Share

Orang ketiga.
Orang ketiga.
Author: Desti Anggraini

OK bab. 1

last update publish date: 2025-06-14 10:28:05

Selama dua puluh sembilan tahun hidup di dunia ini, Kiara tak pernah melakukan kesalahan. Semua yang berjalan tersusun rapi sesuai dengan keinginannya. Seorang wanita single dengan karier yang cemerlang, wajah cantik dan tubuh yang proporsional menjadi nilai lebih dalam dirinya.

Bangga? Tentu saja, Dia begitu mengagungkan apa yang ia miliki hingga satu malam yang menghancurkan kepercayaan dirinya.

Kiara bahkan tak tahu bagaimana caranya bernapas saat terbangun di samping sosok lelaki asing yang tak ia kenal.

Kegelapan masih menyelimuti kamar. Ia bahkan tak berani bergerak saat mata lentiknya mendapati sosok tubuh kekar yang berbaring di sampingnya, ia takut gerakan sekecil apa pun dapat membangunkan lelaki itu.

Napas Kiara terdengar dangkal, tubuhnya kaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Kiara mencoba mengingat, mencari serpihan kejadian yang masih tersimpan di kepalanya. Penjelasan mengapa dirinya bisa ada di sana.

Sesaat pikirannya mengembara ke malam sebelumnya di mana ia menghadiri pesta ultah salah satu temannya di sebuah bar. Layaknya orang dewasa pada umumnya mereka bersenang-senang dengan meminum alkohol, sekedar untuk melepas penat setelah seharian bekerja.

Suara tawa, dentingan gelas, kebebasan yang terasa begitu menyenangkan. Kiara merasa seperti burung yang mengepakkan sayapnya setelah terbebas dari sangkar. Kiara menenggak beberapa gelas, ia termasuk seseorang yang bisa bertoleransi terhadap alkohol, tetapi semalam terasa ada sesuatu yang berbeda.

Kiara semakin menajamkan ingatannya, mengingat kilasan wajah-wajah yang samar di bawah cahaya remang. Suara musik yang semakin memekakkan dan gelas yang entah sudah berapa kali berpindah ke tangannya. Tak ada yang mencurigakan.

Di bawah pengaruh alkohol yang tak seberapa baginya, Kiara menjadi seperti kuda liar yang hilang kendali. Dirinya melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Bermain-main pada seorang pria dan berakhir di atas ranjang.

Sadar akan kesalahan fatal yang telah ia lakukan. Kiara berpikir segera ingin melarikan diri. Jantungnya berdebar makin cepat saat ia mencoba menggeser tubuhnya, mencari celah untuk bangkit tanpa membuat suara.

Kamar itu sunyi, hanya ada dengungan samar dari pendingin ruangan dan napas pelan dari sosok di sampingnya. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri yang mulai dikuasai ketakutan.

"Kenapa aku bisa melakukan ini?" rutuknya di dalam hati diselipi makian atas tindakan bodoh yang telah terjadi.

Ada rasa tidak percaya di hatinya, tapi rasa sakit di sekujur tubuh dan organ vital yang berada di antara ujung pangkal paha cukup menegaskan semuanya.

Ia benar-benar melakukannya!

Jantungnya berdetak semakin cepat saat sosok di sampingnya ikut bergerak. Kiara kembali mematung dan kembali menelan ludah, menahan diri agar tidak panik dengan hati yang terus berbisik untuk tak menyia-nyiakan waktu dan segera keluar dari tempat tersebut.

Tangan rampingnya bergerak pelan mengangkat ujung selimut putih dibagian kaki, sementara mata jernih itu bergerak cepat mencari pakaiannya yang entah ada di mana. Saat ujung jari menyentuh salah satu kain yang tergeletak di lantai, suara berat terdengar dari belakang menggetkannya.

"Kamu sudah bangun?"

Tubuh Kiara membeku dengan tangan yang masih menahan selimut untuk menutupi dada. Suara itu asing, tapi penuh ketegasan.

Kiara memejamkan mata sejenak, menenangkan laju jantungnya sebelum menoleh. Dan saat tatapan merena bertemu, dunianya yang sempurna terasa retak untuk pertama kalinya.

Tatapan itu mengunci tubuhnya di tempat. Pria di depannya tidak terlihat canggung maupun terkejut—seolah semua yang terjadi adalah bagian dari suatu kenyataan yang sudah ia pahami. Berbeda dengan Kiara yang merasa seperti seseorang yang baru saja terhempas dari dunia yang baru ia kenal.

Kiara ingin bertanya, ingin marah dan ingin berteriak. Tapi bibirnya tetap terkunci, sementara pikirannya berputar lebih cepat daripada yang mampu diproses.

"Siapa kamu?" Kiara akhirnya berbicara, suara yang keluar nyaris bergetar.

Pria itu tidak menjawab langsung. Ia mengamati wajah wanita cantik di hadapannya sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya menghela napas dan berkata.

"Apa kamu tidak mengenalku?"

Kening mulus Kiara berkerut, mencoba menelusuri memori yang terasa kabur dan berantakan. Kiara menatap pria itu lebih lama—struktur wajahnya, garis rahangnya, sorot matanya yang tajam namun tidak mengancam.

Tak ada gambaran di kepalanya tentang siapa sosok lelaki yang telah menghabiskan satu malam panjang bersamanya.

Kiara menggeleng pelan. Ia sedang tak ingin bermain teka-teki saat pikirannya tengah kusut seperti ini.

"Aku tak tahu siapa kamu dan kenapa kita berdua bisa berakhir di atas ranjang ini. Tapi aku rasa kita bisa menganggap ini sesuatu yang biasa bukan. Anggap saja semua yang terjadi semalam sebatas angin lalu."

Angin lalu? Kiara bahkan ingin tertawa dan kembali merutuki dirinya sendiri. Tidak ada yang terasa seperti angin lalu saat tubuhnya masih merasakan sisa-sisa kejadian semalam.

Pria itu menggeser posisinya, bersandar pada sisi ranjang. Mata yang tajam menatap lawan dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?"

Tatapan pria itu semakin dalam, seolah mencari sesuatu di wajahnya. Keraguan, kepanikan atau mungkin jejak kejujuran yang tersembunyi. Kiara tidak tahu. Yang jelas, detik ini dirinya ingin keluar dari ruangan tersebut sebelum semuanya semakin rumit.

Kiara menarik napas pelan, berusaha mengendalikan diri, lalu berkata dengan suara setenang mungkin, "Aku yakin. Aku tidak peduli siapa dirimu dan aku hanya ingin pergi dan biarkan semua yang terjadi hanya sebatas ini."

Pria itu tidak segera menjawab. Sebaliknya, tangan kekarnya menarik pinggang ramping itu hingga kulit tubuh mereka yang polos kembali bergesekan, menghadirkan desir di jantung bagai tersengat listrik ribuan volt.

"Aku tak menyangka kamu akan bereaksi seperti ini," kata lelaki itu akhirnya, nadanya tenang tapi penuh ketegasan. "Tapi bagaimana kalau aku tidak setuju dengan apa yang kamu katakan?"

Tubuh Kiara semakin menegang ditempat dengan pikiran yang semakin berkecamuk.

"Be-berapa yang kamu inginkan? Aku akan membayarnya," ucapnya mulai terbata.

Dia tak bisa membayangkan bagaimana dengan kehidupan selanjutnya jika semua yang terjadi malam itu berubah menjadi skandal panas. Nama baiknya sebagai wanita single terhormat akan tercemar.

Lelaki asing di hadapannya ini tersenyum mengejek. Matanya tak sengaja melihat sebuah benda bulat yang melingkar di pergelangan tangan yang membuatnya mengerti arti senyuman itu dan juga menampar harga dirinya.

"Apa pantas aku menawarkan harga pada lelaki yang memakai jam seharga dua milyar di tangannya?" fikir Kiara frustasi.

"Sorry, aku tahu mungkin kamu tak membutuhkan uang. Tapi melupakan semua ini juga tak membuatmu rugi kan!"

Lelaki itu mendekatkan wajahnya dan semakin mengikis jarak diantara mereka. Kiara ingin menghindar dengan mendorong dada bidang tersebut, namun tenaganya tak cukup kuat. Alih-alih memberi jarak, mereka justru semakin dekat hingga hembusan napas lelaki itu terasa hangat di ceruk lehernya.

"Ini yang pertama bagiku dan kamu harus bertanggungjawab!" bisiknya. Telinga Kiara meremang. Untuk sesaat dirinya kembali terdiam untuk mencoba mencerna sebelum akhirnya ia terkejut tak percaya.

"Apa? Jangan bercanda!" jeritnya tertahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Indah Wirdianingsih
mampir baca thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Orang ketiga.   OK bab. 50

    Kiara duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit. Tubuhnya masih terasa lemah, tetapi pikirannya jauh lebih berisik daripada suasana ruang rawat yang begitu sunyi.Tatapannya tertuju pada jendela yang terbuka. Dari lantai lima, tidak ada banyak hal yang bisa dilihat selain hamparan langit biru dan awan-awan putih yang bergerak perlahan, seolah dunia di luar sana berjalan tanpa peduli pada apa yang sedang terjadi di dalam ruangan ini.Kiara mengembuskan napas panjang. Entah mengapa, melihat langit justru membuat dadanya terasa semakin sesak.Tangannya perlahan turun menyentuh perutnya yang masih belum menunjukkan perubahan berarti. Ada kehidupan kecil di sana. Kehidupan yang membuatnya harus lebih kuat, meskipun dirinya sendiri belum tahu bagaimana caranya menghadapi semua yang menunggu di depan."Aku harus bagaimana?" bisiknya lirih.Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang masuk melalui celah jendela dan menggerakkan tirai tipis di sampingnya.Kiara kembal

  • Orang ketiga.   OK bab. 49

    Aroma antiseptik perlahan menusuk hidung Kiara, samar tetapi cukup kuat untuk membawanya kembali pada kesadaran.Kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka sedikit. Rasa pusing seketika menghantam kepalanya. Spontan, tangannya terangkat dan menekan pelipis, seolah berusaha meredakan nyeri yang berdenyut di sana.Sebuah rintihan kecil lolos dari bibirnya menarik perhatian seseorang yang sejak tadi duduk diam di samping ranjang. Sosok tersebut segera bangkit dan mendekat. Tangannya meraih lengan Kiara dengan lembut, memberikan sentuhan hangat yang entah mengapa terasa begitu menenangkan.“Bagian mana yang sakit?”Suara berat dan dalam itu terdengar begitu familiar di telinga.Kiara mengernyitkan kening. Perlahan, ia menoleh ke samping. Matanya masih terasa berat dan pandangannya kabur. Ia berkedip beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya putih yang masuk ke retina.Sosok di samping ranjang itu akhirnya terlihat semakin jelas. Dan dalam sek

  • Orang ketiga.   OK bab. 48

    Jam dinding telah menunjukkan lewat tengah malam ketika suara pintu utama terdengar terbuka.Anggi yang sejak tadi duduk sendirian di depan meja makan langsung mengangkat kepala. Punggungnya yang semula bersandar pada kursi perlahan menegak, seolah suara itu masih mampu menyalakan harapan yang hampir padam.Langkah kaki terdengar memasuki rumah. Pria itu baru saja pulang. Wajahnya terlihat lelah. Kemeja yang sejak pagi dikenakannya masih melekat di tubuh, sementara dasinya sudah terlepas entah kemana. Beberapa kancing bagian atas kemejanya bahkan telah terbuka.Diego berjalan masuk tanpa sedikit pun memperhatikan meja makan yang masih dipenuhi hidangan. Makanan yang tersaji di atas meja telah dingin, tak tersentuh melihat kondisinya yang masih utuh.Cangkir teh di hadapan Anggi pun sudah lama kehilangan uapnya. Semua itu menjadi bukti betapa lama wanita itu duduk di sana menunggu suaminya pulang. "Apa kamu tak ingin menjelaskan sesuatu padaku?" ucap Anggi membuy

  • Orang ketiga.   OK bab. 47

    Kiara mulai panik. Ucapan dari Anggi terus berputar di kepalanya seperti sebuah alarm peringatan. Semalaman Kiara tak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.Bagaimana jika Anggi benar-benar mengetahui semuanya?Bagaimana jika wanita yang selama ini dicurigai Anggi adalah dirinya?Kiara memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menenangkan debar jantungnya. Namun, semakin ia mencoba melupakan percakapan mereka, semakin jelas pula suara Anggi terngiang di kepalanya."Aku punya firasat suamiku punya wanita lain." Kalimat yang keluar dari bibir Anggi terasa seperti ancaman yang perlahan mendekat.Kiara menarik selimut hingga ke dada. Tangannya tanpa sadar bergerak mengusap perutnya yang masih belum terlalu terlihat.Ada bayi Diego di sana. Bayi yang sejak awal ingin ia lindungi dari segala kerumitan hubungan orang tuanya.Kiara mengembuskan napas panjang. Ia tidak pernah berniat merebut Diego dari

  • Orang ketiga.   OK bab. 46

    "Apa kamu tidak nyaman?"“Sedikit.”Jawaban Kiara terdengar jujur, tetapi justru membuat senyum Anggi semakin melebar.“Maaf.”Anggi meletakkan sendok yang sejak tadi diputar-putarnya di atas tatakan kecil.“Aku enggak bermaksud membuatmu enggak nyaman.”Kiara mengangguk pelan.“Enggak apa-apa.”“Lagipula …” Anggi kembali mengambil gelasnya, lalu menyesap minumannya. “Aku memang sedang banyak pikiran.”Kiara hanya diam. Ia ingin percakapan itu segera berakhir. Ingin berdiri lalu langsung bergegas pulang. Namun ada sesuatu dalam sikap Anggi yang membuatnya tidak berani pergi begitu saja. Perempuan itu terlalu tenang. Terlalu terkendali.Seolah-olah sejak awal ia sudah tahu apa yang sedang ia lakukan.“Aku boleh tanya sesuatu?” Anggi tiba-tiba berkata.Kiara menegang.“Apa?”“Kalau kamu berada di posisiku …”Anggi menatap lurus ke matanya.“Dan ternyata suamimu benar-benar punya wanita lain, apa yang akan kamu lakukan?”

  • Orang ketiga.   OK bab. 45

    Anggi kemudian sedikit mendekat. “Ki ...” “Hmm?” Suara Kiara terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan. Bahkan ia sendiri hampir tidak mengenali suaranya. Terlalu hati-hati. Terlalu waspada. Anggi memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Aku punya firasat suamiku punya wanita lain.” Kalimat itu membuat Kiara terdiam. Ia sudah menduga pembicaraan mereka akan mengarah kepada Diego. Namun mendengarnya langsung dari mulut Anggi membuat semua persiapan yang tadi ia susun di dalam kepala seolah berantakan. Kiara memaksakan senyum tipis, walau dalam hatinya kini tengah berdebar dan gelisah. “Mungkin kamu cuma terlalu banyak berpikir.” “Menurutmu begitu?” Anggi bertanya santai. “Iya. Kadang kalau kita sedang punya masalah dengan pasangan, kita memang jadi mudah curiga.” “Benar.” Anggi mengangguk. Kemudian ia tersenyum kecil. “Tapi aku enggak a

  • Orang ketiga.   OK bab. 3

    Kiara menarik napas cepat, rasa lelahnya berganti waspada. "Mama jarang berbicara dengan nada seperti itu dan jika beliau sampai menunggu di apartemen tanpa memberi tahuku sebelumnya, berarti ada sesuatu yang diinginkannya dariku." Lagi-lagi Kiara hanya mampu bergumam di dalam hati, walau seribu t

  • Orang ketiga.   OK bab. 2

    Kiara merasa akhir-akhir ini Dewi kesialan tengah mengutuknya. Setelah beberapa hari yang lalu bersusah payah kabur seperti seorang buronan dari dekapan lelaki asing yang memiliki pikiran gila, kini ia dihadapkan dengan dua orang wanita yang menyebalkan. "Gila, tampan banget. Aku tidak menyangka l

  • Orang ketiga.   OK bab. 5

    Anggi tersenyum. Wanita manis itu tak menyadari perubahan yang tiba-tiba menguasai atmosfer. "Sayang, ini Kiara, sahabatku sejak SMA." Tangannya merangkul manja lengan lelaki yang ia perkenalkan sebagai suami. Berbeda dengan wajah Anggi yang sumringah. Lelaki itu justru diam sejenak, kemudian meng

  • Orang ketiga.   OK bab. 4

    Pernah tidak kalian mendengar ada yang bilang, lebih baik capek badan daripada capek otak? Capek badan bisa hilang saat dibawa istirahat, tetapi capek otak mau tidur 24 jam sekalipun tak mampu membuat hilang sakit di kepala. Itulah yang tengah Kiara alami pagi ini. Suasana pagi yang cerah tetapi t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status