LOGIN04
Dilara memindai sekitar kamar tamu yang telah diubah sedikit letak kasurnya. Gadis bersetelan piama merah muda itu tersenyum tipis. Dia cukup puas dengan pengaturan tempat tidur yang sudah sesuai dengan keinginannya.
Dilara mengalihkan pandangan ke lemari. Baju dan banyak aksesorisnya telah tersusun rapi. Demikian pula dengan beberapa tas dan sepatu, yang diatur berdempetan di bagian bawah.
Tatapan Dilara beralih ke jam dinding. Dia membulatkan mata, karena baru menyadari bila waktu sudah bergeser ke tengah malam.
Dilara keluar dari kamar terkecil di mansion itu. Dia menuju pantry untuk mengambil botol minumannya di kulkas. Dilara hendak kembali ke kamar, kala mendengar suara Yasuo.
Dilara berpindah ke dekat pintu balkon. Dia mengamati lelaki tersebut yang tengah berdiri di dekat tembok, sembari berbincang dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Aku nggak tahu, besok bisa atau nggak ke sana, Wid," cakap Yasuo.
"Aku tahu, Mas memang sengaja menghindariku," balas Widya Mahavira, kekasih Yasuo.
"Enggak begitu."
"Jangan bohong. Dari bulan lalu, Mas selalu membatalkan janji. Padahal waktuku di sini juga terbatas."
Yasuo mendengkus. "Kan, kamu yang minta kita break dulu? Kenapa jadi nyalahin aku?"
"Aku nggak nyalahin. Cuma pengen ketemu. Nggak boleh?"
"Aku benar-benar nggak bisa. Ada hal yang mesti diurus."
Helaan napas Widya terdengar dari seberang telepon. Yasuo tetap diam sembari memandangi pendaran lampu, dari banyak gedung lainnya di sekeliling.
"Mas memang nggak pernah mau nyisihin waktu buatku, dan itu jadi alasan terkuatku buat menjeda hubungan kita," tukas Widya. "Sekarang, lebih baik diakhiri saja semuanya. Sebelum hatiku tambah sakit, karena disia-siakan," lanjutnya.
"Oke, aku setuju," jawab Yasuo. "Aku juga capek, harus selalu ngertiin kamu. Sedangkan kamu nggak pernah paham dengan kehidupanku," sambungnya.
"Sudah tepat keputusanku untuk berpisah, karena Mas nggak pernah mau mengalah dan menimpakan kesalahan padaku."
"Stop! Aku capek dan mau tidur!"
Yasuo memutuskan panggilan telepon. Dia menggertakkan gigi, karena kesal dengan ucapan Widya. Yasuo berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat, tetapi deretan kata itu akhirnya terlontar dari bibirnya.
Dilara termangu. Baru kali itu dia mendengar Yasuo memaki. Sebab biasanya pria tersebut berlaku tenang dan bertutur kata cukup sopan. Dilara tidak berani mendatangi sang om yang masih mengomel. Dia berbalik dan jalan ke kamarnya, tanpa menyadari bila Yasuo telah melihatnya.
Pria tersebut melengos. Yasuo meremas-remas rambutnya sembari menggerutu dalam hati, karena Dilara mungkin telah mendengar makiannya.
Yasuo berpindah duduk di kursi balkon. Dia memandangi langit malam yang dipenuhi jutaan bintang. Embusan angin kencang tidak dihiraukan Yasuo. Dia tetap di tempat hingga merasa lelah dan ingin beristirahat.
***
Matahari telah naik sepenggalah ketika Yasuo keluar dari kamar utama. Dia tertegun menyaksikan Dilara yang tampak sibuk di pantry.
Pekikan gadis itu menjadikan Yasuo segera mendekat. Dia menahan diri untuk tidak tertawa, menyaksikan Dilara memegangi tutup wajan, sembari menjauh dari kompor.
Tanpa mengatakan apa pun, Yasuo mengambil tutup kaca itu dari tangan Dilara, dan segera menutup wajan yang meletup-letup akibat gorengan ayam di sana.
"Kalau ngegoreng ayam atau ikan, wajannya ditutup, supaya nggak nyiprat," tutur Yasuo. "Lebih bagus lagi, sebelum digoreng itu, kamu taburin tepung terigu dikit. Dijamin nggak nyiprat," terangnya.
"Ehm, aku nggak tahu tentang itu," kilah Dilara sambil merapikan rambutnya dengan jemari.
"Kamu beli ayam di mana?"
"Di bawah. Pas joging tadi, ada mobil sayur lewat. Aku beli ayam, bumbunya, sama kemangi, timun, dan perlengkapan bikin sambal."
"Kedengarannya enak. Aku jadi lapar."
"Chopper di mana, Om?"
"Buat apa chopper?"
"Ngalusin cabe dan kawan-kawannya. Buat sambal."
"Diulek aja, Ra."
"Aku nggak bisa ngulek."
"Geser. Biar aku yang bikin sambel. Kamu cuci aja timun dan kemanginya."
"Oke."
"Di kulkas kayaknya ada tahu. Nanti sekalian digoreng."
Dilara tidak menyahut, melainkan langsung membuka pintu kulkas. Dia berjongkok untuk mengecek bagian bawah dan mengambil sebungkus tahu.
"Om, ini kimchi, kan?" tanya Dilara sembari menatap kotak bening persegi panjang.
"Ya," sahut Yasuo yang tengah mengupas duo bawang.
"Aku mau."
"Keluarin, taruh di meja."
Belasan menit terlewati. Keduanya telah berada di meja makan. Mereka bersantap sambil sekali-sekali mendesis kepedasan.
Dilara menyambar tisu dari meja dan mengusapkannya ke atas bibir. Dia menengadah dan seketika tersenyum, menyaksikan pipi Yasuo yang memerah, akibat kepedasan.
"Om, nih, aneh. Dia yang nyambel, tapi malah kepedasan," ledek Dilara.
"Kupikir cabe rawitnya nggak terlalu pedas. Makanya kumasukin 10 biji. Tahunya, jeletot," jawab Yasuo, sebelum meraih mug dan meminum airnya sampai habis.
"Pantesan pedas banget. Cabenya banyak." Dilara menyendok sambal dan dipindahkan ke piringnya. "Tapi, enak banget ini. Suka aku," pujinya.
"Hmm, nanti kita belanja dan beli banyak cabe sama tomat. Om bikin sambal banyak dan simpan buat stok."
"Ya, aku mau."
Matahari bergerak cepat menuju siang. Yasuo dan Dilara telah berada di pusat perbelanjaan. Keduanya sedang berdiskusi untuk menentukan daging yang hendak dibeli, ketika seseorang menepuk pundak Yasuo dari belakang.
"Mas, lagi belanja?" tanya Naomi Lucia Smith, mantan istri Yasuo.
"Ya," balas pria berkemeja biru pas badan. "Kamu, belanja juga?" tanyanya basa-basi.
"Hu um." Naomi menunjuk troli di belakang. Kemudian dia mengamati kedua orang di hadapannya. "Dilara, betul?" desaknya sembari menatap perempuan berkulit putih.
"Ya, Tante. Apa kabar?" Dilara bersalaman dengan perempuan yang pernah membuatnya patah hati, dulu.
"Kabarku, baik." Naomi memindai sekitar. "Aku nggak lihat ketiga adikmu," lanjutnya.
"Mereka nggak ikut."
"Ehm, sorry. Kami mau ke kasir," sela Yasuo.
"Oh, sudah selesai belanja?" tanya Naomi.
"Ya." Yasuo mengangkat kemasan daging yang menjadi pilihannya. "Duluan, Mi," sambungnya, sebelum mendorong trolinya menjauh.
Naomi terus mengamati pasangan yang tengah menjauh. Dia mengernyitkan dahi, saat menyadari jika Dilara menggamit lengan kiri Yasuo.
Naomi mendengkus kesal. Dia tidak suka jika ada perempuan yang dekat dengan Yasuo, seperti yang sudah-sudah. Naomi penasaran dan ingin menyelidiki kedua orang tersebut.
Puluhan menit terlewati. Yasuo dan Dilara tengah memasukkan belanjaan ke mobil, kala ponsel gadis itu berbunyi dan menampilkan nama sang mama. Dilara bergegas menjawab panggilan itu dan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam. Di mana, Kak?" tanya Mega Surinala.
"Di tempat parkir, Ma. Baru beres belanja," jelas Dilara.
"Sama siapa?"
"Alia."
"Langsung pulang ke apartemen. Jangan keluyuran terus."
"Iya."
"Jumat depan, ada undangan. Anaknya Om Erwin nikah. Kamu yang gantiin Papa sama Mama."
"Tempatnya?"
"Nanti Mama share lokasinya."
"Oke."
"Sabtunya, pulang. Keluarga Vasant mau berkunjung."
"Ehm, ya."
"Mama tutup dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dilara masih memegangi ponsel, meskipun Mega telah mengakhiri pembicaraan. Dilara menengadah ketika dipanggil Yasuo, yang mengajaknya menaiki mobil.
"Om, Sabtu depan, keluarga Vasant mau ke rumah Papa. Aku mesti gimana?" tanya Dilara yang menjadikan Yasuo terhenyak.
120Minggu berganti menjadi bulan. Siang itu, Dilara, Qiran, Yasuo, dan keluarga besar mereka, serta para bos, telah berada di hotel milik orang tua Edna di Pekalongan. Mereka tengah menyaksikan prosesi akad nikah antara Vasant dan Edna. Dilara mengerjapkan matanya yang mengabut. Dia bahagia dengan penyatuan kedua orang tersebut, yang langsung memutuskan untuk menikah, setelah kembali dekat sejak pulang ke Indonesia 3 bulan silam. Saat acara sungkeman, suasana bertambah haru. Terutama ketika Edna berpindah dari depan orang tuanya dan orang tua Vasant, lalu Edna bersimpuh di depan Hamzah dan Mega, yang segera mendekap keponakan mereka itu dengan erat. Setelah Edna menjauh, Vasant memohon restu pada kedua orang tua Dilara, yang bergantian memberikan wejangan pada sang pengantin pria, yang membalasnya dengan anggukan.Di deretan kursi ujung, pasangan pengantin baru itu mendekap Yasuo dam Dilara secara bergantian. Mereka berbincang sesaat, sebelum Vasant dan Edna bergeser ke kanan guna
119Acara akikah Tadashi Qiran Elvana, berlangsung dengan khidmat, pada Sabtu pagi. Tenda biru menutupi jalan depan rumah Bryan, hingga ke rumah Yasuo yang berada di ujung blok B cluster 7. Puluhan kendaraan mewah para tamu, memenuhi tanah kosong di ujung blok depan, yang merupakan perbatasan antara blok A dan B. Selain itu, banyak mobil juga menumpang parkir di sepanjang jalan blok A dan C, yang penghuninya sudah mengizinkan depan rumahnya digunakan sebagai tempat parkir. Seusai pengajian, Yasyo menggendong putrinya untuk mendatangi semua tetua keluarga, guna melaksanakan acara gunting rambut. Eiji dan Dean mengikuti langkah Yasuo, sambil membawa nampan kecil berisikan wadah kaca, serta gunting kecil. Mereka mendatangi Tadashi Makoto dan Hamzah terlebih dahulu. Kedua Kakek itu bergantian menciumi dahi Qiran, sebelum menggunting rambut cucu mereka sesuai dengan kunciran, yang telah dibuat Daphne dan Dhyani. Setelahnya, Yasuo bergeser ke kiri. Ustaz Sulaiman, Istaz Mawardi, Hamdi,
118Seorang pria paruh baya, jalan mondar- mandir di selasar depan ruang bersalin, di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Pria yang mengenakan t-shirt cokelat muda itu merasa cemas, karena istrinya sudah beberapa jam di ruang bersalin, tetapi bayinya tak kunjung lahir.Kedatangan sekelompok orang dari ujung lorong, membuat pria tersebut berhenti melangkah. Dia menghela napas lega, karena akhirnya bala bantuan telah tiba. Pria itu menyalami semua tamu, lalu dia menerangkan situasi yang terjadi di dalam ruang tindakan. Lelaki tersebut tidak memprotes saat kelima rekannya berpindah ke dekat dinding, lalu mereka menempelkan telapak tangan kanan ke dinding. Yasuo mengamati saat kelima murid paguyuban olah napas Margaluyu itu, menembakkan tenaga dalam masing-masing sambil memfokuskan pikiran pada sosok Dilara di dalam ruangan. "Masuk, Yas," tukas Benigno, sesaat setelah mendengar rintihan Dilara dari dalam ruangan. "Dia nggak ngizinin aku buat nemenin, Ben. Karena tadi, ak
117Ruang rapat Hotel CJC di pusat Kota Guangzhou, pagi itu dipenuhi banyak orang berseragam hitam dan biru. Mereka duduk rapi di deretan ratusan kursi, sambil fokus mengamati podium. Wirya menyampaikan pidato dengan bahasa Mandarin yang fasih. Dia membahas banyak kemajuan di semua unit kerja dan tempat proyek, yang ditangani tim PB, PBK serta CJC.Wirya juga menerangkan perubahan struktur manajemen PBK area China dan sekitarnya, yang akan dimulai per 1 Januari tahun depan. Setelah Wirya turun dari podium dan mundur ke tengah-tengah area depan, Chyou menaiki podium. Pria bertubuh tinggi itu menyapa hadirin dalam bahasa Mandarin dan Indonesia, yang dibalas khalayak dengan semangat. Berbeda dengan Wirya yang berpidato tentang pekerjaan, Chyou justru menyampaikan berbagai program perusahaan keempat klan, yang akan membangun lebih banyak hunian kelas menengah ke bawah, di banyak kota di seputar China. Hal itu tentu saja disambut antusias oleh khalayak. Mereka bersorak sambil bertepuk
116Yasuo memandangi Alvaro yang tengah menggerutu, karena tidak diajak Wirya ke Guangzhou. Yasuo nyaris tertawa, ketika pria blasteran itu berhasil menelepon Wirya, yang sejak tadi sulit dihubungi. Yasuo tersenyum kala Alvaro mengomeli sahabatnya menggunakan bahasa Spanyol, yang dibalas Wirya dengan bahasa Mandarin. Yasuo akhirnya terbahak, begitu pula dengan rekan-rekannya yang berada di ruang rapat kantor BHARATHAYA. "Aku kesal, W. Kudunya diajakin!" geram Alvaro. "Kamu, kan, baru balik dari Sulawesi, Var. Cicing, atuhlah," balas Wirya dari seberang lautan. "Salman dan Gilang juga baru balik. Kenapa diangkut?" "Sudah lewat 3 hari setelah mereka pulang dari Sumatera. Cukup istirahatnya." "Aku masih sanggup on 72 jam!" "Berisik! Minta pecatkah?" "Ehh, aku yang punya PBK!" "Bukan dari sana, tapi dari GUNZ." "Berani mecat aku jadi komisaris GUNZ, aku balas pecat kamu dari BHARATHAYA!" "Mangga. Berarti huruf A hilang 1, jadi BHRATHAYA." "Huruf H-nya juga hilangin aja. Aku mu
115Mendekati hari perkiraan lahiran, Dilara mengalami kecemasan akut, yang membuatnya ketakutan berlebihan. Yasuo meminta bantuan Benigno, Falea, bahkan Wirya, untuk menenangkan Dilara. Ketiga orang tersebut bergantian datang ke rumah Yaauo di malam hari, guna mendengarkan curahan hati perempuan tersebut. Malam itu, Wirya berkunjung bersama ketiga anak lelakinya. Mereka turun dari motor besar, kemudian memasuki rumah melalui pintu depan yang dalam kondisi terbuka lebar. Dilara menyambut para tamu dengan senyuman. Dia mengambil Shahzain dari gendongan Bayazid, lalu Dilara mengajak bocah berusia setahun lebih itu untuk duduk di karpet tebal, yang telah dihamparkan di ruang tengah. Bunyi motor kedua yang berhenti di carport, menjadikan Dilara penasaran. Dia berdiri dan mengecek ke depan, kemudian dia berteriak, sebelum mendekati kedua perempuan berbeda generasi, yang baru turun dari motor matic. "Aku bawa makanan dari warungnya Jane," terang Vanetta, seusai beradu pipi dengan sang







