LOGIN"You left without saying a word, Ciana. Hinanap kita, naghintay ako. Umasa akong babalikan mo 'ko dahil baka sakali na maisip mo ako," napatitig ako sa mga mata niyang kulay kayumanggi ngunit lumuluha. "Tapos ngayon babalik ka na para bang walang nangyari?" nakagat ko ang ibabang labi kasabay ng pagyuko sa kaniyang pangunguwestyon. "Sinisisi mo 'ko kasi hindi kita magawang kausapin ng maayos? Pansinin tulad nang dati?" napapikit ako ng matapos niyang sabihin iyon ay hinampas niya ang pader sa aking tabi. "You think I'm okay? Nasasaktan ako Ciana, kahit sorry man lang galing sa mismong bibig mo wala akong natanggap." Tinitigan ko siya ngunit ako mismo ang nasaktan nang umaagos na ang luha sa mga mata niya. "I'm sorry," mahinang sabi ko. "This is not the right time to do that, because I can't f-forgive you for l-leaving me." Malamig niyang sabi ngunit bakas ang hirap sa pananalita. "Mahal kita at nakalimutan kong may gusto ka nga pa lang iba," hindi ko siya makapaniwalang tinitigan dahil sa sinabi sa akin. "I'm leaving." Paalam ni Mateo tapos tumango at lumabas na ng kwarto.
View More“Ternyata kamu gadis nakal.”
Aku tersentak mendengar suara berat Aaron tepat di belakangku. Kurasakan tubuhnya menempel rapat, panasnya menembus tipis kain bajuku. “K-Kak… aku tidak–” Bibirku dibekap telapak tangannya, sementara pinggangku dicekal kuat. “Lanjutkan menonton,” bisiknya, serak, menggoda. “Jangan pejamkan matamu.” Melalui celah kecil pintu yang terbuka, tatapanku kembali terarah pada Aresh, kakak tiri pertamaku, yang tengah menghunjam tubuh wanita di bawahnya tanpa ampun. Ranjang berderit, desahan bercampur raungan sensual, membuat darahku mendidih. Leherku meremang saat napas panas Aaron menyapu kulitku. Ia terkekeh pelan. “Kamu tampak sangat menikmatinya,” bisik Aaron, suaranya menancap di telingaku. “Jadi, bagaimana kalau kita mencobanya juga malam ini, Adik Tersayang?” Suara dalam Aaron, mengirim getaran aneh ke tubuh bagian bawahku, aku pun gemetar tanpa sadar. *** Beberapa hari sebelumnya.... “Waaah, besar sekali!” Aku meloloskan desah penuh kekaguman saat melihat rumah megah di hadapan. Hal itu memancing tawa dari ayah baruku, sementara pipi ibuku bersemu kemerahan–mungkin malu karena ucapanku yang polos tersebut. “Manis sekali anak gadis ini,” komentar ayah baruku sambil tersenyum. Beliau menepuk-nepuk puncak kepalaku pelan. “Ayo masuk dulu, Sherry. Saya kenalkan dulu pada kakak-kakakmu.” Belum lama ini, ibuku yang cantik menikah lagi dengan seorang milyuner tua yang membawa tiga orang putra ke dalam pernikahan. Ayah baruku itu adalah orang yang hangat dan humoris, membuatku sulit untuk tidak menyukainya. Apalagi memang ia membuat ibuku tampak bahagia setelah bertahun-tahun sengsara bertahan hidup tanpa dukungan suami. Aku masuk ke dalam rumah megah yang tidak pernah kubayangkan akan bisa kutinggali. Ruang utamanya begitu lapang, dengan langit-langit tinggi yang membuat segalanya terasa lebih besar dari seharusnya. Semua tampak bersih, teratur, dan mahal–sungguh mencerminkan betapa kayanya pria yang menikahi ibuku tersebut. “Itu kakakmu yang nomor dua,” kata ayah baruku saat seorang pria berbadan tegap berjalan menuruni tangga. Membuatku langsung mengarahkan pandangan ke arahnya. Tatapan mata tajamnya yang sempat melihatku tampak dingin, sementara setengah wajahnya yang lain tertutup masker hitam. “Aku pergi dulu. Ada masalah kantor,” kata pria itu pada ayah baruku dengan nada datar. Lalu tanpa menunggu respons, ia langsung keluar rumah. Ayah baruku menghela napas. “Haa. Anak itu….” Tatapanku tiba-tiba tertuju pada sesuatu di atas lantai. Sebuah kunci motor. Apakah pria tadi menjatuhkannya? “Maaf, permisi sebentar, Om,” kataku. Tanpa pikir panjang, aku ambil benda itu dan mengejar si kakakku yang nomor dua. "Kak!" panggilku dengan suara cukup keras. Pria itu menghentikan langkah, menoleh ke arahku dengan kening berkerut. Meski tampak tidak ramah padaku, aku tetap berjalan mendekat sembari mengulurkan kunci yang kutemukan tadi. "Kak, ini tadi jatuh," ucapku sambil tersenyum. Ekspresi pria itu tampak semakin dingin, kerutan di keningnya bertambah. Ia meraba sakunya terlebih dahulu sebelum kemudian tangannya terulur ke arahku. Kupikir, ia akan mengambil kunci yang kusodorkan padanya ini, tapi hal yang mengejutkan terjadi. Dengan satu gerakan keras, dia mencengkeram tanganku dan menyentakku mendekat untuk berbisik dengan suaranya yang dingin, “Siapa yang kamu panggil ‘Kak’? Tidak tahu malu.” Tubuhku menegang. Aku tidak sempat bereaksi lebih jauh karena dia sudah mengambil kunci di tanganku dan berbalik untuk melangkah pergi "Sialan, pagi yang menyebalkan," desisnya, terdengar sangat kesal. Sepasang mataku membola. Pria itu … benar-benar tidak menyukaiku ya? Dengan hati terluka, aku kembali ke tempat ibu dan ayah tiriku menunggu. Rupanya, selain Aaron, kakakku yang nomor dua tadi, saudara tiriku yang lain sudah tidak ada di rumah. Beliau pun baru mendapatkan kabar tersebut dari pelayan, bahwa Aresh dan Arsion, dua kakakku yang lain, sudah lebih dulu pergi dari rumah saat para orang tua menjemputku tadi. Aku tidak terlalu ambil pusing dengan sikap mereka. Karena toh memang sulit menerima orang baru. Apalagi, hari ini ayah tiri dan ibuku pergi berbulan madu. Aku tidak mau mereka melihatku sedih hanya karena sikap para kakak baruku. Namun, setelah mereka berangkat ke bandara, tak urung aku merasa kesepian dan kurang kerjaan. Karenanya, aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar rumah. Langkahku membawaku ke tempat yang asing di tengah taman belakang. Ada bangunan kecil di belakang rumah—yang aku tidak tahu untuk apa kegunaannya. Bangunan itu berdiri agak terpisah dari rumah utama. Ukurannya tidak besar, hanya satu lantai dengan cat dinding warna putih. Di bagian depan ada teras kecil dengan beberapa kursi kayu.. “Tempat apa ini…?” gumamku, menatap pintu kayu yang sedikit terbuka. Dari dalam terdengar suara aneh. Suara desahan yang aku tidak tahu apakah pemiliknya sedang kesakitan atau tengah dibuai kenikmatan. Tiba-tiba jantungku berdegup tak karuan. "Suara apa itu?" Karena penasaran, perlahan aku mendekat dan mengintip melalui celah pintu. Dan pandanganku membeku. Seorang pria tanpa busana tengah bergerak liar di atas seorang wanita. Otot-otot pria itu bergerak liar, keringat bercucuran. “Aresh–ah! Lebih cepat lagi–” Mataku membelalak. Napasku tercekat sementara wajahku memanas melihat adegan liar di depanku, apalagi saat tahu siapa pria yang membuat wanita itu mendesah dengan suara basah. Bukankah itu Aresh? Kakak tiriku yang pertama? “A-aku harus pergi…” Merasa bahaya yang tak terkatakan, aku segera berbalik, berlari secepat mungkin. Kakiku nyaris terantuk batu, jantungku berdetak seperti ingin meledak, tapi aku terus berlari secepat mungkin. Malam itu aku tak bisa tidur. Bayangan pria entah siapa yang bercinta dengan begitu liar tersebut terus menari di kepalaku, membuat jantungku berdebar kencang. Aku sama sekali tidak tahu bahwa saat meninggalkan bangunan tadi untuk kembali ke rumah utama, ada sepasang mata tajam yang mengamatiku.Ang ngiti sa labi ko ay hindi nawala nang sunduin ako ni Mateo at hawakan ako sa kamay.“I want to curse so bad. You’re so beautiful, honey,” aniya, kaya mahina akong natawa.“Ang gwapo-gwapo mo rin, hon,” sabi ko sa kaniya.“Pinaghandaan ko ’to,” sagot niya habang nakangiti.Nang marating namin ang pinakaharap ng aisle, ngumiti kami kay Father nang lumabas siya mula sa pinanggalingan niya. Dinasalan muna kami, at tumagal iyon ng ilang minuto bago niya kami hinarap upang simulan na ang kasalan.The wedding proceeds at this point.“Sebastian Mateo Martinez, do you take Ciana Vion to be your lawful wedded wife?” Magkaharap kami ngayon. Ngumiti si Mateo at nilingon si Father.“I do,” he answered.“Ciana Vion, do you take Sebastian Mateo Martinez to be your lawful wedded husband?” the priest asked me.Ngumiti muna ako. “I do, Father.”“Do you promise to love and cherish her/him, in sickness and in health, for richer or poorer, for better or worse, and forsaking all others, keep yourself o
Wedding Day“Oh, hija, don’t cry na. I’m sure your parents are happy for you,” nginitian ko si Mom, ang mother ni Mateo. Pinunasan nito ang luha ko.“Aayusan ka na oh. Huwag nang iiyak, baka pumanget ka niyan.” Natawa ako sa sinabi ni Mom at ngumiti.“Grabe naman po,” tumawa rin sila ni Dad.“At dahil ikakasal na ang anak namin, masayang-masaya kami para sa inyong dalawa, hija.” Ngumiti ako at tumango-tango.“Salamat po, Mom, Dad.” Yumakap ako sa kanila bago pa man sila umalis, at sinimulan na akong ayusan ng make-up artist.Habang inaayusan, huminga ako ng malalim. Matatapos na. Hindi ko mawari kung bakit ako sobrang kinakabahan. Dahil siguro ikakasal na ako? Ang matagal kong pinakahihintay, eto na.“Ma’am, finish na po.” Nang sambitin niya iyon, sobra-sobra talaga ang kaba kong tumayo.“Gaga!” Nalingon ko si Sasha.“OMG, this is it!” nakangiti niyang sabi, kaya tumango-tango ako.“Eto na nga,” aniya ko.“Hinihintay ka na ng groom mo! Gaga, spoil na kita ha—ang gwapo niya!” Natawa ak
Ciana’s Point of View Dumating ang araw na pinakahihintay naming dalawa, ngunit dahil matoyo ang mga kaibigan namin, sa mismong araw ng kasal ay hindi nila kami pinagkitang dalawa. Ayon sa kanila, baka raw hindi matuloy ang kasal kung magkikita kami bago ang seremonya. Sila rin daw ang nag-asikaso ng venue. Si Viera naman ay iniwan muna sa pangangalaga ng kanyang lolo at lola. Kasama ko ngayon sina Sasha at Sonya, pati na rin ang kanilang mga anak, dito sa bahay ng mga magulang ni Mateo. Kahit ang mga asawa nila ay nandoon rin. “Bakit ba kasi tayong tatlo lang? Sana nandito na rin si Viera,” reklamo ko habang nagmumukmok sa kanila. Inabutan naman nila ako ng wine habang magaganda ang kanilang ngiti. “May nangyari ba ulit sa inyo netong nakaraan?” tanong ni Sonya, kaya naman agad na umawang ang labi ko. “Wala. Busy kami eh,” sagot ko, pilit na iniwasan ang usapan. “Kailan yung last?” tanong ulit ni Sonya, nakangisi pa. “Matagal na… three years ago,” pag-amin ko, sabay tingin sa
Habang tinatapos namin ang pagkain, patuloy ang pagpaplano at asaran. Halos kalahating araw na kaming abala sa mga detalye ng kasal, pero tila hindi pa rin tapos ang lahat ng kailangan ayusin. Si Sonya at Sasha ay nagsimula nang mag-discuss ng seating arrangement, habang si Mateo naman ay abala sa pakikipag-usap sa mga suppliers para sa mga huling detalye ng catering at iba pang aspeto ng reception.“Mommy, gusto ko po na malapit ako sa daddy sa reception,” sabi ni Viera habang hawak ang juice niya.“Syempre, anak. Doon ka sa tabi ko at daddy,” sagot ko, ngumiti kay Mateo na nandoon pa rin sa kanto, nakikipag-usap sa event planner.“Ako nga pala, hon, nakatanggap na ako ng tawag mula sa stylist. Naka-schedule na sila bukas ng hapon para sa fitting,” sabi ni Mateo, paglapit niya sa akin.“Wow, mabilis pala. Ayos, baka makauwi pa tayo nang maaga,” sagot ko, habang inaayos ang buhok ni Viera.“Oo, makakapahinga tayo pagkatapos ng fitting, para naman hindi tayo mabigla sa dami ng ginagawa
Sunod ko pang tinignan ang mga pictures, ngunit gano’n na lang ang pagtataka ko nang makitang muli ang sarili ko sa account ni Vion. Parati ba kaming magkasama? Tinignan ko ang date ng picture at napansing kailan lang ito, halos buwan lang ang nakalipas. Sunod-sunod kong tinignan hanggang sa mamataa
Habang nag-aayos ng ref sa hospital room ni Viera, may kumatok sa pinto. Nang tumayo si Mateo para buksan ito, napangiti ako agad nang makita sila Mom at Dad—ni Mateo.“Oh my gosh!” bulalas ko. Nagtataka naman si Viera habang tinitingnan sila.“Siya na ba ang apo namin?” masayang tanong ni Mom sa akin
Ciana’s Point of View“Baby, ang kasal ay para sa taong nagmamahalan. Sa ngayon, mas importante ang kalagayan mo kaysa sa kasal-kasal na ‘yan.” Mukhang narinig niya ang usapan kanina.“But Mommy, you are both my parents po. So why aren’t you married yet?” Mana-mana talaga kay Mateo ang isang ’to—matan
=Ciana’s Point Of View=Nandito ngayon si Sasha, Carlo, at Oliver. Susunod daw sila Shion, Sonya, at Klein.“Mommy! Tita Sasha said I was made in OFFICE daw poooo!” Agad na nanlaki ang mata namin ni Mateo.“SASHAAAAAAA!!!!”Nakataas ang kilay kong pinuntahan siya sa sala.“It’s a PRANK, GAGA!” sigaw niya












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.