pria itu yang malam ini terasa berbeda. Dan ia lelah untuk berdebat. Karena mau seperti apapun, ia tetap akan kalah.Dan ketika akhirnya David bergerak, Bianca tidak melawan. Bukan karena ia ingin. Bukan pula karena ia sepenuhnya pasrah. Tubuh dan otaknya saling bertabrakan. Logikanya membenci, namun tubuhnya merespon lain. Seolah sentuhan dan ciuman David telah menghipnotisnya.Untuk beberapa saat, Bianca hanya diam. Keheningan itulah yang membuat sudut bibir David terang
Langkah kaki David terdengar semakin jauh. Pintu rumah tertutup dengan bunyi pelan, namun bagi Bianca, suara itu terdengar seperti dentuman keras di dadanya."Ish, dasar aneh! udah capek-capek masak juga! Cicipi kek minimal," gumamnya. Bianca berdiri kaku di ruang makan, menatap kursi kosong yang baru saja ditinggalkan suaminya. Veronica mengambil tas kecilnya dengan santai, seolah kejadian barusan hanyalah rutinitas pagi yang biasa. “Jangan terlalu dipikirkan,” katanya ringan sambil tersenyum. “David memang begitu." Bianca menoleh tajam. “Kau sepertinya sangat mengenalnya.” Veronica mengangkat bahu. “Aku mengenalnya jauh sebelum kau ada di hidupnya.” Kalimat itu menancap tepat sasaran. Seharusnya tidak masalah bagi seseorang yang tidak memiliki rasa suka pada suaminya. Namun entah mengapa, Bianca merasa semakin jengkel. Bianca tersenyum miring. “Oh gitu. Kau mungkin saja tahu banyak tentang Mas Dav. Tapi sayangnya, kau hanya masa lalu, Nona." Veronica menatapnya bebe
Bianca mengunyah roti tawar itu tanpa benar-benar merasakan rasanya. Rahangnya bekerja cepat, seolah ingin melampiaskan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Suara dari ruang tamu samar terdengar, tawa ringan Veronica, rendah dan feminin, terlalu akrab untuk tamu yang baru datang. Ia meneguk air putih, lalu meletakkan gelas dengan sedikit lebih keras dari seharusnya. Menyebalkan. Bianca menarik napas panjang dan melangkah keluar dapur. Ia tidak akan bersembunyi di rumahnya sendiri, uups rumah suami maksudnya. Begitu kembali ke ruang tamu, pemandangan itu kembali menyambutnya. David duduk tegak, satu kaki menyilang, ekspresinya tetap dingin. Sementara Veronica… terlalu santai. Wanita itu kini bersandar di sofa, seolah sudah menghafal setiap sudut ruangan. “Kau masih menyimpan lukisan itu?” tanya Veronica, menunjuk sebuah lukisan abstrak di dinding. David melirik sekilas. “Belum sempat menggantinya.” Veronica tersenyum puas. “Aku hadiahkan itu. kau lupa berapa lama aku membuatnya?







