Home / Romansa / Om Ganteng, Nikah Yuk! / Om Ganteng Mau Nikah

Share

Om Ganteng Mau Nikah

Author: Anny Djumadi
last update publish date: 2026-05-11 10:30:30

Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk ke rumah sebelah, rasa penasaran Alena perlahan berubah menjadi gelisah yang tidak bisa ia jelaskan.

Setiap sore ia tetap duduk di teras sambil pura-pura belajar. Buku tulis terbuka di pangkuannya, tetapi isi halaman itu tidak benar-benar ia pahami. Sedikit saja ada suara mobil dari ujung jalan kompleks, kepalanya langsung menoleh cepat dengan harapan yang sama setiap kali. Dan setiap kali yang datang bukan Leon, wajahnya langsung berubah lesu.

“Lena,” tegur ibunya suatu sore dengan nada curiga. “Kamu kenapa sih akhir-akhir ini kayak orang nunggu utang?”

Alena langsung manyun.

“Aku nggak nunggu utang.”

“Terus?”

Alena menunduk sebentar sebelum menjawab pelan,

“…Nunggu orang.”

Ibunya langsung menyipit.

“Cowok?”

“BUKAN!”

Jawabannya terlalu cepat, terlalu jelas, sampai ibunya justru semakin curiga. Padahal iya. Sangat iya.

Hari itu Alena akhirnya memberanikan diri berdiri di depan rumah besar sebelah. Gerbang hitam tinggi itu tertutup rapat, halaman yang biasanya ramai kini terlihat sunyi tanpa mobil hitam yang selalu ia tunggu. Tidak ada Leon. Tidak ada suara langkahnya. Tidak ada tawa kecil yang sering membuatnya kesal sekaligus senang. Alena menggigit bibir pelan sebelum akhirnya menekan bel pagar dengan jantung yang tidak seperti biasanya. Tidak lama kemudian seorang asisten rumah tangga keluar.

“Iya, Dik?”

Alena memainkan ujung bajunya gugup.

“Om Leon mana ya?”

“Oh, Mas Leon sudah pulang.”

Alena mengerjap bingung.

“Pulang?”

“Iya.” Mbak itu tersenyum kecil. “Mas Leon sekarang tinggal sementara di rumah Nyonya Besar. Lagi menghindari orangtuanya.”

“Menghindari?”

“Iya, soalnya mamanya Mas Leon lagi gencar nyuruh beliau cepat menikah.”

Deg. Entah kenapa dada Alena langsung terasa tidak nyaman.

“Terus… omnya balik lagi kapan?”

“Wah, kurang tahu.”

“Oh…”

Suaranya mengecil. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Leon, Alena merasa benar-benar kosong. Bukan sekadar sepi, tapi seperti ada sesuatu yang hilang dari rutinitas sore yang biasanya ia tunggu.

“Kalau ketemu omnya…” Alena berhenti sebentar lalu memaksakan senyum kecil.

“Bilang Alena nyariin ya.”

Mbak itu mengangguk ramah.

“Siap.”

Namun setelah itu, Leon tetap tidak datang. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan perlahan Alena mulai sadar satu hal yang tidak ingin ia akui, Leon mungkin memang tidak akan kembali. Sore yang dulu terasa menyenangkan berubah menjadi biasa saja. Tidak ada lagi suara mobil hitam. Tidak ada lagi pria yang mengacak rambutnya sambil tertawa. Bahkan rumah sebelah kini terasa seperti rumah kosong yang tidak punya cerita. Kadang Alena masih duduk di depan pagar, hanya untuk memastikan apakah mungkin hari ini Leon akan muncul. Namun harapannya selalu berakhir sama. Sampai suatu siang di sekolah,

“ALENA! CEPAT SINI!”

Suara Rani yang heboh membuat Alena mendongak malas dari bukunya.

“Apa sih?”

“Lihat ini!”

Rani langsung menyodorkan majalah gosip lokal dengan wajah penuh semangat.

“Cepetan lihat!”

Alena mengerutkan kening sebelum akhirnya membaca halaman yang ditunjuk temannya. Dan dalam hitungan detik… wajahnya langsung membeku. Di sana ada foto Leon. Leon Mahardika berdiri mengenakan setelan hitam mahal dengan ekspresi tenang yang sangat ia kenal. Di sampingnya ada seorang wanita cantik berambut panjang dengan dress putih elegan. Mereka terlihat serasi. Terlalu serasi. Tulisan besar di bawah foto itu menghantam dadanya pelan tapi pasti. CEO muda Mahardika Group resmi bertunangan dengan Cynthia Wijaya.

Deg. Dunia Alena mendadak sunyi.

“Katanya bakal nikah tahun depan,” oceh Rani tanpa sadar perubahan wajah Alena. “Gila ya, pacarnya cantik banget.”

Alena diam. Matanya terus menatap foto itu tanpa berkedip. Senyum tipis Leon di dalam foto terasa asing sekarang, jauh sekali dari Leon yang dulu tertawa saat mendengar dirinya bilang sudah haid.

“Oh iya…” Rani mendadak menahan tawa. “Bukannya itu om yang dulu kamu ajak nikah?”

Teman-temannya langsung cekikikan. Namun kali ini Alena tidak tertawa. Tenggorokannya terasa pahit.

“Eh?” Rani langsung menatapnya.

“Lena… jangan bilang kamu sedih?”

“Enggak lah,” jawab Alena cepat sambil menutup majalah itu. “Ngapain sedih.”

Padahal ia bohong. Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Leon terus berputar di kepalanya. Om nggak tertarik sama anak remajal. Dan ternyata benar, Leon memilih wanita dewasa. Wanita yang cantik, elegan, dan pantas berdiri di sampingnya. Bukan dirinya. Bukan gadis SMA dengan tas gambar kelinci.

Malam itu Alena menangis diam-diam di kamar sambil memeluk bantal erat. Tidak ada suara, hanya air mata yang jatuh tanpa kendali untuk pertama kalinya. Bukan karena Leon bertunangan. Tapi karena Leon pergi begitu saja tanpa pamit. Tanpa menjelaskan apa pun. Seolah dirinya memang tidak pernah penting.

“Huh… om jahat,” gumamnya lirih dengan mata berkaca-kaca.

Tatapannya jatuh ke cermin kamar. Pipi bulatnya, tubuh mungilnya, bahkan piyama bergambar stroberi yang ia pakai terasa seperti pengingat bahwa ia masih terlalu kecil. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alena membenci fakta bahwa ia masih anak-anak. Kalau saja dia lebih dewasa… mungkin Leon tidak akan menganggapnya main-main. Kalau saja dia lebih besar… mungkin Leon akan melihatnya sebagai perempuan. Namun perlahan ia mengusap air matanya kuat-kuat. Tatapannya berubah, masih basah tetapi tidak lagi rapuh.

“Lihat aja nanti…” Suaranya pelan, tapi tegas. “Aku bakal tumbuh jadi cewek cantik.”

Alena mengepalkan tangannya erat.

“Dan om pasti nyesel udah nganggep aku masih kecil.”

Bersambung.......

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Misi Rahasia di Paris

    Beberapa minggu kemudian, mereka benar-benar tiba di Paris. Brandon yang kini berusia tiga tahun tampak sangat bersemangat. Tangannya menggenggam tangan Leon, sementara tangan satunya menggenggam tangan Alena. “Mama! Lihat!” Alena tersenyum. “Iya, Sayang.” “Bagus!” “Bagus sekali.” Di belakang mereka, Mira dan Ibu Alena berjalan sambil tertawa melihat tingkah Brandon. “Dulu Leon dan Alena ke Paris berdua,” kata Mira. “Sekarang sudah bertiga,” jawab Ibu Alena. “Dan membawa kami.” Keduanya tertawa. Setelah beristirahat sejenak di hotel, mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang terkenal dengan suasananya yang hangat dan hidangan khas Prancis. Brandon duduk di antara Leon dan Alena, sementara Mira dan Ibu Alena duduk di seberang mereka. “Brandon mau makan apa?” tanya Alena sambil membuka menu. “Yang enak.” Leon tertawa kecil. “Semua makanan di sini enak.” Brandon menunjuk gambar makanan di menu. “Itu.” Alena melihatnya. “Steak?” Brandon mengangguk man

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Kembali ke Paris

    Tiga tahun berlalu. Rumah Leon dan Alena kini tidak pernah benar-benar sepi. Ada suara langkah kaki kecil yang berlari dari ruang tengah menuju taman. Ada suara tawa. Ada mainan yang terkadang berserakan di lantai. Dan tentu saja, ada satu anak laki-laki yang hampir setiap pagi berhasil membuat seluruh rumah bangun lebih cepat daripada alarm.“Brandon!”Suara Alena terdengar dari lantai atas. Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berlari sambil tertawa.“Papa!”Leon yang baru keluar dari ruang kerja langsung membuka kedua tangannya. Brandon berlari dan memeluk kakinya.“Papa!”Leon membungkuk dan mengangkatnya.“Selamat ulang tahun, jagoan Ayah.”Brandon tertawa.“Hari ini Brandon tiga tahun!”“Iya.”Leon mencium pipinya.“Sudah besar.”Brandon langsung menggeleng.“Belum.”Alena yang baru turun tangga tertawa.“Menurut dia, kalau sudah besar nanti baru boleh melakukan apa saja.”Brandon menoleh.“Mama!”Ia mengulurkan kedua tangannya. Alena mendekat dan mencium pipinya.“Selamat

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Hari yang Dinanti

    Pagi itu sebenarnya dimulai seperti pagi-pagi biasa. Leon sedang berdiri di depan meja makan sambil menuangkan air ke dalam gelas ketika mendengar suara Alena dari kamar. “Sayang…” Leon langsung menoleh. “Iya?” Tidak ada jawaban. Ia meletakkan gelasnya dan berjalan menuju kamar. “Alena?” Ketika sampai di depan pintu, Leon melihat istrinya sedang duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya terlihat sedikit pucat. “Ada apa?” Alena menatapnya. “Perutku terasa aneh.” Leon langsung panik. “Aneh bagaimana?” “Seperti…” Alena berhenti sebentar. “Seperti mulas.” Leon membeku. “Mulas?” Alena mengangguk. Leon langsung melihat jam. Kemudian melihat Alena. Lalu melihat jam lagi. “Jangan-jangan…” “Jangan panik dulu.” “Aku belum panik.” Alena mengangkat alis. “Wajahmu panik.” Leon menarik napas panjang. “Oke. Aku tenang.” Beberapa menit kemudian rasa sakit itu kembali. Alena memegang perutnya. “Sayang…” Leon langsung mendekat. “Bagaimana?” “Sepertinya lebih sakit.” Kali ini Le

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Ketika Hari Itu Semakin Dekat

    Beberapa minggu berlalu begitu cepat. Perut Alena kini semakin besar. Setiap pagi, ia membutuhkan sedikit waktu lebih lama untuk bangun dari tempat tidur. Bukan karena malas, tetapi karena tubuhnya terasa semakin berat.Leon sudah terbiasa menjadi orang pertama yang membantunya.“Pelan-pelan,” katanya setiap kali Alena mencoba bangun.“Aku masih bisa sendiri, sayang.”“Aku tahu.”“Kalau tahu, kenapa masih dibantu?”Leon tersenyum sambil mengulurkan tangan.“Karena aku suamimu.”Alena mendengus kecil, tetapi tetap menerima tangannya.“Alasan.”“Alasan yang bagus.”Alena akhirnya berdiri.Belakangan ini Leon memang semakin perhatian. Ia tidak lagi membiarkan Alena membawa barang berat. Bahkan untuk mengambil sesuatu yang hanya berjarak beberapa langkah, Leon sering kali lebih dulu bergerak.Suatu pagi, Alena sedang duduk di sofa sambil memandangi beberapa pakaian bayi yang sudah mereka siapkan.Tangannya mengusap salah satu baju kecil berwarna putih.“Sayang.”“Hm?”“Menurutmu Brandon n

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Sisca yang Mendadak Kalem

    Siang itu Alena sedang duduk santai di ruang keluarga ketika bel rumah berbunyi. Ia menoleh."Siapa, ya?"Leon yang sedang bekerja di meja tidak jauh darinya ikut melihat ke arah pintu. Pelayan rumah kemudian membukakan pintu. Tak lama kemudian terdengar suara yang sudah sangat dikenal Alena."Alena!"Alena langsung tersenyum."Suara itu..."Beberapa detik kemudian Sisca muncul dengan membawa sebuah tas besar. Namun ada sesuatu yang berbeda.Alena mengernyitkan dahi. Sisca tidak datang sendirian. Di belakangnya berdiri Dimas. Alena langsung membelalakkan mata."Eh?"Sisca tersenyum malu."Hai."Alena menatap Dimas. Kemudian menatap Sisca. Lalu kembali menatap Dimas."Kalian?"Dimas tersenyum."Halo, Lena."Leon yang melihat dari belakang langsung ikut tersenyum."Silakan duduk."Sisca berjalan masuk. Namun biasanya jika datang, Sisca akan langsung menguasai ruangan dengan cerita panjang dan suara yang ramai.Hari ini tidak. Ia malah duduk dengan tenang di samping Dimas. Alena semakin

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Belajar Menjadi Ayah

    Sejak pemeriksaan terakhir, ada satu perubahan kecil dalam diri Leon. Ia menjadi jauh lebih sering memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya.Pagi itu, Alena baru saja selesai sarapan ketika melihat Leon duduk di sofa sambil membaca sesuatu dari ponselnya. Alena mendekat."Sayang, kamu sedang apa?"Leon langsung mematikan layar."Enggak ada."Alena menyipitkan mata."Kenapa disembunyikan?"Leon tersenyum."Bukan sesuatu yang perlu kamu lihat.""Memangnya apa?""Rahasia."Alena semakin penasaran. Ia duduk di samping Leon lalu mencoba mengambil ponselnya. Leon mengangkat tangan."Jangan.""Kenapa?""Aku sedang belajar.""Belajar apa?"Leon akhirnya menyerah. Ia menunjukkan layar ponselnya. Alena membaca judul yang tertera. Panduan Menjadi Ayah untuk Pertama Kalinya. Alena langsung tertawa."Serius?"Leon mengangguk."Serius.""Kamu baca beginian?""Iya."Alena mengambil ponselnya dan membaca beberapa bagian. Kemudian ia tertawa lagi."Ini ada bagian cara mengganti

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bayangan yang Mulai Mengganggu

    Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Anak Baru yang Menjadi Perhatian

    Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bertemu Kembali

    Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Gadis Aneh

    Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status