LOGINBeberapa minggu kemudian, mereka benar-benar tiba di Paris. Brandon yang kini berusia tiga tahun tampak sangat bersemangat. Tangannya menggenggam tangan Leon, sementara tangan satunya menggenggam tangan Alena. “Mama! Lihat!” Alena tersenyum. “Iya, Sayang.” “Bagus!” “Bagus sekali.” Di belakang mereka, Mira dan Ibu Alena berjalan sambil tertawa melihat tingkah Brandon. “Dulu Leon dan Alena ke Paris berdua,” kata Mira. “Sekarang sudah bertiga,” jawab Ibu Alena. “Dan membawa kami.” Keduanya tertawa. Setelah beristirahat sejenak di hotel, mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang terkenal dengan suasananya yang hangat dan hidangan khas Prancis. Brandon duduk di antara Leon dan Alena, sementara Mira dan Ibu Alena duduk di seberang mereka. “Brandon mau makan apa?” tanya Alena sambil membuka menu. “Yang enak.” Leon tertawa kecil. “Semua makanan di sini enak.” Brandon menunjuk gambar makanan di menu. “Itu.” Alena melihatnya. “Steak?” Brandon mengangguk man
Tiga tahun berlalu. Rumah Leon dan Alena kini tidak pernah benar-benar sepi. Ada suara langkah kaki kecil yang berlari dari ruang tengah menuju taman. Ada suara tawa. Ada mainan yang terkadang berserakan di lantai. Dan tentu saja, ada satu anak laki-laki yang hampir setiap pagi berhasil membuat seluruh rumah bangun lebih cepat daripada alarm.“Brandon!”Suara Alena terdengar dari lantai atas. Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berlari sambil tertawa.“Papa!”Leon yang baru keluar dari ruang kerja langsung membuka kedua tangannya. Brandon berlari dan memeluk kakinya.“Papa!”Leon membungkuk dan mengangkatnya.“Selamat ulang tahun, jagoan Ayah.”Brandon tertawa.“Hari ini Brandon tiga tahun!”“Iya.”Leon mencium pipinya.“Sudah besar.”Brandon langsung menggeleng.“Belum.”Alena yang baru turun tangga tertawa.“Menurut dia, kalau sudah besar nanti baru boleh melakukan apa saja.”Brandon menoleh.“Mama!”Ia mengulurkan kedua tangannya. Alena mendekat dan mencium pipinya.“Selamat
Pagi itu sebenarnya dimulai seperti pagi-pagi biasa. Leon sedang berdiri di depan meja makan sambil menuangkan air ke dalam gelas ketika mendengar suara Alena dari kamar. “Sayang…” Leon langsung menoleh. “Iya?” Tidak ada jawaban. Ia meletakkan gelasnya dan berjalan menuju kamar. “Alena?” Ketika sampai di depan pintu, Leon melihat istrinya sedang duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya terlihat sedikit pucat. “Ada apa?” Alena menatapnya. “Perutku terasa aneh.” Leon langsung panik. “Aneh bagaimana?” “Seperti…” Alena berhenti sebentar. “Seperti mulas.” Leon membeku. “Mulas?” Alena mengangguk. Leon langsung melihat jam. Kemudian melihat Alena. Lalu melihat jam lagi. “Jangan-jangan…” “Jangan panik dulu.” “Aku belum panik.” Alena mengangkat alis. “Wajahmu panik.” Leon menarik napas panjang. “Oke. Aku tenang.” Beberapa menit kemudian rasa sakit itu kembali. Alena memegang perutnya. “Sayang…” Leon langsung mendekat. “Bagaimana?” “Sepertinya lebih sakit.” Kali ini Le
Beberapa minggu berlalu begitu cepat. Perut Alena kini semakin besar. Setiap pagi, ia membutuhkan sedikit waktu lebih lama untuk bangun dari tempat tidur. Bukan karena malas, tetapi karena tubuhnya terasa semakin berat.Leon sudah terbiasa menjadi orang pertama yang membantunya.“Pelan-pelan,” katanya setiap kali Alena mencoba bangun.“Aku masih bisa sendiri, sayang.”“Aku tahu.”“Kalau tahu, kenapa masih dibantu?”Leon tersenyum sambil mengulurkan tangan.“Karena aku suamimu.”Alena mendengus kecil, tetapi tetap menerima tangannya.“Alasan.”“Alasan yang bagus.”Alena akhirnya berdiri.Belakangan ini Leon memang semakin perhatian. Ia tidak lagi membiarkan Alena membawa barang berat. Bahkan untuk mengambil sesuatu yang hanya berjarak beberapa langkah, Leon sering kali lebih dulu bergerak.Suatu pagi, Alena sedang duduk di sofa sambil memandangi beberapa pakaian bayi yang sudah mereka siapkan.Tangannya mengusap salah satu baju kecil berwarna putih.“Sayang.”“Hm?”“Menurutmu Brandon n
Siang itu Alena sedang duduk santai di ruang keluarga ketika bel rumah berbunyi. Ia menoleh."Siapa, ya?"Leon yang sedang bekerja di meja tidak jauh darinya ikut melihat ke arah pintu. Pelayan rumah kemudian membukakan pintu. Tak lama kemudian terdengar suara yang sudah sangat dikenal Alena."Alena!"Alena langsung tersenyum."Suara itu..."Beberapa detik kemudian Sisca muncul dengan membawa sebuah tas besar. Namun ada sesuatu yang berbeda.Alena mengernyitkan dahi. Sisca tidak datang sendirian. Di belakangnya berdiri Dimas. Alena langsung membelalakkan mata."Eh?"Sisca tersenyum malu."Hai."Alena menatap Dimas. Kemudian menatap Sisca. Lalu kembali menatap Dimas."Kalian?"Dimas tersenyum."Halo, Lena."Leon yang melihat dari belakang langsung ikut tersenyum."Silakan duduk."Sisca berjalan masuk. Namun biasanya jika datang, Sisca akan langsung menguasai ruangan dengan cerita panjang dan suara yang ramai.Hari ini tidak. Ia malah duduk dengan tenang di samping Dimas. Alena semakin
Sejak pemeriksaan terakhir, ada satu perubahan kecil dalam diri Leon. Ia menjadi jauh lebih sering memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya.Pagi itu, Alena baru saja selesai sarapan ketika melihat Leon duduk di sofa sambil membaca sesuatu dari ponselnya. Alena mendekat."Sayang, kamu sedang apa?"Leon langsung mematikan layar."Enggak ada."Alena menyipitkan mata."Kenapa disembunyikan?"Leon tersenyum."Bukan sesuatu yang perlu kamu lihat.""Memangnya apa?""Rahasia."Alena semakin penasaran. Ia duduk di samping Leon lalu mencoba mengambil ponselnya. Leon mengangkat tangan."Jangan.""Kenapa?""Aku sedang belajar.""Belajar apa?"Leon akhirnya menyerah. Ia menunjukkan layar ponselnya. Alena membaca judul yang tertera. Panduan Menjadi Ayah untuk Pertama Kalinya. Alena langsung tertawa."Serius?"Leon mengangguk."Serius.""Kamu baca beginian?""Iya."Alena mengambil ponselnya dan membaca beberapa bagian. Kemudian ia tertawa lagi."Ini ada bagian cara mengganti
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek
“Berani nggak?” Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria







