เข้าสู่ระบบPintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan yang paling menyebalkan, ia sama sekali tidak mengenalinya. Namun Alena tidak datang ke Mahardika Group untuk bernostalgia. Ia datang untuk bekerja. Dan setelah perjalanan panjang selama sepuluh tahun, ia tidak berniat menyia-nyiakan kesempatan ini.
Dengan punggung tegak dan senyum tenang, Alena duduk di hadapan tiga pewawancara dari divisi Human Resources. Di atas meja tersusun CV, transkrip nilai, dan berbagai sertifikat yang ia kumpulkan selama kuliah. Seorang pria paruh baya berkacamata membuka mapnya perlahan. “Prestasi akademik Anda cukup mengesankan, Miss Alena.” “Terima kasih, Pak.” “Kenapa Anda memilih Mahardika Group?” Alena menjawab tanpa ragu. “Karena saya ingin berkembang di perusahaan dengan sistem kerja yang jelas dan target yang terukur. Saya suka tantangan, dan saya yakin divisi sales adalah tempat terbaik untuk menguji kemampuan saya.” Pertanyaan berikutnya datang bertubi-tubi. Tentang strategi pemasaran, negosiasi klien, cara menghadapi penolakan, hingga simulasi target penjualan. Alena menjawab dengan tenang, terstruktur, dan penuh keyakinan. Sesekali ia menyisipkan pengalaman magang yang relevan, membuat para pewawancara mulai saling melirik. “Jika target tim turun selama tiga bulan berturut-turut, apa langkah pertama Anda?” tanya salah satu pewawancara. Alena tersenyum tipis. Lesung pipinya muncul samar. “Saya akan memeriksa data terlebih dahulu. Keputusan yang baik harus berbasis fakta, bukan asumsi. Setelah itu, saya akan mencari akar masalahnya, apakah ada di strategi, tim, atau pasar.” Ruangan hening beberapa detik. Lalu salah satu pewawancara menutup map di depannya. “Terima kasih, Miss Alena. Itu cukup.” Alena bisa menebak hasilnya bahkan sebelum diumumkan. Dan benar saja. Tidak sampai satu jam kemudian, seorang staf HR menghampirinya di ruang tunggu dengan senyum ramah. “Selamat, Miss Alena. Anda diterima sebagai staf sales.” Untuk sesaat Alena hanya terdiam. “Benarkah?” “Tentu. Wawancara Anda sangat memuaskan.” Senyum Alena akhirnya pecah, memperlihatkan lesung pipi manisnya. “Terima kasih banyak!” Hari itu, ia resmi menjadi bagian dari Mahardika Group. Hari pertamanya dimulai dua hari kemudian. Alena datang lebih awal. Blouse putih rapi, rok span hitam, rambut panjang terurai tertata, dan makeup tipis yang membuat wajahnya terlihat profesional tanpa kehilangan kelembutan alaminya. Begitu ia melangkah ke divisi sales, suasana ruangan yang semula sibuk mendadak sedikit melambat. Beberapa karyawan pria menoleh hampir bersamaan. “Wah…” “Anak baru?” “Cantik banget.” “Lesung pipinya…” “Divisi sales jadi lebih hidup ini.” Alena tersenyum sopan. “Selamat pagi, saya Alena. Mohon bantuannya.” Senyum itu membuat beberapa pria langsung salah tingkah. “Siap, dengan senang hati.” “Kalau butuh bantuan, tinggal panggil saya.” “Meja saya di sana, jangan sungkan.” Tawa kecil langsung pecah di beberapa sudut ruangan. Namun tidak semua reaksi sama.Di sisi lain ruangan, beberapa karyawan perempuan saling melirik. “Baru datang sudah jadi pusat perhatian.” “Wajahnya memang…” salah satu berhenti, lalu tersenyum miring. “Ya, kamu tahu sendiri.” “Pantas cepat diterima.” Bisik-bisik mulai menyebar lebih halus. “Jangan-jangan bukan karena kemampuan.” “Kalau cantik, ya wajar.” “Perusahaan juga butuh pemanis.” Alena mendengar semuanya. Namun ia hanya tersenyum kecil sambil merapikan meja kerjanya. Ia sudah terlalu jauh untuk peduli pada komentar seperti itu. Tidak lama kemudian, seorang staf senior menghampirinya membawa dokumen. “Ini data klien yang harus kamu pelajari dulu.” “Terima kasih, Mas.” “Kalau bingung, tanya saja.” “Baik.” Belum sempat pria itu pergi, rekan lain sudah menyela. “Kalau makan siang, saya bisa temani.” “Eh, antre dong!” Suasana kembali riuh. Sementara dari sudut ruangan, bisikan masih terdengar. “Baru sehari kerja sudah ramai.” “Kalau begini, Pak Leon pasti cepat notice.” Nama itu membuat Alena hampir berhenti membaca. Leon Mahardika Namun ia tetap fokus. Matanya kembali ke dokumen. Tangannya menulis catatan dengan rapi. Karena satu hal yang ia tahu pasti, kecantikan mungkin membuat orang melihat sekilas. Tapi kemampuanlah yang membuat seseorang bertahan. Dan Alena memiliki keduanya. Saat ia sedang membaca data dengan serius, salah satu rekan pria berbisik kagum. “Cantik, pintar, dan ramah. Paket lengkap.” “Kalau begini, Pak Leon pasti cepat notice.” Kalimat itu membuat detak jantung Alena sedikit berubah ritme. Namun bibirnya justru tersenyum tipis. Karena memang itulah tujuan sebenarnya. Cepat atau lambat, Leon akan melihatnya lagi. Bukan sebagai gadis kecil dengan tas kelinci. Bukan sebagai anak yang pernah meminta menikah demi bakso. Tapi sebagai wanita yang berdiri sejajar dengannya. Dan ketika hari itu tiba… Alena yakin satu hal, Leon tidak akan bisa lagi mengabaikannya. Bersambung.......Beberapa minggu kemudian, mereka benar-benar tiba di Paris. Brandon yang kini berusia tiga tahun tampak sangat bersemangat. Tangannya menggenggam tangan Leon, sementara tangan satunya menggenggam tangan Alena. “Mama! Lihat!” Alena tersenyum. “Iya, Sayang.” “Bagus!” “Bagus sekali.” Di belakang mereka, Mira dan Ibu Alena berjalan sambil tertawa melihat tingkah Brandon. “Dulu Leon dan Alena ke Paris berdua,” kata Mira. “Sekarang sudah bertiga,” jawab Ibu Alena. “Dan membawa kami.” Keduanya tertawa. Setelah beristirahat sejenak di hotel, mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang terkenal dengan suasananya yang hangat dan hidangan khas Prancis. Brandon duduk di antara Leon dan Alena, sementara Mira dan Ibu Alena duduk di seberang mereka. “Brandon mau makan apa?” tanya Alena sambil membuka menu. “Yang enak.” Leon tertawa kecil. “Semua makanan di sini enak.” Brandon menunjuk gambar makanan di menu. “Itu.” Alena melihatnya. “Steak?” Brandon mengangguk man
Tiga tahun berlalu. Rumah Leon dan Alena kini tidak pernah benar-benar sepi. Ada suara langkah kaki kecil yang berlari dari ruang tengah menuju taman. Ada suara tawa. Ada mainan yang terkadang berserakan di lantai. Dan tentu saja, ada satu anak laki-laki yang hampir setiap pagi berhasil membuat seluruh rumah bangun lebih cepat daripada alarm.“Brandon!”Suara Alena terdengar dari lantai atas. Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berlari sambil tertawa.“Papa!”Leon yang baru keluar dari ruang kerja langsung membuka kedua tangannya. Brandon berlari dan memeluk kakinya.“Papa!”Leon membungkuk dan mengangkatnya.“Selamat ulang tahun, jagoan Ayah.”Brandon tertawa.“Hari ini Brandon tiga tahun!”“Iya.”Leon mencium pipinya.“Sudah besar.”Brandon langsung menggeleng.“Belum.”Alena yang baru turun tangga tertawa.“Menurut dia, kalau sudah besar nanti baru boleh melakukan apa saja.”Brandon menoleh.“Mama!”Ia mengulurkan kedua tangannya. Alena mendekat dan mencium pipinya.“Selamat
Pagi itu sebenarnya dimulai seperti pagi-pagi biasa. Leon sedang berdiri di depan meja makan sambil menuangkan air ke dalam gelas ketika mendengar suara Alena dari kamar. “Sayang…” Leon langsung menoleh. “Iya?” Tidak ada jawaban. Ia meletakkan gelasnya dan berjalan menuju kamar. “Alena?” Ketika sampai di depan pintu, Leon melihat istrinya sedang duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya terlihat sedikit pucat. “Ada apa?” Alena menatapnya. “Perutku terasa aneh.” Leon langsung panik. “Aneh bagaimana?” “Seperti…” Alena berhenti sebentar. “Seperti mulas.” Leon membeku. “Mulas?” Alena mengangguk. Leon langsung melihat jam. Kemudian melihat Alena. Lalu melihat jam lagi. “Jangan-jangan…” “Jangan panik dulu.” “Aku belum panik.” Alena mengangkat alis. “Wajahmu panik.” Leon menarik napas panjang. “Oke. Aku tenang.” Beberapa menit kemudian rasa sakit itu kembali. Alena memegang perutnya. “Sayang…” Leon langsung mendekat. “Bagaimana?” “Sepertinya lebih sakit.” Kali ini Le
Beberapa minggu berlalu begitu cepat. Perut Alena kini semakin besar. Setiap pagi, ia membutuhkan sedikit waktu lebih lama untuk bangun dari tempat tidur. Bukan karena malas, tetapi karena tubuhnya terasa semakin berat.Leon sudah terbiasa menjadi orang pertama yang membantunya.“Pelan-pelan,” katanya setiap kali Alena mencoba bangun.“Aku masih bisa sendiri, sayang.”“Aku tahu.”“Kalau tahu, kenapa masih dibantu?”Leon tersenyum sambil mengulurkan tangan.“Karena aku suamimu.”Alena mendengus kecil, tetapi tetap menerima tangannya.“Alasan.”“Alasan yang bagus.”Alena akhirnya berdiri.Belakangan ini Leon memang semakin perhatian. Ia tidak lagi membiarkan Alena membawa barang berat. Bahkan untuk mengambil sesuatu yang hanya berjarak beberapa langkah, Leon sering kali lebih dulu bergerak.Suatu pagi, Alena sedang duduk di sofa sambil memandangi beberapa pakaian bayi yang sudah mereka siapkan.Tangannya mengusap salah satu baju kecil berwarna putih.“Sayang.”“Hm?”“Menurutmu Brandon n
Siang itu Alena sedang duduk santai di ruang keluarga ketika bel rumah berbunyi. Ia menoleh."Siapa, ya?"Leon yang sedang bekerja di meja tidak jauh darinya ikut melihat ke arah pintu. Pelayan rumah kemudian membukakan pintu. Tak lama kemudian terdengar suara yang sudah sangat dikenal Alena."Alena!"Alena langsung tersenyum."Suara itu..."Beberapa detik kemudian Sisca muncul dengan membawa sebuah tas besar. Namun ada sesuatu yang berbeda.Alena mengernyitkan dahi. Sisca tidak datang sendirian. Di belakangnya berdiri Dimas. Alena langsung membelalakkan mata."Eh?"Sisca tersenyum malu."Hai."Alena menatap Dimas. Kemudian menatap Sisca. Lalu kembali menatap Dimas."Kalian?"Dimas tersenyum."Halo, Lena."Leon yang melihat dari belakang langsung ikut tersenyum."Silakan duduk."Sisca berjalan masuk. Namun biasanya jika datang, Sisca akan langsung menguasai ruangan dengan cerita panjang dan suara yang ramai.Hari ini tidak. Ia malah duduk dengan tenang di samping Dimas. Alena semakin
Sejak pemeriksaan terakhir, ada satu perubahan kecil dalam diri Leon. Ia menjadi jauh lebih sering memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya.Pagi itu, Alena baru saja selesai sarapan ketika melihat Leon duduk di sofa sambil membaca sesuatu dari ponselnya. Alena mendekat."Sayang, kamu sedang apa?"Leon langsung mematikan layar."Enggak ada."Alena menyipitkan mata."Kenapa disembunyikan?"Leon tersenyum."Bukan sesuatu yang perlu kamu lihat.""Memangnya apa?""Rahasia."Alena semakin penasaran. Ia duduk di samping Leon lalu mencoba mengambil ponselnya. Leon mengangkat tangan."Jangan.""Kenapa?""Aku sedang belajar.""Belajar apa?"Leon akhirnya menyerah. Ia menunjukkan layar ponselnya. Alena membaca judul yang tertera. Panduan Menjadi Ayah untuk Pertama Kalinya. Alena langsung tertawa."Serius?"Leon mengangguk."Serius.""Kamu baca beginian?""Iya."Alena mengambil ponselnya dan membaca beberapa bagian. Kemudian ia tertawa lagi."Ini ada bagian cara mengganti
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek







