ホーム / Romansa / Om Bule Kekasihku / Jarak Yang Semakin Tipis

共有

Jarak Yang Semakin Tipis

作者: Sabrina dewi
last update 公開日: 2025-11-29 18:12:54

Langkah mereka menyusuri jalan kecil Ubud yang licin oleh hujan. Nadia berjalan di depan, Daniel beberapa langkah di belakang, sesuai janjinya, tidak memaksa, hanya menjadi bayangan pelindung yang diam, lembut, dan sangat sulit diabaikan.

Setiap kali Nadia menoleh, Daniel selalu ada di sana. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Seperti ia tahu persis jarak yang tepat untuk membuat Nadia merasa aman dan tanpa mengekang.

Ketika Nadia sampai di depan rumah kecilnya, sebuah lampu kuning temaram dari teras menerangi wajahnya. Ia menoleh ke Daniel yang berhenti di bawah pohon.

“Terima kasih… sudah mengantar,” ucap Nadia, suaranya pelan tapi tulus.

Daniel mengangguk. “Anytime.”

Hujan turun lebih deras, membuat Nadia harus berteriak sedikit, “Kamu mau berteduh sebentar? Hujannya makin deras.”

Daniel menatapnya lama. “Kamu yakin?”

Nadia merasakan jantungnya melonjak. Pertanyaan itu sederhana, tetapi caranya mengucapkan begitu dalam, rendah, seperti memberinya kesempatan untuk mundur sehingga membuat pipi Nadia memanas.

“Aku… cuma tidak enak kalau kamu pulang dalam keadaan kayak gini,” kata Nadia cepat.

Daniel akhirnya melangkah mendekat, masuk ke bawah atap teras kecil itu. Suara hujan di atas genteng terdengar seperti musik lembut yang menegaskan betapa sepinya malam tersebut.

Nadia membuka pintu.

“Ayo masuk,” ucap Nadia pelan.

Daniel menatapnya dulu, seakan memberi kesempatan terakhir untuk membatalkan. Melihat Nadia tidak mundur, ia masuk perlahan.

Rumah Nadia hangat dan sederhana. Wangi kopi yang tersisa dari baju Nadia terpancar ke ruangan kecil itu. Daniel mengusap rambutnya yang basah, dan Nadia spontan meraih handuk kecil dari lemari dekat pintu.

“Ini” ucap Nadia sambil memberikan handuk kecil itu kepada Daniel.

Daniel mengambilnya. “Terima kasih. Apa kamu tinggal sendiri disini? Dimana orangtuamu?”

"Iya, mereka tidak tinggal disini" jawab Nadia.

Nadia membuatkan secangkir teh hangat untuk Daniel dan ia meletakan teh itu didekat Daniel.

"Silahkan diminum tehnya selagi masih hangat" ucap Nadia.

Daniel tersenyum "Terima kasih."

Saat Daniel mengeringkan rambutnya, Nadia tak sengaja memperhatikan lebih lama dari seharusnya. Gerakan tangannya, garis rahangnya, jaket yang menempel di tubuhnya dan kini mulai basah… semuanya terlalu mengganggunya.

Daniel menangkap tatapannya.

“Kenapa melihatku begitu?” tanya Daniel dengan senyum kecil yang nyaris nakal.

Wajah Nadia langsung merah. “Aku… tidak...”

Daniel menurunkan handuk, menatapnya dengan mata biru lembut yang tidak menghakimi.

“Nadia, saya tidak marah kamu melihat. Saya malah senang.”

Nadia memalingkan wajah. “Kamu itu… apa kamu selalu bicara sejujurnya?”

“Kalau menyangkut kamu? Iya” jawab Daniel.

Ruangan itu hening beberapa detik. Hening yang berat, namun hangat.

Daniel duduk di sofa kecil tanpa diundang, tapi gerakannya terasa sopan, seolah ia menunggu persetujuan tanpa meminta.

“Nad, kenapa kamu selalu menghindar?” kata Daniel tiba-tiba.

“Apa semua laki-laki membuat kamu takut? Atau hanya saya yang membuatmu takut?” tanya Daniel sambil mengeringkan rambutnya.

Nadia menelan ludah. Mengapa lelaki ini bisa membaca dirinya seperti buku terbuka?

“Aku… tidak takut,” kata Nadia. “Aku hanya… tidak mau salah.”

Daniel menatapnya lama, dalam, menenangkan.

“Boleh saya tanya sesuatu? Jujur.”

Nadia mengangguk kecil.

“Apa ada seseorang yang pernah membuatmu sakit?” tanya Daniel dengan suara rendah.

Pertanyaan itu seperti angin yang memadamkan semua keheningan.

Nadia tidak langsung menjawab. Tangannya memegang sisi kausnya, memelintirnya pelan.

“Ada..” bisik Nadia.

Daniel tidak bertanya lagi. Tidak mendesak. Ia hanya mencondongkan tubuh sedikit, suara lembutnya nyaris seperti bisikan penyembuhan.

“Nadia, saya bukan dia.”

Nadia merasakan sesuatu menegang di dadanya, bukan ketakutan, tapi sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia biarkan muncul: sebuah kepercayaan.

Daniel menatapnya dari atas ke bawah, bukan dengan nafsu kosong, tapi dengan kekaguman yang intens, hangat, yang membuat Nadia merasa dilihat sebagai seorang wanita, bukan sekadar tubuh.

“Boleh saya dekat?” tanya Daniel pelan.

Nadia mengangguk pelan, sedikit ragu, tetapi tidak mundur.

Daniel berdiri dan melangkah ke arahnya. Setiap langkah terasa seperti ia menghapus jarak dan tembok yang selama ini Nadia pasang. Ia berhenti satu langkah di depan Nadia tetapi cukup dekat untuk merasakan hangat tubuhnya, cukup jauh untuk tetap menghormatinya.

Tangan besar Daniel terangkat, berhenti di udara, menunggu.

Ketika Nadia mengangguk sekali lagi, barulah ia menyentuh pipinya.

Sangat lembut.

Seolah ia takut merusak sesuatu yang rapuh.

“Nadia…” suaranya rendah, serak, menggetarkan, “sejak hari pertama aku melihatmu, aku ingin tahu seperti apa suara jantungmu kalau aku berdiri sedekat ini.”

Nadia menahan napas.

Daniel menurunkan wajahnya.

Dahinya menyentuh dahi Nadia.

Hidung mereka hampir bersentuhan.

Nafas mereka bercampur.

“Kalau kamu tidak ingin saya mencium kamu, saya berhenti sekarang,” bisik Daniel, “tapi tolong… jangan suruh saya mundur.”

Nadia memejamkan mata.

Dadanya naik-turun tak beraturan.

Tangannya, tanpa sadar menggenggam tepi baju Daniel.

Jawaban yang tidak diucapkan itu cukup jelas.

Daniel tersenyum kecil.

Lembut. Menghargai.

Lalu ia memiringkan wajahnya sedikit, memberi tekanan paling halus pada bibir Nadia, nyaris tidak menyentuh, seperti bertanya sekali lagi.

Dan tepat sebelum bibir mereka benar-benar bertemu tiba-tiba pintu belakang rumah Nadia terbuka keras oleh hembusan angin.

Nadia terlonjak.

Daniel menahan pundaknya dengan refleks.

“Tenang, hanya angin,” katanya lembut sambil menenangkan nafas Nadia dengan jarak yang masih sangat dekat. “Kamu tidak sendiri, ada aku disini.”

Nadia menatapnya, mata lembut itu, hangat itu, yang tidak pernah mendesak.

Dan ia tahu satu hal:

Ia tidak lagi ingin bersembunyi dari Daniel.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Om Bule Kekasihku   Agustus Yang Hangat

    Waktu berlalu jauh lebih cepat daripada yang disadari siapa pun. Tanpa terasa, musim panas di Hamburg sudah memasuki pertengahan Agustus. Taman Villa Blankenese tampak lebih hidup dari biasanya. Bunga-bunga bermekaran. Rumput hijau terawat rapi. Udara hangat membuat hampir seluruh penghuni rumah lebih sering menghabiskan waktu di luar. Dan ada dua penghuni kecil yang menjadi pusat perhatian setiap hari. Noah Charter dan Nora Charter. Kini usia mereka sudah genap satu bulan. Meski masih sangat kecil, perubahan keduanya sudah terlihat jelas. Berat badan mereka bertambah. Mereka lebih sering terjaga. Dan sesekali mulai menunjukkan ekspresi yang membuat seluruh keluarga gemas. Termasuk Daniel. Yang tentu saja tidak akan pernah mengakuinya. Pagi itu Nadia sedang duduk di teras belakang bersama Lina dan Margaret. Nora tertidur nyaman di pelukannya. Sedangkan Noah sedang berada di gendongan Daniel. Margaret memperhatikan kedua cucunya dengan bangga. "Mereka tumbuh sangat baik."

  • Om Bule Kekasihku   Pulang Lebih Cepat

    Selesai rapat besar bukan berarti pekerjaan Daniel langsung berakhir. Justru sebaliknya, begitu para investor meninggalkan kantor pusat, puluhan email baru sudah menunggu. Dokumen yang perlu ditinjau. Kontrak yang perlu disetujui. Laporan yang perlu dibaca. Namun ada satu perbedaan besar dibanding beberapa tahun lalu. Sekarang Daniel punya alasan untuk tidak menghabiskan seluruh harinya di kantor. Dan alasan itu berjumlah empat orang. Nadia. Elena. Noah. Dan Nora. Di ruang kerjanya yang berada di lantai paling atas gedung perusahaan, Daniel sedang menandatangani beberapa dokumen ketika Paul masuk membawa tablet. "Tuan." "Ada apa?" "Tim legal sudah menyelesaikan revisi kontrak" ucap Paul. "Bagus" jawab Daniel. singkat. "Dan investor Jepang meminta jadwal pertemuan lanjutan." Daniel mengangguk. "Atur minggu depan." Paul mencatat semuanya. Namun beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu. Daniel menatap layar komputer. Tetapi tidak membaca apa pun. "Tuan?" "Hm?

  • Om Bule Kekasihku   CEO Yang Kurang Tidur

    Pukul lima pagi. Villa Blankenese masih gelap dan tenang. Setidaknya untuk ukuran rumah yang dihuni dua bayi kembar. Daniel baru saja berhasil tidur sekitar satu jam ketika suara tangisan Nora terdengar dari baby monitor. Beberapa menit kemudian Noah ikut bergabung. Daniel membuka mata perlahan. Tatapannya kosong selama beberapa detik. Lalu ia menatap langit-langit kamar. "Ini serangan terkoordinasi lagi." Nadia yang sedang berusaha menahan tawa langsung memukul lengannya pelan. "Mereka masih bayi." "Aku tahu mereka bekerja sama" jawab Daniel. "Kamu mulai halusinasi karena kurang tidur." Daniel tidak menjawab. Karena sebagian dirinya mulai berpikir Nadia mungkin benar. Satu jam kemudian, semua kembali tenang.Noah dan Nora tertidur, Nadia kembali beristirahat. Daniel sedang menikmati secangkir kopi ketika ponselnya bergetar. Satu pesan. Dari Paul."Tuan, saya perlu berbicara dengan Anda segera." Daniel langsung membaca pesan itu dua kali. Karena Paul jarang menggunaka

  • Om Bule Kekasihku   Rencana Masa Depan

    Seminggu setelah Noah dan Nora pulang ke Villa Blankenese, seluruh penghuni rumah akhirnya memahami satu kenyataan yang sama. Bayi kembar memang menggemaskan. Sangat menggemaskan. Namun mereka juga mampu membuat seluruh rumah kehilangan jadwal tidur yang normal. Termasuk Daniel Charter. Pria yang selama bertahun-tahun mampu mengelola perusahaan internasional, menghadapi negosiasi bernilai miliaran euro dan menyelesaikan krisis bisnis tanpa kehilangan ketenangan. Kini terlihat kebingungan karena dua bayi berusia beberapa hari. Dan hal itu menjadi hiburan bagi seluruh keluarga. Pukul dua dini hari. Noah menangis. Daniel langsung bangun. Beberapa detik kemudian Nora ikut menangis. Daniel bangun sepenuhnya. Lalu lima menit kemudian Noah kembali menangis dan Nora menyusul. Daniel menatap langit-langit kamar. "Mereka ini kerja sama." Nadia yang sedang menyusui Nora tertawa pelan. "Mereka masih bayi" jawab Nadia. "Mereka bersekongkol" kata Daniel. "Kamu terlalu banyak mem

  • Om Bule Kekasihku   Sebuah Keluarga

    Suasana hangat yang tercipta setelah percakapan antara Margaret dan Ayu masih terasa bahkan hingga malam hari. Villa Blankenese yang besar itu dipenuhi tawa, percakapan, dan sesekali tangisan kecil Noah atau Nora yang langsung membuat setengah penghuni rumah bergerak bersamaan. Malam itu setelah makan malam selesai, sebagian besar keluarga berkumpul di ruang keluarga. Perapian memang tidak dinyalakan karena musim panas, tetapi lampu-lampu hangat dan suara ombak Sungai Elbe di kejauhan menciptakan suasana yang nyaman. Noah sedang tidur di pelukan Daniel. Sedangkan Nora tertidur di gendongan Nadia. Pemandangan yang masih membuat semua orang tersenyum. Karena beberapa bulan lalu, kamar bayi itu masih kosong. Dan sekarang ada dua penghuni kecil yang menjadi pusat dunia mereka. Di sofa panjang, Ayu duduk di samping Margaret. Kalung pemberian Margaret masih tergantung di lehernya. Beberapa kali tangannya tanpa sadar menyentuh liontin kecil itu. Margaret memperhatikannya. "Kamu men

  • Om Bule Kekasihku   Sebuah Undangan

    Beberapa hari setelah kepulangan Noah dan Nora ke Villa Blankenese, kehidupan perlahan mulai menemukan ritmenya. Meski "tenang" mungkin bukan kata yang tepat. Karena sekarang ada dua bayi yang bisa bangun bergantian sepanjang malam. Atau kadang-kadang bersamaan. Yang menurut Daniel merupakan bentuk konspirasi kecil terhadap waktu tidurnya. Pagi itu seluruh keluarga sedang menikmati sarapan di teras belakang. Udara musim panas Hamburg terasa nyaman. Noah tertidur di gendongan Nadia. Sedangkan Nora sedang berada dalam pelukan Oma Margaret yang tampak sangat menikmati perannya sebagai nenek. "Aku rasa aku akan pindah ke Hamburg" kata Margaret tiba-tiba. Thomas yang sedang minum kopi hampir tersedak. "Kita sudah membahas ini." Margaret tersenyum. "Dan aku masih menyukainya." Daniel hanya menggeleng. Sementara Elena langsung menyambut ide itu. "Oma tinggal di sini saja." Margaret tertawa. "Nanti Opa protes." "Aku tidak protes" jawab Thomas. "Kamu tidak protes?" tanya Marg

  • Om Bule Kekasihku   Kota Yang Tidak Minta Pengorbanan

    Pagi di Bali datang dengan suara burung dan cahaya yang jatuh pelan di lantai kayu vila. Nadia terbangun lebih dulu. Ia berdiri di depan jendela, menatap sawah yang basah oleh embun. Ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ketenangan yang tidak berasal dari kepastian, melainkan dar

    last update最終更新日 : 2026-03-27
  • Om Bule Kekasihku   Ketika Dunia Ikut Bicara

    Hari terakhir Daniel di Kopenhagen datang tanpa tanda khusus. Tidak ada hujan, tidak ada angin keras. Langit justru cerah, seolah kota itu sengaja bersikap netral dan membiarkan dua manusia di dalamnya mengambil keputusan sendiri. Daniel bangun lebih pagi. Ia duduk di tepi ranjang hotel, menatap

    last update最終更新日 : 2026-03-26
  • Om Bule Kekasihku   Ketika Waktu Akhirnya Memberi Ruang

    Daniel tiba di Kopenhagen pada sore yang tenang. Tidak ada jadwal rapat menunggu. Tidak ada ponsel yang terus bergetar di sakunya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia datang dengan satu hal sederhana: waktu. Ia berdiri di depan studio Nadia, menatap pintu kayu itu beberapa detik seb

    last update最終更新日 : 2026-03-26
  • Om Bule Kekasihku   Hari-Hari Yang Tidak Ingin Dipercepat

    Pagi di Kopenhagen datang dengan cahaya yang lembut. Nadia terbangun lebih awal dari biasanya. Studio masih sunyi, hanya suara samar air kanal yang mengalir di kejauhan. Ia duduk di tepi ranjang kecilnya, memeluk lutut, dan tersenyum kecil saat menyadari hari ini Daniel ada di kota yang sama. Buk

    last update最終更新日 : 2026-03-26
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status