分享

Bara Rindu

作者: Helen.Sky
last update publish date: 2026-06-25 21:49:36

Belum sempat Eva mencerna kalimat itu, sebuah suara di ujung koridor lain mendadak memecah ketegangan mereka.

Drap... Drap... Drap...

Suara derap langkah kaki terdengar menuruni anak tangga.

"Papa?"

"Eva?"

Suara itu milik Rian.

David bergerak cepat meraih telapak tangan Eva, mencengkeramnya erat, lalu menarik wanita itu memasuki sebuah lorong menuju area dapur.

Begitu tubuh mereka berdua masuk ke dalam dapur, Mereka langsung bersembunyi di belakang pintu.

Dari balik pintu, suara langkah kaki Ri
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Bertemu

    “Biar papa yang menunggu mamamu, kamu pulang dan istirahat,” perintah Hendra kepada anaknya yang masih berdiri di depan jendela ruang rawat inap. Hari ini perawat jaga pribadi istrinya sedang cuti, jadi ia dan Eva menjaga secara bergantian. “Iya, Pa,” sahut Eva. Eva menghampiri ranjang dan menggenggam tangan ibunya yang masih terbaring lemah. Jemari wanita itu tetap dingin dan tidak memberikan balasan sedikit pun. Eva mengusap punggung tangan ibunya perlahan, berharap sentuhan itu bisa sampai meski sang ibu masih terlelap dalam koma. "Mama cepat bangun, ya," bisiknya pelan sebelum melepaskan genggaman itu. Kemudian ia langsung melangkah kearah sofa dan mengepak barang pribadinya. Setelah semua barangnya terbungkus rapi di dalam tas, Eva menyampirkan tas itu ke bahunya. Sebelum pergi, Eva menoleh lagi ke arah ayahnya. “Papa yakin mau aku pulang? Papa gak capek baru pulang kerja?” “Iya,” jawab hendra singkat tanpa menoleh ke arah putrinya. Ia tetap berdiri di sampi

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Kebencian

    Di lorong rumah sakit, Hendra berjalan dengan langkah cepat sembari menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. “David…ternyata kamu benar-benar ingin mengikat keluargaku,” desis Hendra, matanya tetap menatap tajam ke layar, sementara tangannya mencengkram kuat ponsel di tangannya. Ia benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi melihat usaha David. Seolah-olah pria itu tidak akan membiarkan keluarganya hidup tenang tanpa dirinya. Sesampainya di depan kamar istrinya, ia langsung membuka pintu tersebut dan masuk dengan derap langkah yang seperti membawa aura ketegangan. “Pa…ada apa?” Eva langsung menoleh ke arah papanya yang baru datang. Ia bisa merasakan bahwa papanya sedang mengalami kesulitan. Hendra melepas pandangannya dari ponsel, lalu menjatuhkan ponsel itu secara sembarangan di atas sofa. Ia menatap Eva sembari menempelkan kedua telapak tangannya di atas pinggang. “Lihat itu! David mengirim pinalti ke perusahan papa sebesar itu!” geram Hendra, ia menurunkan satu

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Usaha

    Di ruang CEO perusahaannya, David baru saja kembali dari rapat koordinasi proyek pembangunan hotel. Seorang staf berjalan di belakangnya membawa sebuah map.“Pak, ini rekapan hasil rapatnya,” ucap staf itu sembari meletakkan map di atas meja. “Iya,” jawab David singkat, ia berjalan ke kursinya dan mendudukkan tubuhnya di sana.“Oh ya, segera beritahu perusahaan Hendra kalau mereka dipilih jadi vendor furnitur untuk proyek ini,” perintah David ke stafnya yang akan pergi dari ruangannya.“Baik, Pak,” jawab staf itu sembari membungkukkan badannya dan berjalan keluar dari ruangan David.Setelah stafnya keluar, ruangan itu menjadi sunyi. David menarik map di depannya, membukanya, lalu membalik lembar demi lembar tumpukan kertas di dalam sana. Ia ingin memastikan tidak ada dokumen yang kurang.Ia berusaha memusatkan perhatian pada setiap detail, tetapi pikirannya terus kembali kepada Hendra. Tak satu pun isi dokumen itu benar-benar berhasil ia cerna.Ia sesekali menatap ke arah pintu, men

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Mencoba

    “Ayo makan malam, dari tadi kamu belum makan, kan,” ucap Hendra, menatap putrinya dengan senyuman. Eva menganggukkan kepalanya, lalu mendekap pinggang ayahnya dan menyandarkan pipinya di perut ayahnya. Ia mendongakkan kepalanya, lalu membalas senyum ayahnya. “Maafkan Eva, Pa,” ucap Eva pelan. “Ayo cepat bangun dan pergi ke meja makan,” ajak Hendra lagi, menepuk pelan punggung putrinya sebagai isyarat agar segera beranjak dari sana. Eva langsung melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Hendra. Kemudian ia menurunkan kedua kaki ke samping ranjang untuk bersiap bangkit. Hendra berjalan lebih dulu, di ikuti oleh Eva yang mengekor di belakangnya. Sesaat kemudian, mereka berdua sudah duduk bersebrangan di meja makan. Di atas meja sudah di penuhi makanan yang masih mengepulkan asap. Keheningan memenuhi ruang makan. Yang terdengar hanya bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring dan suara pendingin ruangan yang berdengung pelan. Eva mengunyah makanannya tanpa benar-b

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Melunak

    Hendra tetap membisu. Tatapannya terpaku ke satu titik, seolah sedang menimbang sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.Keinginan memindahkan istrinya bukan semata-mata karena pengobatan. Hendra ingin membawa keluarganya menjauh dari David. Ia ingin memindahkan istrinya, lalu membawa keluarganya pergi dari kota ini. Selama ini, Hendra selalu percaya kepada David. Namun, setelah mengetahui pria itu mampu mengelabuinya, ia tidak lagi bisa menganggap semua ucapan Wulan sebagai fitnah belaka. Mungkin Wulan memang tidak sepenuhnya benar. Namun, Hendra juga tidak bisa lagi mengabaikan setiap peringatannya.“Saya akan cek kondisi Ibu Ratna dulu,” ucap dokter memecah lamunan Hendra. Dokter tidak ingin melanjutkan pertanyaan itu, ia sudah memahami bahwa pria itu tidak berniat memberikan jawaban.Dokter bangkit dari kursinya. Ia menoleh ke arah Hendra, memberi isyarat singkat agar pria itu mengikutinya, lalu melangkah menuju pintu.Sesaat kemudian, mereka sudah berada di ruang rawat inap.

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Keputusan

    Eva menahan napasnya saat menunggu kalimat yang akan keluar dari seberang telepon. “Mas pulang dulu. Tunggu Mas, ya,” suara David terdengar tenang dari seberang telepon.David langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Eva. “Aaaaaa…kebiasaan dia selalu melakukan apapun sendiri,” gumam Eva sembari menatap ponselnya yang menggelap. Ia menajamkan telinganya saat mendengar deru mobil david yang perlahan menghilang dari pendengarannya. Bisa dipastikan bahwa pria itu sudah pergi meninggalkan rumahnya.Semoga Mas david bisa menemukan cara untuk memperjuangkan hubungan ini, batin Eva.Eva merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit kamar yang mungkin akan menemaninya selama beberapa hari kedepan. Entah sampai kapan ia akan dikurung oleh ayahnya di dalam sini.“Mama, apa kamu juga akan menolak Mas David?” gumam Eva yang tiba-tiba mengingat mamanya. Ia memiringkan tubuhnya, memeluk erat guling yang berada di sampingnya. Ia berusaha menenangkan dadanya yang

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Lima Bulan Sia-Sia

    "Eva, lebih baik kita sampai di sini aja," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut David. Pria berusia empat puluh lima tahun itu duduk tegap di hadapan Eva, melipat kedua lengan kekarnya di depan dada sambil menatap lurus tepat ke arah sepasang mata gadis itu. Wajahnya tampak begitu dingin, se

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Tangan yang Gemetar

    Mobil sedan hitam milik Rian berhenti tepat di depan pelataran rumah besar berarsitektur Eropa. Eva menatap keluar jendela dengan campur aduk. Jadi ini rumah David? Selama lima bulan berpacaran dulu, mereka hanya menghabiskan waktu di kota perantauan, tempat Eva menempuh pendidikan kuliah dan Dav

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Di Luar Kendali

    Eva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya ya

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Di Bawah Meja Makan Malam

    Eva bersandar pada kursi makannya, mencoba menahan rasa bosan yang mulai menyerang sejak pertama kali tiba di restoran mewah ini. Di atas meja bundar berlapis kain marun di depannya, deretan sendok dan garpu perak sudah tertata rapi, bersanding dengan gelas-gelas anggur yang masih kosong. Hari ini

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status