แชร์

Chapter 3: Rindu

ผู้เขียน: Anaa
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2023-02-03 11:21:19

Wajahnya masih terlihat cantik seperti dulu, dengan netra berwarna coklat jernih, bibir tipis, dengan kedua pipi yang bulat—ingin rasanya Devan kembali membuat kedua pipi perempuan itu kembali bersemu merah, ingin sekali Devan mengelusnya lembut, mencubitnya dengan gemas.

"Aunty Nay mana?" tanya Maya saat melihat putra sulungnya berjalan menuruni tangga beriringan dengan Kai.

"Nanti menyusul katanya," jawab Kai yang langsung berjalan cepat dan duduk dipangkuan Disya.

"Kai sudah besar, Mommy keberatan itu kalau Kai duduk di pangkuannya," kata Maya menggelengkan kepalanya dengan terkekeh pelan.

"Mommy nanti mau pulang, aku mau meluk dulu Mommy sebelum Mommy pulang!" Kai melingkarkan tangannya di leher Disya, dengan tangan kanan yang masih memakan coklat yang belum juga habis sedari tadi.

"Padahal seharian penuh ini Kai sudah bersama Mommy kan?" tanya Maya menatap cucunya.

Kai menampilkan cengirannya, dan malah semakin mengeratkan pelukannya.

Devan ikut duduk di single sofa, menatap Samudra yang juga menatapnya dengan tatapan dingin. Walaupun ini sudah tiga tahun, tapi sepertinya lelaki itu tidak pernah akan berlaku baik kepada Devan. Lelaki itu mengalihkan pandangannya untuk menatap Disya, menampilkan senyum seapik mungkin sembari menyapa mantan istrinya. "Hai, Sya..."

Disya mengangguk pelan, sembari menampilkan senyum kecil yang hanya bertahan beberapa detik. "Hai, Pak Devan."

Jantung Devan terasa berdetak dengan cepat, kedua matanya mendadak terasa panas karena ingin menangis.Sungguh, dia begitu sangat merindukan Disya... sangat!

"Ternyata Dokter Samudra adalah sepupu jauh Zara, Bang," kata Maya mencoba mencairkan suasana yang sudah pasti tidak menyenangkan ini.

Devan mengalihkan pandangannya menatap Maya, lalu menganguk pelan menanggapi ucapannya. "Dokter Sam juga datang di acara resepsi tadi?" tanya Devan basa-basi.

"Iya, tapi kita tidak bertemu tadi," jawab Maya.

"DIsya!" suara pekikan senang dari arah tangga membuat atensi semua yang ada di ruang tengah teralihkan menatap seorang perempuan yang dengan lincahnya menuruni tangga dengan raut bahagia.

"Naya," balas Disya tidak kalah sumringah.

"Kai, minggir dulu sana. Aunty Nay mau meluk dulu Mommy kamu," kata Naya dengan bibir yang pura-pura dikerucutkan, membuat Kai mengangguk pelan dan segera turun dari pangkuan Disya.

"Apa kabar Nay?" tanya Disya saat keduanya sudah berpelukan.

"Baik! Sangat baik. Kamu apa kabar?" balas Naya sesaat setelah keduanya melepas pelukan namun masih saling menatap.

"Aku baik...."

"Kamu tidak membawa sesuatu untukku? Kue buatanmu?" tanya Naya menaikkan satu alisnya bertanya.

Disya meringis, menggigit ujung lidahnya, menatap Naya dengan tatapan sungkan. "Aku ngga tahu kalau kamu pulang hari ini, Nay. Tahu tadi dari Mamah, akhirnya aku minta sama Bang Sam buat mampir ke sini, ketemu kamu," jawab Nesa.

"Kalau begitu aku harus ke toko kue kamu!" kata Naya melipat kedua tangannya di dada, dengan wajah yang pura-pura ngambek.

Disya terkekeh. "Boleh dong, kamu harus ke sana," katanya memegang erat kedua tangan Naya.

"Mah, aku ijin ke atas... mau bersih-bersih," kata Devan menatap Maya yang sedari tadi senyum-senyum dengan interaksi Disya dan Naya.

Perempuan paruh baya itu menatap putra sulungnya lalu mengangguk, mempersilahkan Devan untuk melakukan kegiatannya.

Devan bangun dari duduknya, berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Buru-buru memasuki kamar mandi, dan berdiri tepat di bawah shower yang sudahd ia nyalakan. Mendongakkan wajahnya, membiarkan air itu menyentuh wajahnya secara langsung. Boleh Devan menangis sekarang?

Devan rasanya ingin membawa Disya ke dalam pelukannya, tadi, memeluk perempuan itu erat-erat, menyalurkan rindunya yang sudah sekian lama ini menumpuk di hatinya. Namun, walaupun tadi mereka saling menatap dengan jarak hanya beberapa meter, bahkan berada di dalam satu ruangan yang sama dengannya, Devan tidak bisa melakukan apapun, hanya diam. Disya terasa jauh... sama sekali tidak boleh dia sentuh.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Rina Wati
itu blm seberapa sakitnya buatmu Devan dibandingkan perbuatan mu yg sangat kejam pada disya yg tulus dan sangat polos sayang samamu
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Om Duda! 2   Chapter 78: Ngidam-II

    "Muka sumringah amat tuh Bang, kaya habis dikasih jatah aja sama Disya." Devan dan Disya langsung saling menatap satu sama lain ketika Gio baru saja menyambut kedatangan keduanya di depan pintu rumah. Gio mengernyit, memperhatikan pasangan suami istri di depannya. Dia hanya asal berbicara, tetapi ekspresi keduanya tampak mencurigakan— "Anjir beneran habis dikasih jatah sebelum ke sini?" tanya Gio heboh. Disya diam, wajahnya benar-benar tidak bisa berbohong kalau ia sedang gugup, sedangkan Devan masih bisa mengontrol ekspresi wajahnya dengan ekspresi datar. Gio tertawa, tangannya dengan refleks memukul lengan Disya. "Muka lo ngga bisa bohong, Sya. Ya ampun!" Tawa Gio perlahan mereda ketika dia diberi tatapan tajam dari Devan karena berani memukul bagian lengan Disya, walaupun sebenarnya pukulan tanpa tenaga yang Gio berikan, tetapi tetap saja hal itu membuat Devan kesal. Devan merangkul pundak Disya lembut. "Masalah untuk kamu jika kami bercinta?" tanyanya dengan nada yang terden

  • Om Duda! 2   Chapter 77: Ngidam - I

    Devan kira meskipun Disya sedang dalam mode kesal, bayinya juga akan merasakan hal yang sama. Tetapi, ternyata tidak sama sekali— "Peluk dulu!" pinta Disya, nadanya sedikit merengek tetapi terkesan seperti perintah. Devan menuruti ucapan Disya, lelaki itu mendekap Disya dari belakang—istrinya memilih tidur membelakanginya. "Huh... adik bayinya ngga bisa diajak kerja sama," lirih Disya. Devan tidak bisa menahan untuk senyum ketika mendengar ucapan Disya. Memang, selama masa kehamilan Disya jauh lebih sangat manja kepadanya, ingin selalu menempel dengannya, saat akan tidur harus dan wajib untuk dipeluk, maka dari itu selama masa kehamilan Disya, Devan berusaha menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, tidak boleh sampai lembur—Disya tidak bisa tidur kalau tidak dipeluknya terlebih dahulu. Bisa dibilang ini adalah pertengkaran pertama kalinya selama Disya hamil—tetapi sepertinya itu tidak akan bertahan lama. Istrinya saja tidak bisa tidur jika tidak dipeluk olehnya. "Good job adik ba

  • Om Duda! 2   Chapter 76: Pengaruh Cinta

    Walaupun ragu, tangan kanan Devan pada akhirnya mengetuk pelan pintu kamarnya. Satu... dua... tiga detik berlalu, masih menunggu balasan, bahkan berharap istrinya di dalam mempersilahkannya untuk masuk—tetapi tidak, tidak ada balasan sama sekali. "Sya... saya masuk ya," katanya yang langsung membuka handle pintu. Disya menatapnya dengan kening mengernyit, selimut sudah menutupi sebagian tubuhnya yang berada di atas kasur. "Memang Disya ngijininin Pak Devan masuk?" "Saya hanya ingin menjelaskan—" "Memang Disya minta penjelasan?" tanya Disya cepat memotong ucapannya. "Saya minta maaf jika diary itu membuat kamu tidak nyaman. Tentu ada tujuan khusus saya membuatnya, saya ingin mengabadikan setiap momen tumbuh kembang Kailash sedari masih di dalam kandungan." Walaupun Disya tidak meminta penjelasan, lelaki itu tetap menjelaskan, bahkan sekarang kedua kakinya sudah dibawa melangkah me

  • Om Duda! 2   Chapter 75: Masa Kehamilan

    Manik Disya berkaca ketika telapak tangannya menyentuh tempat tidur milik Kai. Bayangan wajah Kai dengan berbagai macam ekspresi terputar kembali dalam ingatannya. Masih ada perasaan bersalah jujur saja, huhungan keduanya sedang tidak baik saat itu, tiba-tiba sekali Disya mengetahui berita duka ketika dirinya sedang berada dalam masa pelariannya. Disya berdiri, berpindah untuk duduk di kursi meja belajar, mengusap figura foto yang menampilkan foto dirinya, Kai dan juga Devan saat berada di pasar malam beberapa tahun yang lalu. "Mommy kangen Kai...." Entah sudah yang keberapa kali kalimat seperti itu ke luar dari mulut Disya. Perempuan itu benar-benar merindukan putranya. Tangannya tidak berhenti untuk menyentuh semua barang-barang yang ada di meja belajar Kai. Sebuah storage box berwarna hitam menjadi pusat perhatian Disya detik berikutnya, sebenarnya sebuah gambar di bagian penutupnya yang paling membua

  • Om Duda! 2   Chapter 74: Hadiah

    Disya menekuk bibirnya main-main, berpura-pura kesal ketika membuka kotak kecil yang diberikan oleh suaminya. "Kenapa? Kamu tidak menyukainya, Sya?" tanya Devan, kembali memperhatikan raut wajah istrinya yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bahagia. "Pak Devan tahu hadiah kecil ngga sih?" tanya Disya sedikit ketus. "Ini kecil, Sya—" "Ya ini harganya mahal banget pasti, bukan ratusan ribu lagi!" Devan membasahi bibirnya, lalu meraih kedua tangan Disya untuk digenggamnya. "Saya bingung ingin memberikan kamu apa, jadi saya membelikan ini—" Satu tangannya bergerak untuk menyentuh hidung Disya dengan jari telunjuknya. "Hey! Tapi tetap saja tidak baik menolak hadiah dari siapapun, Sya." Kembali mencebikkan bibirnya, Disya pada akhirnya mengangguk, menerima hadiah itu. Bentuknya memang kotak kecil tetapi harganya cukup fantastis—itu bukan ketentuannya, kesepakatannya tidak seperti itu. Jadi, beberapa hari yang lalu Disya menyarankan untuk bertukar hadiah. Perempuan itu s

  • Om Duda! 2   Chapter 73: Double Date - II

    Devan tidak berhenti memperhatikan wajah istrinya yang sudah terlelap tidur setengah jam yang lalu, mengusap sisa peluh yang membasahi kening istrinya dengan lembut—entah itu karena kegiatan bercinta sebelumnya, atau memang suhu di ruangan yang memang cukup panas karena pendingin ruangan di dalam sini tidak terlalu berfungsi. Devan juga kegerahan sebenarnya, sedari tadi matanya tidak kunjung mau terpejam. Menyunggingkan senyum ketika mengingat kegiatan keduanya, mereka belum pernah bercinta menggunakan alat kontrasepsi, pengalaman baru, dan itu berakhir begitu saja, baik Devan dan Disya setuju tidak menyukainya. Segala sesuatu tentang Disya selalu membuat Devan candu—semuanya, tidak akan pernah membuatnya bosan. Devan begitu sangat mencintai istri kecilnya itu. Mencium kening Disya untuk beberapa saat sebelum dia beranjak dari atas kasur, lelaki itu memutuskan untuk ke luar dari kamar, berniat mencari udara segar karena demi Tuhan di dalam kamar menurutnya sumpek sekali. "B

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status