LOGINZayn yang belum terbiasa menghadapi seorang wanita masih heran dengan sikap Emiko yang menurutnya aneh. Dia menoleh sejenak ke arah pintu untuk memastikan sudah terkunci dengan baik, lalu mengejar Emiko dan mengajaknya duduk di sofa ruang tengah.Saat itu sudah larut malam. Wajar kalau mama Emiko, Anna, dan Didi sudah terlelap, tetapi bagaimana dengan gadis yang sedang duduk di sampingnya itu? Sehari penuh isi kepala Zayn terbagi dua memikirkannya.“Apa kamu baik-baik saja? Ah! Aku salah memberi pertanyaan. Kamu terlihat ….”“Aku baik-baik saja ….”“Matamu bengkak dan penampilanmu berantakan. Maaf! Maksudku ….”“Aku jelek. Ya, wajahku memang tidak cantik. Apalagi ketika aku tidak meriasnya. Jadi, wajar kalau kamu melihat ….”“Bukan begitu, Emiko. Kamu itu manis. Eee, maksudku ….” Zayn kehilangan kata-kata ketika gadis itu menatapnya dengan raut wajah terkejut.“Terima kasih. Aku akan menganggapnya sebagai pujian,” jawab Emiko setelah beberapa saat lamanya mereka hanya diam.Zayn terse
“Sejak tadi aku sudah bertanya tentang tujuan kita dan kamu terlalu sibuk memikirkan Emiko. Jadi, aku melaju saja sesuai arahan hati,” ujar Tama ringan.“Apa hatimu mengarahkan kita ke jalan buntu dan … di tengah pepohonan seperti ini?” tanya Zayn yang sempat menghentikan sejenak kalimatnya di tengah seraya mengedarkan pandangan ke sekitar.Tama menghentikan kendaraan karena di depan mereka terdapat banyak pohon berukuran tinggi. Mobil tidak mungkin melaluinya.Di sekitar sana hanya ada dua rumah yang posisinya berdekatan. Tipe bangunannya sama, yakni menggunakan atap yang terbuat dari batu bata dan jendela kaca berukuran sangat besar. Tidak ada tirai yang menutupi sehingga siapa saja yang melihat akan merasa yakin kalau tidak ada penghuni di dalamnya.“Hatiku berkata, Zoya akan mencari tempat persembunyian di area seperti ini. Jauh dari keramaian pusat kota dan di luar jangkauan warga setempat yang kita kenal. Perempuan itu pasti tahu kalau seisi kota sedang mencarinya,” ujar Tama ya
Emiko tertawa terbahak-bahak dengan sengaja ketika menyadari arti tatapan Kirani, Anna, Didi, Zayn, dan Tama.“Bercanda! Bagaimana kalian bisa menatapku dengan begitu serius? Tentu saja aku tidak memukul mereka. Mana bisa aku melawan mereka? Secara kebetulan mereka lengah sehingga aku bisa kabur dan bertemu dengan Zayn di perjalanan. Aku cukup beruntung, bukan? Alam semesta ternyata masih menyayangiku.” Emiko meralat ucapannya dengan gerakan tangan yang sedikit berlebihan. Lagi-lagi untuk menutupi degup jantung yang tidak beraturan.Hening. Semua orang masih memandangi Emiko yang berusaha menahan diri agar tidak salah tingkah dan lucunya, mereka sama sekali tidak ikut tertawa.Emiko memandangi satu per satu wajah orang-orang terdekatnya yang penuh dengan tatapan mengintimidasi terhadap dirinya, lalu berkata, “Hei! Ada apa dengan kalian? Ayolah! Tadi aku hanya bercanda.”“Itu tidak lucu, Emiko! Kami sedang membicarakan sesuatu yang serius dan ingin tahu keadaanmu,” sahut Kirani.“Ah! B
“Apa maksudmu? Aku hanya bergerak refleks demi menyelamatkan diri.” Emiko memberi alasan setelah berhasil menahan degup jantung yang masih tidak beraturan.Zayn bergeming seraya menatap Emiko selama beberapa saat hingga tiba-tiba tangannya bergerak cepat seakan dengan sengaja ingin memukul wajah gadis itu.Emiko yang terkejut dengan cepat menutup kedua matanya sembari menahan napas. Sedangkan genggaman tangan Zayn berhenti persis di depan hidung gadis itu.“Ck! Seharusnya kamu menghindar, bukan menutup mata seperti itu,” ujar Zayn yang perlahan menurunkan tangannya dan kembali bersandar.Dia menghela napas pelan sembari berpikir bahwa kecurigaannya tidak memiliki dasar. Tidak mungkin Emiko yang selama ini selalu menjadi incaran laki-laki berhidung belang mendadak jago bela diri.Emiko membuka sebelah matanya sebelum kedua matanya terbuka lebar dan melotot ke arah laki-laki di sebelahnya.“Hei! Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu hendak memukulku seperti itu?!” Emiko protes dengan nada
Zayn berlari ke arah Emiko yang sudah jatuh akibat didorong oleh seorang laki-laki yang kebetulan sedang berjalan kaki bersama anjing peliharaannya.“Emiko! Apa kamu baik-baik saja?” tanya Zayn seraya menolong gadis itu bangkit. Jantungnya seolah sudah melayang jauh ketika melihat laju motor yang terlalu kencang ke arah putri tunggal Kirani itu.“Iya, aku baik,” jawab Emiko dengan nada suara bergetar. Tentu itu bukan jawaban yang sebenarnya karena suasana hatinya berada di antara rasa lega, takut, sedih, dan syok. Pun sekujur tubuhnya terasa nyeri.“Cokelat! Berhentilah!” Selagi Zayn menolong dan berbincang dengan Emiko, seorang laki-laki yang kebetulan lewat tadi berusaha menarik anjing peliharaannya yang sudah menyerang seorang pengendara motor hingga jatuh dari kendaraannya.Zayn dan Emiko baru sadar ketika mendengar suara anjing menggeram. Mereka menoleh ke arah sumber suara, di mana Tama bersama para pengawal sudah membantu pengendara motor yang terluka cukup parah itu bangkit.M
Tindakan Emiko memberikan kejutan yang membuat seseorang itu seketika tidak berkutik dan hanya bisa bertanya-tanya di dalam benaknya.Emiko dengan sigap membuka ikatan di matanya dan lompat dengan cepat, menaiki punggung seorang laki-laki itu hingga kedua kakinya dapat menggantung di bahu orang yang di dalam ingatan gadis itu adalah pembunuh Felix.Belum sempat Emiko bertindak lebih lanjut, tiba-tiba Pino yang sebelumnya memiliki nama samaran Viki tertawa terbahak-bahak.“Ah! Kamu ingin memimpin permainan awal kita? Boleh!” ujar Pino.Emiko memutar bola matanya malas. Gadis itu lantas bertanya, “Apa kamu tidak penasaran dengan sikapku ini?”“Tidak perlu penasaran! Seseorang yang sudah bernafsu kadang suka melakukan sesuatu di luar nalar. Jadi, santai saja! Aku bisa mengikuti permainanmu,” jawab Pino.“Pria gila!” ujar Emiko geram.Tanpa menunggu lebih lama, Emiko memutar tubuhnya ke depan seakan sengaja hendak menjatuhkan dirinya sendiri, tetapi dengan kedua kaki yang masih melilit le







