MasukSenja turun pelan di Ubud. Cahaya oranye memantul pada kaca-kaca kecil jendela cafe Nadia, seperti lukisan yang belum selesai. Nadia berdiri di balik meja bar, berusaha mengatur napasnya yang sejak tadi tak karuan. Bukan karena pelanggan, bukan karena hari yang panjang, tapi karena Daniel.
Lelaki itu duduk di meja luar, menatap layar kameranya sambil sesekali mengernyitkan dahinya, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Atau… seseorang. Nadia tahu ia harusnya mengabaikan Daniel. Konflik kecil mereka kemarin masih menggantung seperti kabut tipis: tajam tapi tak terlihat. Daniel ingin mengambil foto di area cafe tanpa izin, dan Nadia, yang perfeksionis soal privasi tempatnya langsung menegur dengan nada dingin. Dan sejak itu, percakapan diantara mereka terasa penuh jarak. Namun entah kenapa, hari ini pria bule itu datang lagi. Seperti sengaja mencari sesuatu atau seseorang. Nadia berusaha cuek, tapi matanya terus saja melirik ke arah Daniel. Dan ketika seorang perempuan bule berambut pirang pendek menghampiri meja Daniel dan mereka terlihat akrab, Nadia langsung merasakan sesuatu menusuk perutnya. Perempuan itu tertawa kecil, menyentuh lengan Daniel sambil melihat foto di kameranya. "Your photos looks so amazing, Dan (Fotomu terlihat begitu luar biasa Dan)" puji perempuan rambut pirang itu. Daniel tersenyum kecil "Thanks. And I will use some of those photos for the exhibition next week.(Terimakasih. Dan aku akan menggunakan beberapa foto itu untuk pameran minggu depan)" "Wow.. That's great" ucap perempuan rambut pirang itu. Sentuhan itu dan keakraban mereka membuat dada Nadia bergetar. Kenapa aku peduli? Kenapa rasanya sesak sekali? Ada apa ini? Daniel mendongak dan mendapati Nadia sedang memperhatikannya diam-diam. Mata mereka saling bertaut sepersekian detik, tajam, panas, seperti ada sesuatu yang ingin meledak. Namun Daniel segera kembali menatap perempuan berambut pirang itu. Nadia menghela napas panjang dan terasa berat. “Ya ampun, apa-apaan ini… Cemburu? Gila!” gerutu Nadia pelan. Namun tubuhnya tak bisa berdusta. Ada dentuman halus di dadanya yang membuat dada terasa sesak setiap kali perempuan itu menyentuh Daniel lagi. Tak tahan melihat keakraban Daniel dan perempuan itu, Nadia akhirnya keluar dengan dalih membersihkan meja teras yang tak jauh dari mereka duduk. Daniel menoleh, tatapannya berubah, lebih fokus saat melihat Nadia mendekat. Perempuan pirang itu memanggil pelayan cafe, tak sadar bahwa ada ketegangan halus di antara dua manusia yang tak mau mengakuinya. “Cafe kamu makin ramai,” kata Daniel tiba-tiba, suaranya rendah, seolah hanya ditujukan untuk Nadia. Nadia mengangguk, berusaha netral. “Iya, mungkin karena sekarang musim liburan.” Daniel memiringkan kepala, memperhatikannya lama. “Kamu terlihat… gelisah Nad. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?” Nadia tertawa kecil, padahal itu sama sekali tidak lucu. “Kamu pikir semua hal tentangku bisa kamu baca?” Daniel bersandar di kursinya, lengan kekarnya tertekuk. Ia menatap Nadia seperti seorang fotografer menatap subjek yang ingin ia pahami hingga ke retakan terdalamnya. “Mungkin tidak semua,” katanya. “Tapi beberapa hal sepertinya.. iya” jawab Daniel. Kalimat itu membuat Nadia panas. Bukan hanya wajahnya, tapi juga dadanya, tengkuknya, seluruh tubuhnya. Ada sesuatu pada suara Daniel: hangat, sedikit serak, sedikit… mengundang. Perempuan berambut pirang itu kembali menoleh. “Dan? Could you show me the rest of the shots? (Dan? Bisakah kamu menunjukan sisa fotonya?)” Daniel menatap perempuan itu sebentar. “Later. I need to check something first. (Nanti, aku harus cek sesuatu dulu)” "Okay Dan" jawab perempuan berambut pirang. "I have to talk to someone (Aku harus berbicara dengan seseorang)" ucap Daniel. Lalu ia berdiri berjalan menuju Nadia. “Boleh bicara sebentar Nad?” suaranya rendah, nyaris bergesekan dengan kulit Nadia. Nadia menelan ludah. “Untuk apa? Bukankah kita sudah bicara?” Daniel menatapnya dalam-dalam, mata birunya memerangkap. “Untuk menjelaskan hal yang harusnya sudah kamu tahu… tapi kamu pura-pura tidak peduli.” Nadia diam terpaku. “Dan itu apa?” tanya Nadia. Daniel mendekat setengah langkah. Dekat sekali. Hangat tubuhnya terasa, membuat Nadia kehilangan napas. Ia menunduk sedikit, bibirnya hampir menyentuh telinga Nadia. “Nadia, tolong kamu percaya sama aku. Aku datang ke sini hari ini… bukan untuk dia” bisik Daniel. Nadia memejamkan mata sepersekian detik, tubuhnya bergetar halus dan nafasnya berat. Daniel menambahkan, suaranya lebih rendah lagi, vokal yang hampir seperti bisikan nakal, namun tetap elegan: “Aku datang kesini hari ini… untuk kamu” ucap Daniel dengan nada rendah. Jantung Nadia serasa berhenti. Namun sebelum ia sempat menjawab, seseorang dari dalam cafe memanggil Nadia, memecah ketegangan yang hampir meletup itu. Nadia mundur setengah langkah. “Aku sibuk, aku… harus kerja.” Daniel menatapnya dengan pandangan yang tak bisa dibaca. “Baik. Tapi pembicaraan kita belum selesai, Nad. Aku akan menunggu kamu disini” jawab Daniel dengan suara pelan. "Terserah" jawab Nadia dengan singkat. Ia kembali duduk, meninggalkan Nadia dengan dada yang masih berdegup keras dan otak yang penuh tanda tanya. Di balik meja kasir, Nadia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas. “Ya Tuhan… apa yang sedang terjadi?” gunam Nadia dengan suara pelan yang nyaris tidak bisa didengar. Satu hal jelas: Hubungan mereka baru saja mengambil arah baru, lebih dekat, lebih berbahaya, dan lebih menggetarkan Dan babak selanjutnya tidak akan semudah mengabaikan rasa yang mulai tumbuh di antara mereka.Kereta pagi melaju meninggalkan London saat kota itu masih setengah terjaga. Nadia duduk di dekat jendela, selimut tipis menutupi lututnya. Daniel duduk di sampingnya, membaca tanpa benar-benar membaca, sesekali menoleh ke arah Nadia, memastikan ia baik-baik saja. London telah memberi mereka sesuatu yang tidak berisik: rasa diterima. Nadia menatap hamparan ladang hijau yang perlahan berganti, lalu menoleh ke Daniel. “Kamu terlihat lebih santai,” kata Nadia pelan. Daniel tersenyum kecil. “Aku baru sadar, selama ini aku selalu merasa harus menjelaskan hidupku pada semua orang.” Nadia mengangguk. “Dan sekarang?” “Sekarang aku hanya ingin menjalaninya,” jawab Daniel. “Bersamamu.” Kata itu jatuh tanpa beban, seperti kesimpulan alami. Hamburg menyambut mereka dengan angin sungai dan langit yang sedikit cerah. Villa Blankenese berdiri seperti biasa, tenang, kokoh dan menunggu. Begitu pintu terbuka, Nadia berhenti sejenak di ambang. “Rumah ini terasa berbeda,” kata Nadia. Daniel
London menyambut mereka dengan langit kelabu yang lembut, bukan dingin tapi lebih seperti selimut tipis yang menenangkan. Taksi melaju perlahan melewati deretan bangunan bata merah, taman-taman kecil, dan jalanan yang basah oleh hujan pagi. Nadia duduk di samping Daniel, jari-jarinya saling bertaut di pangkuan. Ia memandang keluar jendela, menyerap kota yang selama ini hanya ia kenal dari cerita Daniel. “Kamu diam,” kata Daniel pelan. Nadia tersenyum. “Aku sedang mengingat,” jawab Nadia. “Bahwa kota ini pernah menjadi pusat hidupmu.” Daniel mengangguk. “Dan sekarang aku membawamu ke dalamnya.” Taksi berhenti di depan rumah bergaya Georgian di kawasan Hampstead. Tidak mencolok, tidak berlebihan, rumah yang terlihat tenang, berakar, dan penuh cahaya. “Itu rumah orang tuaku,” kata Daniel. Nadia menarik napas kecil. “Cantik.” “Seperti mereka,” jawab Daniel sambil tersenyum. Pintu terbuka sebelum mereka sempat mengetuk. Margaret berdiri di ambang pintu, mengenakan
Pagi di Blankenese datang dengan cahaya pucat yang menembus jendela besar ruang makan. Nadia duduk di kursi dekat jendela, secangkir teh hangat di tangannya. Di luar, Sungai Elbe mengalir tenang, seolah menyelaraskan diri dengan ritme hidup mereka yang perlahan menemukan keseimbangan. Daniel turun dari tangga sambil membawa tablet. Wajahnya tampak rileks, ekspresi yang semakin sering muncul sejak ia belajar membagi waktunya, bukan mengorbankan satu hal demi yang lain. “Kabar dari London,” kata Daniel sambil duduk di seberang Nadia. Nadia mengangkat alis. “Dari siapa?” “Ibu,” jawab Daniel sambil tersenyum. “Margaret.” Ia menyerahkan tablet itu pada Nadia. Di layar tampak pesan panjang, rapi, dengan gaya bahasa hangat yang khas. Daniel sayang, Kami merindukanmu. Dan tentu saja, Nadia. Ayahmu dan aku berbicara tentang makan malam keluarga bulan depan. Kami ingin kalian datang, tidak resmi, tidak terburu-buru. Hanya waktu bersama. Nadia membaca perlahan, lalu menatap Daniel. “M
Keheningan kembali menyelimuti villa Blankenese setelah kepergian Elena. Namun kali ini, sunyi itu tidak kosong. Ia terasa seperti ruang yang sudah diisi, lalu dirapikan dengan hati-hati menyisakan jejak tawa kecil, seprai yang masih hangat, dan sebuah kepastian baru yang belum diberi nama. Nadia merapikan dapur perlahan. Tangannya menyentuh meja kayu panjang yang kemarin dipenuhi remah kue dan cerita anak-anak. Daniel berdiri di ambang pintu, mengamati tanpa menyela. “Kamu tidak lelah?” tanya Daniel akhirnya. Nadia tersenyum kecil. “Tidak. Aku sedang menutup satu bab.” Daniel mengangguk. Ia mengerti. Sore itu, mereka duduk di teras menghadap Elbe. Angin membawa aroma air dan dedaunan. Daniel membuka sebuah map tipis yang sejak pagi ia bawa. “Aku ingin bicara tentang masa depan,” kata Daniel pelan. Nadia menoleh. “Bukan dengan janji besar?” “Bukan,” jawab Daniel. “Dengan garis.” Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas jadwal, rencana kerja, catatan sekolah Elena, dan beberap
Hari kedatangan Elena disambut langit Hamburg yang cerah, jarang-jarang biru, seolah kota itu sendiri ikut bersiap. Daniel berdiri di aula kedatangan bandara, sesekali melirik jam tangannya. Nadia berdiri di sampingnya, mengenakan mantel krem sederhana, rambutnya diikat rendah. “Kamu gugup?” tanya Daniel. Nadia tersenyum kecil. “Sedikit. Tapi lebih banyak penasaran.” Daniel mengangguk. “Itu pertanda baik.” Pintu geser terbuka. Seorang anak perempuan dengan ransel kecil berwarna biru berlari keluar, matanya langsung mencari. “Papa!” Daniel berjongkok, membuka tangan. Elena memeluknya erat, tawa kecilnya memecah udara. “Kamu tumbuh,” kata Daniel sambil mengangkatnya. Elena tertawa. “Karena Papa lama tidak melihatku.” Ia lalu menoleh ke Nadia, memandangnya sejenak bukan ragu, bukan canggung. Hanya ingin memastikan. “Kamu Nadia,” kata Elena yakin. Nadia berlutut agar sejajar. “Iya. Selamat datang di Hamburg.” Elena tersenyum lebar. “Kamu lebih hangat dari mantel Papa.” D
Villa keluarga Daniel di Blankenese berdiri anggun di atas tanah yang landai, menghadap langsung ke Sungai Elbe. Bangunannya klasik dengan sentuhan modern serta jendela-jendela besar berbingkai putih, balkon panjang, dan taman luas yang dipenuhi pepohonan tua. Rumah itu tidak sekadar megah; ia menyimpan sejarah, keputusan, dan kesunyian yang lama. Namun pagi itu, rumah tersebut terasa berbeda. Nadia berdiri di depan jendela lantai dua, memandang sungai yang berkilau diterpa cahaya pagi Hamburg. Tirai tipis bergerak perlahan tertiup angin. Ia masih mengenakan sweater tipis Daniel terlihat kebesaran di tubuhnya dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti tamu di rumah orang lain. Daniel muncul di ambang pintu kamar. “Kamu bangun cepat.” Nadia menoleh, tersenyum. “Aku ingin melihat rumah ini saat benar-benar hidup.” Daniel berjalan mendekat. “Rumah ini sudah lama berdiri,” kata Daniel pelan. “Baru sekarang terasa hidup.” Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada berlebih







