LOGINFajar belum pecah saat rombongan pengantar Jake, Daniel, dan Nicole tiba di perbatasan Northridge. Kabut tebal menyelimuti pepohonan, membuat batas antara dunia manusia dan dunia serigala terasa seperti mimpi yang samar.Jake berjalan paling depan, tangannya masih sedikit gemetar meski belenggu telah dilepaskan. Nicole berjalan di sampingnya, menopang Daniel yang semakin lemah. Wajah Daniel pucat seperti kertas, napasnya pendek-pendek, tapi matanya masih terbuka. Masih sadar."Kita hampir sampai," bisik Nicole, suaranya penuh harap.Tapi di tengah jalan setapak yang sempit, bayangan hitam melesat dari balik pepohonan.Jane.Dia berdiri di hadapan mereka, gaun merah marunnya berkibar tertiup angin dini hari. Rambutnya yang hitam panjang tergerai, wajahnya dingin seperti patung marmer."Jane?" Nicole mundur selangkah, melindungi Daniel di belakangnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"Jane tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Mengantarkan kalian pergi, tentu saja. Tapi
Ruangan itu terasa semakin sempit setelah Freya mengucapkan kata-katanya. "Aku akan melakukannya." Kalimat pendek yang menggantung di udara seperti belati yang siap jatuh kapan saja.Penatua Agung mengangguk pelan, matanya yang tua namun tajam mengamati Freya dengan saksama. "Keputusan yang bijaksana, gadis. Kau menyelamatkan nyawa mereka dengan ucapannya sendiri."Namun di dalam sel, suara Jake terdengar. Pelan, patah, tapi penuh dengan tekad yang mengerikan."Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, Freya."Semua mata tertuju padanya. Jake berdiri dengan tangan masih terborgol, tubuhnya gemetar karena dingin dan kelelahan, tapi matanya menyala dengan api yang tidak pernah Freya lihat sebelumnya."Aku akan merebutmu kembali," lanjutnya, suaranya mengeras. "Bahkan jika itu berarti aku harus menjadi monster juga."Logan menggeram pelan, langkahnya hendak maju, tapi Freya menahan tangannya. "Tunggu."Dia mendekati jeruji sel, menatap Jake dari balik besi dingin. Wajah pria itu—wajah yang
Suara langkah kaki menggema di lorong penjara bawah tanah, semakin keras, semakin dekat. Obor-obor di dinding berkedip-kedip seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti udara. Freya merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga dia hampir bisa mendengar suaranya sendiri di telinga.Logan bergerak cepat. Dalam sekejap, dia sudah berdiri di depan Freya, tubuh besarnya melindunginya dari pintu masuk. Matanya menyipit, menatap ke arah kegelapan di ujung lorong."Mereka datang lebih cepat," gumamnya, suaranya rendah dan penuh kewaspadaan.Jane yang berdiri di samping menyilangkan tangannya dengan tenang, tapi matanya memancarkan kegelisahan yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Aku sudah bilang, Logan. Dewan tidak akan menunggu. Mereka haus akan jawaban."Freya menoleh ke arah sel. Daniel masih duduk lemas di sudut, matanya setengah terpejam. Wajahnya pucat, dan Freya bisa melihat dadanya naik turun dengan susah payah. Nicole duduk di sampingnya, tangannya menggenggam ta
Pintu besi itu terbuka dengan suara berat yang menggelegar di lorong sempit penjara bawah tanah. Udara dingin dan lembap langsung menyambut mereka, bau tanah basah dan logam berkarat menyengat hidung Freya. Obor-obor yang tergantung di dinding menyala redup, menerangi sel-sel batu yang gelap dan suram.Namun Freya tidak sempat memperhatikan semua itu.Matanya langsung tertumbuk pada sosok yang berdiri di luar sel Daniel dan Nicole. Bukan seorang penjaga. Bukan anggota dewan.Jake.Pacarnya. Manusia yang seharusnya masih berada di dunia manusia, jauh dari kekacauan Northridge.Darah Freya membeku. Kakinya terasa seperti terpaku di lantai batu yang dingin. Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya berhenti berputar. Yang dia dengar hanyalah debaran jantungnya sendiri yang berdetak terlalu cepat, terlalu keras, seperti akan meledak kapan saja.Jake berdiri di sana dengan tangan terborgol di belakang punggungnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah, tapi matanya—matanya yang cokela
Bayangan di ujung koridor itu bergerak perlahan mendekat, langkah kakinya berirama tenang di atas lantai batu yang dingin. Lampu obor yang berkedip-kedip menerangi sosok tinggi berambut hitam panjang yang tergerai indah di bahunya. Gaun merah marun yang dikenakannya berkibar lembut tertiup angin malam yang menyusup dari celah-celah dinding.Jane.Freya merasakan genggaman Logan di tangannya mengeras. Bukan karena takut, tapi karena ketegangan yang tiba-tiba menyergap. Alpha itu berhenti melangkah, tubuhnya menegak sempurna, dan untuk sesaat, Freya bisa merasakan gelombang ketidaknyamanan yang terpancar dari pria di sampingnya."Jane," sapa Logan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini pada jam begini?"Jane tersenyum. Senyum yang indah, sempurna, namun dingin seperti bulan purnama di tengah musim salju. Matanya yang hitam pekat beralih dari Logan ke Freya, lalu ke tangan mereka yang saling menggenggam. Tidak ada kejutan di wajahnya, seolah dia sudah menduga pemandangan ini sejak lama."
Pintu kamar Logan terbuka di hadapan Freya dengan suara berat yang bergema pelan di keheningan malam. Dia berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar namun matanya bulat, penuh tekad yang lahir dari keputusasaan. Di dalam ruangan, Logan baru saja melepas jaketnya, kemejanya setengah terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang. Dia menoleh saat pintu terbuka, alisnya naik sedikit saat melihat siapa yang datang."Freya?" Suaranya setengah bertanya, setengah waspada. "Kau seharusnya beristirahat."Freya melangkah masuk tanpa menunggu izin. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa terlalu keras di telinganya. Dia berdiri di tengah ruangan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menghentikan getaran yang tak kunjung reda."Aku tidak butuh istirahat," katanya. Suaranya tipis namun terdengar jelas di antara mereka berdua. "Aku butuh kau mendengarku."Logan menatapnya lama. Wajahnya yang biasanya keras dan angkuh itu sekarang terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah







