เข้าสู่ระบบSejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah kompleks daripada benar-benar fokus pada soal matematika yang dari tadi tidak terselesaikan. Begitu suara mobil terdengar memasuki gerbang kompleks, kepala Alena langsung tegak seperti anak ayam mendengar suara pakan.
“Lena,” tegur ibunya dari dalam rumah dengan nada curiga. “PR kamu dari tadi satu halaman aja belum selesai.” “Aku lagi mencari inspirasi.” “Inspirasi apaan lihat pagar orang?” Alena terkekeh kecil lalu buru-buru menunduk kembali, berpura-pura serius menulis, padahal jantungnya sudah berdebar saat mobil hitam yang sangat dikenalnya perlahan masuk ke halaman rumah sebelah. “Itu om ganteng…” Belum sempat mobil berhenti sempurna, Alena sudah membereskan bukunya asal-asalan lalu berlari kecil keluar pagar sampai sandal rumahnya hampir tertinggal sebelah. Leon yang baru turun dari mobil langsung menghentikan langkah begitu melihat sosok remaja itu lagi. Rambut Alena sedikit berantakan karena berlari, pipinya memerah, dan tas sekolah bergambar kelinci masih tergantung di bahunya. Dan anehnya, Leon tidak terlalu kaget lagi melihatnya. “Kamu lagi?” tanyanya sambil melepas jam tangan. Alena mengangguk lebar, lesung pipinya langsung muncul. “Aku habis sekolah.” “Bagus.” “Aku ranking lima.” Leon mengangkat alis samar. “Kenapa lapor ke saya?” “Biar om tahu aku pintar.” Pria itu hampir tertawa kecil. “Apa hubungannya sama saya?” “Kalau aku pintar kan berarti aku bukan bocah sembarangan.” Leon menggeleng pelan sambil melangkah masuk ke halaman rumah, tetapi Alena langsung mengikuti di sampingnya seperti anak bebek yang takut tertinggal. “Kamu nggak capek?” tanya Leon akhirnya. “Nggak.” “Teman kamu mana?” “Main.” “Kamu nggak ikut?” “Aku lebih suka ngobrol sama om.” Leon melirik sekilas. “Kita bahkan beda umur jauh.” “Emang kenapa?” “Kamu nggak nyambung kalau ngobrol sama saya.” “Nyambung kok.” Leon sengaja mempercepat langkahnya, tetapi Alena tetap mengikuti tanpa menyerah, bahkan setengah berlari agar tetap sejajar dengannya. “Kamu ini memang keras kepala ya.” “Kalau nggak keras kepala nanti om diambil orang.” Langkah Leon langsung berhenti. Alena yang tidak sadar masih berjalan menabrak lengan pria itu pelan. “Aduh…” Leon menatapnya cukup lama, lalu menghela napas pendek. “Kamu tahu arti suka?” “Tahu.” “Apa?” “Pengen ketemu terus.” “Terus?” “Kalau lihat om senang.” “Terus?” Alena berpikir sebentar sebelum menjawab polos, “Kalau om sama cewek lain aku bete.” Leon spontan tertawa kecil. Entah kenapa jawaban itu terdengar lebih lucu daripada mengganggu. “Kamu masih kecil, Lena.” “Aku sudah remaja.” “Perasaan kamu nanti juga berubah.” “Enggak.” “Kok yakin?” “Karena om ganteng.” Leon akhirnya benar-benar tertawa kali ini, suara rendahnya terdengar hangat di udara sore itu, membuat Alena langsung menatapnya dengan kagum. Sumpah, om ini kalau ketawa makin ganteng. Tanpa ragu sedikit pun, Alena berkata lagi, “Om jangan jadi tua sebelum Alena dewasa ya.” Leon yang masih tertawa langsung tersedak napas sendiri. “Apa?” “Soalnya kalau om tua nanti gantengnya hilang.” “Kamu ngomong apa sih…” “Aku serius.” Alena mengangguk yakin. “Tungguin Lena gede dulu.” Leon mengusap wajahnya sambil menggeleng geli. Gadis muda ini benar-benar tidak ada obat. Mereka baru sampai di teras rumah ketika ponsel Leon berdering. Wajahnya langsung berubah datar saat melihat nama di layar. Mama. Leon mengangkat telepon sambil memijat pelipis. “Iya, Ma.” “Leon, malam ini jangan lupa datang makan malam dengan keluarga Wijaya.” “Aku sibuk.” “Kamu terus sibuk! Sampai kapan? Cynthia itu perempuan baik-baik.” “Aku tidak tertarik.” “Kamu harus mulai serius memikirkan masa depan dan pernikahan. Usiamu sudah dua puluh tujuh, usia yang sudah cukup untuk berumahtangga!” Leon menghela napas panjang. “Nanti kita bahas lagi.” “LEON...” Telepon langsung dimatikan sepihak. Alena menatapnya diam-diam. Baru kali ini ia melihat Leon sedikit berbeda, tidak sedingin biasanya, tapi jelas sedang kesal. “Om dimarahin?” “Sedikit.” “Karena belum nikah?” Leon meliriknya. “Kamu dengar?” “Aku nggak sengaja.” Padahal sengaja. Leon membuka pintu rumah lalu masuk, tetapi baru beberapa langkah ia berhenti saat sadar Alena masih berdiri di luar pagar, menatapnya tanpa berkedip. “Kok diem?” Alena memainkan tali tasnya sebelum akhirnya bertanya pelan. “Kalau om nikah sama cewek itu…” Leon menunggu. “…berarti om nggak jadi nikah sama aku ya?” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi nada suaranya tidak lagi sama seperti tadi, lebih pelan, lebih ragu, bahkan sedikit sedih. Leon terdiam beberapa detik. Harusnya ini tidak penting. Harusnya ini hanya omongan anak kecil. Tapi entah kenapa, melihat wajah manyun itu membuat dadanya terasa sedikit asing. “Kamu ini mikirin yang aneh-aneh.” “Aku serius.” Leon menghela napas lalu berjalan mendekat, tangannya refleks mengusap kepala Alena hingga rambutnya sedikit berantakan. “Dengar ya,” katanya santai. “Om nggak akan nikah cepat-cepat.” Mata Alena langsung berbinar lagi. “Bener?” “Iya.” “Janji?” Leon mengangguk kecil. Senyum Alena langsung kembali lebar, lesung pipinya muncul lagi seperti biasa. “Kalau gitu aku tenang.” “Kamu tenang buat apa?” “Biar nggak ada yang rebut om dulu.” Leon menggeleng pelan sambil tertawa kecil. “Memangnya saya barang?” “Bukan.” Alena tersenyum polos. “Tapi om ganteng.” Dan lagi-lagi Leon tertawa. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya lucu, tapi juga… terlalu mudah membuatnya kembali datang ke sini. Dan tanpa Leon sadari, semakin sering ia melihat gadis muda itu tersenyum dengan lesung pipi manisnya, semakin dalam pula ia akan terseret ke sesuatu yang belum ia mengerti. Bersambung.......Setelah presentasi selesai, para peserta rapat mulai meninggalkan ruangan. Alena masih membereskan laptop dan dokumen di atas meja ketika Nadia memanggilnya."Alena."Alena menoleh."Iya, Bu?""Jangan pulang dulu."Alena mengangguk."Baik."Beberapa menit kemudian, ruang rapat sudah jauh lebih sepi. Nadia kembali duduk sambil membuka dokumen hasil presentasi tadi."Bagaimana menurutmu hasilnya?"Alena berpikir sebentar."Menurut saya cukup baik, Bu.""Cukup?"Alena tersenyum."Masih ada beberapa bagian yang bisa diperbaiki."Nadia mengangkat wajah."Bagian mana?"Alena langsung menunjuk beberapa halaman."Di bagian ini, saya rasa strategi yang kami ajukan masih terlalu bergantung pada kondisi pasar saat ini.""Kalau kondisi pasar berubah, hasilnya juga bisa ikut berubah."Nadia diam memperhatikan."Lalu solusinya?"Alena menjawab tanpa ragu."Kita harus menyiapkan alternatif.""Misalnya?"Alena menjelaskan beberapa kemungkinan yang sudah dipikirkannya. Nadia kemudian memberikan pertan
Tiga hari berlalu dengan cepat. Alena hampir tidak memiliki waktu untuk bersantai. Setiap pagi ia datang lebih awal, memeriksa kembali data yang sudah dikumpulkannya, lalu menghabiskan sebagian besar waktu untuk menyusun proposal proyek tersebut.Bahkan ketika jam kerja hampir berakhir, ia masih sering terlihat di depan laptop.Maya yang awalnya hanya memperhatikan dari jauh mulai semakin sering melihatnya.Tidak ada perlakuan khusus.Tidak ada orang yang mengerjakan tugas Alena.Bahkan ketika menemukan data yang tidak sesuai, Alena sendiri yang mencari sumbernya dan memperbaikinya.Suatu sore, Maya tanpa sengaja melihat Alena masih berada di mejanya ketika sebagian besar karyawan sudah bersiap pulang."Kamu belum pulang?"Alena mengangkat wajah."Belum.""Masih banyak?""Sedikit lagi."Maya berdiri di dekat meja Alena."Besok presentasi, kan?"Alena mengangguk."Iya.""Kalau begitu jangan terlalu malam."Alena tersenyum."Aku tahu."Maya hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti."Ale
Keesokan paginya, suasana kantor sudah jauh berbeda. Sejak hubungan Alena dan Leon diketahui, hampir tidak ada lagi bisikan sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya. Sebagian besar karyawan justru mulai bersikap lebih terbuka. Ada yang mengucapkan selamat. Ada yang menggoda. Dan ada pula yang mulai memperlakukannya sedikit berbeda. Namun Alena justru ingin secepatnya kembali ke rutinitas. Ia tidak ingin statusnya sebagai calon istri Leon menjadi alasan orang-orang menilai pekerjaannya. Begitu sampai di mejanya, ia langsung membuka laptop. "Fokus." Ia menggumam pelan. "Kerja saja." Belum sempat membuka dokumen pertama, Nadia datang menghampirinya. "Alena." Alena langsung berdiri. "Iya, Bu?" "Ikut saya sebentar." Alena mengikuti Nadia menuju ruangannya. Begitu pintu tertutup, Nadia mengambil sebuah map tebal dari atas meja. "Saya punya proyek baru untukmu." Alena menerima map tersebut. "Proyek baru?" "Iya." Ia membuka halaman pertama. Matanya langsung membesar. "Ini..."
Leon akhirnya mengetik balasan."Iya."Beberapa detik kemudian, ia menambahkan,"Nanti kita bicara di rumah Lena saja."Pesan itu terkirim. Tidak lama kemudian, tanda pesan sudah dibaca muncul. Balasan Alena segera masuk."Jangan. Nanti Om capek."Leon tersenyum kecil. Jarinyapun kembali mengetik."Mana mungkin capek.""Kalau ketemu Lena, Om malah tambah semangat."Beberapa detik kemudian, balasan Alena muncul."Dasar gombal."Leon tertawa kecil. Seorang staf yang kebetulan lembur dan berada tidak jauh dari meja langsung menoleh."Pak?"Leon segera mengembalikan wajah seriusnya."Ada apa?""Tidak ada, Pak."Staf itu buru-buru kembali bekerja. Leon menatap layar ponselnya lagi. Senyumnya muncul kembali. Setidaknya Alena belum benar-benar marah.Atau... mungkin justru sedang menunggu dirinya datang untuk mengomel. Leon menghela napas."Ya sudah.""Hadapi saja.""Berani berbuat, berani menanggung."---Malam itu, Leon tiba di rumah Alena saat jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan.
Siang itu, ketika Alena masih berada di kantor, Bu Mira datang berkunjung ke rumahnya. Bu Rina yang sedang berada di ruang tengah langsung tersenyum ketika membuka pintu."Eh, Bu Mira.""Hai, Bu Rina.""Silakan masuk."Bu Mira membawa sebuah tas besar di tangannya."Maaf mengganggu.""Ah, tidak.""Kebetulan Alena masih di kantor."Bu Mira mengangguk."Tidak apa-apa."Bu Mira tertawa kecil."Aku tiba-tiba ingin ngobrol saja dengan kamu."Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Setelah berbasa-basi sebentar, Bu Rina tiba-tiba teringat sesuatu. Sebenarnya sejak beberapa hari lalu ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Ia ingin bertanya kepada Bu Mira, tetapi selalu mengurungkan niat. Namun kali ini kesempatan datang begitu saja."Bu Mira...""Hm?""Bu boleh tanya sesuatu?""Tentu."Bu Rina terlihat sedikit ragu."Dulu...""sebelum Leon menikah dengan Cyntia...""Leon pernah punya pacar?"Bu Mira langsung tertawa."Kenapa tiba-tiba bertanya itu?"Bu Rina ikut tersenyum."Entahlah.""Aku c
Malam itu, Leon akhirnya tiba di rumah. Begitu memasuki ruang tengah, ia melihat Bu Mira sudah menunggunya di sofa sambil menikmati secangkir teh. Bu Mira mengangkat wajah dan melirik jam di dinding."Hmm... cepat juga pulangnya.""Iya, Bu."Leon meletakkan kunci mobil di atas meja."Alena tadi kelihatannya agak lelah. Jadi aku langsung mengantarnya pulang.""Biar dia cepat istirahat."Bu Mira mengangguk pelan. Namun beberapa detik kemudian, tatapannya berubah penuh selidik."Leon.""Hm?""Sejak kapan kau mengundang Ibu datang ke perusahaanmu?"Leon yang baru hendak duduk langsung berhenti."Kenapa?""Jangan pura-pura tidak tahu."Bu Mira menyipitkan mata."Ibu datang membawa kue sebanyak itu.""Lalu memanggil Alena calon menantu di depan semua karyawanmu."Leon terdiam. Sementara Bu Mira menyandarkan tubuhnya ke sofa."Padahal setahuku kalian sepakat merahasiakan hubungan kalian di perusahaan."Leon menghela napas."Iya.""Nah."Bu Mira menunjuk putranya."Berarti memang ada sesuatu.
“Berani nggak?” Alena yang sedang meniup es teh plastiknya langsung menoleh bingung ke arah teman-temannya. “Berani apa?” Tiga anak perempuan di sampingnya langsung cekikikan sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Di depan minimarket, sebuah mobil hitam mewah baru saja berhenti. Seorang pria
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh







