LOGINMisteri Gadis Lintas Waktu menceritakan tentang kembalinya sosok gadis dari masa lalu. Jiwanya menitis pada seorang bayi, kemudian hadir dalam kehidupan Darren. Darren harus merasa tersiksa dengan mimpi yang dia alami sejak berusia 10 tahun hingga sekarang usianya 18 tahun. Anehnya, mimpi itu selalu saja sama. Sebuah kecelakaan besar yang merenggut nyawa. Kehadiran seorang gadis bernama Meisya juga membuat dia semakin tidak tenang. Hal tersebut dikarenakan Meisya mirip gadis yang selama ini hadir dalam mimpinya. Tanpa disangka, semua hal yang menimpa Darren ternyata ada kaitannya dengan ritual sang ibu saat hamil dirinya. Ada sebuah perjanjian di masa lalu yang melibatkan seorang gadis sebagai korban
View More~Maya~
Taking in continuous shots of whiskey, I laughed hysterically as I remembered the harsh words he told me. “You’re just incompetent,” his words rang in my ears as I doused myself with another glass. “Yuck!” I exclaimed tasting something off in my drink. “Bill please,” I ordered as I waved my hands signalling the bartender. As he approached me with the cheque, I felt myself going numb, my vision blurring slowly as I rummaged through my bag in search of my card. “Why am I so dizzy?” I muttered to myself, my voice a mere whisper. “Ma’am, will you be paying by cash or card?” He asked disrupting my thoughts. Letting out a loud yawn, I closed my eyes slightly as my body began to burn with desire, “Card,” I managed to say as my breaths got heavier. He departed returning swiftly with the payment machine in his hands. Feeling my card in reach, I pulled it out as I stretched my hands towards him. “Just a moment ma’am,” he responded, his voice sweet and calm. Immoral thoughts filled my head as I watched him swipe my card through the machine. What was happening to me? Why this sudden urge all of a sudden? I’m a virgin for f*CK sake. “All done ma’am, thank you for your patronage,” he stated as he bowed slightly departing. Watching his departing figure, a surge of heat course through my veins. “I need to get out of here,” I muttered as I tried to get up. Shaking my head swiftly in a bid to wake myself up, I grabbed my purse and stood up with great difficulty. With wobbly feet, I made my way out of the bar. As I walked down the alley, the sky suddenly poured heavily. As the rain cascaded down my body, I felt my feet going numb. My vision blurring faster with each passing second. “There she is,” a man shouted as I heard steps approach me from behind. Turning my gaze to the direction of the voice, I saw three men following me. I couldn’t make out their faces as they were masked and dressed in dark clothes. I tried to run, but I was weak and the desire within me burned intensely making my feet numb. “Wait pretty girl, we just want to talk,” he said sarcastically. Dragging my feet, I took to my heels as fast as I could. My breath heavy as I tried to make out what direction to head to. Blinking my eyes repeatedly, I saw what looked like a good hiding corner ahead of me. I hastened my steps towards the corner, as the cold rain feel intertwined with the heat emanating from my skin. “There she is.” I heard his voice closer than before. Panicked, I ran as fast as I could, screaming for help frantically. “Help!” As I made my way in the dark of the night, I bumped into a tall stranger. My hands inadvertently felt his abs. The rain tightening his shirt against his body, making his features more visible. I couldn’t make out his face, but he was hot, and I wanted him. “Please help me,” I pleaded, my voice a mere whisper as I swung hands round his waist. “Ugh!” He scoffed, the disgust in his voice could be tasted in the aura exuded by him. “Please, help me, I’m being chased,” I muttered tightening my grip as my voice dripped with a seductive allure. “She went that way,” came a voice as I heard the departing footsteps. Weak and unable to walk, I held unto the man in front of me tightly, not letting go. I felt his hands move down to my thighs as he lifted me in his arms. As we made our way into the night, we approached a building. I couldn’t see anything as everywhere was dark. Was it the effect of the drug? Or was it an actual dark building. Erotic thoughts ran through my head as I tightened my grip around him. The conversation between him and a third party rang in my ears, but I couldn’t make out what they were saying as my body burned with desire. His grip on me tightened as he ascended the stairs, his hot breaths grazed my face as he took measured steps towards the darkness ahead. Creak! The door creaked open as we entered a dark room. Gently, he placed me on the bed as he left to another corner. I couldn’t make out exactly what was going on or who he was talking to, but I couldn’t care less. My body burned with an insatiable desire as I touched my lips. I found myself getting up as I searched for him in the darkness. I shouldn’t be doing this, it’s not right, but I couldn’t stop myself. Stretching my hands in the empty space, I felt his bare skin. Not able to control myself, I wrapped my hands around him from behind as I pleaded, “Take me.” Turning his gaze to me, I could feel the intense stare of his eyes pierce my skin. Nonetheless, I wrapped my hands round his neck pulling him close. Closing the gap between us, I sucked on his neck hungrily. F*CK! He tasted delicious. I felt his strong arms round my waist as he stopped me in my tracks. “You’re drunk, stop this and go to bed,” he stated, his voice deep and husky as I traced my fingers down his throat feeling his adam’s apple. Lost in my desires, I pulled him in, taking his lips in mine. Sucking on his lower lip, I bit him slightly as my tongue searched for his. His hands moved to my thighs as he caressed them softly. The graze of his fingers sent sparks through my body as he lifted me in his arms. Walking towards the bed, he placed me gently. Leaning in slowly, he sniffed my neck, engulfing my scent in his senses. Trailing his lips on the side of my face to my lips, he took mine viciously as I let out soft moans in between our kiss. His hands navigated my body as his fingers explored my curves wildly. Drawing away from my lips slowly, he traced my face with his lips, making his way to my ear. His voice a deep whisper, “You asked for this.”Aku mendekat untuk melihat. Di peta itu, ada ruangan kecil yang belum pernah kami temukan sebelumnya. Di sampingnya tertulis dengan tinta merah yang memudar, “Di sini disimpan jantung dan hati korban ritual.”Hatiku berdegup kencang. “Jadi, ini tempat di mana Marsya dan korban lainnya dijadikan tumbal,” gumamku, suaraku serak. Pikiran tentang Marsya, yang telah lama meninggal namun tubuhnya masih dimanfaatkan dalam ritual keji, membuat seluruh tubuhku menegang. Kami sudah berhasil mengalahkan penjaga bayangan, tetapi perjalanan ini jelas belum berakhir. Sesuatu yang lebih gelap dan jahat masih mengintai, dan kami harus segera menemukannya sebelum terlambat.Meisya memandangku dengan mata yang berkaca-kaca. "Darren, kita harus segera mengakhiri ini. Kita tidak bisa membiarkan warisan kegelapan ini terus berlanjut."Aku mengangguk, merasa semangat baru berkobar dalam diriku. "Kita harus menghentikan mereka. Apa pun yang terjadi."Pak Djata mendekat, memperhatikan peta itu dengan tajam.
Aku, Meisya, dan Pak Djata berdiri di tengah ruangan yang nyaris tenggelam dalam kegelapan. Lilin-lilin kecil di sekeliling kami sudah hampir habis, hanya menyisakan nyala lemah yang tak mampu mengusir seluruh kegelapan. Di hadapan kami, bayangan samar bergerak mendekat, mendesis seperti ular yang mengintai mangsanya. Ruangan ini tiba-tiba terasa semakin sempit, udara menebal, dan jantungku berdetak kencang.“Siapa kau sebenarnya?” tanyaku lagi, meskipun suaraku hampir tenggelam oleh ketegangan yang menggulung di udara.Bayangan itu berhenti beberapa langkah dari kami, perlahan-lahan berubah menjadi lebih jelas, lebih nyata. Wujudnya tertutup jubah hitam panjang, matanya merah menyala seperti bara api yang mengintip dari balik tudung yang menutupi wajahnya.“Aku adalah penjaga terakhir rahasia Dr. Wirawan,” suaranya dingin, mengalir seperti angin malam yang membawa ancaman. “Kalian tak seharusnya berada di sini.”Pak Djata, meskipun sudah berusia lanjut, berdiri tegak di depan kami, t
Pintu ruangan terbuka dengan sendirinya, seolah-olah kekuatan yang menghalanginya telah lenyap. Kami melangkah keluar, disambut oleh pria yang tadi mengabari kami. Raut wajahnya memperlihatkan ketidaktenangan, ternyata ia menunggu dengan cemas di luar."Apa yang terjadi di dalam?" tanyanya dengan nada khawatir.Aku tersenyum lelah. "Kami berhasil mengusir bayangan Dr. Wirawan," jawabku dengan semangat yang terpancar dari suaraku.Mendengar perkataanku, lelaki itu menghela napas lega. Kulit wajahnya yang tadi tegang mulai melonggar, dan matanya yang sebelumnya suram kini berbinar dengan cahaya harapan yang sudah lama hilang. Rasanya seperti aku bisa melihat beban bertahun-tahun yang perlahan terangkat dari pundaknya."Syukurlah ... akhirnya masa kelam rumah sakit ini akan berakhir," ujarnya, suaranya bergetar. "Sudah lebih dari dua puluh tahun kami hidup dalam ketakutan."Namun, di tengah kelegaan yang kami rasakan, ada perasaan ganjil yang tak bisa kuabaikan. Meski bayangan gelap itu
"Kalian pikir ini sudah berakhir?" katanya dengan suara dingin yang membuat darahku membeku.Aku dan Meisya saling pandang dengan cemas. Pria itu adalah Dr. Wirawan, atau setidaknya bayangannya yang masih tersisa di tempat ini. "Kalian berhasil mengusir bayangan gelap, tapi tidak mengusirku," lanjut Dr. Wirawan, suaranya penuh kebencian. "Aku adalah bagian dari rumah sakit ini. Selama rahasiaku belum terungkap sepenuhnya, aku akan terus ada."Aku menatap Dr. Wirawan dengan tegang. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanyaku, mencoba mencari cara untuk mengatasi situasi ini.Dr. Wirawan tersenyum dingin, senyum yang penuh dengan kepuasan jahat. "Aku ingin melanjutkan apa yang telah kumulai. Kalian tidak bisa menghentikan aku."Meisya, dengan keteguhan yang luar biasa, melangkah maju. "Kita sudah datang sejauh ini. Kami tidak akan mundur."Pak Djata yang telah berdiri di belakang kami, maju ke depan. "Kalian tidak sendirian," katanya dengan suara tegas. "Kami akan melawan ini bersama."






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.