Mag-log inLima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang halus dan kulit cerah yang terawat. Rambut panjangnya jatuh rapi di bahu, sementara blazer krem dan rok pensil yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat profesional.
Namun perubahan terbesar bukan hanya pada wajahnya. Tubuhnya kini proporsional, hasil dari bertahun-tahun disiplin menjaga pola makan, bangun pagi untuk jogging, dan latihan rutin yang sering ia lakukan meski lelah. Bahkan bakso yang dulu menjadi kelemahannya, kini sudah lama ia tinggalkan. Semua itu tidak mudah. Ada hari-hari ketika ia hampir menyerah. Ada malam ketika aroma bakso dari warung langganannya membuatnya hampir kalah oleh dirinya sendiri. Namun setiap kali ia goyah, satu kalimat selalu kembali terngiang di kepalanya. Om nggak tertarik sama anak sekolah. Dulu kalimat itu membuatnya menangis. Sekarang, kalimat yang sama justru menjadi alasan ia bertahan. Bukan untuk pria itu semata, tetapi untuk membuktikan bahwa dirinya bisa tumbuh menjadi seseorang yang tidak lagi dipandang sebelah mata. Alena menarik napas pelan, lalu merapikan rambutnya dan mengoleskan lipstik tipis. Lesung pipi di kedua sisi wajahnya masih ada, hanya saja kini senyumnya tidak lagi terlihat polos seperti dulu. Hari ini ia berdiri di depan gedung megah bertuliskan Mahardika Group. Map lamaran kerja tergenggam erat di tangannya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sepuluh tahun lalu, ia pernah bersumpah akan tumbuh menjadi wanita yang membuat seseorang menyesal telah menganggapnya anak kecil. Dan hari ini, ia kembali untuk menagih janji pada dirinya sendiri. “Aku pasti bisa,” gumamnya pelan. Langkahnya masuk ke lobi gedung yang luas dan mewah. Lantai marmer yang mengilap memantulkan bayangan orang-orang yang lalu-lalang dengan cepat. Suasana kantor yang sibuk dan terstruktur membuat Alena sempat merasa kecil di antara semuanya, tetapi ia segera menenangkan dirinya. Ia bukan lagi gadis kecil itu. Pintu lift hampir tertutup ketika Alena melihat angka lantai yang sesuai dengan ruang HR. Tanpa pikir panjang, ia berlari kecil dan menyelip masuk tepat sebelum pintu menutup. Namun karena terlalu tergesa, tubuhnya kehilangan keseimbangan. “Ah!” Alena menabrak seseorang di dalam lift, membuat map di tangannya terjatuh berserakan di lantai. Refleks, ia langsung berjongkok untuk memungutnya. “Maaf, maaf!” Di saat yang sama, sebuah tangan besar ikut membantu mengambilkan berkasnya. Saat jemari mereka hampir bersentuhan, Alena mendongak. Dan dunia seolah berhenti. Leon. Leon Mahardika Lima tahun berlalu, tetapi pria itu tetap memiliki aura yang sama. Hanya saja kini ia terlihat jauh lebih matang. Wajah tegas, tatapan tenang, dan setelan hitam yang melekat sempurna di tubuhnya membuatnya tampak seperti seseorang yang sulit dijangkau. Jantung Alena langsung berdetak tidak normal. Namun tatapan Leon tetap datar. Sopan dan asing. Seolah mereka belum pernah saling bertemu. “Lain kali lebih hati-hati,” ucap Leon singkat sambil menyerahkan kembali map itu. Suara itu masih sama. Suara yang dulu membuat Alena kecil berani bermimpi. “Maaf, Pak,” jawab Alena pelan sambil menerima berkasnya. Di samping Leon, seorang wanita berpenampilan rapi berdiri dengan ekspresi dingin yang langsung tertuju pada Alena. “Kalau Anda datang untuk wawancara, seharusnya bersikap profesional,” ucapnya tajam. “Ini kantor, bukan tempat mencari perhatian.” Alena tertegun. “Saya benar-benar tidak sengaja,” jawabnya tetap tenang. “Setiap orang yang ingin dekat dengan Pak Leon selalu bilang begitu.” Alena langsung paham. Wanita itu jelas bukan sekadar sekretaris. Ada rasa kepemilikan dalam caranya berbicara. “Cukup.” Suara Leon memotong ketegangan di dalam lift. Pria itu menoleh pada sekretarisnya dengan ekspresi tenang, namun tegas. “Tidak perlu memperpanjang masalah.” Sekretaris itu langsung menunduk. “Maaf, Pak.” Leon kembali menatap Alena sekilas. Tatapannya tetap profesional, tetapi suaranya sedikit lebih ringan. “Semoga wawancaranya lancar.” Pintu lift terbuka. Leon melangkah keluar tanpa menoleh lagi, diikuti sekretarisnya. Begitu saja. Tanpa mengenali Alena. Tanpa menyadari bahwa wanita yang baru saja ia temui adalah gadis kecil yang dulu pernah bersumpah akan membuatnya menyesal. Alena masih berdiri di dalam lift yang perlahan menutup kembali. Sunyi. Hanya suara mesin yang terdengar pelan. Ia menatap pintu lift yang tertutup sepenuhnya, seperti mengulang kembali pertemuan sepuluh tahun lalu yang juga berakhir dengan cara yang sama, Leon pergi tanpa benar-benar melihatnya. Namun kali ini berbeda. Karena kali ini, Alena tidak lagi anak kecil. Sudut bibirnya terangkat tipis. Jemarinya menggenggam map lamaran kerja lebih erat. “Tunggu saja, Om Ganteng,” bisiknya pelan. Matanya berbinar, bukan lagi karena harapan kosong, tetapi karena keyakinan yang sudah ditempa waktu. “Aku akan membuat om tidak bisa mengabaikanku lagi.” Bersambung.......Sepulang dari kantor, Alena sempat mengira Leon akan langsung mengantarnya pulang. Namun setelah beberapa menit berjalan, ia mulai menyadari bahwa arah mobil bukan menuju rumahnya. Alena menoleh kepada Leon."Om.""Hm?""Kita mau ke mana?""Ke suatu tempat.""Tempat apa?""Nanti juga tahu."Alena memperhatikan Leon beberapa saat."Apakah Om mau kasih Alena proyek lagi?"tanya Alena dengan mata berbinar.Leon langsung tertawa."Kenapa pikiranmu selalu proyek?""Karena Om tadi bilang mau membicarakan sesuatu.""Iya.""Berarti proyek?""Bukan."Alena malah terlihat sedikit kecewa."Sayang sekali."Leon meliriknya."Kamu kecewa tidak dapat proyek?""Iya."Leon menggeleng."Om sudah susah payah menghentikan proyekmu.""Kan Alena masih suka kerja.""Om tahu.""Kalau ada proyek menarik, Alena pasti mau.""Nah, itu masalahnya."Leon tersenyum."Makanya Om tidak boleh memberi kesempatan."Alena tertawa."Om takut Alena lupa menikah?""Betul.""Padahal Alena sudah janji.""Om tetap harus waspad
Senin pagi, suasana kantor berjalan seperti biasa. Alena baru saja meletakkan tas di meja ketika Amara tiba-tiba menghampirinya dengan senyum yang terlihat mencurigakan."Selamat ya, Lena."Alena mengangkat wajah."Selamat apa?"Amara tersenyum lebar."Jangan pura-pura tidak tahu.""Tahu apa?""Kamu benar-benar mau menikah dengan Pak Leon dalam waktu dekat ini kan?"Alena langsung membeku."Hah?"Amara terkekeh."Jadi benar?""Siapa yang bilang?"Belum sempat Amara menjawab, Sisca muncul dari belakang sambil membawa kopi."Sudah, jangan disiksa dulu."Alena semakin bingung."Kalian ngomong apa sih?"Sisca menatapnya penuh arti."Jadi kapan kami dapat undangan?""Undangan apa?""Pernikahanmu."Alena menutup wajahnya."Astaga..."Ia mulai memahami sesuatu. Tidak mungkin semua orang tahu kalau bukan ada yang membocorkannya."Tunggu."Alena menurunkan tangannya."Siapa yang bilang?"Amara dan Sisca saling pandang. Amara akhirnya berkata,"Kayaknya bukan Pak Leon.""Terus?""Ibunya."Alena
Senin sore, Alena baru saja pulang dari kantor ketika melihat sebuah mobil sudah terparkir di depan rumah. Begitu turun dari kendaraan, ia langsung mengenali mobil itu."Mobil Tante Mira?"Alena mengerutkan kening.Kenapa calon mertuanya datang lagi?Jangan-jangan ada urusan dengan proyeknya.Atau lebih parah... jangan-jangan datang membawa daftar pekerjaan baru.Alena segera masuk ke rumah. Begitu membuka pintu, ia melihat Bu Mira sudah duduk santai bersama Ibu Alena."Tante?"Bu Mira langsung menoleh dan tersenyum lebar."Nah, calon menantu Tante sudah pulang."Alena langsung menghela napas."Tante jangan mulai.""Mulai apa?""Jangan panggil begitu.""Kenapa?""Alena malu."Bu Mira justru tertawa."Sebentar lagi juga benar-benar jadi menantu."Alena menatap ibunya."Ibu kenapa diam saja?"Ibu Alena hanya tersenyum."Ibu tidak ikut-ikutan.""Bagus."Alena baru saja hendak duduk ketika Bu Mira mengeluarkan sebuah map dari tasnya. Alena langsung curiga."Itu apa, Tante?""Persiapan.""
Bukan sekadar melihat-lihat brosur, ternyata Leon sudah mengambil keputusan. Setelah selesai melihat rumah yang telah dipersiapkannya untuk pernikahan mereka, Leon langsung mengajak Alena mendatangi toko perabot yang tadi mereka bicarakan.Leon menyalakan mesin mobil, lalu melirik Alena yang sudah duduk di sampingnya."Om mau mengajak Alena ke mana?""Ke suatu tempat.""Rahasia?""Bukan.""Lalu?""Belanja."Alena menoleh."Belanja apa?""Perabot rumah."Alena langsung teringat rumah Leon yang kemarin mereka bicarakan."Kan tadi sudah pilih.""Itu baru beberapa.""Lagipula lebih enak lihat langsung.""Terus nanti mau beli apa?""Yang kamu suka."Alena hanya bisa menggeleng. Ternyata Leon benar-benar serius mempersiapkan rumah untuk mereka.nTidak lama kemudian mereka tiba di sebuah toko perabot yang cukup besar.Begitu masuk, Alena langsung melihat berbagai macam furnitur tertata rapi. Ada sofa, meja makan, lemari, tempat tidur, hingga berbagai perlengkapan kamar."Om mau beli semuanya
Keesokan harinya adalah hari Minggu.Alena baru saja keluar dari rumah ketika sebuah mobil berhenti di depan pagar. Ia sempat mengira Leon datang seperti biasanya. Namun, begitu pintu mobil terbuka, Alena langsung terdiam.Leon turun dengan pakaian yang jauh lebih santai dari biasanya. Hanya kaus polos dan celana jeans, tanpa kemeja rapi, tanpa jas, bahkan rambutnya pun tidak ditata terlalu formal. Alena sampai memperhatikannya selama beberapa detik."Ih, Om."Leon menoleh."Kenapa?"Alena tersenyum."Om beda banget.""Beda bagaimana?""Jadi tambah muda."Leon langsung tersenyum puas."Hehehe... memang itu tujuan Om."Alena tertawa."Buat apa?"Leon berjalan mendekat."Biar dipuji sama Lena."Alena langsung menggeleng."Masa orang seperti Om butuh pujian?""Memangnya menurut kamu Om orang seperti apa?"Alena berpikir sebentar."Om hebat."Leon tersenyum."Seorang CEO."Senyumnya semakin lebar."Kaya raya."Leon mengangguk puas."Dan tampan."Kali ini senyum Leon semakin lebar."Pokokn
Sore itu, Alena masih memikirkan kejadian beberapa jam lalu. Bukan tentang pekerjaan. Bukan pula tentang proyek. Melainkan satu hal konyol yang dipaksakan Bu Mira kepadanya.*Sayang.*Alena sampai merasa malu sendiri hanya dengan mengingatnya. Apalagi Bu Mira bahkan memintanya mengucapkan kata itu dengan suara lembut dan sedikit manja."Astaga..."Alena menutup wajahnya. Untung saja tadi Leon tidak ada. Kalau pria itu mendengarnya, entah berapa lama ia akan menggoda Alena. Namun belum selesai memikirkan itu, suara klakson terdengar dari depan rumah.Alena mengintip melalui jendela. Mobil Leon sudah berhenti. Leon memang berjanji akan pergi bersamanya setelah urusan beres."Ya ampun..."Ia segera mengambil tas dan keluar. Leon turun dari mobil seperti biasa."Sudah siap?"Alena mengangguk."Iya."Leon membuka pintu untuknya.Namun sebelum masuk, Alena tiba-tiba teringat pesan Bu Mira.*Kalau nanti Leon datang, coba panggil begitu.*Alena menelan ludah.nIa menatap Leon. Pria itu mengang
Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan







