Se connecterAlena sebenarnya sudah mulai pasrah. Sejak Leon menghentikan beberapa proyek yang seharusnya ia kerjakan, ia tahu tidak ada gunanya lagi berdebat.Pria itu sudah punya alasan sendiri. Menurut Leon, kalau Alena terus menerima proyek baru, pekerjaan tidak akan pernah selesai dan satu tahun yang dimintanya untuk menunda pernikahan benar-benar akan berjalan selama satu tahun penuh, bahkan mungkin saja lebih dari satu tahun.Dan Leon jelas tidak menginginkan itu. Namun Alena tidak menyangka, ternyata bukan hanya Leon yang tidak sabar.Pagi itu, ketika Alena sedang duduk di ruang keluarga sedangkan sang ibu sedang ke pasar, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian, Bu Mira muncul dengan senyum lebar."Alena!"Alena langsung menoleh."Tante Mira?""Iya."Bu Mira masuk sambil membawa sebuah tas besar. Alena mengerutkan kening."Tante bawa apa?""Persiapan.""Persiapan apa?"Bu Mira duduk di sampingnya."Persiapan pernikahan."Alena langsung terdiam."Tante...""Jan
Keesokan paginya, Alena datang ke kantor dengan pikiran yang masih dipenuhi percakapannya bersama Cyntia. Satu kalimat terus terngiang-ngiang di kepalanya."Masa lalu Leon belum benar-benar hilang."Alena menghela napas. Ia masih ingin menanyakan hal itu kepada Leon. Namun belum sempat memikirkan lebih jauh, Alex sudah memanggilnya."Alena.""Iya, Pak?""Ke ruangan saya sebentar."Alena segera menghampiri. Alex menunjukkan beberapa dokumen."Ada proyek baru dari klien yang kamu dapatkan kemarin."Alena langsung tertarik."Proyek baru?""Iya. Mereka cukup puas dengan hasil pekerjaanmu."Alena tersenyum."Bagus, Pak.""Saya sebenarnya ingin kamu ikut menangani proyek ini, karena waktu itu saya sudah berjanji padamu kalau proposal kita goal, aku akan masukkan kamu ke tim."Alena mengangguk antusias."Baik, Pak. Saya siap."Namun Alex tiba-tiba terdiam."Ada masalah?" tanya Alena."Bukan."Alex menggaruk kepalanya."Sebenarnya saya sudah bicara dengan Pak Leon."Alena langsung mengerutkan
Pagi itu Alena berangkat bersama Alex menuju salah satu perusahaan yang menjadi klien mereka.Proyek yang mereka kerjakan sudah memasuki tahap akhir, sehingga Alex memutuskan untuk turun langsung bersama Alena. Bagaimanapun, Alex adalah atasannya dan Alena merupakan orang yang paling memahami detail proyek tersebut.Sepanjang perjalanan, mereka membicarakan beberapa hal mengenai pekerjaan."Setelah presentasi hari ini selesai, kemungkinan besar proyek ini tinggal menunggu persetujuan terakhir," ujar Alex sambil melihat beberapa dokumen.Alena mengangguk."Semoga tidak ada revisi lagi.""Kalau ada pun seharusnya tidak banyak."Alena tersenyum. Ia memang sudah bekerja keras untuk proyek ini. Bukan hanya karena ingin membuktikan kemampuannya kepada Nadia dan karyawan lain, tetapi juga karena ia tidak ingin keberadaannya di perusahaan selalu dikaitkan dengan hubungannya bersama Leon.Ia ingin orang-orang mengenalnya karena kemampuan, bukan karena siapa kekasihnya.Begitu tiba di perusahaa
Pagi itu, setelah Alena berangkat bersama Leon, Bu Rina baru saja selesai membereskan meja makan ketika terdengar suara pagar dibuka."Bu Rina!"Bu Rina yang sedang membawa beberapa piring langsung menoleh."Bu Siti?"Bu Siti berjalan masuk sambil membawa sebuah kotak kue yang cukup besar."Ini saya bawakan kue.""Wah, terima kasih."Bu Rina menerima kotak tersebut. Namun bukannya langsung pulang, Bu Siti malah mengikuti Bu Rina masuk ke ruang tamu. Bu Rina mulai merasa ada sesuatu."Bu Siti mau minum?""Boleh."Bu Rina tersenyum. Iasudah tahu. Kalau Bu Siti hanya ingin mengantar kue, seharusnya dari tadi sudah pulang.Beberapa saat kemudian, teh sudah tersedia di meja. Bu Siti menyeruput minumannya, lalu bertanya dengan nada santai."Bu Rina.""Hm?""Itu tadi yang menjemput Alena siapa?"Bu Rina tersenyum."Leon.""Oh..."Bu Siti mengangguk-angguk."Jadi benar?""Benar apa?""Yang katanya calon suaminya itu?"Bu Rina mengangguk."Iya."Mata Bu Siti langsung berbinar."Astaga, benar-b
Pagi itu Alena akhirnya tiba di kantor setelah menyelesaikan rutinitas lari paginya bersama Leon.Sejak hubungan mereka diketahui banyak karyawan, Alena sebenarnya sudah terbiasa menjadi bahan godaan.Namun pagi ini terasa sedikit berbeda. Begitu memasuki ruangan, beberapa orang langsung menoleh kepadanya."Alena!"Alena berhenti."Iya?"Salah seorang karyawan langsung tersenyum lebar."Kapan bagi undangan?"Alena langsung mengerutkan kening."Undangan apa?""Undangan pernikahan!"Beberapa orang langsung tertawa. Alena menghela napas."Belum ada.""Belum?""Iya.""Kok lama sekali?"Alena menatap mereka satu per satu."Kalian ini kenapa sih?"Salah seorang karyawan perempuan langsung ikut menyahut."Kalau aku punya calon seperti Pak Leon, aku tidak mau lama-lama."Alena langsung tertawa."Terus?""Langsung minta dilamar!"Karyawan lain ikut tertawa."Benar!""Alena, kamu minta cepat dilamar dong!""Jangan sampai Pak Leon kelamaan mikir!""Apalagi yang harus ditunggu? Uang, rumah, mobil
Jam di dinding baru menunjukkan pukul setengah enam pagi ketika suara ketukan terdengar dari pintu rumah Alena.Tok... tok... tok...Alena yang masih berada di kamar langsung membuka mata. Ia mengerutkan kening.Siapa yang datang sepagi ini?Suara ketukan kembali terdengar.Tok... tok... tok...Dari ruang depan, terdengar suara Bu Rina."Siapa pagi-pagi begini?"Alena akhirnya bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar dengan langkah malas. Begitu pintu dibuka, matanya langsung membesar."Om?"Leon berdiri di depan rumah dengan beberapa kantong makanan di tangannya."Pagi."Alena masih menatapnya tidak percaya."Om ada apa ini?"Leon mengangkat kantong yang dibawanya."Nyogok camer."Alena langsung melongo."Nyogok?""Iya.""Buat apa?""Biar dilancarkan."Leon tersenyum santai. Alena langsung menahan tawa."Ya ampun, Om!"Dari belakang, Bu Rina muncul sambil mengusap matanya."Leon?"Leon segera menoleh."Pagi, Bu.""Kenapa datang pagi sekali?""Saya bawa sarapan."Bu Rina menerima
Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang







