공유

Gadis Aneh

작가: Anny Djumadi
last update 게시일: 2026-05-11 10:28:19

Sejak hari itu, Alena punya kebiasaan baru: mengintip rumah Leon. Setiap sore sepulang sekolah, gadis itu akan duduk di teras rumah neneknya sambil pura-pura mengerjakan PR. Buku tulis terbuka di pangkuannya, pena sesekali bergerak, tetapi matanya lebih sering melirik rumah besar di sebelah kompleks daripada benar-benar fokus pada soal matematika yang dari tadi tidak terselesaikan. Begitu suara mobil terdengar memasuki gerbang kompleks, kepala Alena langsung tegak seperti anak ayam mendengar suara pakan.

“Lena,” tegur ibunya dari dalam rumah dengan nada curiga. “PR kamu dari tadi satu halaman aja belum selesai.”

“Aku lagi mencari inspirasi.”

“Inspirasi apaan lihat pagar orang?”

Alena terkekeh kecil lalu buru-buru menunduk kembali, berpura-pura serius menulis, padahal jantungnya sudah berdebar saat mobil hitam yang sangat dikenalnya perlahan masuk ke halaman rumah sebelah.

“Itu om ganteng…”

Belum sempat mobil berhenti sempurna, Alena sudah membereskan bukunya asal-asalan lalu berlari kecil keluar pagar sampai sandal rumahnya hampir tertinggal sebelah. Leon yang baru turun dari mobil langsung menghentikan langkah begitu melihat sosok remaja itu lagi. Rambut Alena sedikit berantakan karena berlari, pipinya memerah, dan tas sekolah bergambar kelinci masih tergantung di bahunya. Dan anehnya, Leon tidak terlalu kaget lagi melihatnya.

“Kamu lagi?” tanyanya sambil melepas jam tangan.

Alena mengangguk lebar, lesung pipinya langsung muncul. “Aku habis sekolah.”

“Bagus.”

“Aku ranking lima.”

Leon mengangkat alis samar. “Kenapa lapor ke saya?”

“Biar om tahu aku pintar.”

Pria itu hampir tertawa kecil. “Apa hubungannya sama saya?”

“Kalau aku pintar kan berarti aku bukan bocah sembarangan.”

Leon menggeleng pelan sambil melangkah masuk ke halaman rumah, tetapi Alena langsung mengikuti di sampingnya seperti anak bebek yang takut tertinggal.

“Kamu nggak capek?” tanya Leon akhirnya.

“Nggak.”

“Teman kamu mana?”

“Main.”

“Kamu nggak ikut?”

“Aku lebih suka ngobrol sama om.”

Leon melirik sekilas. “Kita bahkan beda umur jauh.”

“Emang kenapa?”

“Kamu nggak nyambung kalau ngobrol sama saya.”

“Nyambung kok.”

Leon sengaja mempercepat langkahnya, tetapi Alena tetap mengikuti tanpa menyerah, bahkan setengah berlari agar tetap sejajar dengannya.

“Kamu ini memang keras kepala ya.”

“Kalau nggak keras kepala nanti om diambil orang.”

Langkah Leon langsung berhenti. Alena yang tidak sadar masih berjalan menabrak lengan pria itu pelan.

“Aduh…”

Leon menatapnya cukup lama, lalu menghela napas pendek.

“Kamu tahu arti suka?”

“Tahu.”

“Apa?”

“Pengen ketemu terus.”

“Terus?”

“Kalau lihat om senang.”

“Terus?”

Alena berpikir sebentar sebelum menjawab polos, “Kalau om sama cewek lain aku bete.”

Leon spontan tertawa kecil. Entah kenapa jawaban itu terdengar lebih lucu daripada mengganggu.

“Kamu masih kecil, Lena.”

“Aku sudah remaja.”

“Perasaan kamu nanti juga berubah.”

“Enggak.”

“Kok yakin?”

“Karena om ganteng.”

Leon akhirnya benar-benar tertawa kali ini, suara rendahnya terdengar hangat di udara sore itu, membuat Alena langsung menatapnya dengan kagum.

Sumpah, om ini kalau ketawa makin ganteng. Tanpa ragu sedikit pun, Alena berkata lagi, “Om jangan jadi tua sebelum Alena dewasa ya.”

Leon yang masih tertawa langsung tersedak napas sendiri. “Apa?”

“Soalnya kalau om tua nanti gantengnya hilang.”

“Kamu ngomong apa sih…”

“Aku serius.” Alena mengangguk yakin. “Tungguin Lena gede dulu.”

Leon mengusap wajahnya sambil menggeleng geli. Gadis muda ini benar-benar tidak ada obat. Mereka baru sampai di teras rumah ketika ponsel Leon berdering. Wajahnya langsung berubah datar saat melihat nama di layar. Mama.

Leon mengangkat telepon sambil memijat pelipis. “Iya, Ma.”

“Leon, malam ini jangan lupa datang makan malam dengan keluarga Wijaya.”

“Aku sibuk.”

“Kamu terus sibuk! Sampai kapan? Cynthia itu perempuan baik-baik.”

“Aku tidak tertarik.”

“Kamu harus mulai serius memikirkan masa depan dan pernikahan. Usiamu sudah dua puluh tujuh, usia yang sudah cukup untuk berumahtangga!”

Leon menghela napas panjang. “Nanti kita bahas lagi.”

“LEON...”

Telepon langsung dimatikan sepihak. Alena menatapnya diam-diam. Baru kali ini ia melihat Leon sedikit berbeda, tidak sedingin biasanya, tapi jelas sedang kesal.

“Om dimarahin?”

“Sedikit.”

“Karena belum nikah?”

Leon meliriknya. “Kamu dengar?”

“Aku nggak sengaja.”

Padahal sengaja. Leon membuka pintu rumah lalu masuk, tetapi baru beberapa langkah ia berhenti saat sadar Alena masih berdiri di luar pagar, menatapnya tanpa berkedip.

“Kok diem?”

Alena memainkan tali tasnya sebelum akhirnya bertanya pelan.

“Kalau om nikah sama cewek itu…”

Leon menunggu.

“…berarti om nggak jadi nikah sama aku ya?”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi nada suaranya tidak lagi sama seperti tadi, lebih pelan, lebih ragu, bahkan sedikit sedih. Leon terdiam beberapa detik. Harusnya ini tidak penting. Harusnya ini hanya omongan anak kecil. Tapi entah kenapa, melihat wajah manyun itu membuat dadanya terasa sedikit asing.

“Kamu ini mikirin yang aneh-aneh.”

“Aku serius.”

Leon menghela napas lalu berjalan mendekat, tangannya refleks mengusap kepala Alena hingga rambutnya sedikit berantakan.

“Dengar ya,” katanya santai. “Om nggak akan nikah cepat-cepat.”

Mata Alena langsung berbinar lagi. “Bener?”

“Iya.”

“Janji?”

Leon mengangguk kecil. Senyum Alena langsung kembali lebar, lesung pipinya muncul lagi seperti biasa.

“Kalau gitu aku tenang.”

“Kamu tenang buat apa?”

“Biar nggak ada yang rebut om dulu.”

Leon menggeleng pelan sambil tertawa kecil. “Memangnya saya barang?”

“Bukan.” Alena tersenyum polos. “Tapi om ganteng.”

Dan lagi-lagi Leon tertawa. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya lucu, tapi juga… terlalu mudah membuatnya kembali datang ke sini. Dan tanpa Leon sadari, semakin sering ia melihat gadis muda itu tersenyum dengan lesung pipi manisnya, semakin dalam pula ia akan terseret ke sesuatu yang belum ia mengerti.

Bersambung.......

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Arz kaf Sity
ciee Leon juga lama2 trpesona dgn Alena. apalagi dia gadis masih remaja yg ceriwis dan punya tekat yg kuat pengen nikah sma om Leon sngguh cwek langka wkwkw
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Gercep

    Alena masih belum sepenuhnya percaya dengan percakapan mereka di dalam mobil tadi. Ia tidak menyangka Leon sudah tidak sabar untuk menikahinya, karena awalnya saat dia minta waktu setahun, Leon terlihat tenang-tenang saja.Dan pria itu mengatakannya dengan wajah begitu serius. Ia bahkan belum sempat memikirkan bagaimana harus menjawab jika Leon benar-benar membawa pembicaraan itu ke tahap yang lebih serius.Namun ternyata... Leon jauh lebih gercep daripada yang Alena bayangkan. Begitu mobil berhenti di depan rumah, Alena langsung menoleh."Om?""Hm?""Kenapa berhenti di sini?"Leon mematikan mesin."Kan mau mengantarkan kamu pulang.""Iya, tapi..."Alena melihat ke arah rumah."Om tidak mau langsung pulang?"Leon tersenyum."Memangnya kenapa?""Biasanya Om cuma mengantar sampai depan.""Hari ini beda.""Bedanya apa?"Leon membuka sabuk pengamannya."Om mau mampir."Alena langsung menatapnya tidak percaya."Hah?""Ayo.""Om!"Leon sudah turun dari mobil.. Alena buru-buru menyusul. Dia

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Om Mau Dapat Diskon

    Mobil melaju meninggalkan tempat mereka menghabiskan sore. Alena duduk santai di samping Leon. Wajahnya terlihat jauh lebih cerah dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Bahkan senyum kecil masih tersisa di bibirnya.Leon sesekali melirik ke arahnya."Sudah lebih segar?"Alena mengangguk."Sudah.""Berarti jalan-jalan tadi berhasil.""Berhasil banget."Alena tersenyum."Terima kasih ya, Om.""Jangan terima kasih dulu.""Kenapa?""Kalau besok kamu kembali bekerja sampai lupa waktu, Om culik lagi."Alena tertawa."Emang Om mau culik pacar sendiri?""Kalau perlu.""Terus kalau aku berteriak?""Om tutup mulutmu.""Ih, malah serem."Leon ikut tertawa."Tapi..."Ia melirik Alena sekilas dengan senyum jahil."Om bisa tutup mulutmu dengan cara lain."Alena yang tidak menyadari maksud perkataan itu langsung bertanya polos,"Cara apa, Om?"Leon tidak menjawab. Ia hanya menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum penuh arti. Alena masih menatapnya dengan wajah bingung. Namun beberapa detik kemudian,

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   BUKAN SEKADAR PACAR CEO

    Setelah presentasi selesai, para peserta rapat mulai meninggalkan ruangan. Alena masih membereskan laptop dan dokumen di atas meja ketika Nadia memanggilnya."Alena."Alena menoleh."Iya, Bu?""Jangan pulang dulu."Alena mengangguk."Baik."Beberapa menit kemudian, ruang rapat sudah jauh lebih sepi. Nadia kembali duduk sambil membuka dokumen hasil presentasi tadi."Bagaimana menurutmu hasilnya?"Alena berpikir sebentar."Menurut saya cukup baik, Bu.""Cukup?"Alena tersenyum."Masih ada beberapa bagian yang bisa diperbaiki."Nadia mengangkat wajah."Bagian mana?"Alena langsung menunjuk beberapa halaman."Di bagian ini, saya rasa strategi yang kami ajukan masih terlalu bergantung pada kondisi pasar saat ini.""Kalau kondisi pasar berubah, hasilnya juga bisa ikut berubah."Nadia diam memperhatikan."Lalu solusinya?"Alena menjawab tanpa ragu."Kita harus menyiapkan alternatif.""Misalnya?"Alena menjelaskan beberapa kemungkinan yang sudah dipikirkannya. Nadia kemudian memberikan pertan

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Rahasia Masa Lalu

    Tiga hari berlalu dengan cepat. Alena hampir tidak memiliki waktu untuk bersantai. Setiap pagi ia datang lebih awal, memeriksa kembali data yang sudah dikumpulkannya, lalu menghabiskan sebagian besar waktu untuk menyusun proposal proyek tersebut.Bahkan ketika jam kerja hampir berakhir, ia masih sering terlihat di depan laptop.Maya yang awalnya hanya memperhatikan dari jauh mulai semakin sering melihatnya.Tidak ada perlakuan khusus.Tidak ada orang yang mengerjakan tugas Alena.Bahkan ketika menemukan data yang tidak sesuai, Alena sendiri yang mencari sumbernya dan memperbaikinya.Suatu sore, Maya tanpa sengaja melihat Alena masih berada di mejanya ketika sebagian besar karyawan sudah bersiap pulang."Kamu belum pulang?"Alena mengangkat wajah."Belum.""Masih banyak?""Sedikit lagi."Maya berdiri di dekat meja Alena."Besok presentasi, kan?"Alena mengangguk."Iya.""Kalau begitu jangan terlalu malam."Alena tersenyum."Aku tahu."Maya hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti."Ale

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   BUKTIKAN KEMAMPUANMU

    Keesokan paginya, suasana kantor sudah jauh berbeda. Sejak hubungan Alena dan Leon diketahui, hampir tidak ada lagi bisikan sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya. Sebagian besar karyawan justru mulai bersikap lebih terbuka. Ada yang mengucapkan selamat. Ada yang menggoda. Dan ada pula yang mulai memperlakukannya sedikit berbeda. Namun Alena justru ingin secepatnya kembali ke rutinitas. Ia tidak ingin statusnya sebagai calon istri Leon menjadi alasan orang-orang menilai pekerjaannya. Begitu sampai di mejanya, ia langsung membuka laptop. "Fokus." Ia menggumam pelan. "Kerja saja." Belum sempat membuka dokumen pertama, Nadia datang menghampirinya. "Alena." Alena langsung berdiri. "Iya, Bu?" "Ikut saya sebentar." Alena mengikuti Nadia menuju ruangannya. Begitu pintu tertutup, Nadia mengambil sebuah map tebal dari atas meja. "Saya punya proyek baru untukmu." Alena menerima map tersebut. "Proyek baru?" "Iya." Ia membuka halaman pertama. Matanya langsung membesar. "Ini..."

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Cuma Peluk, Katanya

    Leon akhirnya mengetik balasan."Iya."Beberapa detik kemudian, ia menambahkan,"Nanti kita bicara di rumah Lena saja."Pesan itu terkirim. Tidak lama kemudian, tanda pesan sudah dibaca muncul. Balasan Alena segera masuk."Jangan. Nanti Om capek."Leon tersenyum kecil. Jarinyapun kembali mengetik."Mana mungkin capek.""Kalau ketemu Lena, Om malah tambah semangat."Beberapa detik kemudian, balasan Alena muncul."Dasar gombal."Leon tertawa kecil. Seorang staf yang kebetulan lembur dan berada tidak jauh dari meja langsung menoleh."Pak?"Leon segera mengembalikan wajah seriusnya."Ada apa?""Tidak ada, Pak."Staf itu buru-buru kembali bekerja. Leon menatap layar ponselnya lagi. Senyumnya muncul kembali. Setidaknya Alena belum benar-benar marah.Atau... mungkin justru sedang menunggu dirinya datang untuk mengomel. Leon menghela napas."Ya sudah.""Hadapi saja.""Berani berbuat, berani menanggung."---Malam itu, Leon tiba di rumah Alena saat jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan.

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bayangan yang Mulai Mengganggu

    Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Anak Baru yang Menjadi Perhatian

    Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bertemu Kembali

    Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Om Ganteng Mau Nikah

    Sudah seminggu. Dan Leon tidak muncul lagi. Awalnya Alena masih berpikir pria itu hanya sibuk bekerja seperti biasa, mungkin lembur, mungkin ada meeting penting, karena bukankah orang kaya memang selalu sibuk. Namun setelah beberapa hari berlalu dan mobil hitam Leon tak pernah lagi terlihat masuk k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status