Share

Panik

Author: Adelia17
last update publish date: 2026-09-18 08:54:57

“Apa kamu juga memikirkan hal yang sama denganku?” tanya Zayn dengan jari-jari yang tidak berhenti mengetik untuk mengajak peretas itu bicara.

“Apa yang kamu pikirkan?” Emiko balik bertanya, dengan posisi pandangan yang masih ke arah layar laptop.

“Seperti yang kamu katakan, peretas ini kemungkinan besar adalah Zoya,” jawab Zayn.

“Aku hanya menerka dari hasil percakapan kalian. Bagaimana denganmu? Bagaimana kamu bisa menebak kalau yang sedang berbicara itu Zoya? Apa kamu pernah melihat orangnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • One Two Three and Action   Lari

    Tindakan Emiko memberikan kejutan yang membuat seseorang itu seketika tidak berkutik dan hanya bisa bertanya-tanya di dalam benaknya.Emiko dengan sigap membuka ikatan di matanya dan lompat dengan cepat, menaiki punggung seorang laki-laki itu hingga kedua kakinya dapat menggantung di bahu orang yang di dalam ingatan gadis itu adalah pembunuh Felix.Belum sempat Emiko bertindak lebih lanjut, tiba-tiba Pino yang sebelumnya memiliki nama samaran Viki tertawa terbahak-bahak.“Ah! Kamu ingin memimpin permainan awal kita? Boleh!” ujar Pino.Emiko memutar bola matanya malas. Gadis itu lantas bertanya, “Apa kamu tidak penasaran dengan sikapku ini?”“Tidak perlu penasaran! Seseorang yang sudah bernafsu kadang suka melakukan sesuatu di luar nalar. Jadi, santai saja! Aku bisa mengikuti permainanmu,” jawab Pino.“Pria gila!” ujar Emiko geram.Tanpa menunggu lebih lama, Emiko memutar tubuhnya ke depan seakan sengaja hendak menjatuhkan dirinya sendiri, tetapi dengan kedua kaki yang masih melilit le

  • One Two Three and Action   Tidak Disangka

    Setelah memberikan posisi dan penjelasan singkat mengenai penemuan kendaraan milik Emiko, Dhefin memutuskan sambungan telepon.Benar! Seseorang yang menelepon adalah Dhefin, sahabat Zayn.“Ada apa? Siapa yang menelepon?” Anna bertanya ketika melihat Zayn meletakkan laptop begitu saja di atas bangku penumpang di sebelahnya dan buru-buru melajukan kendaraan.“Seorang pengawal menemukan mobil milik Emiko. Sebelum menyusul mereka, sebaiknya aku mengantarmu ke unit apartment milik Tante Kirani,” jawab Zayn.“Biarkan aku ikut denganmu!” ujar Anna.“Tidak! Aku tidak ingin semua fokus kita ke posisi terakhir Emiko sebelum diculik.” Zayn menegaskan.“Aku akan menemani Anna sampai bertemu dengan Tante Kirani. Lalu, aku akan ikut denganmu,” sahut Didi menengahi.Zayn yang masih merasa kesal dengan sikap Didi dan Anna di awal pertemuan mereka tadi memilih untuk diam. Pasalnya, alasan perempuan yang mengaku sebagai sahabat Emiko itu tetap tidak bisa masuk di akalnya.Ada begitu banyak cara bagi An

  • One Two Three and Action   Pengakuan Anna

    Sikap Anna tidak bisa dibiarkan! Zayn bergegas mengejar sepasang kekasih itu hingga mereka berdua merasa kesal.“Apa kamu ingin mencari masalah dengan kami? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Didi geram.Zayn tertawa sumbang sembari memutar bola matanya malas. Namun, itu hanya sesaat, karena dengan cepat dia kembali menatap Anna lurus-lurus dan berkata, “Emiko hilang demi menemui klien palsu kamu.”Didi yang hendak memukul Zayn segera dicegah oleh kekasihnya.“Jangan menuduh sembarangan! Klien palsu siapa yang kamu maksud?” Anna menjawab sengit.“Menurut informasi yang aku dapatkan dari Tante Kirani, Emiko mendapatkan pesan dari kamu yang menyuruh dia untuk pergi menemui seorang klien, karena kamu harus menghadiri acara keluarga. Namun, hingga sekarang dia tidak bisa dihubungi.” Zayn menjelaskan.Anna meraih ponselnya dari dalam tas selempang berukuran kecil. Dia lantas membuka layarnya dan memeriksa isi pesan.Masih dengan raut wajah bingung, Anna menyerahkan ponselnya sambil

  • One Two Three and Action   Anna Menghindar

    “Bagaimana, Tante? Emiko pergi? Dengan siapa?” tanya Zayn mengulangi perkataan Kirani karena suasana rumah Oma Rosa sedang ramai. Dia hanya ingin memastikan pendengarannya.“Tadi Emiko mendapatkan pesan dari Anna agar menemui kliennya di salah satu tempat makan. Dia sudah berusaha menghubungimu untuk mendapatkan pengawalan, tetapi sepertinya belum berhasil. Anak itu terlalu terburu-buru dan memutuskan untuk pergi begitu saja. Tante sangat khawatir karena belum ada kabar sampai sekarang,” jawab Kirani putus asa.Zayn tidak memberikan jawaban dan hanya melihat layar ponselnya untuk sesaat. Dia lantas kembali mendengarkan suara Kirani yang terus mengutarakan ketakutannya.“Baik, Tante. Aku akan mengerahkan semua pengawal untuk mencari Emiko. Ingat! Jangan bukakan pintu untuk siapa saja selain aku!” ujar Zayn.Firasat laki-laki itu memang hampir tidak pernah meleset. Dia pernah berpikir bahwa akan ada satu waktu di mana Emiko akan dipaksa keluar dari unit apartment oleh musuh mereka, sehi

  • One Two Three and Action   Diculik

    “Argh! Apa yang Zayn lakukan? Mengapa dia mematikan ponsel?” tanya Emiko yang merasa kesal.Kini gadis itu sedang berdiri di depan cermin dengan gelisah. Dia sudah selesai mengganti pakaian yang lebih rapi dan siap untuk berangkat. Namun, Zayn belum bisa dihubungi.Emiko mencoba menghubungi Zayn kembali. Dia lalu mengirimkan pesan pada Anna, yang sebenarnya terhubung ke nomor ponsel palsu yang menggunakan data pribadi milik sahabatnya.Nomor palsu itu menyusup masuk di dalam ponsel milik Emiko dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang sehingga gadis itu tidak curiga kalau pengirim pesan bukan sahabatnya.“Maaf. Aku akan datang terlambat karena kamu mengatakannya terlalu mendadak.” Demikian isi pesan Emiko.Tidak berselang lama, pesan balasan datang, “Klien aku memberi tahu kalau sudah tiba di restoran. Beliau menawarkan diri untuk menjemputmu dengan supir agar lebih cepat. Apa kamu mau?”“Tunggu dulu! Beri aku waktu karena Zayn belum mengangkat telepon.” Emiko semakin panik

  • One Two Three and Action   Pesan Palsu

    “Sejak kapan kamu berdiri di situ?” tanya Zayn yang tanpa sadar langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja karena terlalu terkejut dengan keberadaan Emiko.Gadis itu mendekati Zayn dan duduk di sebelahnya sambil mengulangi pertanyaannya, “Di mana kamu melihat Viki? Di tempat makan mana? Dia harus ditemukan! Laki-laki itu pasti mencariku.”“Tenang! Kamu aman di sini,” jawab Zayn.“Menurut firasatku, dia pasti akan mengarah ke tempat ini,” sahut Emiko masih panik.“Emiko, dia tidak tahu kalau kamu sudah pindah. Tenang saja! Lagi pula, aku memerintahkan para pengawal untuk mengawasi tempat ini,” ujar Zayn berusaha menenangkan gadis itu.“Zoya tahu kalau aku ada di sini. Bukankah kamu mengatakan bahwa mereka satu tim?” jawab Emiko.Zayn memutar posisi duduknya hingga menghadap ke arah Emiko. Dia lantas memegang kedua lengan gadis itu dan menatap netranya lekat.“Emiko, dengar aku! Jangan panik! Kita pasti bisa memecahkan masalah dengan kepala dingin.” Zayn berkata.Dengan berkaca-k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status