Share

BAB 3

Author: Prince Molina
last update publish date: 2026-05-22 14:25:11

"Duh, Mbak... malu saya nyebutnya. Pokoknya banyak lah buat ukuran ojol yang makan warteg aja masih sering utang."

"Sepuluh juta? Dua puluh juta? Atau cuma recehan lima juta?"

"Ya... sekitar sepuluh jutaan kalau dihitung sama bunganya, Mbak. Buat saya itu duitnya bisa buat beli kerupuk se-Bekasi."

Diva tertawa kecil. Suaranya merdu tapi ada nada meremehkan yang bikin hatiku sedikit sakit. Dia menepikan mobilnya sebentar di bawah pohon rindang, lalu menoleh ke arahku dengan tatapan tajam.

"Cuma sepuluh juta? Besok aku lunasin semuanya. Aku beli motor kamu itu sepuluh kali lipat kalau kamu mau."

Enak ya, seperti Diva.

Uang banyak, popularitas oke, idola kaum-kaum sabun sepertiku. Tapi, tawaran tadi, sepertinya terdengar mustahil.

Sembari mengucek mataku dua kali, lalu menyentil kuping sendiri, aku memberanikan diri memastikan kalimatnya tadi. "Hah? Mbak bercanda ya? Saya ini cuma ojol dekil, Mbak. Jangan main-main sama perasaan saya."

"Aku nggak pernah bercanda soal bisnis. Kamu lihat sendiri kan tadi, nyawa aku hampir melayang kalau nggak ada kamu."

"Ya itu kan refleks aja, Mbak. Namanya juga liat cewek cantik mau dirusak orang."

"Nah, itu dia. Kamu punya insting. Tapi, tawaran aku ini ada syaratnya. Nggak ada makan siang gratis di dunia ini." Mbak Diva sepertinya serius dengan ucapan itu.

"Syarat apa, Mbak? Jangan suruh saya jual organ dalam ya, saya masih mau hidup panjang."

Diva mendekatkan wajahnya. Aroma napasnya yang harum menyapu pipiku, bikin si bunglon di bawah sana kembali memberikan hormat. Dia menatap tajam ke arah bibirku.

"Syaratnya gampang. Kamu tanda tangan kontrak jadi pengawal pribadi aku secara eksklusif. Kamu harus lindungi aku dua puluh empat jam. Di mana pun aku berada, kamu harus ada di belakang aku. Atau di depan aku... tergantung posisi yang aku butuhkan nanti."

Aku terdiam. Otakku mendadak dipaksa berpikir keras. Aku ini cuma tukang ojek yang biasa antar martabak, mana bisa jadi pengawal? Tapi di sisi lain, tawaran pelunasan utang itu kayak durian runtuh.

Bukan cuma soal utang Pak Jaka, ingatan tentang mantanku tiba-tiba berputar di kepalaku. Sakit hatiku kembali kambuh mengingat bagaimana dulu aku dicampakkan. Dia mengataiku ojol miskin yang tidak punya masa depan, lalu pergi demi pria berduit.

Keberadaan Diva di depanku ini seolah menjadi tiket balas dendam. Kalau aku menerima kontrak ini, aku bisa kaya. Aku bisa membuat mantanku itu menangis darah karena menyesal sudah membuangku.

"Kenapa diam? Masih mikirin etika profesional sebagai tukang ojek online?" tanya Diva memecah lamunanku.

"Nggak gitu, Mbak. Cuma... saya takut nggak becus. Saya cuma bisa silat karena sering nonton film."

"Nggak masalah, yang penting berhasil, kan? Kamu bisa bikin tiga preman itu masuk selokan dalam hitungan detik. Kamu punya sesuatu yang orang lain nggak punya. Kekuatan kamu itu... spesial."

Diva mengulurkan tangannya, mengelus rahangku yang kasar. Sentuhan lembut jemarinya itu bikin jantungku rasanya mau meledak.

"Kalau kamu setuju, aku janji bakal kasih bonus yang nggak akan kamu dapetin di aplikasi ojol mana pun. Keintiman... sesi pribadi... semuanya akan jadi milik kamu."

"Sesi pribadi? Maksudnya... kita bakal sering berduaan begitu, Mbak? Di tempat tertutup?" tanyaku dengan suara serak.

"Iya, sangat privat. Khusus untuk pelindung aku yang sudah mempertaruhkan nyawanya. Gimana?"

Gila! Ini benar-benar tawaran paling sinting dalam hidupku. Rasa minder sebagai rakyat jelata kalah telak oleh dorongan gairah dan hasrat pamer ke Risa sudah di ujung tanduk. Aku menelan ludah, lalu mengangguk mantap.

"Oke, Mbak Diva. Saya terima. Mulai sekarang, saya adalah tameng hidup Mbak. Mau ada preman atau monster sekalipun, harus langkahin mayat saya dulu!"

"Bagus. Pilihan yang sangat cerdas. Aku suka cowok yang tahu cara ambil kesempatan."

Diva kembali mepacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tapi baru beberapa meter jalan, aku mendadak ragu lagi melihat setir mobil sport ini yang jalannya sangat cepat.

"Eh, tapi Mbak, kalau saya beneran kaku pas kerja gimana? Jangan-jangan nanti Mbak malah nyesel sewa ojol pangkalan kayak saya."

"Bukan ojek lagi! Kamu itu pengawal pribadi aku sekarang. Nggak ada tapi-tapi, nggak ada bantahan!" potong Diva galak. Suaranya yang membentak itu malah terdengar seksi.

"Iya, Mbak, maaf. Tapi jaket saya bau matahari begini, apa nggak ngerusak jok kulit mobil mewah ini?"

"Aku nggak peduli! Diam di situ atau kuseret paksa kamu keluar dari mobil sekarang juga?" ancam Diva dengan nada dingin yang mutlak.

Aku langsung bungkam dan merapatkan punggung ke jok kulit yang empuk. Masalah utangku rasanya hilang, digantikan oleh debar jantung yang tak karuan membayangkan apa yang akan terjadi di rumah mewah itu nanti.

Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah gerbang istana yang sangat megah. Penjaganya pakai seragam lengkap, tapi Diva hanya melambaikan tangan dan gerbang terbuka otomatis.

Begitu kami masuk ke ruang depan rumah yang lantainya mengilap sampai aku bisa melihat pantulan mukaku yang dekil, Diva langsung berbalik. Dia merangkul leherku, membuat tubuhku kaku.

"Nah, selamat datang di rumahku. Suka?"

"Ini... ini rumah Mbak Diva semua? Luas banget, Mbak. Bisa buat main bola ini mah."

"Iya dong. Dan mulai detik ini, rumah ini juga jadi tempat kerja kamu. Kamu tidur di kamar yang nggak jauh dari kamar aku. Biar kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung datang."

Diva berbisik tepat di telingaku. Suaranya menjanjikan kemewahan yang belum pernah kubayangkan sebelumnya selama hidup di Bekasi. Tangannya yang halus menyentuh dadaku, mengusap pelan jaket ojolku yang kasar.

"Bayaran pertama untuk hari ini harus dimulai dengan kenyamanan. Aku nggak suka pengawal aku bau matahari dan debu jalanan."

"Maaf, Mbak. Saya emang belum mandi dari pagi. Tadi banyak orderan soalnya."

"Aku tahu. Makanya... ayo, ganti pakaian kamu yang dekil itu, Sayang. Kamar mandinya sudah aku siapkan, lengkap dengan air hangat dan sabun yang aromanya... hmm, bikin nagih."

Diva menatapku dalam, seolah dia siap mengubah diriku dari Kipli si ojol menjadi Kipli si pejantan tangguh. Aku berdiri tak berdaya. Rasanya ingin lari karena minder, tapi juga ingin langsung menyelesaikan apa yang tadi tertunda di dalam mimpi.

"Kamu mau ganti sendiri, atau mau aku bantu lepaskan jaketnya? Kayaknya ritsletingnya agak macet ya?"

Diva mulai menarik ritsleting jaket ojolku perlahan sampai aku bisa merasakan panas tubuhnya yang mulai menular. Malam ini, Bekasi yang biasanya panas terasa berkali-kali lipat lebih membara.

"Mbak, jangan gitu, saya bisa khilaf..."

"Memangnya siapa yang nyuruh kamu untuk tetap sadar?" tanya Diva sambil tersenyum penuh kemenangan.

Jantungku rasanya mau copot. Napas Diva yang harum melati terasa hangat di leherku, membuat bulu kuduk berdiri tapi bukan karena takut. Tangan halusnya mulai menarik turun ritsleting jaket ojolku yang apek dengan gerakan sangat lambat. Dia sengaja membiarkan kulit tangannya sesekali bersentuhan dengan dadaku.

"Mbak, tolong, Mbak... saya ini cuma manusia biasa," gumamku dengan suara yang sudah pecah.

"Manusia biasa itu yang aku suka, Kipli. Apalagi manusia yang punya tenaga mesin turbo kayak kamu tadi," ucap Diva semakin merapat sampai bagian dadanya yang padat itu menempel tipis di dadaku yang masih dibalut kaus dekil.

Sialan, si bunglon di balik celana kainku ini sudah melakukan hormat paling tegak sepanjang sejarah hidupnya. Aku benar-benar di ambang ledakan. Rasanya ingin langsung menerkam atau malah pingsan saking senangnya.

"Gimana kalau kita mulai pelayanannya sekarang? Kamu nggak butuh sadar buat menikmati ini, kan?" bisik Diva tepat di telingaku yang terasa seperti sengatan listrik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 206

    Langkah kaki Danang Kusuma yang menyedihkan semakin menjauh, melintasi halaman rumah mewahnya yang gelap gulita. Setelah sosoknya hilang, ruang tamu berkubah tinggi itu mendadak hening.Di atas meja kayu ukir yang megah, tumpukan berkas penyerahan aset dari Danang sudah lengkap berhias tanda tangan.Ciska merapikan lembar demi lembar dokumen itu sembari tersenyum tipis."Semua hak milik bisnis hiburan, izin klub, sampai rekening bank resmi berpindah tangan," ujar Ciska menoleh padaku. "Total nilainya triliunan rupiah. Dalam hitungan jam, semuanya bakal aku masukin ke PT Garuda Nusantara Holding.""Kerja bagus, Ciska," kataku pelan, menepuk bahunya hangat."Meyden, Kanya, Sora," panggil Diva dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menata emosinya. "Kalian urus pengamanan perimeter rumah ini sama tim di luar. Biarkan Kipli dan Ciska selesaikan verifikasi berkas terakhir di ruang kerja.""Siap, Mbak Diva!" sahut Kanya dan Meyden serentak. Sora mengangguk anggun, lalu ketiga wanita i

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 205

    "Jaga mulut lo," desis Diva sangat dingin, menatap Danang dengan pandangan jijik yang amat pekat. "Pria yang lo sebut tukang ojol ini... jauh lebih hebat dan berkuasa daripada lo yang cuma bisa bersembunyi di balik uang dan preman!""Tahu diri sedikit," tambah Kanya dengan senyum meremehkan. "Mas Kipli itu pria yang hebat. Lo bahkan nggak pantas buat nyium alas sepatunya!""BANGSAT! MATI LO SEMUA!" teriak Danang histeris sembari menarik pelatuk pistolnya.Brak!Sebelum jarinya sempat menekan pelatuk, aku melesat maju bagaikan kilat. Hanya dalam satu persekian detik, jarak sepuluh meter di antara kami terkikis habis. Sebelum peluru sempat meletup, telapak tangan kananku yang terselimuti energi giok tebal sudah menyambar pergelangan tangan Danang.Krak!"AAAGHHHH! TANGAN GUEE!" jerit Danang histeris saat tulang pergelangan tangannya remuk seketika dalam genggamanku. Pistol di tangannya jatuh terlempar ke atas karpet mahal.Tanpa memberi jeda, aku mencengkeram kerah baju mewahnya, mengan

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 204

    Kanya masih bersandar manja di pangkuanku, membiarkan jemariku mengusap lembut rambut panjangnya yang halus. Ciuman hangat kami baru saja terlepas, meninggalkan pendar kebahagiaan dan rona kemerahan yang begitu manis di kedua pipi mulusnya."Aku masih mau dipangku gini terus..." bisik Kanya halus, menyandarkan kepalanya di dadaku sembari memainkan kancing kemejaku dengan jemari lentiknya."Nanti kita sambung lagi," pungkasku lembut sembari meremas pinggul rampingnya dengan lembut, lalu menegakkan tubuh. "Sekarang saatnya kita selesaikan permainan ini."Kanya tersenyum manis, mengangguk pasrah lalu perlahan merosot turun dari pangkuanku.Diva, Meyden, Ciska, dan Sora yang sejak tadi memperhatikan langsung berdiri tegak. Suasana manis di ruang tengah seketika berubah menjadi sangat dingin oleh aura tempur yang membara."Semua persiapannya sudah selesai," ujar Ciska sembari menutup laptopnya. "Radar memantau bahwa kerumunan wartawan dan mobil polisi di depan gerbang kediaman Danang sudah

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 203

    Bip!Siaran langsung dimulai. Dalam hitungan detik, penonton melonjak dari ribuan hingga menembus angka jutaan orang."T-tolong... siapapun yang lihat siaran ini... tolong aku..." ucap Kanya dengan suara bergetar dan napas terengah-engah yang amat meyakinkan. Air mata bening mengalir mulus melewati pipinya yang halus."Aku lagi diancam... ada pengusaha jahat bernama Danang Kusuma yang mau celakain aku dan keluarga aku... Dia punya bisnis judi ilegal dan jaringan kriminal berdarah..." Kanya melanjutkan sembari menayangkan beberapa dokumen digital bukti transaksi gelap milik Danang yang disiapkan Ciska."Aku takut banget... Rumahku di Kompleks Gemilang sekarang lagi dikepung preman... aku cuma mau minta perlindungan dari publik dan aparat..." rintih Kanya penuh penghayatan, menangkupkan kedua tangannya di depan kamera.Efeknya sungguh luar biasa.Kolom komentar langsung meledak oleh kemarahan netizen. Ratusan ribu bagikan dan komentar membanjiri jagat maya. Dalam waktu kurang dari tiga

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 202

    Langkah kaki kami bergema pelan di koridor penthouse saat matahari subuh mulai membayang di ufuk timur. Diva berjalan menempel rapat di sisiku. Napasnya masih tersengal lembut, sisa dari pertempuran panas yang baru saja kami selesaikan di atas meja kerja Kasino Cempaka.Setiap usapan pelanku di punggungnya dibalas dengan sandaran kepala yang makin dalam. Tatapan matanya kini tak lagi memancarkan keraguan, melainkan kepatuhan mutlak seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.Kemenangan malam ini benar-benar mematahkan tulang punggung finansial Danang Kusuma. Kasino terbesar yang menjadi sumber uangnya kini resmi berganti pemilik.Namun, begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama, raut wajah Sora dan Ciska di depan layar monitor langsung memberi sinyal bahwa permainan belum sepenuhnya usai. Danang yang makin terdesak ternyata masih mencoba bertahan."Mas Kipli, lihat ini," sela Sora begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama. Jemari lentiknya lincah menunjuk

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 201

    Seluruh staf kasino dan pengunjung tercengang mendengar pengumuman berani tersebut."Kurang ajar! Bunuh mereka!" teriak Rudi histeris sembari menarik pistol otomatis dari balik jasnya. "Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup dari sini!""Cari mati," gumam Meyden dingin.Sebelum Rudi sempat mengarahkan moncong senjata api di tangannya, tubuh Meyden sudah bergerak secepat kilat. Gerakannya bagaikan bayangan hitam yang tak tertangkap mata telanjang.Brak!Dengan satu tebasan, Meyden menghantam pergelangan tangan Rudi hingga pistol itu terlempar. Tanpa memberi jeda, wanita itu menyusup ke belakang tubuh sang manajer, memuntir kedua lengannya dan mengunci leher pria itu.Klek!"AAAGHHH! AMPUN! LENGAN GUE!" jerit Rudi histeris, berlutut terpaksa di atas lantai marmer aula.Enam penjaga bersenjata lainnya yang hendak maju seketika menghentikan langkah mereka. Aku melangkah maju satu langkah, mengalirkan tipis energi giok di dalam inti tubuhku yang memancarkan gelombang intimidasi tak terli

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 8

    "Sekarang coba aku lihat modal kamu," ujar Diva sambil bersandar santai di pinggiran meja riasnya yang penuh lampu. "Mana ponsel kamu? Sini, aku mau lihat.""Hah? Hape saya, Mbak?" Aku mendadak gagap. "Bu-buat apa? Hape saya mah hape kentang, Mbak. Layarnya aja udah retak seribu gara-gara keseringa

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 4

    Aku memejamkan mata. Kepalaku pening bukan main karena gairah yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun. Tapi, tepat saat tangannya mau menyentuh ikat pinggangku, sebuah bayangan horor muncul.Wajah Pak Jaka yang keriput mendadak lewat di pikiranku. Sialan, rentenir itu merusak segalanya! Aku kaget set

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 2

    Preman pertama melayangkan pukulan yang kelihatan lambat di mataku. Tanpa sadar, tubuhku menghindar dengan gerakan yang lentur banget. Tanganku bergerak lincah, kayak lele yang licin saat mau ditangkap."Jurus Kepala Lele!"Bugh!Pukulan lawan kutangkis dengan mudah, lalu sikutku menghantam ulu hat

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 1

    "Ahhh... Emmhh... Terus, Mas... di situ... ahhh..." desahan Diva Prameswari yang serak itu terdengar nyata di telingaku.Dia cuma pakai selembar handuk putih yang melilit longgar, pamer pundak mulusnya di bawah lampu kamar yang remang. Wangi melati dari kulitnya tercium, membuat kepalaku pusing kar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status