Mag-log in
"Ahhh... Emmhh... Terus, Mas... di situ... ahhh..." desahan Diva Prameswari yang serak itu terdengar nyata di telingaku.
Dia cuma pakai selembar handuk putih yang melilit longgar, pamer pundak mulusnya di bawah lampu kamar yang remang. Wangi melati dari kulitnya tercium, membuat kepalaku pusing karena gairah yang sudah di ubun-ubun.
"Ayo, Mas... jangan cuma dilihat aja. Katanya mau tahu apa yang di balik handuk ini?"
Tanganku baru saja mau menyentuh kulit halusnya. Sedikit lagi. Tinggal beberapa senti.
BRAKK!
"Kipli! Keluar kamu, monyet! Mau saya bakar kosan ini, hah?!"
Gedoran itu hampir bikin pintu yang sudah keropos dimakan rayap lepas dari engselnya.
Aku langsung loncat kaget. Nyawaku yang tadi masih di kasur bareng Diva rasanya ditarik paksa balik ke kenyataan. Napas memburu, keringat dingin keluar semua, dan yang paling kacau, 'tenda pramuka' di balik selimut lusuh ini masih berdiri tegak.
Sial! Aku baru bermimpi ketemu bidadari cantik. Kulitnya mulus banget, rambutnya masih basah habis mandi bareng, dan kita tinggal satu atap. Eh, malah harus bangun gara-gara gedoran pintu yang tidak ada otaknya.
Andai saja tadi mimpiku dikasih durasi lima menit lebih lama, sudah pasti 'si bunglon' bakal berpesta pora menikmati jatah dari artis film biru langganan imajinasiku itu. Tapi sialan betul bapak kos satu ini. Dia merusak momen puncak yang sudah di depan mata!
"Kipli! Buka pintu ini sekarang atau saya bongkar pakai linggis!"
Gedoran itu semakin parah. Debu dari plafon kamar kosku yang berjamur rontok sampai mengenai bantal. Aku mengusap wajah dengan kasar sambil berusaha mengusir bayangan Diva yang tadi sudah siap menyerah di bawah selimut imajinasiku. Brengsek. Si bunglon yang tadi sudah tegak lurus macam tiang bendera, mendadak lemas karena takut mendengar suara cempreng Pak Jaka.
"Aduhh, Pak Jaka! Sabar dulu, baru bangun ini!" teriakku sambil kelabakan cari celana.
"Sabar-sabar dengkulmu! Kamu pikir saya ini bank sosial? Cepat buka!"
Aku menggeser gerendel pintu dengan tangan gemetar. Begitu terbuka, wajah Pak Jaka yang seram langsung muncul di depan hidungku. Bau rokok kretek murah dari mulutnya menghancurkan sisa-sisa wangi melati Diva di ingatanku.
"Tiga hari lagi, Pli! Ingat, tiga hari!" Pak Jaka langsung menunjuk-nunjuk tepat di depan mataku.
"Iya, Pak, saya tahu. Tapi ini orderan lagi sepi banget, sumpah."
"Saya nggak mau tahu! Pokoknya kalau tiga kali dua puluh empat jam itu duit nggak ada, motor butut kamu saya kilokan!"
"Jangan motornya dong, Pak. Itu motor buat cari makan." Aku coba memelas, tapi ternyata respon Pak Jaka di luar ekspektasiku.
"Makanya cari duit, jangan cuma cari mimpi basah sampai selimut kamu bau pesing begitu!"
Langkah kaki berat Pak Jaka terdengar menjauh. Aku mengerang sambil mengusap wajah yang lengket. Sialan, rentenir itu benar-benar perusak suasana paling juara di Bekasi.
Drrtt... Drrtt...
"Apalagi sih? Nagih utang lewat telepon juga?" gumamku sambil ambil ponsel retak di lantai.
Begitu layar menyala, jantungku rasanya mau copot. Ada notifikasi pesanan masuk dengan angka yang bikin mataku mau keluar. Nominalnya tidak masuk akal, gede banget, cukup buat bayar setengah utang ke si Pak Jaka.
"Gila! Ini beneran? Apa sistemnya lagi error?"
Aku tidak pakai pikir panjang. Tanpa cuci muka, jaket ojol yang baunya sudah kayak kaus kaki basah langsung kusambar. Motor bebek tuaku sempat batuk-batuk sebentar sebelum akhirnya mau diajak jalan membelah angin malam yang lembap.
"Ayo, Bek! Jangan rewel sekarang, ini demi nyawa kamu juga!"
Aku pacu motor menembus jalanan Bekasi yang mulai sepi. Alamatnya aneh, di kawasan perumahan elit yang pagarnya saja lebih tinggi dari harga diriku. Di depan gerbang emas yang berkilau, duniaku rasanya berhenti.
"Selamat malam. Mas Ojol yang saya pesan tadi?" suara itu lembut tapi bikin kaget setengah mati. Aku ngerem mendadak sampai ban motor bunyi nyaring dan meninggalkan bekas hitam di aspal. Begitu aku tengok, mataku hampir keluar.
"M-mbak... Diva?"
Di sana, Diva Prameswari berdiri tegak. Dia bukan lagi foto di layar ponsel yang biasa aku pandangi tiap malam sebelum tidur. Dia nyata, cuma berjarak beberapa meter dariku. Pakai gaun malam hitam yang potongannya berani banget.
"Iya, aku sendiri. Kenapa? Kamu kayak habis lihat hantu aja." Mbak Diva tampak tenang, sedangkan aku... arghhh, aku malah grogi melihat artis idamanku di film dewasa biasanya, ternyata bukan fiktif.
"Eh, bukan hantu, Mbak. Ini... anu... aslinya jauh lebih... wow."
"Wow apa maksudnya? Kamu jangan ngelamun begitu, nanti nabrak pagar."
Aku tak menggubris ucapan Mbak Diva.
Bagaimana mataku bisa fokus ke jalan, kalau apa yang baru saja mampir di mimpiku kini benar-benar berdiri nyata, bernapas, dan hanya berjarak satu jangkauan tangan saja?
Rambut bondolnya yang hitam legam membingkai wajah tirus yang selama ini cuma bisa kusentuh lewat layar ponsel retakku. Matanya yang indah di balik bingkai kacamata, leher jenjang yang mulus, sampai kaki putih jenjang yang seolah bersinar di bawah lampu jalan, benar-benar definisi keindahan alam semesta yang dipadatkan jadi satu dalam wujud manusia.
Belum lagi gunung kembarnya yang, ahhh… ukurannya benar-benar tidak sopan bagi kesehatan jantung rakyat jelata sepertiku. Bentukannya yang padat itu seolah-olah ingin memberontak keluar dari kain gaun hitam yang tipis, seakan berteriak memanggilku untuk segera menjamah dan meremasnya sampai puas.
Namun, lamunanku tak bertahan lama ketika Diva melangkah semakin dekat ke arah motorku. Aroma tubuhnya yang mahal, campuran vanila dan bunga melati yang sangat sensual, langsung menyerang indra penciumanku, membuat saraf-saraf di kepalaku mendadak korslet seketika.
Aku menelan ludah susah payah, tenggorokan rasanya kering banget. Sial, 'si bunglon' di balik celana kainku ini malah makin jadi.
"Pesanan aku mana, Mas? Kok malah bengong?" Mbak Diva langsung menepuk bahuku.
"Oh! Ini, Mbak. Maaf, saya tadi agak... terpesona sedikit."
Diva tersenyum tipis, suaranya dingin tapi menggoda. Aku buru-buru buang muka ke arah stang motor, berusaha bayangin muka Pak Jaka supaya gairah ini turun. Tapi gagal total. Bayangan lekukan tubuh di balik gaun tipis itu jauh lebih kuat merusak pertahanan.
"Mas, mukanya kok merah banget? Habis dikejar setan atau memang lagi mikir yang aneh-aneh?"
"Nggak kok, Mbak. Ini cuma... gerah. Bekasi emang lagi panas banget malam ini, ya?" Aku coba mengalihkan perhatian, tapi respon Mbak Diva...
"Gerah atau karena lihat aku pakai baju begini? Jujur aja, aku nggak akan marah."
Baru saja aku mau menjawab, suasana langsung berubah tegang. Semak-semak di belakang Diva gerak-gerak kasar.
Srekk... Srekk...
"Siapa itu?!" teriak Diva sambil mundur ke arahku.
Muncul tiga pria bertato dengan badan segede kulkas dari kegelapan. Tatapan mereka ke Diva kayak serigala lapar yang ketemu daging segar.
"Wah, wah. Malam-malam begini ada tontonan bagus di depan gerbang."
"Ceweknya cakep bener, Bos. Bodinya itu lho, bikin nagih!"
"Ojolnya kita habisi saja, buang ke selokan. Ceweknya kita bawa, biar kita kasih pelayanan khusus."
Salah satu preman maju dengan seringai menjijikkan. Diva refleks mundur dan memegang pundakku erat. Tangannya yang gemetar itu bikin emosiku langsung naik.
"Mbak, mundur di belakang saya. Jangan jauh-jauh," bisikku.
"Tapi Mas, mereka banyak! Kamu mending kabur, cari bantuan!"
"Kabur? Dan ngebiarin aset— maksud saya, ngebiarin Mbak disentuh tangan kotor mereka? Nggak akan!" Aku sendiri kaget dengar suaraku yang tiba-tiba jadi berat. Ada dorongan aneh dari perut yang menjalar ke tangan dan kaki, rasanya kayak ada mesin turbo yang baru nyala di tubuh krempengku ini.
"Heh, Ojol dekil! Mau jadi pahlawan kesiangan kamu? Sini, biar saya pecahin kepala kamu!"
Langkah kaki Danang Kusuma yang menyedihkan semakin menjauh, melintasi halaman rumah mewahnya yang gelap gulita. Setelah sosoknya hilang, ruang tamu berkubah tinggi itu mendadak hening.Di atas meja kayu ukir yang megah, tumpukan berkas penyerahan aset dari Danang sudah lengkap berhias tanda tangan.Ciska merapikan lembar demi lembar dokumen itu sembari tersenyum tipis."Semua hak milik bisnis hiburan, izin klub, sampai rekening bank resmi berpindah tangan," ujar Ciska menoleh padaku. "Total nilainya triliunan rupiah. Dalam hitungan jam, semuanya bakal aku masukin ke PT Garuda Nusantara Holding.""Kerja bagus, Ciska," kataku pelan, menepuk bahunya hangat."Meyden, Kanya, Sora," panggil Diva dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menata emosinya. "Kalian urus pengamanan perimeter rumah ini sama tim di luar. Biarkan Kipli dan Ciska selesaikan verifikasi berkas terakhir di ruang kerja.""Siap, Mbak Diva!" sahut Kanya dan Meyden serentak. Sora mengangguk anggun, lalu ketiga wanita i
"Jaga mulut lo," desis Diva sangat dingin, menatap Danang dengan pandangan jijik yang amat pekat. "Pria yang lo sebut tukang ojol ini... jauh lebih hebat dan berkuasa daripada lo yang cuma bisa bersembunyi di balik uang dan preman!""Tahu diri sedikit," tambah Kanya dengan senyum meremehkan. "Mas Kipli itu pria yang hebat. Lo bahkan nggak pantas buat nyium alas sepatunya!""BANGSAT! MATI LO SEMUA!" teriak Danang histeris sembari menarik pelatuk pistolnya.Brak!Sebelum jarinya sempat menekan pelatuk, aku melesat maju bagaikan kilat. Hanya dalam satu persekian detik, jarak sepuluh meter di antara kami terkikis habis. Sebelum peluru sempat meletup, telapak tangan kananku yang terselimuti energi giok tebal sudah menyambar pergelangan tangan Danang.Krak!"AAAGHHHH! TANGAN GUEE!" jerit Danang histeris saat tulang pergelangan tangannya remuk seketika dalam genggamanku. Pistol di tangannya jatuh terlempar ke atas karpet mahal.Tanpa memberi jeda, aku mencengkeram kerah baju mewahnya, mengan
Kanya masih bersandar manja di pangkuanku, membiarkan jemariku mengusap lembut rambut panjangnya yang halus. Ciuman hangat kami baru saja terlepas, meninggalkan pendar kebahagiaan dan rona kemerahan yang begitu manis di kedua pipi mulusnya."Aku masih mau dipangku gini terus..." bisik Kanya halus, menyandarkan kepalanya di dadaku sembari memainkan kancing kemejaku dengan jemari lentiknya."Nanti kita sambung lagi," pungkasku lembut sembari meremas pinggul rampingnya dengan lembut, lalu menegakkan tubuh. "Sekarang saatnya kita selesaikan permainan ini."Kanya tersenyum manis, mengangguk pasrah lalu perlahan merosot turun dari pangkuanku.Diva, Meyden, Ciska, dan Sora yang sejak tadi memperhatikan langsung berdiri tegak. Suasana manis di ruang tengah seketika berubah menjadi sangat dingin oleh aura tempur yang membara."Semua persiapannya sudah selesai," ujar Ciska sembari menutup laptopnya. "Radar memantau bahwa kerumunan wartawan dan mobil polisi di depan gerbang kediaman Danang sudah
Bip!Siaran langsung dimulai. Dalam hitungan detik, penonton melonjak dari ribuan hingga menembus angka jutaan orang."T-tolong... siapapun yang lihat siaran ini... tolong aku..." ucap Kanya dengan suara bergetar dan napas terengah-engah yang amat meyakinkan. Air mata bening mengalir mulus melewati pipinya yang halus."Aku lagi diancam... ada pengusaha jahat bernama Danang Kusuma yang mau celakain aku dan keluarga aku... Dia punya bisnis judi ilegal dan jaringan kriminal berdarah..." Kanya melanjutkan sembari menayangkan beberapa dokumen digital bukti transaksi gelap milik Danang yang disiapkan Ciska."Aku takut banget... Rumahku di Kompleks Gemilang sekarang lagi dikepung preman... aku cuma mau minta perlindungan dari publik dan aparat..." rintih Kanya penuh penghayatan, menangkupkan kedua tangannya di depan kamera.Efeknya sungguh luar biasa.Kolom komentar langsung meledak oleh kemarahan netizen. Ratusan ribu bagikan dan komentar membanjiri jagat maya. Dalam waktu kurang dari tiga
Langkah kaki kami bergema pelan di koridor penthouse saat matahari subuh mulai membayang di ufuk timur. Diva berjalan menempel rapat di sisiku. Napasnya masih tersengal lembut, sisa dari pertempuran panas yang baru saja kami selesaikan di atas meja kerja Kasino Cempaka.Setiap usapan pelanku di punggungnya dibalas dengan sandaran kepala yang makin dalam. Tatapan matanya kini tak lagi memancarkan keraguan, melainkan kepatuhan mutlak seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.Kemenangan malam ini benar-benar mematahkan tulang punggung finansial Danang Kusuma. Kasino terbesar yang menjadi sumber uangnya kini resmi berganti pemilik.Namun, begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama, raut wajah Sora dan Ciska di depan layar monitor langsung memberi sinyal bahwa permainan belum sepenuhnya usai. Danang yang makin terdesak ternyata masih mencoba bertahan."Mas Kipli, lihat ini," sela Sora begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama. Jemari lentiknya lincah menunjuk
Seluruh staf kasino dan pengunjung tercengang mendengar pengumuman berani tersebut."Kurang ajar! Bunuh mereka!" teriak Rudi histeris sembari menarik pistol otomatis dari balik jasnya. "Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup dari sini!""Cari mati," gumam Meyden dingin.Sebelum Rudi sempat mengarahkan moncong senjata api di tangannya, tubuh Meyden sudah bergerak secepat kilat. Gerakannya bagaikan bayangan hitam yang tak tertangkap mata telanjang.Brak!Dengan satu tebasan, Meyden menghantam pergelangan tangan Rudi hingga pistol itu terlempar. Tanpa memberi jeda, wanita itu menyusup ke belakang tubuh sang manajer, memuntir kedua lengannya dan mengunci leher pria itu.Klek!"AAAGHHH! AMPUN! LENGAN GUE!" jerit Rudi histeris, berlutut terpaksa di atas lantai marmer aula.Enam penjaga bersenjata lainnya yang hendak maju seketika menghentikan langkah mereka. Aku melangkah maju satu langkah, mengalirkan tipis energi giok di dalam inti tubuhku yang memancarkan gelombang intimidasi tak terli
Aku mengenali setiap inci sudut ruangan itu dengan sangat detail di luar kepala. Ada sofa kulit hitam yang legendaris di bagian tengah, pencahayaan remang-remang dari lampu sorot atas, hingga vas bunga buatan di sudut ruangan yang posisinya tidak pernah berubah.Ini adalah set syuting film dewasa m
"Mas Kipli... jantungnya kenapa detaknya kencang banget?" tanya Sora tiba-tiba. Dia menghentikan gerakan tangannya dan menatapku dengan mata bulatnya yang polos."Ya... gimana nggak kencang, Mbak Sora. Posisi Mbak dekat banget begini, terus baju Mbak itu... kurang bahan di samping," jawabku jujur,
"Gila! Masa saya telanjang di depan Mbak?!" teriakku sambil memegang erat ujung handuk."Halah, sok suci banget kamu. Sini, aku cuma mau lihat ukurannya pas atau nggak."Mayden mendekat lagi. Jemari lenturnya mulai menyentuh pundakku yang masih basah. Sentuhannya itu seperti aliran listrik yang lan
Aku memejamkan mata. Kepalaku pening bukan main karena gairah yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun. Tapi, tepat saat tangannya mau menyentuh ikat pinggangku, sebuah bayangan horor muncul.Wajah Pak Jaka yang keriput mendadak lewat di pikiranku. Sialan, rentenir itu merusak segalanya! Aku kaget set







