Beranda / Romansa / Om Bule Kekasihku / Ketika Hasrat Mulai Membawa Masalah

Share

Ketika Hasrat Mulai Membawa Masalah

Penulis: Sabrina dewi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-09 07:49:10

Siang di Ubud mulai padat. Jalanan dipenuhi turis, suara motor bersahut‑sahutan, dan angin membawa aroma rempah dari warung sekitar. Di dalam kafe, suasananya tampak normal, pelanggan datang dan pergi, tapi hati Nadia masih belum tenang.

Daniel, sebaliknya, terlihat sangat tenang. Bahkan terlalu tenang.

Ia duduk di pojok ruangan dekat jendela sambil mengedit foto di laptopnya. Sesekali, ia mengangkat kepala dan menatap kearah Nadia, tatapan yang selalu berhasil membuat Nadia kehilangan fokus.

Dan ia tahu Daniel melakukannya sengaja.

Setelah pelanggan terakhir di jam makan siang pergi, suasana menjadi lebih hening. Ia meminta karyawannya untuk beristirahat sebentar. Nadia sedang membersihkan meja ketika suara kursi digeser membuatnya menoleh.

"Nadia... " ucap Daniel pelan.

"Apa? Kamu mau espresso? Sebentar" jawab Nadia tanpa menoleh, ia melanjutkan untuk membersihkan meja.

Daniel berdiri, menyampirkan kamera di bahunya dan berjalan kearah Nadia, "Nadia, kita perlu ngomong sekarang."

"Kita tadi pagi sudah ngomong," balas Nadia tanpa menatapnya.

Daniel mendekat sedikit, suaranya lebih rendah. "Belum. Kamu belum jawab sepenuhnya, kamu cuma jawab separuh. Aku ingin mendengar jawabanmu"

Nadia merasakan jantungnya berdetak lebih keras. "Daniel, aku lagi kerja, aku sibuk. Tolong jangan bahas tentang hal ini sekarang"

"Aku juga lagi kerja. Barusan aku ambil beberapa foto kamu dari jauh. Kamu mau lihat?"

Nadia mengerutkan kening. "Kamu ambil foto aku tanpa izin?"

"Kalau izin pun percuma, kamu juga nggak bakalan mengizinkan. Apalagi kamu dari tadi berusaha menghindar dariku" gunam Daniel.

"Kamu nyebelin, selalu saja mengambil foto tanpa izin" gunam Nadia.

Daniel mengangkat kamera, memperlihatkan layar kecil.

Dan Nadia terdiam menatap dirinya dalam layar kecil itu.

Foto itu… indah. Foto dirinya sedang mengangkat gelas, cahaya matahari mengenai wajahnya dari samping, membuatnya tampak begitu tenang dan hangat. Sangat berbeda ketika ia sedang berhadapan dengan Daniel akhir-akhir ini.

"Kamu selalu kelihatan paling cantik waktu kamu nggak sadar sedang diperhatikan," gumam Daniel.

Pipinya memerah mendengar ucapan Daniel, "Kamu bohong".

"Aku serius" jawab Daniel.

Nadia memalingkan wajah, pipinya memanas bukan karena marah. "Jangan ngomong kayak gitu."

"Kenapa? Karena kamu suka tapi nggak mau ngaku?" ucap Daniel dengan nada menggoda.

Nadia meletakkan lap di meja, mungkin sedikit terlalu keras. "Kamu pikir semua hal bisa selesai dengan flirting?"

"Sama kamu? Nggak. Tapi itu bisa membantu." Daniel tersenyum miring.

Nadia mendesah frustasi. "Dan, aku serius. Kita nggak bisa..."

"Nggak bisa apa?" tanya Daniel.

Daniel tiba‑tiba menutup jarak, menatapnya dalam-dalam, meletakkan tangan di meja di samping pinggang Nadia, membuatnya terperangkap tanpa sentuhan.

Nafas Nadia tertahan.

"Kamu yang bikin semua ini rumit, Nad," bisik Daniel, nadanya dalam. "Aku cuma jujur. Aku suka kamu, aku pengen kamu. Bukan cuma kamu yang ada di foto."

Nadia menelan ludah keras‑keras. "Daniel… ada orang…"

"Mana?" tanya Daniel.

"Itu" jawab Nadia singkat dan menunjuk kearah pintu.

Nadia berusaha mengalihkan pembicaraan Daniel dan agar Daniel mundur beberapa langkah.

"Nggak ada," jawab Daniel pelan. "Kafe kosong. Pintumu sudah tutup. Dan aku perhatikan kamu udah gemetar dari tadi."

"Nggak kok, kamu salah lihat" ucap Nadia.

"Mana mungkin aku salah lihat" jawab Daniel dengan tersenyum tipis.

"Daniel, ada karyawanku.." seru Nadia gugup.

"Nggak ada, bukannya kamu sendiri yang menyuruh mereka istirahat sebentar dibelakang" ujar Daniel.

Nadia memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napas. Jarak diantara mereka terlalu dekat dan terlalu bahaya bagi Nadia. Kata‑katanya terlalu tajam. Dan tubuhnya terlalu jujur.

"Dan, please jangan kayak gini. Kalau kamu terus kayak gini, aku…" Nadia berhenti, tak sanggup melanjutkan.

Daniel mendekat sedikit lagi, bibirnya nyaris menyentuh telinga Nadia. "Kamu apa?" tanyanya dengan suara rendah yang hampir membuat Nadia kehilangan kendali.

Detik itu, bel pintu kafe berbunyi yang menandakan bahwa ada seseorang masuk.

Keduanya refleks menjauh.

Seorang perempuan muda berambut pirang masuk, turis, tersenyum ramah tanpa menyadari apa yang hampir terjadi diantara mereka berdua.

"Hi! Is the cafe still open? (Apa cafe masih buka?)" tanyanya ceria.

Nadia merapikan apron dan mengangguk cepat. "Yes, of course. What would you like? (Ya, tentu. Apa yang kamu inginkan?"

"Can I see the menu, please? And what's your specialty?(Bolehkah saya melihat menunya? Dan apa menu andalan disini?" ucap turis itu dengan ceria.

Nadia tersenyum ramah, ia mempersilahkan turis itu untuk duduk dan menyerahkan buku menu yang diminta. Lalu, ia juga memberi tahu turis itu tentang menu andalan yang ada di cafe miliknya.

Sementara itu, Daniel mundur beberapa langkah, wajahnya kembali netral. Tapi matanya… masih membara.

Ia menunggu sampai Nadia selesai melayani pelanggan. Begitu pelanggan itu duduk, dan Nadia menyiapkan pesanan bersama karyawannya, Daniel mendekat perlahan kearah Nadia.

"Nadia… ini belum selesai" bisik Daniel.

Nadia menggigit bibir. "Justru itu masalahnya."

"Aku akan datang lagi nanti malam. Jangan kabur." Daniel mengambil kameranya dan bersiap pergi.

"Daniel..." panggil Nadia.

"See you tonight." Senyum itu muncul lagi, hangat, nakal, dan membuat Nadia ingin berteriak dan memeluknya dalam waktu bersamaan.

Daniel keluar dari pintu, meninggalkan Nadia yang masih terpaku.

Malam ini.

Nadia memegang dadanya yang masih berdebar. Ia tahu satu hal:

Jika Daniel datang malam ini…

Ia mungkin tidak bisa lagi menjaga batas yang ia buat sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Om Bule Kekasihku   Pulang Yang Tidak Terburu

    Kereta pagi melaju meninggalkan London saat kota itu masih setengah terjaga. Nadia duduk di dekat jendela, selimut tipis menutupi lututnya. Daniel duduk di sampingnya, membaca tanpa benar-benar membaca, sesekali menoleh ke arah Nadia, memastikan ia baik-baik saja. London telah memberi mereka sesuatu yang tidak berisik: rasa diterima. Nadia menatap hamparan ladang hijau yang perlahan berganti, lalu menoleh ke Daniel. “Kamu terlihat lebih santai,” kata Nadia pelan. Daniel tersenyum kecil. “Aku baru sadar, selama ini aku selalu merasa harus menjelaskan hidupku pada semua orang.” Nadia mengangguk. “Dan sekarang?” “Sekarang aku hanya ingin menjalaninya,” jawab Daniel. “Bersamamu.” Kata itu jatuh tanpa beban, seperti kesimpulan alami. Hamburg menyambut mereka dengan angin sungai dan langit yang sedikit cerah. Villa Blankenese berdiri seperti biasa, tenang, kokoh dan menunggu. Begitu pintu terbuka, Nadia berhenti sejenak di ambang. “Rumah ini terasa berbeda,” kata Nadia. Daniel

  • Om Bule Kekasihku   Kota Yang Menyambut Tanpa Pertanyaan

    London menyambut mereka dengan langit kelabu yang lembut, bukan dingin tapi lebih seperti selimut tipis yang menenangkan. Taksi melaju perlahan melewati deretan bangunan bata merah, taman-taman kecil, dan jalanan yang basah oleh hujan pagi. Nadia duduk di samping Daniel, jari-jarinya saling bertaut di pangkuan. Ia memandang keluar jendela, menyerap kota yang selama ini hanya ia kenal dari cerita Daniel. “Kamu diam,” kata Daniel pelan. Nadia tersenyum. “Aku sedang mengingat,” jawab Nadia. “Bahwa kota ini pernah menjadi pusat hidupmu.” Daniel mengangguk. “Dan sekarang aku membawamu ke dalamnya.” Taksi berhenti di depan rumah bergaya Georgian di kawasan Hampstead. Tidak mencolok, tidak berlebihan, rumah yang terlihat tenang, berakar, dan penuh cahaya. “Itu rumah orang tuaku,” kata Daniel. Nadia menarik napas kecil. “Cantik.” “Seperti mereka,” jawab Daniel sambil tersenyum. Pintu terbuka sebelum mereka sempat mengetuk. Margaret berdiri di ambang pintu, mengenakan

  • Om Bule Kekasihku   Undangan Dari London

    Pagi di Blankenese datang dengan cahaya pucat yang menembus jendela besar ruang makan. Nadia duduk di kursi dekat jendela, secangkir teh hangat di tangannya. Di luar, Sungai Elbe mengalir tenang, seolah menyelaraskan diri dengan ritme hidup mereka yang perlahan menemukan keseimbangan. Daniel turun dari tangga sambil membawa tablet. Wajahnya tampak rileks, ekspresi yang semakin sering muncul sejak ia belajar membagi waktunya, bukan mengorbankan satu hal demi yang lain. “Kabar dari London,” kata Daniel sambil duduk di seberang Nadia. Nadia mengangkat alis. “Dari siapa?” “Ibu,” jawab Daniel sambil tersenyum. “Margaret.” Ia menyerahkan tablet itu pada Nadia. Di layar tampak pesan panjang, rapi, dengan gaya bahasa hangat yang khas. Daniel sayang, Kami merindukanmu. Dan tentu saja, Nadia. Ayahmu dan aku berbicara tentang makan malam keluarga bulan depan. Kami ingin kalian datang, tidak resmi, tidak terburu-buru. Hanya waktu bersama. Nadia membaca perlahan, lalu menatap Daniel. “M

  • Om Bule Kekasihku   Garis Yang Disepakati

    Keheningan kembali menyelimuti villa Blankenese setelah kepergian Elena. Namun kali ini, sunyi itu tidak kosong. Ia terasa seperti ruang yang sudah diisi, lalu dirapikan dengan hati-hati menyisakan jejak tawa kecil, seprai yang masih hangat, dan sebuah kepastian baru yang belum diberi nama. Nadia merapikan dapur perlahan. Tangannya menyentuh meja kayu panjang yang kemarin dipenuhi remah kue dan cerita anak-anak. Daniel berdiri di ambang pintu, mengamati tanpa menyela. “Kamu tidak lelah?” tanya Daniel akhirnya. Nadia tersenyum kecil. “Tidak. Aku sedang menutup satu bab.” Daniel mengangguk. Ia mengerti. Sore itu, mereka duduk di teras menghadap Elbe. Angin membawa aroma air dan dedaunan. Daniel membuka sebuah map tipis yang sejak pagi ia bawa. “Aku ingin bicara tentang masa depan,” kata Daniel pelan. Nadia menoleh. “Bukan dengan janji besar?” “Bukan,” jawab Daniel. “Dengan garis.” Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas jadwal, rencana kerja, catatan sekolah Elena, dan beberap

  • Om Bule Kekasihku   Kamar Dengan Jendela Besar

    Hari kedatangan Elena disambut langit Hamburg yang cerah, jarang-jarang biru, seolah kota itu sendiri ikut bersiap. Daniel berdiri di aula kedatangan bandara, sesekali melirik jam tangannya. Nadia berdiri di sampingnya, mengenakan mantel krem sederhana, rambutnya diikat rendah. “Kamu gugup?” tanya Daniel. Nadia tersenyum kecil. “Sedikit. Tapi lebih banyak penasaran.” Daniel mengangguk. “Itu pertanda baik.” Pintu geser terbuka. Seorang anak perempuan dengan ransel kecil berwarna biru berlari keluar, matanya langsung mencari. “Papa!” Daniel berjongkok, membuka tangan. Elena memeluknya erat, tawa kecilnya memecah udara. “Kamu tumbuh,” kata Daniel sambil mengangkatnya. Elena tertawa. “Karena Papa lama tidak melihatku.” Ia lalu menoleh ke Nadia, memandangnya sejenak bukan ragu, bukan canggung. Hanya ingin memastikan. “Kamu Nadia,” kata Elena yakin. Nadia berlutut agar sejajar. “Iya. Selamat datang di Hamburg.” Elena tersenyum lebar. “Kamu lebih hangat dari mantel Papa.” D

  • Om Bule Kekasihku   Kota Yang Ditinggali Bersama

    Villa keluarga Daniel di Blankenese berdiri anggun di atas tanah yang landai, menghadap langsung ke Sungai Elbe. Bangunannya klasik dengan sentuhan modern serta jendela-jendela besar berbingkai putih, balkon panjang, dan taman luas yang dipenuhi pepohonan tua. Rumah itu tidak sekadar megah; ia menyimpan sejarah, keputusan, dan kesunyian yang lama. Namun pagi itu, rumah tersebut terasa berbeda. Nadia berdiri di depan jendela lantai dua, memandang sungai yang berkilau diterpa cahaya pagi Hamburg. Tirai tipis bergerak perlahan tertiup angin. Ia masih mengenakan sweater tipis Daniel terlihat kebesaran di tubuhnya dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti tamu di rumah orang lain. Daniel muncul di ambang pintu kamar. “Kamu bangun cepat.” Nadia menoleh, tersenyum. “Aku ingin melihat rumah ini saat benar-benar hidup.” Daniel berjalan mendekat. “Rumah ini sudah lama berdiri,” kata Daniel pelan. “Baru sekarang terasa hidup.” Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada berlebih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status