LOGINPreman pertama melayangkan pukulan yang kelihatan lambat di mataku. Tanpa sadar, tubuhku menghindar dengan gerakan yang lentur banget. Tanganku bergerak lincah, kayak lele yang licin saat mau ditangkap.
"Jurus Kepala Lele!"
Bugh!
Pukulan lawan kutangkis dengan mudah, lalu sikutku menghantam ulu hatinya dengan pas. Dia langsung jatuh sambil pegang perut, mukanya biru karena susah napas.
"Sialan! Dia punya ilmu! Serang barengan!"
Dua temannya yang lain melotot, lalu maju barengan. Instingku makin liar, seolah-olah ada sosok ahli bela diri yang masuk ke badanku.
"Mas, awas di belakang kamu!" teriak Diva.
Aku melompat tinggi, melakukan salto di udara. Kedua kakiku menjepit leher salah satu dari mereka, lalu kupelintir sampai dia terbanting ke arah temannya.
Gubrak!
"Aduhh! Pinggangku putus!"
"Ini ojol atau setan?! Sakit banget, Bos!"
Ketiga preman itu sekarang masuk ke selokan kering. Mereka merintih kesakitan. Aku berdiri terengah-engah sambil melihat telapak tanganku sendiri. Tak percaya.
"Gila! Tangan gue... kok bisa begini?"
Mana mungkin ojol dekil kayak aku bisa kalahkan tiga orang sekaligus pakai jurus yang kayak di kartun? Kekuatan ini di luar logika.
"Mas, kamu... kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Diva dengan suara bergetar.
Aku menoleh perlahan. Aku lupa kalau kondisiku masih 'tegang' gara-gara adrenalin dan sisa mimpi tadi. Jaket ojolku basah kuyup karena keringat dan menempel ketat di badan, menonjolkan otot dadaku yang mendadak terasa lebih bidang.
"Saya nggak apa-apa, Mbak. Mbak Diva sendiri ada yang luka?"
"Nggak ada. Tapi, itu... kamu beneran ojol? Kok bisa silat sehebat itu?"
"Mungkin karena saya sering angkut galon, Mbak. Jadi tenaganya agak kelebihan."
Diva menatapku terkesima. Dinginnya hilang, berganti jadi binar yang bikin merinding. Dia maju pelan-pelan sampai aku bisa merasakan napasnya yang harum melati. "Kamu hebat banget. Belum pernah ada cowok yang berani pasang badan buat aku."
"Sudah tugas saya melindungi pelanggan, Mbak. Apalagi pelanggan secantik Mbak Diva."
"Gombal ya? Tapi aku suka. Jarang ada ojol yang punya nyali sebesar kamu," bisiknya tepat di telingaku. Suaranya seksi banget.
Jari lenturnya mulai menyentuh kerah jaket ojolku yang kotor, seolah tak peduli dengan bau dekilku.
"Mas, jaket kamu basah banget. Emang nggak kedinginan?"
Aku coba streching dikit, menunjukkan kalau aku baik-baik saja di hadapan wanita idolaku. "Dikit sih, Mbak. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga kerja di jalanan."
"Kamu sudah nyelamatin aku malam ini. Aku benci punya utang budi yang nggak dibayar."
"Nggak usah repot-repot, Mbak. Dikasih bintang lima aja saya udah senang."
"Bintang lima? Aku punya yang lebih bagus dari sekadar bintang di aplikasi."
Diva menarik sedikit tali gaunnya, membuat mataku hampir copot. Dia tersenyum nakal, jenis senyuman yang belum pernah dia tunjukkan di TV manapun. "Gimana kalau utang budi ini aku bayar, spesial, di dalam rumah aku? Kebetulan aku lagi sendirian dan butuh... penjaga."
"M-maksudnya, Mbak?" Aku memang ingin bertanya, karena aku tidak mau membiarkan fantasiku bermain. Namun, Diva ternyata memiliki rencana spesial.
"Jangan pura-pura polos. Kamu tadi lihatin apa pas aku baru keluar gerbang?"
"Eh, itu... saya cuma... mengagumi ciptaan Tuhan, Mbak."
"Nah, sekarang kamu bisa mengaguminya lebih dekat. Masuk yuk, pintunya nggak aku kunci kok."
Aku berdiri mematung saat Diva berjalan masuk ke halaman rumah mewahnya dengan gerak pinggul yang sengaja dibuat. Duniaku rasanya jungkir balik. Pak Jaka, motor butut, dan utang-utang langsung hilang dari pikiran.
"Mas, Mas Ojol! Malah bengong! Mau ikut masuk atau mau nunggu preman itu bangun lagi?"
"Eh, iya! Tunggu, Mbak! Saya parkir motor dulu!"
Malam ini, sepertinya nasib ojol dekil sepertiku akan berubah selamanya. Entah kekuatan apa yang masuk ke tubuhku, tapi yang jelas, aku tidak akan membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja.
"Mas, cepetan! Di dalam lebih hangat lho daripada di luar sini!"
Aku tidak menjawab. Logika dan nuraniku rasanya sedang perang hebat di dalam kepala yang mendadak pening. Di satu sisi, harga diriku sebagai cowok tulen berontak karena merasa sedang dijinakkan kayak kucing pasar pakai tumpukan harta. Tapi di sisi lain, aroma tubuh Diva yang menyerang hidung bikin pertahananku runtuh seketika.
Aku cuma rakyat jelata yang biasa bergelut dengan aspal panas dan makian pelanggan. Tapi ditatap dengan cara begitu oleh wanita yang jadi idaman banyak orang, rasanya seperti sedang diseret ke jurang kenikmatan yang mematikan.
Sialan, mana bisa aku tetap bersikap profesional kalau setiap tarikan napasnya saja seolah-olah sedang menelanjangi sisa-sisa kewarasanku yang sudah hampir habis?
"Mas, kok malah bengong? Mau jadi patung di depan gerbang rumahku?" Suara Diva Prameswari yang serak itu membuyarkan lamunanku. Aku menelan ludah susah payah sambil melihat jemari lenturnya yang masih betah nempel di kerah jaketku yang apek.
"Eh, anu, Mbak. Ini... motor saya gimana? Kalau ditinggal di sini, bisa diambil maling," kataku. Aku mencoba cari alasan paling masuk akal buat lari dari situasi yang bikin jantung mau copot ini.
"Motor butut begitu siapa yang mau ambil, Mas? Lagipula, kamu sudah resmi aku sewa malam ini."
Aku tersentak, bagaimana mungkin ojol sepertiku disewa artis secantik Diva. Lalu, dengan nada pelan, aku merespon, "Sewa? Maksudnya sewa ojek langganan buat antar jemput syuting, Mbak?"
"Bukan ojek, bodoh. Kamu aku sewa jadi pengawal pribadi aku. Titik. Nggak ada bantahan."
Diva tidak memberikan celah buat aku bernapas atau sekadar mikirin cicilan motor yang nunggak. Cengkeraman tangannya yang mungil ternyata punya tenaga lumayan kuat saat dia menyeretku menuju mobil sport merah yang parkir nggak jauh dari situ. Bodinya yang mengilap di bawah lampu jalan seolah mengejek motor bebek tuaku yang teronggok malang di pinggir jalan.
"Masuk, Mas. Atau kamu mau aku seret pakai cara paksa?" Mbak Diva berkacak pinggang seraya menatapku.
"Tapi Mbak, jaket saya bau matahari. Nanti jok mobilnya ketularan bau dekil, Mbak!"
"Aku nggak peduli. Masuk sekarang atau aku suruh preman tadi bangun lagi buat hajar kamu!"
Aku tidak punya pilihan selain menyerah. Begitu pantatku menyentuh jok kulit yang empuk dan dingin, kepalaku mendadak pusing. Wangi parfum mahal Diva memenuhi kabin mobil, menyerang sarafku sampai rasanya mau pingsan saking enaknya. Baru saja aku mau menikmati empuknya kursi itu, ponsel bututku bergetar hebat di kantong celana.
Drrtt... Drrtt...
"Aduh, siapa lagi sih malam-malam begini? Ganggu orang lagi naik derajat aja!" gumamku.
"Angkat aja. Siapa tahu itu pacar kamu yang mau minta putus," sahut Diva sambil mulai putar setir dengan santai.
Begitu layar ponsel retakku menyala, wajahku langsung pucat. Nama 'Pak Jaka Rentenir' terpampang jelas di sana. Dengan tangan gemetar, aku tekan tombol hijau.
"Halo? Pak Jaka? Ada apa ya malam-malam?"
"Kipli! Kurang ajar kamu ya! Saya tahu posisi kamu di mana! Kamu mau kabur, hah?!"
Suara cempreng Pak Jaka langsung menusuk telinga. Saking kerasnya, suaranya sampai kedengaran di seluruh kabin mobil. Aku refleks menjauhkan ponsel, tapi suaranya tetap saja menggelegar.
"Kabur gimana, Pak? Saya lagi narik ini, cari setoran buat Bapak!"
"Nggak usah ngelak kamu! Mata-mata saya lihat kamu masuk ke mobil mewah di kawasan elit! Kamu mau jual diri buat bayar utang?!"
"Eh, nggak gitu, Pak! Ini urusan kerjaan!"
"Bodo amat! Pokoknya besok pagi, sebelum ayam berkokok, itu motor butut harus sudah ada di rumah saya! Saya sita buat jaminan utang kamu! Kalau nggak, kaki kamu yang saya patahkan!"
Tut... Tut...
Sambungan diputus sepihak. Aku lemas. Harga diriku sebagai lelaki yang baru saja jadi pahlawan langsung anjlok di depan wanita secantik Diva. Utang selalu saja jadi beban yang mencekik leher ojol dekil sepertiku.
"Rentenir ya? Berapa utang kamu sampai dia teriak-teriak begitu?" tanya Diva enteng.
Langkah kaki Danang Kusuma yang menyedihkan semakin menjauh, melintasi halaman rumah mewahnya yang gelap gulita. Setelah sosoknya hilang, ruang tamu berkubah tinggi itu mendadak hening.Di atas meja kayu ukir yang megah, tumpukan berkas penyerahan aset dari Danang sudah lengkap berhias tanda tangan.Ciska merapikan lembar demi lembar dokumen itu sembari tersenyum tipis."Semua hak milik bisnis hiburan, izin klub, sampai rekening bank resmi berpindah tangan," ujar Ciska menoleh padaku. "Total nilainya triliunan rupiah. Dalam hitungan jam, semuanya bakal aku masukin ke PT Garuda Nusantara Holding.""Kerja bagus, Ciska," kataku pelan, menepuk bahunya hangat."Meyden, Kanya, Sora," panggil Diva dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menata emosinya. "Kalian urus pengamanan perimeter rumah ini sama tim di luar. Biarkan Kipli dan Ciska selesaikan verifikasi berkas terakhir di ruang kerja.""Siap, Mbak Diva!" sahut Kanya dan Meyden serentak. Sora mengangguk anggun, lalu ketiga wanita i
"Jaga mulut lo," desis Diva sangat dingin, menatap Danang dengan pandangan jijik yang amat pekat. "Pria yang lo sebut tukang ojol ini... jauh lebih hebat dan berkuasa daripada lo yang cuma bisa bersembunyi di balik uang dan preman!""Tahu diri sedikit," tambah Kanya dengan senyum meremehkan. "Mas Kipli itu pria yang hebat. Lo bahkan nggak pantas buat nyium alas sepatunya!""BANGSAT! MATI LO SEMUA!" teriak Danang histeris sembari menarik pelatuk pistolnya.Brak!Sebelum jarinya sempat menekan pelatuk, aku melesat maju bagaikan kilat. Hanya dalam satu persekian detik, jarak sepuluh meter di antara kami terkikis habis. Sebelum peluru sempat meletup, telapak tangan kananku yang terselimuti energi giok tebal sudah menyambar pergelangan tangan Danang.Krak!"AAAGHHHH! TANGAN GUEE!" jerit Danang histeris saat tulang pergelangan tangannya remuk seketika dalam genggamanku. Pistol di tangannya jatuh terlempar ke atas karpet mahal.Tanpa memberi jeda, aku mencengkeram kerah baju mewahnya, mengan
Kanya masih bersandar manja di pangkuanku, membiarkan jemariku mengusap lembut rambut panjangnya yang halus. Ciuman hangat kami baru saja terlepas, meninggalkan pendar kebahagiaan dan rona kemerahan yang begitu manis di kedua pipi mulusnya."Aku masih mau dipangku gini terus..." bisik Kanya halus, menyandarkan kepalanya di dadaku sembari memainkan kancing kemejaku dengan jemari lentiknya."Nanti kita sambung lagi," pungkasku lembut sembari meremas pinggul rampingnya dengan lembut, lalu menegakkan tubuh. "Sekarang saatnya kita selesaikan permainan ini."Kanya tersenyum manis, mengangguk pasrah lalu perlahan merosot turun dari pangkuanku.Diva, Meyden, Ciska, dan Sora yang sejak tadi memperhatikan langsung berdiri tegak. Suasana manis di ruang tengah seketika berubah menjadi sangat dingin oleh aura tempur yang membara."Semua persiapannya sudah selesai," ujar Ciska sembari menutup laptopnya. "Radar memantau bahwa kerumunan wartawan dan mobil polisi di depan gerbang kediaman Danang sudah
Bip!Siaran langsung dimulai. Dalam hitungan detik, penonton melonjak dari ribuan hingga menembus angka jutaan orang."T-tolong... siapapun yang lihat siaran ini... tolong aku..." ucap Kanya dengan suara bergetar dan napas terengah-engah yang amat meyakinkan. Air mata bening mengalir mulus melewati pipinya yang halus."Aku lagi diancam... ada pengusaha jahat bernama Danang Kusuma yang mau celakain aku dan keluarga aku... Dia punya bisnis judi ilegal dan jaringan kriminal berdarah..." Kanya melanjutkan sembari menayangkan beberapa dokumen digital bukti transaksi gelap milik Danang yang disiapkan Ciska."Aku takut banget... Rumahku di Kompleks Gemilang sekarang lagi dikepung preman... aku cuma mau minta perlindungan dari publik dan aparat..." rintih Kanya penuh penghayatan, menangkupkan kedua tangannya di depan kamera.Efeknya sungguh luar biasa.Kolom komentar langsung meledak oleh kemarahan netizen. Ratusan ribu bagikan dan komentar membanjiri jagat maya. Dalam waktu kurang dari tiga
Langkah kaki kami bergema pelan di koridor penthouse saat matahari subuh mulai membayang di ufuk timur. Diva berjalan menempel rapat di sisiku. Napasnya masih tersengal lembut, sisa dari pertempuran panas yang baru saja kami selesaikan di atas meja kerja Kasino Cempaka.Setiap usapan pelanku di punggungnya dibalas dengan sandaran kepala yang makin dalam. Tatapan matanya kini tak lagi memancarkan keraguan, melainkan kepatuhan mutlak seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.Kemenangan malam ini benar-benar mematahkan tulang punggung finansial Danang Kusuma. Kasino terbesar yang menjadi sumber uangnya kini resmi berganti pemilik.Namun, begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama, raut wajah Sora dan Ciska di depan layar monitor langsung memberi sinyal bahwa permainan belum sepenuhnya usai. Danang yang makin terdesak ternyata masih mencoba bertahan."Mas Kipli, lihat ini," sela Sora begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama. Jemari lentiknya lincah menunjuk
Seluruh staf kasino dan pengunjung tercengang mendengar pengumuman berani tersebut."Kurang ajar! Bunuh mereka!" teriak Rudi histeris sembari menarik pistol otomatis dari balik jasnya. "Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup dari sini!""Cari mati," gumam Meyden dingin.Sebelum Rudi sempat mengarahkan moncong senjata api di tangannya, tubuh Meyden sudah bergerak secepat kilat. Gerakannya bagaikan bayangan hitam yang tak tertangkap mata telanjang.Brak!Dengan satu tebasan, Meyden menghantam pergelangan tangan Rudi hingga pistol itu terlempar. Tanpa memberi jeda, wanita itu menyusup ke belakang tubuh sang manajer, memuntir kedua lengannya dan mengunci leher pria itu.Klek!"AAAGHHH! AMPUN! LENGAN GUE!" jerit Rudi histeris, berlutut terpaksa di atas lantai marmer aula.Enam penjaga bersenjata lainnya yang hendak maju seketika menghentikan langkah mereka. Aku melangkah maju satu langkah, mengalirkan tipis energi giok di dalam inti tubuhku yang memancarkan gelombang intimidasi tak terli
"Sekarang coba aku lihat modal kamu," ujar Diva sambil bersandar santai di pinggiran meja riasnya yang penuh lampu. "Mana ponsel kamu? Sini, aku mau lihat.""Hah? Hape saya, Mbak?" Aku mendadak gagap. "Bu-buat apa? Hape saya mah hape kentang, Mbak. Layarnya aja udah retak seribu gara-gara keseringa
Aku mengenali setiap inci sudut ruangan itu dengan sangat detail di luar kepala. Ada sofa kulit hitam yang legendaris di bagian tengah, pencahayaan remang-remang dari lampu sorot atas, hingga vas bunga buatan di sudut ruangan yang posisinya tidak pernah berubah.Ini adalah set syuting film dewasa m
"Mas Kipli... jantungnya kenapa detaknya kencang banget?" tanya Sora tiba-tiba. Dia menghentikan gerakan tangannya dan menatapku dengan mata bulatnya yang polos."Ya... gimana nggak kencang, Mbak Sora. Posisi Mbak dekat banget begini, terus baju Mbak itu... kurang bahan di samping," jawabku jujur,
"Gila! Masa saya telanjang di depan Mbak?!" teriakku sambil memegang erat ujung handuk."Halah, sok suci banget kamu. Sini, aku cuma mau lihat ukurannya pas atau nggak."Mayden mendekat lagi. Jemari lenturnya mulai menyentuh pundakku yang masih basah. Sentuhannya itu seperti aliran listrik yang lan







