Home / Romansa / Om Bule Kekasihku / Jarak Yang Mulai Menguji

Share

Jarak Yang Mulai Menguji

Author: Sabrina dewi
last update publish date: 2025-12-21 14:45:34

Waktu di antara mereka tidak lagi terasa seperti jembatan.

Ia berubah menjadi ruang kosong yang semakin sulit dijangkau.

Di Ubud, Nadia duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar pada ranjang. Lampu kamar sengaja ia redupkan, seolah terang berlebih hanya akan memperjelas rasa sepi yang tak bisa ia sembunyikan.

Sudah dua hari Daniel hanya mengirim pesan singkat.

Pendek. Fungsional. Seperti laporan kerja.

Tidak ada lagi cerita kecil tentang harinya.

Tidak ada suara tertawa yang biasanya m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Om Bule Kekasihku   Foto Keluarga

    Malam setelah makan malam emosional itu berakhir lebih lambat dari biasanya. Bukan karena ada masalah, justru sebaliknya. Tidak ada seorang pun yang benar-benar ingin mengakhiri kebersamaan malam itu. Setelah bertahun-tahun hidup dengan luka, kehilangan, dan perjuangan masing-masing, momen-momen seperti ini terasa terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Di ruang keluarga Villa Blankenese, semua masih berkumpul. Noah dan Nora sudah tertidur dikamarnya. Elena juga mulai mengantuk meski masih berusaha bertahan mendengarkan percakapan orang dewasa. Sedangkan Ayu, masih belum sepenuhnya pulih dari apa yang terjadi saat makan malam. Karena setiap kali ia mengingat kata-kata Margaret, Thomas, Lina dan Rudi dadanya kembali terasa hangat. Ayu sedang membantu Lina membereskan beberapa cangkir teh ketika tanpa sadar ia berkata, "Ma..." ucap Ayu pelan. Lina langsung menoleh. Ayu membeku, begitu juga Lina. Mereka saling menatap beberapa detik. Kemudian Lina tersenyum lebar. "Ya?" A

  • Om Bule Kekasihku   Seorang Putri

    Malam itu, suasana di Villa Blankenese terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Percakapan sore antara Ayu, Lina, Rudi, Margaret, dan Thomas masih membekas di hati semua orang. Terutama untuk Ayu. Sekarang ia tidak lagi memikirkan pernikahannya dengan perasaan sedih. Tidak lagi membayangkan dirinya berdiri sendirian di ruang ganti pengantin. Tidak lagi membayangkan berjalan menuju altar tanpa keluarga. Karena sekarang ia tahu, Ia memiliki keluarga. Bahkan lebih dari yang pernah ia impikan. Malam itu seluruh penghuni villa berkumpul untuk makan malam. Seperti biasa, meja makan panjang dipenuhi suara obrolan. Noah sedang tidur di baby cot kecil yang diletakkan di dekat Nadia. Sedangkan Nora tertidur di gendongan Camille yang tampak sangat bangga mendapatkan tugas tersebut. Elena duduk di antara Daniel dan Nadia sambil sibuk menceritakan sesuatu tentang Bruno yang sore tadi mencoba mengejar kupu-kupu. Dan untuk beberapa saat, semuanya terasa begitu damai. Sampai Thomas tiba-tiba me

  • Om Bule Kekasihku   Kau Tidak Akan Sendirian

    Pertengahan Agustus berlalu dengan cepat. Persiapan pernikahan Paul dan Ayu hampir selesai. Dekorasi sudah dipastikan sesuai dengan konsep yang diharapkan. Katering sudah deal. Gaun pengantin sudah beberapa kali dicoba. Bahkan Elena sudah berulang kali memastikan gaun yang akan ia kenakan sebagai flower girl terlihat sempurna. Semua tampak berjalan baik. Namun ada satu hal yang diam-diam terus mengganggu hati Ayu. Sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan secara terbuka. Sesuatu yang selalu berhasil ia sembunyikan di balik senyuman. Sampai suatu sore. Hari itu Nadia sedang menidurkan Noah di ruang keluarga. Nora tertidur di pelukan Daniel. Elena bermain di taman bersama Bruno. Sedangkan Ayu duduk sendirian di gazebo belakang. Memandang Sungai Elbe yang berkilauan diterpa cahaya matahari sore. Biasanya ia selalu ceria dan mudah tertawa. Namun kali ini berbeda. Tatapannya kosong. Dan tanpa disadari, Lina memperhatikannya dari kejauhan. "Lihat Ayu" kata Lina pelan kepada Rudi. Rudi ik

  • Om Bule Kekasihku   Agustus Yang Hangat

    Waktu berlalu jauh lebih cepat daripada yang disadari siapa pun. Tanpa terasa, musim panas di Hamburg sudah memasuki pertengahan Agustus. Taman Villa Blankenese tampak lebih hidup dari biasanya. Bunga-bunga bermekaran. Rumput hijau terawat rapi. Udara hangat membuat hampir seluruh penghuni rumah lebih sering menghabiskan waktu di luar. Dan ada dua penghuni kecil yang menjadi pusat perhatian setiap hari. Noah Charter dan Nora Charter. Kini usia mereka sudah genap satu bulan. Meski masih sangat kecil, perubahan keduanya sudah terlihat jelas. Berat badan mereka bertambah. Mereka lebih sering terjaga. Dan sesekali mulai menunjukkan ekspresi yang membuat seluruh keluarga gemas. Termasuk Daniel. Yang tentu saja tidak akan pernah mengakuinya. Pagi itu Nadia sedang duduk di teras belakang bersama Lina dan Margaret. Nora tertidur nyaman di pelukannya. Sedangkan Noah sedang berada di gendongan Daniel. Margaret memperhatikan kedua cucunya dengan bangga. "Mereka tumbuh sangat baik."

  • Om Bule Kekasihku   Pulang Lebih Cepat

    Selesai rapat besar bukan berarti pekerjaan Daniel langsung berakhir. Justru sebaliknya, begitu para investor meninggalkan kantor pusat, puluhan email baru sudah menunggu. Dokumen yang perlu ditinjau. Kontrak yang perlu disetujui. Laporan yang perlu dibaca. Namun ada satu perbedaan besar dibanding beberapa tahun lalu. Sekarang Daniel punya alasan untuk tidak menghabiskan seluruh harinya di kantor. Dan alasan itu berjumlah empat orang. Nadia. Elena. Noah. Dan Nora. Di ruang kerjanya yang berada di lantai paling atas gedung perusahaan, Daniel sedang menandatangani beberapa dokumen ketika Paul masuk membawa tablet. "Tuan." "Ada apa?" "Tim legal sudah menyelesaikan revisi kontrak" ucap Paul. "Bagus" jawab Daniel. singkat. "Dan investor Jepang meminta jadwal pertemuan lanjutan." Daniel mengangguk. "Atur minggu depan." Paul mencatat semuanya. Namun beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu. Daniel menatap layar komputer. Tetapi tidak membaca apa pun. "Tuan?" "Hm?

  • Om Bule Kekasihku   CEO Yang Kurang Tidur

    Pukul lima pagi. Villa Blankenese masih gelap dan tenang. Setidaknya untuk ukuran rumah yang dihuni dua bayi kembar. Daniel baru saja berhasil tidur sekitar satu jam ketika suara tangisan Nora terdengar dari baby monitor. Beberapa menit kemudian Noah ikut bergabung. Daniel membuka mata perlahan. Tatapannya kosong selama beberapa detik. Lalu ia menatap langit-langit kamar. "Ini serangan terkoordinasi lagi." Nadia yang sedang berusaha menahan tawa langsung memukul lengannya pelan. "Mereka masih bayi." "Aku tahu mereka bekerja sama" jawab Daniel. "Kamu mulai halusinasi karena kurang tidur." Daniel tidak menjawab. Karena sebagian dirinya mulai berpikir Nadia mungkin benar. Satu jam kemudian, semua kembali tenang.Noah dan Nora tertidur, Nadia kembali beristirahat. Daniel sedang menikmati secangkir kopi ketika ponselnya bergetar. Satu pesan. Dari Paul."Tuan, saya perlu berbicara dengan Anda segera." Daniel langsung membaca pesan itu dua kali. Karena Paul jarang menggunaka

  • Om Bule Kekasihku   Kota Asing Wajah Lama

    Hamburg menyambut Nadia dengan dingin yang tidak ia kenal. Udara menusuk kulit begitu pintu bandara terbuka. Nafasnya mengepul tipis, seolah tubuhnya belum siap menerima kenyataan bahwa ia kini benar-benar berada jauh dari Ubud. Tidak ada aroma tanah basah, tidak ada suara serangga malam. Yang ada

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Om Bule Kekasihku   Sebelum Dunia Kembali Menariknya Pergi

    Pagi di Ubud datang perlahan, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu ketenangan. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, burung-burung kecil bernyanyi tanpa tergesa, dan cahaya matahari menyusup malu-malu ke sela dedaunan. Nadia terbangun lebih awal dari biasanya. Ia merasakan kehadir

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Om Bule Kekasihku   Dunia Yang Selama Ini Tersembunyi

    Malam di Ubud terasa berbeda sejak Daniel kembali. Udara tetap hangat, angin tetap lembut, tapi ada ketegangan halus yang menggantung di antara mereka tapi bukan ketegangan buruk, melainkan kesadaran bahwa sesuatu telah berubah. Mereka duduk di teras belakang kafe Nadia. Lampu kuning kecil menyala

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Om Bule Kekasihku   Ketika Dunia Kembali Menagih

    Pagi itu terasa terlalu tenang untuk sebuah perubahan besar. Nadia bangun lebih dulu. Ia menyiapkan sarapan sederhana: roti panggang, telur, dan kopi hitam untuk Daniel. Ia melakukan semuanya dengan gerakan ringan, seolah takut suara kecil apa pun akan membangunkan kebahagiaan yang masih rapuh. D

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status