เข้าสู่ระบบ
“Berani nggak?”
Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria tinggi keluar dari kursi belakang dengan jas abu gelap yang terlihat mahal bahkan untuk ukuran anak SMA seperti mereka. Wajahnya tampan, terlalu tampan malah, dengan kulit putih bersih, rahang tegas, dan aura dingin yang membuat orang otomatis segan. “Ya ampun, ganteng banget…” bisik Rani sambil menepuk-nepuk lengan Alena. “Itu pasti orang kaya,” sambung yang lain. Alena ikut melongok penasaran, dan matanya langsung membulat kagum. “Ih…” “Nah!” Rani langsung menyeringai jail. “Kalau kamu berani ngajak nikah om itu, kita traktir bakso!” “Bakso urat jumbo,” timpal temannya cepat. Alena langsung duduk tegak. “Dua mangkuk?” “Boleh!” “Pakai es teh?” “Iya!” Tanpa berpikir panjang lagi, Alena langsung berdiri, sementara teman-temannya mendadak panik. “Eh? Lena? Jangan serius!” Namun gadis itu sudah lebih dulu menyeberang jalan kecil di depan minimarket sambil menggenggam tali tas sekolahnya erat-erat. Jantungnya memang berdebar, tapi bayangan bakso urat jumbo jauh lebih kuat daripada rasa malu yang seharusnya ia rasakan. Sementara itu, Leon baru saja menutup pintu mobilnya ketika seseorang menarik ujung jasnya pelan. Pria itu menoleh dan mendapati seorang gadis kecil berseragam SMP berdiri di depannya. Rambutnya diikat buntut kuda, wajahnya bulat dengan mata besar berbinar, dan saat tersenyum gugup, lesung pipi kecil di kedua pipinya langsung terlihat manis. Leon mengernyit heran. “Ya?” Alena menelan ludah sebentar, lalu mengangkat dagunya seolah mengumpulkan keberanian terakhir. “Om… nikah yuk.” Suasana langsung sunyi. Sopir Leon yang berdiri tak jauh sampai salah menutup pintu mobil, sementara Leon sendiri hanya menatap gadis kecil di depannya tanpa berkedip selama beberapa detik. “…Apa?” Alena tetap berdiri tegak meski pipinya mulai merah. “Aku mau nikah sama om.” Dari seberang jalan, teman-temannya sudah hampir guling-guling menahan tawa. “Gila, dia beneran bilang!” “Alena nekat banget!” Leon menghela napas pelan sambil memijat pelipis. “Siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu?” “Enggak ada.” Alena menggeleng cepat. “Aku sendiri.” “Kamu masih sekolah?” “Iya.” “SMP?” Wajah Alena langsung cemberut hingga lesung pipinya makin terlihat. “SMA!” “Oh, beda tipis.” “Beda banyak!” Leon hampir tertawa melihat ekspresi kesalnya. Ada sesuatu dari gadis kecil ini yang terlalu polos untuk dianggap mengganggu, justru terlalu jujur untuk diabaikan begitu saja. “Namanya siapa?” “Alena.” “Umur?” “Tujuh belas.” Leon langsung menggeleng kecil. “Masih kecil.” “Aku udah gede tahu!” bantah Alena cepat. “Aku udah haid!” Sopir Leon langsung batuk keras menahan tawa, sementara dari kejauhan teman-teman Alena menjerit malu. “ALENA! IH!” Namun Alena tetap berdiri percaya diri, seolah kalimat itu adalah bukti kedewasaan paling sah di dunia. Leon sampai harus menahan senyum karena terlalu absurd untuk dianggap serius. Lucu. Anak ini benar-benar lucu. “Jadi om mau nikah sama aku nggak?” tanya Alena lagi penuh harap. Lesung pipinya muncul lagi saat ia tersenyum manis. Leon menatap wajah polos itu beberapa saat, lalu tanpa sadar mengacak rambutnya pelan. “Enggak.” Senyum Alena langsung turun. “Kenapa?” “Karena om nggak tertarik sama anak sekolah.” “Memang kenapa kalau masih sekolah?!” “Kamu bahkan masih pakai tas gambar kelinci.” Alena refleks memeluk tasnya. “Ini lucu…” “Justru itu.” Leon tersenyum tipis. “Bukannya bikin nyaman, yang ada bikin pusing.” Alena langsung manyun panjang. “Belum tentu juga nikah sama yang dewasa bikin bahagia!” Leon mengangkat alis. “Oh ya?” “Iya!” Alena menunjuk dirinya sendiri bangga. “Kalau sama Lena kan lucu dan imut. Bisa jadi om bahagia.” Deg. Untuk sesaat Leon terdiam. Bukan karena kalimatnya masuk akal, tapi karena gadis kecil ini mengatakannya dengan keyakinan yang terlalu jujur, terlalu polos, seolah benar-benar percaya dirinya bisa membuat seseorang bahagia. Namun sedetik kemudian ia kembali tertawa kecil. “Kamu ini ada-ada aja.” “Aku serius.” “Sayangnya om nggak serius.” “Huh! Nanti juga om nyesel!” Leon tersenyum tipis sambil melangkah melewati Alena. “Kalau nanti kamu sudah lulus dan masih selucu ini, om baru pikirkan lagi.” Mata Alena langsung berbinar lagi, lesung pipinya muncul seperti sebelumnya. “Janji?” Leon hanya melambaikan tangan tanpa menjawab. Namun sebelum masuk ke minimarket, pria itu sempat menoleh sekali lagi. Alena masih berdiri di tempatnya, tersenyum lebar dengan lesung pipi manis yang entah kenapa, untuk sesaat, terasa seperti sesuatu yang akan sulit dilupakan. Lucu. Leon menggeleng pelan lalu masuk ke dalam tanpa tahu bahwa pertemuan kecil hari itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar pertemuan biasa. Bersambung......Sejak pertemuan Leon dengan Lilis, sebenarnya tidak ada yang berubah. Leon tetap menjadi Leon yang sama. Ia tetap pulang membawa cerita tentang pekerjaannya, tetap menanyakan apakah Alena sudah makan, tetap memastikan vitamin kehamilannya diminum, dan tetap menjadi suami yang selalu bersedia mengalah ketika istrinya tiba-tiba berubah suasana hati.Namun bagi Alena, ada satu hal yang berubah. Pikirannya. Nama Lilis yang sempat muncul dalam percakapan mereka ternyata tidak mudah hilang begitu saja. Apalagi setelah Alena tahu bahwa kerja sama perusahaan Leon dan perusahaan tempat Lilis bekerja kemungkinan berlangsung cukup lama.Pagi itu, Alena sedang duduk di meja makan ketika Leon menerima telepon."Baik. Besok saya akan datang ke kantor mereka."Alena yang sedang menyendok bubur tiba-tiba berhenti.Kantor mereka?Berarti bertemu Lilis lagi?Leon menutup telepon dan kembali mengambil cangkir kopinya."Kenapa berhenti makan?"Alena menggeleng."Enggak."Leon memperhatikannya."Rasanya t
Sudah lebih dari tiga bulan sejak Alena mengetahui bahwa ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam tubuhnya.Sejak memasuki bulan ketiga, rasa mualnya memang perlahan berkurang. Namun, ada satu hal yang justru semakin terasa. Perasaannya. Alena menjadi jauh lebih sensitif.Hal kecil yang biasanya tidak pernah dipikirkannya bisa membuat wajahnya berubah murung. Salah bicara sedikit saja, ia bisa diam. Bahkan ketika Leon pulang terlambat karena pekerjaan, Alena terkadang langsung memasang wajah cemberut.Dan Leon? Pria itu seolah sudah memahami bahwa istrinya sedang berada dalam fase yang berbeda.Malam itu Leon baru saja masuk ke rumah ketika melihat Alena duduk di sofa sambil memeluk bantal."Sayang."Alena hanya melirik sekilas. Leon menghentikan langkah."Ada apa?""Tidak ada."Jawaban singkat itu justru membuat Leon tahu bahwa ada sesuatu. Leon meletakkan tas kerjanya, kemudian duduk di samping Alena."Kamu marah?""Enggak.""Kesal?""Enggak.""Sedih?"Alena menggeleng. Leon
Sejak mengetahui Alena hamil, kehidupan di rumah itu perlahan berubah. Bukan karena Alena merasa berbeda. Justru orang-orang di sekitarnya yang berubah. Terutama Leon.Pagi itu Alena baru saja bangun dan hendak turun dari tempat tidur.“Pelan.”Suara Leon langsung terdengar. Alena berhenti.“Aku cuma mau turun.”Leon yang sedang merapikan kemejanya segera mendekat.“Pegang tanganku.”Alena menurut, lalu turun dari tempat tidur.“Aku masih bisa turun sendiri, sayang.”“Aku tahu.”“Terus kenapa?”“Biar aku saja.”Alena menghela napas. Baru beberapa minggu hamil, tetapi rasanya dia sudah memiliki pengawal pribadi.Ketika hendak mengambil gelas air, Leon lebih dulu mengambilkannya.Ketika ingin mengambil tas di sofa, Leon sudah mengangkatnya.Ketika Alena berdiri terlalu lama, Leon bertanya,“Capek?”“Belum.”“Duduk dulu.”Alena akhirnya menatap suaminya.“Sayang.”“Hm?”“Aku hamil, bukan sakit.”Leon tersenyum.“Aku tahu.”“Terus?”“Aku cuma sedang belajar.”“Belajar apa?”“Menjaga dua o
Pagi itu, Leon sudah siap sejak pukul tujuh. Padahal jadwal pemeriksaan Alena baru pukul sembilan. Alena yang baru keluar dari kamar justru menemukan suaminya sudah berdiri di dekat pintu dengan kunci mobil di tangan.“Sayang?”Leon menoleh.“Ayo.”Alena melihat jam.“Sekarang?”“Iya.”“Dokternya masih lama.”“Kita berangkat lebih awal.”Alena menahan tawa.“Kenapa kamu kelihatan seperti mau menghadiri rapat penting?”Leon memasukkan ponselnya ke saku.“Ini memang penting.”“Lebih penting daripada rapat direksi?”“Jauh.”Alena tersenyum.“Padahal yang hamil aku.”Leon mendekat dan mengambil tas kecil dari tangan istrinya.“Justru karena kamu yang hamil.”“Aku baru beberapa minggu.”“Aku tahu.”“Dan aku baik-baik saja.”“Aku juga tahu.”“Jadi kenapa kamu kelihatan tegang?”Leon terdiam sebentar.“Aku tidak tegang.”Alena mengangkat alis.“Benarkah?”“Benar.”“Dari tadi kamu sudah tiga kali memeriksa jam.”Leon melirik jam tangannya.“Karena takut terlambat.”“Kita bahkan bisa sampai se
Sudah hampir dua bulan sejak Alena dan Leon kembali dari Paris. Kehidupan mereka perlahan menemukan ritmenya.Leon kembali sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sementara Alena mulai serius mengembangkan proyek kecil yang sebelumnya hanya dia kerjakan untuk mengusir rasa bosan.Pagi itu, Alena duduk di ruang keluarga dengan laptop terbuka. Namun baru beberapa menit bekerja, dia tiba-tiba menutup hidung.“Aduh…”Pelayan yang sedang membereskan meja menoleh.“Bu Alena?”“Tidak apa-apa.”Alena berdiri dan berjalan menjauh dari meja. Entah kenapa, aroma makanan yang baru saja disiapkan terasa sangat mengganggu. Padahal biasanya dia menyukai aroma tersebut.“Kenapa sekarang jadi tidak suka?”Dia menggelengkan kepala.“Mungkin aku belum sarapan.”Alena mengambil segelas air. Namun baru dua teguk, perutnya kembali terasa tidak nyaman.Dia segera duduk. Beberapa menit kemudian rasa mual itu perlahan menghilang. Alena menghela napas lega.“Sepertinya aku terlalu lelah.”Beberapa hari terakhir m
Sejak Alena mulai menjalankan proyek pertamanya, rumah mereka perlahan berubah menjadi tempat kerja kecil. Bukan berarti Alena harus mengurus semuanya sendiri.Leon justru meminta seorang pelayan untuk membantu pekerjaan rumah agar Alena bisa lebih fokus pada proyeknya. Karena itu, sejak pagi Alena sudah duduk nyaman di ruang keluarga dengan laptop terbuka, sementara pelayan menyiapkan minuman dan camilan di meja.Hari itu Raka datang untuk membahas persiapan acara.“Untuk bagian ini, kalau kita menggunakan konsep yang kemarin, sepertinya lebih hemat,” kata Raka sambil menunjukkan proposal.Alena mengangguk.“Iya. Aku juga berpikir begitu.”“Lalu untuk dekorasi?”“Aku ingin sederhana saja. Jangan sampai anggaran habis hanya untuk dekorasi.”Raka tersenyum.“Berarti kita sepakat.”Mereka kembali membahas beberapa bagian proposal. Alena terlihat serius. Sesekali dia mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu dibawanya.Tanpa mereka sadari, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Leon pulan
Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k
Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah komplek
Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p







