แชร์

Om Ganteng, Nikah Yuk!
Om Ganteng, Nikah Yuk!
ผู้แต่ง: Anny Djumadi

Demi Bakso, Ajak Nikah

ผู้เขียน: Anny Djumadi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-11 10:26:00

“Berani nggak?”

Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya.

“Berani apa?”

Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria tinggi keluar dari kursi belakang dengan jas abu gelap yang terlihat mahal bahkan untuk ukuran anak SMA seperti mereka. Wajahnya tampan, terlalu tampan malah, dengan kulit putih bersih, rahang tegas, dan aura dingin yang membuat orang otomatis segan.

“Ya ampun, ganteng banget…” bisik Rani sambil menepuk-nepuk lengan Alena.

“Itu pasti orang kaya,” sambung yang lain.

Alena ikut melongok penasaran, dan matanya langsung membulat kagum.

“Ih…”

“Nah!” Rani langsung menyeringai jail. “Kalau kamu berani ngajak nikah om itu, kita traktir bakso!”

“Bakso urat jumbo,” timpal temannya cepat.

Alena langsung duduk tegak.

“Dua mangkuk?”

“Boleh!”

“Pakai es teh?”

“Iya!”

Tanpa berpikir panjang lagi, Alena langsung berdiri, sementara teman-temannya mendadak panik.

“Eh? Lena? Jangan serius!”

Namun gadis itu sudah lebih dulu menyeberang jalan kecil di depan minimarket sambil menggenggam tali tas sekolahnya erat-erat. Jantungnya memang berdebar, tapi bayangan bakso urat jumbo jauh lebih kuat daripada rasa malu yang seharusnya ia rasakan. Sementara itu, Leon baru saja menutup pintu mobilnya ketika seseorang menarik ujung jasnya pelan.

Pria itu menoleh dan mendapati seorang gadis kecil berseragam SMP berdiri di depannya. Rambutnya diikat buntut kuda, wajahnya bulat dengan mata besar berbinar, dan saat tersenyum gugup, lesung pipi kecil di kedua pipinya langsung terlihat manis. Leon mengernyit heran.

“Ya?”

Alena menelan ludah sebentar, lalu mengangkat dagunya seolah mengumpulkan keberanian terakhir.

“Om… nikah yuk.”

Suasana langsung sunyi. Sopir Leon yang berdiri tak jauh sampai salah menutup pintu mobil, sementara Leon sendiri hanya menatap gadis kecil di depannya tanpa berkedip selama beberapa detik.

“…Apa?”

Alena tetap berdiri tegak meski pipinya mulai merah.

“Aku mau nikah sama om.”

Dari seberang jalan, teman-temannya sudah hampir guling-guling menahan tawa.

“Gila, dia beneran bilang!”

“Alena nekat banget!”

Leon menghela napas pelan sambil memijat pelipis.

“Siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu?”

“Enggak ada.” Alena menggeleng cepat. “Aku sendiri.”

“Kamu masih sekolah?”

“Iya.”

“SMP?”

Wajah Alena langsung cemberut hingga lesung pipinya makin terlihat.

“SMA!”

“Oh, beda tipis.”

“Beda banyak!”

Leon hampir tertawa melihat ekspresi kesalnya. Ada sesuatu dari gadis kecil ini yang terlalu polos untuk dianggap mengganggu, justru terlalu jujur untuk diabaikan begitu saja.

“Namanya siapa?”

“Alena.”

“Umur?”

“Tujuh belas.”

Leon langsung menggeleng kecil.

“Masih kecil.”

“Aku udah gede tahu!” bantah Alena cepat. “Aku udah haid!”

Sopir Leon langsung batuk keras menahan tawa, sementara dari kejauhan teman-teman Alena menjerit malu.

“ALENA! IH!”

Namun Alena tetap berdiri percaya diri, seolah kalimat itu adalah bukti kedewasaan paling sah di dunia. Leon sampai harus menahan senyum karena terlalu absurd untuk dianggap serius.

Lucu. Anak ini benar-benar lucu.

“Jadi om mau nikah sama aku nggak?” tanya Alena lagi penuh harap.

Lesung pipinya muncul lagi saat ia tersenyum manis. Leon menatap wajah polos itu beberapa saat, lalu tanpa sadar mengacak rambutnya pelan.

“Enggak.”

Senyum Alena langsung turun.

“Kenapa?”

“Karena om nggak tertarik sama anak sekolah.”

“Memang kenapa kalau masih sekolah?!”

“Kamu bahkan masih pakai tas gambar kelinci.”

Alena refleks memeluk tasnya.

“Ini lucu…”

“Justru itu.” Leon tersenyum tipis. “Bukannya bikin nyaman, yang ada bikin pusing.”

Alena langsung manyun panjang.

“Belum tentu juga nikah sama yang dewasa bikin bahagia!”

Leon mengangkat alis.

“Oh ya?”

“Iya!” Alena menunjuk dirinya sendiri bangga. “Kalau sama Lena kan lucu dan imut. Bisa jadi om bahagia.”

Deg. Untuk sesaat Leon terdiam. Bukan karena kalimatnya masuk akal, tapi karena gadis kecil ini mengatakannya dengan keyakinan yang terlalu jujur, terlalu polos, seolah benar-benar percaya dirinya bisa membuat seseorang bahagia. Namun sedetik kemudian ia kembali tertawa kecil.

“Kamu ini ada-ada aja.”

“Aku serius.”

“Sayangnya om nggak serius.”

“Huh! Nanti juga om nyesel!”

Leon tersenyum tipis sambil melangkah melewati Alena.

“Kalau nanti kamu sudah lulus dan masih selucu ini, om baru pikirkan lagi.”

Mata Alena langsung berbinar lagi, lesung pipinya muncul seperti sebelumnya.

“Janji?”

Leon hanya melambaikan tangan tanpa menjawab. Namun sebelum masuk ke minimarket, pria itu sempat menoleh sekali lagi. Alena masih berdiri di tempatnya, tersenyum lebar dengan lesung pipi manis yang entah kenapa, untuk sesaat, terasa seperti sesuatu yang akan sulit dilupakan. Lucu. Leon menggeleng pelan lalu masuk ke dalam tanpa tahu bahwa pertemuan kecil hari itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar pertemuan biasa.

Bersambung......

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (7)
goodnovel comment avatar
Nuramin Amina
... Menarik
goodnovel comment avatar
Mhay Sasikirana
bengek AQ kbykan ngakak gara" si Alena......
goodnovel comment avatar
MAH AMAL
baru nemu..
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Misi Rahasia di Paris

    Beberapa minggu kemudian, mereka benar-benar tiba di Paris. Brandon yang kini berusia tiga tahun tampak sangat bersemangat. Tangannya menggenggam tangan Leon, sementara tangan satunya menggenggam tangan Alena. “Mama! Lihat!” Alena tersenyum. “Iya, Sayang.” “Bagus!” “Bagus sekali.” Di belakang mereka, Mira dan Ibu Alena berjalan sambil tertawa melihat tingkah Brandon. “Dulu Leon dan Alena ke Paris berdua,” kata Mira. “Sekarang sudah bertiga,” jawab Ibu Alena. “Dan membawa kami.” Keduanya tertawa. Setelah beristirahat sejenak di hotel, mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang terkenal dengan suasananya yang hangat dan hidangan khas Prancis. Brandon duduk di antara Leon dan Alena, sementara Mira dan Ibu Alena duduk di seberang mereka. “Brandon mau makan apa?” tanya Alena sambil membuka menu. “Yang enak.” Leon tertawa kecil. “Semua makanan di sini enak.” Brandon menunjuk gambar makanan di menu. “Itu.” Alena melihatnya. “Steak?” Brandon mengangguk man

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Kembali ke Paris

    Tiga tahun berlalu. Rumah Leon dan Alena kini tidak pernah benar-benar sepi. Ada suara langkah kaki kecil yang berlari dari ruang tengah menuju taman. Ada suara tawa. Ada mainan yang terkadang berserakan di lantai. Dan tentu saja, ada satu anak laki-laki yang hampir setiap pagi berhasil membuat seluruh rumah bangun lebih cepat daripada alarm.“Brandon!”Suara Alena terdengar dari lantai atas. Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berlari sambil tertawa.“Papa!”Leon yang baru keluar dari ruang kerja langsung membuka kedua tangannya. Brandon berlari dan memeluk kakinya.“Papa!”Leon membungkuk dan mengangkatnya.“Selamat ulang tahun, jagoan Ayah.”Brandon tertawa.“Hari ini Brandon tiga tahun!”“Iya.”Leon mencium pipinya.“Sudah besar.”Brandon langsung menggeleng.“Belum.”Alena yang baru turun tangga tertawa.“Menurut dia, kalau sudah besar nanti baru boleh melakukan apa saja.”Brandon menoleh.“Mama!”Ia mengulurkan kedua tangannya. Alena mendekat dan mencium pipinya.“Selamat

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Hari yang Dinanti

    Pagi itu sebenarnya dimulai seperti pagi-pagi biasa. Leon sedang berdiri di depan meja makan sambil menuangkan air ke dalam gelas ketika mendengar suara Alena dari kamar. “Sayang…” Leon langsung menoleh. “Iya?” Tidak ada jawaban. Ia meletakkan gelasnya dan berjalan menuju kamar. “Alena?” Ketika sampai di depan pintu, Leon melihat istrinya sedang duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya terlihat sedikit pucat. “Ada apa?” Alena menatapnya. “Perutku terasa aneh.” Leon langsung panik. “Aneh bagaimana?” “Seperti…” Alena berhenti sebentar. “Seperti mulas.” Leon membeku. “Mulas?” Alena mengangguk. Leon langsung melihat jam. Kemudian melihat Alena. Lalu melihat jam lagi. “Jangan-jangan…” “Jangan panik dulu.” “Aku belum panik.” Alena mengangkat alis. “Wajahmu panik.” Leon menarik napas panjang. “Oke. Aku tenang.” Beberapa menit kemudian rasa sakit itu kembali. Alena memegang perutnya. “Sayang…” Leon langsung mendekat. “Bagaimana?” “Sepertinya lebih sakit.” Kali ini Le

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Ketika Hari Itu Semakin Dekat

    Beberapa minggu berlalu begitu cepat. Perut Alena kini semakin besar. Setiap pagi, ia membutuhkan sedikit waktu lebih lama untuk bangun dari tempat tidur. Bukan karena malas, tetapi karena tubuhnya terasa semakin berat.Leon sudah terbiasa menjadi orang pertama yang membantunya.“Pelan-pelan,” katanya setiap kali Alena mencoba bangun.“Aku masih bisa sendiri, sayang.”“Aku tahu.”“Kalau tahu, kenapa masih dibantu?”Leon tersenyum sambil mengulurkan tangan.“Karena aku suamimu.”Alena mendengus kecil, tetapi tetap menerima tangannya.“Alasan.”“Alasan yang bagus.”Alena akhirnya berdiri.Belakangan ini Leon memang semakin perhatian. Ia tidak lagi membiarkan Alena membawa barang berat. Bahkan untuk mengambil sesuatu yang hanya berjarak beberapa langkah, Leon sering kali lebih dulu bergerak.Suatu pagi, Alena sedang duduk di sofa sambil memandangi beberapa pakaian bayi yang sudah mereka siapkan.Tangannya mengusap salah satu baju kecil berwarna putih.“Sayang.”“Hm?”“Menurutmu Brandon n

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Sisca yang Mendadak Kalem

    Siang itu Alena sedang duduk santai di ruang keluarga ketika bel rumah berbunyi. Ia menoleh."Siapa, ya?"Leon yang sedang bekerja di meja tidak jauh darinya ikut melihat ke arah pintu. Pelayan rumah kemudian membukakan pintu. Tak lama kemudian terdengar suara yang sudah sangat dikenal Alena."Alena!"Alena langsung tersenyum."Suara itu..."Beberapa detik kemudian Sisca muncul dengan membawa sebuah tas besar. Namun ada sesuatu yang berbeda.Alena mengernyitkan dahi. Sisca tidak datang sendirian. Di belakangnya berdiri Dimas. Alena langsung membelalakkan mata."Eh?"Sisca tersenyum malu."Hai."Alena menatap Dimas. Kemudian menatap Sisca. Lalu kembali menatap Dimas."Kalian?"Dimas tersenyum."Halo, Lena."Leon yang melihat dari belakang langsung ikut tersenyum."Silakan duduk."Sisca berjalan masuk. Namun biasanya jika datang, Sisca akan langsung menguasai ruangan dengan cerita panjang dan suara yang ramai.Hari ini tidak. Ia malah duduk dengan tenang di samping Dimas. Alena semakin

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Belajar Menjadi Ayah

    Sejak pemeriksaan terakhir, ada satu perubahan kecil dalam diri Leon. Ia menjadi jauh lebih sering memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya.Pagi itu, Alena baru saja selesai sarapan ketika melihat Leon duduk di sofa sambil membaca sesuatu dari ponselnya. Alena mendekat."Sayang, kamu sedang apa?"Leon langsung mematikan layar."Enggak ada."Alena menyipitkan mata."Kenapa disembunyikan?"Leon tersenyum."Bukan sesuatu yang perlu kamu lihat.""Memangnya apa?""Rahasia."Alena semakin penasaran. Ia duduk di samping Leon lalu mencoba mengambil ponselnya. Leon mengangkat tangan."Jangan.""Kenapa?""Aku sedang belajar.""Belajar apa?"Leon akhirnya menyerah. Ia menunjukkan layar ponselnya. Alena membaca judul yang tertera. Panduan Menjadi Ayah untuk Pertama Kalinya. Alena langsung tertawa."Serius?"Leon mengangguk."Serius.""Kamu baca beginian?""Iya."Alena mengambil ponselnya dan membaca beberapa bagian. Kemudian ia tertawa lagi."Ini ada bagian cara mengganti

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bayangan yang Mulai Mengganggu

    Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Anak Baru yang Menjadi Perhatian

    Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bertemu Kembali

    Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Gadis Aneh

    Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status