LOGINAku memejamkan mata. Kepalaku pening bukan main karena gairah yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun. Tapi, tepat saat tangannya mau menyentuh ikat pinggangku, sebuah bayangan horor muncul.
Wajah Pak Jaka yang keriput mendadak lewat di pikiranku. Sialan, rentenir itu merusak segalanya! Aku kaget setengah mati.
"ADUHH! MAAF MBAK, SAYA KEBELET BANGET!"
Tanpa pikir panjang, aku langsung memutar badan. Kabur. Aku lari terbirit-birit menembus lorong mewah itu secepat kilat. Masa bodoh dengan Diva yang tertawa terbahak-bahak melihat kegugupanku.
"Kipli! Mau ke mana kamu?!" teriak Diva di sela tawa renyahnya.
Aku tidak menjawab. Aku butuh air dingin. Aku butuh ritual penyucian sebelum benar-benar kehilangan kewarasan di depan wanita segila itu!
Begitu menemukan pintu kayu besar yang mengilap, aku langsung menghambur masuk dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Ceklek!
Pintu kayu besar yang mengilap itu langsung kukunci rapat-rapat. Duniaku mendadak sunyi. Hanya ada suara deru napas kencangku yang menggema di ruangan yang luasnya tidak masuk akal ini.
"Gila! Kamar mandi aja lebih luas dari kosan gue," gumamku sambil melongo.
Di sudut ruangan, sebuah pancuran air raksasa tampak memanggil-manggil. Tanpa menunggu lama, kunyalakan airnya. Aliran dingin langsung mengguyur kepala dan tubuhku yang masih terbungkus kaus ojol bau matahari ini.
Kusandarkan dahi ke dinding marmer yang dingin. "Fokus, Pli. Fokus. Jangan malu-maluin di depan bos baru."
Sambil mandi, kugosok setiap inci kulit sekuat tenaga. Aku ingin membuang semua sisa debu jalanan dan kemelaratan yang sudah karatan di badan ini. Tapi, di bawah guyuran air, bayangan Diva justru semakin membakar otakku. Imajinasi liar mulai muncul. Rasanya Diva sedang berdiri tepat di belakangku.
"Mas, kok mandinya sendirian aja?" tanya Diva.
Suara bisikan itu terasa nyata di telingaku. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Jemari lenturnya yang halus seolah mulai merayap dari pundak turun ke dadaku.
"Mbak Diva, jangan ke sini," gumamku sambil menahan napas. "Nanti airnya makin panas kalau Mbak di sini."
"Panas karena airnya, atau panas karena aku sentuh seperti ini?"
Tangannya yang lembut kini sudah turun ke perut, membelai setiap lekukan otot yang mendadak mengeras. Jemari halus itu terus turun melewati pusar, merambat pelan menuju area sensitifku. Sedikit lagi. Ujung jarinya nyaris menyentuh si bunglon yang sudah berdiri tegak sempurna menantang air.
"Ahh... Mbak... itu... sedikit lagi..." gumamku dengan suara serak.
Jantungku berdegup kencang, menanti sentuhan yang hanya berjarak satu inci itu. Namun, tepat sebelum jarinya benar-benar mendarat—
BRAKK! BRAKK! BRAKK!
"Woi, Mas! Kamu mandi atau bertapa di dalam situ, hah?!"
Suara cempreng seorang wanita yang belum pernah kudengar sebelumnya menembus pintu kamar mandi yang tebal. Aku tersentak, hampir saja terpeleset di dalam bathtub yang ukurannya lebih luas daripada kamar kosanku.
"Sialan!" makiku dalam hati sambil hampir terjungkal menabrak dinding marmer.
Jantungku rasanya mau copot. Aku kaget setengah mati karena digedor secara kasar begitu. Bayangan Diva yang hampir membelai si bunglon langsung buyar. Rasanya seperti sedang terbang tinggi, lalu tiba-tiba dilempar paksa jatuh ke aspal panas Bekasi yang penuh debu.
"Aduh, Mbak! Sabar sedikit napa?! Orang lagi sabunan ini!" teriakku ketus. Aku berusaha menutupi kekesalan yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Lama banget! Jangan bilang kamu malah asyik main sendiri di dalam karena kaget lihat kemewahan, ya?" sahut suara di balik pintu itu dengan nada mengejek.
"Main apaan! Lagi ritual ini biar tidak bau apek!"
Aku menggerutu tidak karuan sambil mematikan kran pancuran dengan kasar. Kenapa setiap kali aku hampir sampai ke puncak khayalan, selalu saja ada yang mengganggu? Tadi Pak Jaka, sekarang entah siapa lagi wanita cempreng ini yang merusak momenku.
Si bunglon yang tadi sudah tegak menantang langit pun langsung layu. Dia seolah ikut emosi karena servis imajiner dari Diva Prameswari harus terputus bahkan di saat tangannya hampit saja menyentuhku. Aku mengusap wajah dengan kasar dan mencoba menata napas yang masih putus-putus.
"Sial, sedikit lagi padahal... sedikit lagi gue ngerasain pegangannya," bisikku sambil menyambar handuk putih hotel yang tebal dan lembut itu.
"Buruan keluar, Kipli! Mbak Diva sudah nungguin. Jangan bikin orang penting nunggu ojol kayak kamu!"
"I-iya, Mbak! Bentar lagi keluar!" teriakku sambil kelabakan melilitkan handuk di pinggang.
"Lama banget! Jangan bilang kamu malah asyik main sendiri karena kaget lihat kemewahan, ya?"
Begitu aku membuka pintu, uap panas langsung keluar. Mataku rasanya mau melompat dari kelopaknya. Di depanku berdiri seorang wanita dengan seragam pelayan Prancis yang potongannya benar-benar menguji iman. Rok hitamnya super mini, diganjal renda putih yang mekar dan mengekspos paha mulusnya yang bening.
Bagian dadanya yang padat dan berisi tampak ketat di balik kain seragam. Setiap kali dia menarik napas, dua kancing teratasnya tampak tegang menahan beban yang tidak sopan bagi kesehatan mata rakyat jelata seperti aku. Fantasi dari film animasi dewasa mendadak terwujud nyata di depan hidungku.
"Kenapa bengong? Belum pernah lihat pelayan secantik aku?" tanya wanita itu sambil berkacak pinggang. Lekuk tubuhnya makin menonjol.
"Eh, anu... Mbak ini siapa ya? Mbak Diva mana?"
"Panggil aku Mayden. Mbak Diva lagi ada urusan di atas. Sekarang, aku yang bertugas mengurus kamu."
Mayden melangkah maju. Jarak kami makin dekat sampai aku bisa mencium aroma parfumnya yang tajam. Matanya menyapu tubuhku dari atas ke bawah, lalu berhenti tepat di bagian tengah handukku yang mulai terlihat bermasalah.
"Wah, wah. Ternyata Mas ojol ini punya barang berharga yang lumayan juga ya."
"Maksudnya, Mbak?" tanya aku sambil berusaha menutupi bagian depan dengan tangan. Wajahku sudah panas.
"Nggak usah malu-malu begitu. Handuk ini jelas nggak mampu menutupi aset kamu yang mau meledak itu"
"Mbak, tolong... jangan godain saya terus. Saya ini cowok normal, gampang khilaf kalau dipepet terus."
"Khilaf juga nggak apa-apa, kok. Memangnya kalau kamu khilaf, kamu berani ngapain aku?" tanya Mayden sambil berbisik rendah.
Dia sengaja memajukan tubuh hingga bagian dadanya menyentuh lengan telanjangku.
"Mau langsung terkam aku di sini?" tantang Mayden dengan nada menggoda.
Aku menelan ludah susah payah. Rasanya nyaris kehilangan keseimbangan karena serangan mental bertubi-tubi ini.
Mayden hanya tertawa renyah. Suara tawanya terdengar agresif dan dominan di telingaku. Dengan gerakan manja, dia berbalik lalu menarik lenganku, menyeretku menuju lemari besar yang isinya penuh pakaian bermerek. Harganya mungkin bisa digunakan untuk membeli satu unit dealer motor bekas.
"Sini, pakai baju yang bener. Aku nggak mau Mbak Diva marah kalau pengawalnya kelihatan kayak orang baru keluar dari pengungsian."
"Pilih sendiri saja, Mbak. Saya nggak paham merek ginian."
"Biar aku yang pilihin yang paling cocok buat tubuh kekarmu ini," sahut Mayden.
Dia mengambil sehelai kemeja sutra putih yang tipis, lalu berbalik menghadapku dengan tatapan menantang.
"Sini, coba pakai kemeja ini. Tapi sebelum itu... buka dulu handuknya," perintah Mayden tanpa ragu.
Langkah kaki Danang Kusuma yang menyedihkan semakin menjauh, melintasi halaman rumah mewahnya yang gelap gulita. Setelah sosoknya hilang, ruang tamu berkubah tinggi itu mendadak hening.Di atas meja kayu ukir yang megah, tumpukan berkas penyerahan aset dari Danang sudah lengkap berhias tanda tangan.Ciska merapikan lembar demi lembar dokumen itu sembari tersenyum tipis."Semua hak milik bisnis hiburan, izin klub, sampai rekening bank resmi berpindah tangan," ujar Ciska menoleh padaku. "Total nilainya triliunan rupiah. Dalam hitungan jam, semuanya bakal aku masukin ke PT Garuda Nusantara Holding.""Kerja bagus, Ciska," kataku pelan, menepuk bahunya hangat."Meyden, Kanya, Sora," panggil Diva dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menata emosinya. "Kalian urus pengamanan perimeter rumah ini sama tim di luar. Biarkan Kipli dan Ciska selesaikan verifikasi berkas terakhir di ruang kerja.""Siap, Mbak Diva!" sahut Kanya dan Meyden serentak. Sora mengangguk anggun, lalu ketiga wanita i
"Jaga mulut lo," desis Diva sangat dingin, menatap Danang dengan pandangan jijik yang amat pekat. "Pria yang lo sebut tukang ojol ini... jauh lebih hebat dan berkuasa daripada lo yang cuma bisa bersembunyi di balik uang dan preman!""Tahu diri sedikit," tambah Kanya dengan senyum meremehkan. "Mas Kipli itu pria yang hebat. Lo bahkan nggak pantas buat nyium alas sepatunya!""BANGSAT! MATI LO SEMUA!" teriak Danang histeris sembari menarik pelatuk pistolnya.Brak!Sebelum jarinya sempat menekan pelatuk, aku melesat maju bagaikan kilat. Hanya dalam satu persekian detik, jarak sepuluh meter di antara kami terkikis habis. Sebelum peluru sempat meletup, telapak tangan kananku yang terselimuti energi giok tebal sudah menyambar pergelangan tangan Danang.Krak!"AAAGHHHH! TANGAN GUEE!" jerit Danang histeris saat tulang pergelangan tangannya remuk seketika dalam genggamanku. Pistol di tangannya jatuh terlempar ke atas karpet mahal.Tanpa memberi jeda, aku mencengkeram kerah baju mewahnya, mengan
Kanya masih bersandar manja di pangkuanku, membiarkan jemariku mengusap lembut rambut panjangnya yang halus. Ciuman hangat kami baru saja terlepas, meninggalkan pendar kebahagiaan dan rona kemerahan yang begitu manis di kedua pipi mulusnya."Aku masih mau dipangku gini terus..." bisik Kanya halus, menyandarkan kepalanya di dadaku sembari memainkan kancing kemejaku dengan jemari lentiknya."Nanti kita sambung lagi," pungkasku lembut sembari meremas pinggul rampingnya dengan lembut, lalu menegakkan tubuh. "Sekarang saatnya kita selesaikan permainan ini."Kanya tersenyum manis, mengangguk pasrah lalu perlahan merosot turun dari pangkuanku.Diva, Meyden, Ciska, dan Sora yang sejak tadi memperhatikan langsung berdiri tegak. Suasana manis di ruang tengah seketika berubah menjadi sangat dingin oleh aura tempur yang membara."Semua persiapannya sudah selesai," ujar Ciska sembari menutup laptopnya. "Radar memantau bahwa kerumunan wartawan dan mobil polisi di depan gerbang kediaman Danang sudah
Bip!Siaran langsung dimulai. Dalam hitungan detik, penonton melonjak dari ribuan hingga menembus angka jutaan orang."T-tolong... siapapun yang lihat siaran ini... tolong aku..." ucap Kanya dengan suara bergetar dan napas terengah-engah yang amat meyakinkan. Air mata bening mengalir mulus melewati pipinya yang halus."Aku lagi diancam... ada pengusaha jahat bernama Danang Kusuma yang mau celakain aku dan keluarga aku... Dia punya bisnis judi ilegal dan jaringan kriminal berdarah..." Kanya melanjutkan sembari menayangkan beberapa dokumen digital bukti transaksi gelap milik Danang yang disiapkan Ciska."Aku takut banget... Rumahku di Kompleks Gemilang sekarang lagi dikepung preman... aku cuma mau minta perlindungan dari publik dan aparat..." rintih Kanya penuh penghayatan, menangkupkan kedua tangannya di depan kamera.Efeknya sungguh luar biasa.Kolom komentar langsung meledak oleh kemarahan netizen. Ratusan ribu bagikan dan komentar membanjiri jagat maya. Dalam waktu kurang dari tiga
Langkah kaki kami bergema pelan di koridor penthouse saat matahari subuh mulai membayang di ufuk timur. Diva berjalan menempel rapat di sisiku. Napasnya masih tersengal lembut, sisa dari pertempuran panas yang baru saja kami selesaikan di atas meja kerja Kasino Cempaka.Setiap usapan pelanku di punggungnya dibalas dengan sandaran kepala yang makin dalam. Tatapan matanya kini tak lagi memancarkan keraguan, melainkan kepatuhan mutlak seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.Kemenangan malam ini benar-benar mematahkan tulang punggung finansial Danang Kusuma. Kasino terbesar yang menjadi sumber uangnya kini resmi berganti pemilik.Namun, begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama, raut wajah Sora dan Ciska di depan layar monitor langsung memberi sinyal bahwa permainan belum sepenuhnya usai. Danang yang makin terdesak ternyata masih mencoba bertahan."Mas Kipli, lihat ini," sela Sora begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama. Jemari lentiknya lincah menunjuk
Seluruh staf kasino dan pengunjung tercengang mendengar pengumuman berani tersebut."Kurang ajar! Bunuh mereka!" teriak Rudi histeris sembari menarik pistol otomatis dari balik jasnya. "Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup dari sini!""Cari mati," gumam Meyden dingin.Sebelum Rudi sempat mengarahkan moncong senjata api di tangannya, tubuh Meyden sudah bergerak secepat kilat. Gerakannya bagaikan bayangan hitam yang tak tertangkap mata telanjang.Brak!Dengan satu tebasan, Meyden menghantam pergelangan tangan Rudi hingga pistol itu terlempar. Tanpa memberi jeda, wanita itu menyusup ke belakang tubuh sang manajer, memuntir kedua lengannya dan mengunci leher pria itu.Klek!"AAAGHHH! AMPUN! LENGAN GUE!" jerit Rudi histeris, berlutut terpaksa di atas lantai marmer aula.Enam penjaga bersenjata lainnya yang hendak maju seketika menghentikan langkah mereka. Aku melangkah maju satu langkah, mengalirkan tipis energi giok di dalam inti tubuhku yang memancarkan gelombang intimidasi tak terli
"Sekarang coba aku lihat modal kamu," ujar Diva sambil bersandar santai di pinggiran meja riasnya yang penuh lampu. "Mana ponsel kamu? Sini, aku mau lihat.""Hah? Hape saya, Mbak?" Aku mendadak gagap. "Bu-buat apa? Hape saya mah hape kentang, Mbak. Layarnya aja udah retak seribu gara-gara keseringa
Aku mengenali setiap inci sudut ruangan itu dengan sangat detail di luar kepala. Ada sofa kulit hitam yang legendaris di bagian tengah, pencahayaan remang-remang dari lampu sorot atas, hingga vas bunga buatan di sudut ruangan yang posisinya tidak pernah berubah.Ini adalah set syuting film dewasa m
"Mas Kipli... jantungnya kenapa detaknya kencang banget?" tanya Sora tiba-tiba. Dia menghentikan gerakan tangannya dan menatapku dengan mata bulatnya yang polos."Ya... gimana nggak kencang, Mbak Sora. Posisi Mbak dekat banget begini, terus baju Mbak itu... kurang bahan di samping," jawabku jujur,
"Gila! Masa saya telanjang di depan Mbak?!" teriakku sambil memegang erat ujung handuk."Halah, sok suci banget kamu. Sini, aku cuma mau lihat ukurannya pas atau nggak."Mayden mendekat lagi. Jemari lenturnya mulai menyentuh pundakku yang masih basah. Sentuhannya itu seperti aliran listrik yang lan







