Home / Romansa / Om Duda! 2 / Chapter 5: Berduka

Share

Chapter 5: Berduka

Author: Anaa
last update publish date: 2023-02-14 14:42:40

Langkah kakinya terhenti, menatap lurus ke depan dengan tatapan sendu, beberapa orang terduduk di depan gundukan tanah basah. Suara isak tangis, juga suasana berduka menyelimuti keluarga itu. Dengan pelan, Devan melangkahkan kakinya menghampiri salah satu perempuan yang masih menangis dengan tangan yanga terus menggenggam tangan putranya.

"Daddy...." Kai, bocah itu orang pertama yang menyadari kehadiran Devan. Membuat atensi keluarga itu tertuju kepada Devan. Devan mengangguk pelan, menyapa mereka.

Kai bangun dari duduknya mengulurkan tangan kepada Devan, yang langsung dibalas oleh lelaki itu. "Daddy, Aunty Ais sudah pergi," kata Kai dengan mata sembab, juga pipi yang basah karena menangis.

Devan mengangguk, lalu beralih menatap perempuan yang kini juga menatapnya persis seperti Kai dengan mata merah dan kedua pipi basah karena menangis. Devan tahu, Disya pasti terluka dan bersedih karena kematian Kakaknya.

Tangan kanan Devan yang bebas, terulur untuk mengusap kedua pipi Disya lembut, membuat Disya menatapnya sendu. "Pa—pak Devan..." lirih Disya pelan.

Devan mengangguk mengerti, membawa Kai dan Disya ke dalam rengkuhannya. "Pak Devan... Mbak Ais... Mba Ais pergi..."

Lagi-lagi Devan hanya mengangguk paham, kedua matanya beralih menatap nisan yang bertuliskan nama lengkap Naisya, dan juga Nando di sampingnya.

"Aku pergi, sekali lagi aku minta maaf untuk semuanya, Dev." Sebuah senyuman perpisahan Naisya tunjukkan kepada Devan kemarin setelah perempuan itu sengaja datang ke kantornya untuk memberikan undangan pernikahannya yang akan diadakan di pertengahan bulan Januari nanti.

Naisya akan pergi ke Bali dengan calon suaminya untuk menemui beberapa vendor yang akan mengurus keseluruhan acara pernikahannya di sana. Naisya menyempatkan waktunya sebentar untuk memberi undangan kepada Devan secara langsung sebelum pergi ke Bali.

Sebuah kecelakaan tunggal membuat nyawa Naisya dan Nando terenggut di perjalannya menuju ke bandara.

Naisya dan Nando benar-benar pergi jauh, membuat suasana duka yang begitu dalam bagi keluarganya.

Devan melirik Disya yang menatap sedih keluarganya. Pandangan di depannya benar-benar membuat hati Devan terenyuh, Gina yang masih menangis di rengkuhan Samudra, lelaki itu juga terlihat kacau, namun tetap mencoba sebisa mungkin untuk menenangkan Ibunya. Begitupun juga dengan Dina dan Doni yang mencoba saling menenangkan dirinya.

Acara pemakaman sudah selesai, rumah yang tadinya sangat banyak orang datang untuk berbela sungkawa kini hanya menyisakkan keluarga inti.

Tentu saja mereka masih berada dalam keadaan berduka. Tiga tahun belakangan keluarga ini terasa seperti keluarga seutuhnya, seolah tidak ada rahasia dan tidak ada hal yang disembunyikan, mereka hidup dengan baik dan bahagia. Ada banyak hal dan kenangan yang baik. Kehilangan Naisya adalah keadaan paling buruk saat ini.

"Biar saya tidurkan Kai di kamar, Sya...." Devan berdiri dari duduknya, mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil alih Kai yang sedari tadi sudah terlelap tidur di pangkuan Disya.

Disya mengangguk. "Tidurin Kai di kamar Disya aja Pak Devan," katanya lalu berjalan terlebih dahulu menaiki tangga untuk ke lantai dua di mana kamarnya berada.

Disya mengusap lembut rambut Kai sayang setelah Devan menidurkannya di atas kasur. "Maaf, pasti Kai kelelahan...," lirihnya.

Devan ikut duduk di pinggiran kasur tepat di samping Disya, menatap mantan istrinya yang masih menatap wajah terlelap Kai dengan perasaan sedih.

"Tidak perlu minta maaf, Sya."

"Pak Devan tahu ngga, Mba Ais hampir satu bulan sekali ke rumah. Selain karena pengen ketemu Mamah Gina, Ayah, Bunda sama Bang Sam, ketemu sama Kai adalah alasan utamanya." Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Disya mengalihkan pandangan untuk menatap Devan. "Selama Mba Ais di rumah, pokonya ngga ada yang boleh masuk ke dapur buat masak selain Mba Ais. Disya, Kai, sama Mbak Ais selalu tidur sama-sama di kamar ini. Banyak hal yang Mbak Ais lakuin buat Kai. Membangunkan Kai di pagi hari kalau mau sekolah, menyiapkan seragam, buku-buku serta alat tulis dan semua perlengkapan sekolah Kai, lengkap dengan bekalnya. Menjemput Kai dari sekolah, membantu Kai membuat PR, dan bermain," jelas Disya sambil menampilkan senyum kecil, dengan air mata yang kembali membasahi kedua pipinya. "Pak Devan, Mba Ais sayang banget sama Kai...."

Naisya memang selalu pulang satu bulan sekali ke Indonesia, perempuan itu akan tinggal di rumah dua sampai tiga hari. Sesuai apa yang sudah Disya jelaskan, tujuan utama pulang ke Indonesia adalah untuk bermain dengan Kai.

"Disya merasa bersalah Pak Devan... Kai selalu memanggil Disya dengan sebutan 'Mommy' di depan Mba Ais. Mba Ais bilang kalau dia tidak masalah dengan itu, tapi ibu mana yang tidak sedih ketika anak kandungnya memanggilnya hanya dengan sebutan 'Aunty Ais'?"

Devan semakin tidak tega melihat Disya yang terlihat sangat sedih, walaupun ragu Devan mengulurkan tangannya untuk mengusap punggung Disya dengan tujuan menenangkan perempuan itu. "Tidak perlu merasa bersalah, Sya.... Itu sudah menjadi keputusan Naisya 'kan?" kata Devan.

Disya menatap Devan menyenderkan kepalanya di dada bidang lelaki itu. Lelaki itu tentu saja mendadak kaku dan tegang.

"Pak Devan... maafin Mba Ais ya kalau punya salah sama Pak Devan...."

Devan memeluk tubuh Disya, mengusap pucuk kepalanya lembut. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Queen...."

Disya semakin menenggelamkan wajahnya di dada Devan, mengeratkan pelukannya, dan kembali menangis sesenggukan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Om Duda! 2   Chapter 84: Melekat vs Menjauh

    "Ada apa?" tanya Disya melirik suaminya beberapa detik, lalu kembali fokus dengan kegiatanya yang sedang memasangkan dasi di leher Devan.Lelaki itu tersenyum lalu mengusap lembut pipi kanan Disya. "Kamu cantik sekali, Sya?"Disya memberengut, memukul pelan dada Devan untuk menutupi rasa gugupnya. Bukan satu, dua bulan mereka bersama. Tetapi, Disya selalu dibuat salah tingkah jika Devan menggodanya. Jelas pipinya bersemu merah sekarang, membuat Devan gemas, tidak tahan untuk menciuminya, bahkan lelaki itu sudah memeluk tubuh Disya."Pak Devan harus sarapan, nanti telat.""Saya cuti lagi ya hari ini.""Ngga boleh! Kemarin kan Pak Devan udah ngambil cuti."Devan berdecak, lelaki itu malah semakin memeluk Disya erat. "Saya mau sama kamu terus...." rengeknya manja—Bukan Devan sekali 'kan?!"Ayo sarapan, di bawah Naya sama Bang Sam pasti nungguin!" kata Disya mencoba melepaskan pelukan suaminya."Biarkan saja mereka," ucap Devan sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya.Kalau sudah begi

  • Om Duda! 2   Chapter 83: Kebenaran Yang Ditunda

    "Abang cinta sama Naya, Sya...." Disya mengangguk pelan memeluk lengan Samudra dengan lembut sesekali mengelusnya, mencoba menyampaikan bahwa ia percaya dengan ucapannya—bagaimana Disya tidak percaya, manik mata Abangnya sudah memerah sekarang, bahkan berkaca-kaca jika saja matanya berkedip beberapa detik maka air mata yang menggenang itu akan jatuh membasahi pipinya. "Abang ngga tau kenapa kamu sama Devan masih belum percaya itu. Abang harus bagaimana lagi?" Disya menggeleng pelan. "Pak Devan bilang apa sama Bang Sam?" Tanya Disya memastikan, beberapa menit yang lalu suami dan abangnya ini baru mengobrol di halaman samping. Disya sudah mengetahui apa yang dibahas, tetapi ia tidak tahu secara rinci kalimat seperti apa yang suaminya ucapkan kepada Samudra sehingga lelaki itu sampai berkaca-kaca hendak menangis seperti ini. "Disya cuman takut—" "Sudah beberapa kali Abang bilang takut kalian itu keterlaluan, berlebihan. Apalagi sekarang

  • Om Duda! 2   Chapter 82: Wejangan Pernikahan

    "Siapa Layla?" Samudra menoleh, lelaki itu baru mendaratkan bokongnya di kursi dan langsung ditembak dengan pertanyaan dari Devan yang sudah menatapnya dengan tatapan penuh selidik—menginterogasi. "Siapa Layla bagi kamu dan Mamah Gina?" Tanya Devan lagi, memperjelas pertanyaannya. "..." Samudra masih diam, tidak membalas tatapan Devan, lelaki itu memilih menatap ke depan dengan mulut terkatup rapat. "Disya menangis semalam, dia mengkhawatirkan pernikahan kalian berdua, dia takut terjadi masalah di hubungan pernikahan kamu dengan Naya, dia takut jika hal itu terjadi... saya akan meninggalkannya—" Devan menjeda kalimatnya, terdengar helaan nafas berat dari mulutnya, mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak lagi menatap Samudra. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak mengingat semalam Disya menangis tersedu karena masalah ini. "Saya tidak akan pernah melakukan kesalahan untuk kedua kalinya—saya tidak akan pernah meninggalkan Disya apapun

  • Om Duda! 2   Chapter 81: Masalah Pernikahan

    Tentang Layla dan bayinya yang ada di kediaman Gina, dan Disya yang bertanya apakah Devan akan meninggalkannya jika terjadi hal buruk dalam pernikahan Samudra dan Naya—Tidak salah kan kalau Devan menyangkut pautkan semuanya? "Bayi itu... anak Samudra?" Disya menggeleng cepat. Segera merogoh handphonenya di dalam tas, tangannya dengan cepat mencari file dokumen hasil tes DNA yang pernah dikirim oleh Alif dan juga Naya. "I—ini, ini Naya sama Alif yang ngirim bukti ini ke Disya," kata Disya sembari menyodorkan handphonenya kepada Devan, kedua pipinya basah, matanya memerah karena masih menangis. Devan segera menerima handphone untuk membaca file tersebut, wajahnya tampak serius, dingin—Selama keduanya kembali bersama, Disya baru melihat ekspresi wajah Devan yang seperti itu, lagi. "Ada jaminan ini dokumen asli?" Disya menunduk dalam, meremas dressnya kuat, berusaha untuk menahan isak tangisnya. "Naya datang

  • Om Duda! 2   Chapter 80: Orang Asing

    Suasana di rumah ini sangat ramai dan hangat terlebih karena kehadiran bayi dalam gendongan Gina. Bahkan Ayah dan Bunda Disya juga sesekali berekspresi lucu untuk mendapat tawa dari bayi kecil itu, ini adalah kali pertama terdengar ada tawa bayi di dalam keluarga—Kai dulu hadir di keluarga ini saat berusia lima tahun, bukan bayi—mereka tampak senang seolah ini adalah pengalam pertama. Disya melirik Naya yang duduk di sampingnya, ikut tersenyum melihat bayi dalam gendongan Gina. Bergantian, menatap Samudra yang duduk di samping Naya, lelaki itu juga terlihat menyunggingkan senyumnya beberapa kali ketika si bayi tertawa. Satu-satunya orang yang tidak ikut terbawa suasana hangat di ruang tengah ini adalah Disya. Perempuan itu bangun dari duduknya, menjauh dari perkumpulan, tidak ada yang menyadari, pun ia tidak mengatakan akan pergi ke mana. Memilih ke luar dari dalam rumah untuk duduk di kursi taman sembari menunggu kedatangan suaminya. Acara dinner akan dilangsungkan setelah kedatan

  • Om Duda! 2   Chapter 79: Ulang Tahun Mamah Gina

    "Belum selesai juga ketawa-ketawanya, sayang?" tanya Devan menatap sang Istri yang masih asyik menatap layar handphone dengan tawa yang tidak kunjung berhenti sedari tadi."Habisnya ini lucu banget Pak Devan," kata Disya menanggapi, mengusap pelan sudut matanya yang sudah berair.Devan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, naik ke atas kasur lalu duduk setengah berbaring di samping Disya. "Sudah malam ini, ayo kita tidur! Besok pagi katanya akan ke rumah Mamah Gina." Devan mengelus bagian atas rambut Disya dengan lembut."Hehehe oke...."Disya segera menyimpan handphonenya di atas nakas, menyamankan posisi berbaringnya, menjadikan dada suaminya sebagai bantalan. "Kayanya kalau fotonya dicetak tambah lucu deh, nanti kita pajang di sini—"Devan mengernyit, sepertinya lelaki itu tidak setuju. "Aneh sekali nanti kalau ada foto si kembar di dinding kamar kita, Sya."Disya kembali terkekeh. "Iya juga ya...."Disya benar-benar mengerjai si kembar, tadi. Selain menyuruh si kembar memakai paka

  • Om Duda! 2   Chapter 59: Kesepakatan

    Duduk setengah berbaring di atas karpet dengan alas tumpukan beberapa selimut bedcover yang menjadi satu, punggungnya bersandar di sofa, Devan memperhatikan kuku jari jemarinya yang sedang dipotong oleh Disya. "Sini Disya potongin kukunya, udah pada panjang itu." Hanya kalimat itu yang sebelumnya d

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Om Duda! 2   Chapter 55: Duka

    Menatap ke luar jendela mobil untuk melihat jalanan lalu lintas yang dipadati banyak pengendari roda empat maupun roda tiga, bahkan tidak sedikit kendaraan besar ikut serta memadati jalanan. Disya baru tiba di bandara beberapa menit yang lalu. Dijemput Kakak lelakinya—awalnya Disya juga heran kenap

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Om Duda! 2   Chapter 56: Kenangan

    Saat sarapan pagi itu, Kai meminta ijin kepada Devan untuk ikut bersama Husein dan Maya mengunjungi kediaman Samudra dan Naya di Bandung. Tentu saja Devan memberi ijin, akhir-akhir ini Kai pasti kesepian sekali, tidak ada Disya juga Naya—walaupun banyak bertengkar dengan Naya, tetapi tetap saja Kai

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Om Duda! 2   Chapter 57: Sakit

    Butuh waktu untuk ke luar dari rasa terpuruk karena duka mendalam. Disya masih merasa bersedih, kehilangan, menyesal, atas kepergian ketiga orang yang sudah menjadi bagian tersendiri di hidupnya. Husein, Maya, dan terlebih Kai—bolehkah waktu diputar kembali? Disya ingin memperbaiki hubungannya deng

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status