LOGINDiva melirik kemejaku yang berantakan, lalu tersenyum miring penuh kemenangan. "Kemeja kamu berantakan banget. Kalau ada yang lihat di lift, pasti tahu kita habis ngapain.""Ya ini gara-gara Mbak Diva narik-narik tadi," balasku sambil memakai kembali jas hitamku untuk menutupi bagian kemeja yang kusut dan kancing yang copot. Setelah jas terpasang kancingnya, penampilanku kembali terlihat rapi seperti seorang pengawal pribadi pada umumnya."Nah, kalau pakai jas begitu kan lumayan ketutup," ujar Diva, kini dia sendiri sedang sibuk menyisir rambut panjangnya menggunakan jari-jari tangannya, lalu mengambil bedak padat dari tas jinjingnya untuk menyamarkan keringat di wajahnya."Lipstik saya aman nggak?" tanya Diva sambil memajukan wajahnya ke arahku.Aku menatap bibir sensualnya yang kini tampak sedikit bengkak dan basah akibat ciuman intens kami tadi. "Agak berantakan di bibir kiri, Mbak. Sama warnanya agak pudar.""Sialan, ini pasti gara-gara kamu lumat terlalu kencang tadi," umpat Diva
Mendengar rintihan pasrah dari Diva, gairahku melonjak drastis. Ratapan dari seorang ratu film dewasa termahal yang memohon agar aku menumpahkan segalanya di dalam rahimnya benar-benar godaan yang luar biasa gila.Namun, tepat di saat aku sudah berada di ujung pelepasan, akal sehatku yang tersisa mendadak berputar cepat. Aku teringat siapa wanita yang ada di pangkuanku ini. Dia Diva. Kariernya sedang berada di puncak, dan satu kecerobohan kecil bisa menghancurkan segalanya.Aku menahan pinggulku kuat-kuat, menghentikan hentakan brutal itu secara mendadak tepat di titik terdalam."Kipli... ahhh, kenapa berhenti? Terus... masuk lagi, Kipli..." rintih Diva dengan mata yang sayu dan sayup-sayup berair, menatapku penuh harap."Nggak bisa, Mbak," bisikku dengan napas yang memburu berat, menahan desakan pelepasan yang sudah terasa di ujung."Kenapa? Kamu... nggghhh, kamu mau menyiksa saya?" Diva menggeliat gelisah, mencoba menggerakkan pinggulnya sendiri untuk memancingku kembali bergerak. "
Melalui celah embun kaca yang sedikit tersapu, aku bisa melihat ekspresi Kanya di luar sana mendadak membeku.Namun, di luar dugaanku, dia tidak berteriak atau memanggil nama Diva lagi. Gadis polos itu hanya berdiri terpaku selama dua detik dengan mata membelalak lebar, sebelum akhirnya berbalik cepat dan melangkah terburu-buru meninggalkan area parkir kami, seolah-olah dia baru saja melihat sesuatu yang terlarang.Melihat siluet mungil itu menghilang di balik lift basement, Diva seketika mengembuskan napas lega yang panjang."Dia... langsung pergi," bisik Diva, suaranya bergetar tipis menahan napas yang masih memburu.Dia menjatuhkan keningnya yang basah oleh keringat di bahuku. Tubuhnya yang tadi kaku perlahan kembali melunak, namun aku bisa merasakan detak jantungnya masih bertalu cepat di dadaku."Kipli, dia lihat nggak ya?" tanya Diva tiba-tiba. Dia mendongak, sepasang mata sayunya memancarkan kilat panik yang jarang sekali dia tunjukkan.Dia menoleh sekilas ke arah kaca samping
Sepasang tanganku yang kekar langsung turun mengunci pinggang rampingnya. Aku mencengkeram kulit halusnya dengan erat hingga dia tidak bisa bergerak bebas lagi.Dengan satu sentakan tangan, aku mengangkat tubuhnya sedikit, lalu menurunkannya kembali dengan telak. Di saat yang sama, aku memberikan hentakan balasan dari bawah yang jauh lebih dalam, bertenaga, dan menghunjam tepat sasaran."Ahhh! Kipli!" jerit Diva tertahan, matanya langsung terbelalak sempurna karena terkejut oleh serangan balasanku yang begitu masif.Keangkuhan sang ratu agensi runtuh total dalam sekejap mata. Pinggulnya langsung terkunci pasrah, dan dia tidak lagi punya kekuatan untuk mengatur ritme. Aku mengambil alih kendali sepenuhnya.Plak! Plak! Plak!Suara kulit kami yang berbenturan intens menggema berulang kali, mendominasi keheningan kabin mobil yang kedap suara. Aku menghujamnya tanpa ampun dari bawah."Ahh! Ahh! Kipli... ssshh, pelan... pelan..." ratap Diva dengan suara yang pecah dan terengah-engah.Hantam
Kami berdua sama-sama terpaku. Tidak ada yang bergerak mundur.Diva menatap bibirku sekilas sebelum kembali mengunci mataku dengan tatapan binar laparnya yang tajam namun berkelas. Tangan indahnya terangkat perlahan, jemarinya yang halus menyentuh rahangku, mengusapnya dengan sangat lembut."Kamu sengaja ya dari tadi?" bisik Diva, deru napasnya yang hangat terasa begitu intim di kulit wajahku. "Sengaja membuat saya terus memikirkan kejadian di ruang ganti tadi sepanjang jalan?"Tenggorokanku mendadak terasa kering kerontang melihat kedekatan ini. "Saya nggak sengaja, Mbak. Tapi kalau Mbak Diva merasa terganggu... saya minta maaf."Diva terkekeh sinis, sebuah tawa kecil yang terdengar sangat seksi dan dominan. "Minta maaf? Setelah membuat kepala saya berantakan, kamu pikir maaf saja cukup, Kipli?"Ucapan bernada menantang dari sang ratu film dewasa ini meruntuhkan sisa-sisa profesionalismeku.Alih-alih mundur, aku justru melangkah maju, mempersempit jarak yang tersisa. Kedua tanganku
Diva langsung membalikkan badannya menghadap meja rias, mengambil sebotol parfum dari dalam tas jinjingnya, lalu menyemprotkannya sedikit ke leher."Sudah, jangan macam-macam lagi. Kita pergi sekarang," ujar Diva sambil merapikan letak gaun merahnya sekilas, lalu berjalan mendahuluiku menuju pintu.Aku mengambil tas jinjingnya yang tertinggal di meja, merapikan jas hitamku yang agak kusut, lalu segera melangkah menyusulnya keluar.Koridor studio sudah agak sepi saat kami lewat. Beberapa kru masih sibuk menggulung kabel di area set, dan Doni tampak melambaikan tangan dengan senyum lebar saat melihat Diva berjalan anggun menuju pintu keluar gedung.Aku terus berjalan tepat satu langkah di belakangnya, memasang wajah sedingin es, menjaga jarak aman sampai kami tiba di area parkir luar.Begitu sampai di depan mobil mewahnya, aku mengambil alih kunci dari tangannya. Aku membukakan pintu penumpang untuknya terlebih dahulu. Setelah Diva duduk dengan anggun di dalam, aku memutar ke depan kap







