Teilen

Bab 11

Autor: Olivia Yoyet
last update Veröffentlichungsdatum: 2025-12-01 10:54:38
11

Acara sarapan pagi itu di kediaman Hamzah, terasa menegangkan. Keenam orang yang duduk mengitari meja, tidak ada yang urun suara dan seolah-olah fokus dengan aktivitas bersantap.

Hamzah mempercepat menghabiskan hidangan. Dia mengangkat cangkir kopi, lalu berdiri dan jalan ke teras samping kanan yang merupakan tempat favoritnya.

Mega melirik putri sulungnya yang tengah menunduk. Dia menyenggol kaki Dilara yang spontan menengadah. Kemudian Mega menggerakkan dagunya ke teras samping.

Dilara me
Olivia Yoyet

Yuhuuu. Mulai hari ini Yasuo dan Dolara akan tayang 2 bab sehari sampai tamat. Dukung Emak dengan baca november ini pakai koin top up, atau iklan. Supaya Emak bisa jajan. Kalau pakai koin gratis, Emak nggak dapat penghasilan. Dimohon kerjasamanya, ya ^^

| 1
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Mispri Yani
kwkwkwwk bagus Mas Ben marahin aja si om yakuza kwwkk
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 120

    120Minggu berganti menjadi bulan. Siang itu, Dilara, Qiran, Yasuo, dan keluarga besar mereka, serta para bos, telah berada di hotel milik orang tua Edna di Pekalongan. Mereka tengah menyaksikan prosesi akad nikah antara Vasant dan Edna. Dilara mengerjapkan matanya yang mengabut. Dia bahagia dengan penyatuan kedua orang tersebut, yang langsung memutuskan untuk menikah, setelah kembali dekat sejak pulang ke Indonesia 3 bulan silam. Saat acara sungkeman, suasana bertambah haru. Terutama ketika Edna berpindah dari depan orang tuanya dan orang tua Vasant, lalu Edna bersimpuh di depan Hamzah dan Mega, yang segera mendekap keponakan mereka itu dengan erat. Setelah Edna menjauh, Vasant memohon restu pada kedua orang tua Dilara, yang bergantian memberikan wejangan pada sang pengantin pria, yang membalasnya dengan anggukan.Di deretan kursi ujung, pasangan pengantin baru itu mendekap Yasuo dam Dilara secara bergantian. Mereka berbincang sesaat, sebelum Vasant dan Edna bergeser ke kanan guna

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 119

    119Acara akikah Tadashi Qiran Elvana, berlangsung dengan khidmat, pada Sabtu pagi. Tenda biru menutupi jalan depan rumah Bryan, hingga ke rumah Yasuo yang berada di ujung blok B cluster 7. Puluhan kendaraan mewah para tamu, memenuhi tanah kosong di ujung blok depan, yang merupakan perbatasan antara blok A dan B. Selain itu, banyak mobil juga menumpang parkir di sepanjang jalan blok A dan C, yang penghuninya sudah mengizinkan depan rumahnya digunakan sebagai tempat parkir. Seusai pengajian, Yasyo menggendong putrinya untuk mendatangi semua tetua keluarga, guna melaksanakan acara gunting rambut. Eiji dan Dean mengikuti langkah Yasuo, sambil membawa nampan kecil berisikan wadah kaca, serta gunting kecil. Mereka mendatangi Tadashi Makoto dan Hamzah terlebih dahulu. Kedua Kakek itu bergantian menciumi dahi Qiran, sebelum menggunting rambut cucu mereka sesuai dengan kunciran, yang telah dibuat Daphne dan Dhyani. Setelahnya, Yasuo bergeser ke kiri. Ustaz Sulaiman, Istaz Mawardi, Hamdi,

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 118

    118Seorang pria paruh baya, jalan mondar- mandir di selasar depan ruang bersalin, di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Pria yang mengenakan t-shirt cokelat muda itu merasa cemas, karena istrinya sudah beberapa jam di ruang bersalin, tetapi bayinya tak kunjung lahir.Kedatangan sekelompok orang dari ujung lorong, membuat pria tersebut berhenti melangkah. Dia menghela napas lega, karena akhirnya bala bantuan telah tiba. Pria itu menyalami semua tamu, lalu dia menerangkan situasi yang terjadi di dalam ruang tindakan. Lelaki tersebut tidak memprotes saat kelima rekannya berpindah ke dekat dinding, lalu mereka menempelkan telapak tangan kanan ke dinding. Yasuo mengamati saat kelima murid paguyuban olah napas Margaluyu itu, menembakkan tenaga dalam masing-masing sambil memfokuskan pikiran pada sosok Dilara di dalam ruangan. "Masuk, Yas," tukas Benigno, sesaat setelah mendengar rintihan Dilara dari dalam ruangan. "Dia nggak ngizinin aku buat nemenin, Ben. Karena tadi, ak

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 117

    117Ruang rapat Hotel CJC di pusat Kota Guangzhou, pagi itu dipenuhi banyak orang berseragam hitam dan biru. Mereka duduk rapi di deretan ratusan kursi, sambil fokus mengamati podium. Wirya menyampaikan pidato dengan bahasa Mandarin yang fasih. Dia membahas banyak kemajuan di semua unit kerja dan tempat proyek, yang ditangani tim PB, PBK serta CJC.Wirya juga menerangkan perubahan struktur manajemen PBK area China dan sekitarnya, yang akan dimulai per 1 Januari tahun depan. Setelah Wirya turun dari podium dan mundur ke tengah-tengah area depan, Chyou menaiki podium. Pria bertubuh tinggi itu menyapa hadirin dalam bahasa Mandarin dan Indonesia, yang dibalas khalayak dengan semangat. Berbeda dengan Wirya yang berpidato tentang pekerjaan, Chyou justru menyampaikan berbagai program perusahaan keempat klan, yang akan membangun lebih banyak hunian kelas menengah ke bawah, di banyak kota di seputar China. Hal itu tentu saja disambut antusias oleh khalayak. Mereka bersorak sambil bertepuk

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 116

    116Yasuo memandangi Alvaro yang tengah menggerutu, karena tidak diajak Wirya ke Guangzhou. Yasuo nyaris tertawa, ketika pria blasteran itu berhasil menelepon Wirya, yang sejak tadi sulit dihubungi. Yasuo tersenyum kala Alvaro mengomeli sahabatnya menggunakan bahasa Spanyol, yang dibalas Wirya dengan bahasa Mandarin. Yasuo akhirnya terbahak, begitu pula dengan rekan-rekannya yang berada di ruang rapat kantor BHARATHAYA. "Aku kesal, W. Kudunya diajakin!" geram Alvaro. "Kamu, kan, baru balik dari Sulawesi, Var. Cicing, atuhlah," balas Wirya dari seberang lautan. "Salman dan Gilang juga baru balik. Kenapa diangkut?" "Sudah lewat 3 hari setelah mereka pulang dari Sumatera. Cukup istirahatnya." "Aku masih sanggup on 72 jam!" "Berisik! Minta pecatkah?" "Ehh, aku yang punya PBK!" "Bukan dari sana, tapi dari GUNZ." "Berani mecat aku jadi komisaris GUNZ, aku balas pecat kamu dari BHARATHAYA!" "Mangga. Berarti huruf A hilang 1, jadi BHRATHAYA." "Huruf H-nya juga hilangin aja. Aku mu

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 115

    115Mendekati hari perkiraan lahiran, Dilara mengalami kecemasan akut, yang membuatnya ketakutan berlebihan. Yasuo meminta bantuan Benigno, Falea, bahkan Wirya, untuk menenangkan Dilara. Ketiga orang tersebut bergantian datang ke rumah Yaauo di malam hari, guna mendengarkan curahan hati perempuan tersebut. Malam itu, Wirya berkunjung bersama ketiga anak lelakinya. Mereka turun dari motor besar, kemudian memasuki rumah melalui pintu depan yang dalam kondisi terbuka lebar. Dilara menyambut para tamu dengan senyuman. Dia mengambil Shahzain dari gendongan Bayazid, lalu Dilara mengajak bocah berusia setahun lebih itu untuk duduk di karpet tebal, yang telah dihamparkan di ruang tengah. Bunyi motor kedua yang berhenti di carport, menjadikan Dilara penasaran. Dia berdiri dan mengecek ke depan, kemudian dia berteriak, sebelum mendekati kedua perempuan berbeda generasi, yang baru turun dari motor matic. "Aku bawa makanan dari warungnya Jane," terang Vanetta, seusai beradu pipi dengan sang

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 87

    87Jalinan waktu terus berjalan. Edna telah pindah ke Ghuangzhou dan bekerja sebagai staf umum di kantor perwakilan para pengusaha Indonesia, yang tengah mengerjakan beberapa proyek di seputar China. Kendatipun bahasa Mandarin-nya masih pasif, tetapi Edna berusaha keras untuk memahami bahasa terse

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-30
  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 89

    89Vasant memerhatikan sekitar restoran yang tampak ramai. Dia tengah sedikit melankolis, karena merindukan acara berbuka puasa di rumah orang tuanya, yang pasti akan ramai dengan kehadiran keluarga besar Irwandi dan Neelam. Vasant tadinya ingin pulang ke Bandung, tetapi esok hari dia harus mengha

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-30
  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 90

    90"Hai," sapa Yasuo, sembari memandangi istrinya yang baru sekian detik lalu tersadar dari tidurnya. "Mau minum?" tanyanya. Dilara hendak menjawab, tetapi mulutnya kering dan bibir sulit dibuka. Dilara akhirnya mengedipkan mata dua kali untuk menjawab pertanyaan suaminya. Yasuo meraih gelas di m

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-30
  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 88

    88Hari pertama puasa, dunia Yasuo terasa melambat. Dia berulang kali melirik jam dinding, lalu mengusap lehernya yang kering. Yasuo belum pernah berpuasa full sebelumnya, dan hal itu membuatnya tidak nyaman.Suara obrolan Dilara bersama Bi Aan di area belakang, membuat Yasuo penasaran. Kala kedua

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-30
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status